Belajar pada Kisah Musa Bersama Khidir

Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa… QS 21: 37

Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. QS 13: 54

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir… QS 70: 19-21

***

Ada sebuah kisah dalam Al Quran yang begitu indah dan selalu membuatku merenung-renung, yaitu ketika Khidir menjawab Musa yang bertanya, “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” dengan “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” Musa berkata, “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.” Khidir pun berkata, “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.”

Berkali-kali aku membaca Al Quran dan melewati kisah yang ada dalam QS Al Kahf tersebut. Pertama memikirkannya, secara tekstural berdasarkan apa yang aku baca, sungguh kisah Musa bersama Khidir memberikan pelajaran tentang pentingnya bersabar dalam mencari ilmu. Logikanya jelas. Pemahaman itu sering membutuhkan prasyarat. Ada kalanya pemahaman itu membutuhkan waktu atau waktu yang tepat. Kita tidak bisa memaksa, jika prasyarat itu adalah kesiapan diri kita. Ada kalanya pemahaman itu butuh orang menjadi dewasa dahulu. Benar, tak semata-mata masalah waktu, melainkan apa yang terjadi dalam diri kita selama waktu tersebut. Mengapa juga butuh sabar? Karena ada peran orang lain sebagai agen di luar diri kita yang membantu kita untuk paham. Proses transfer pemahaman membutuhkan proses. Kalau begitu, sabar seharusnya adalah sesuatu yang inheren ada dalam proses pencarian kebenaran, pelajaran, dan pemahaman. Kalau memang ada tabir yang tidak dapat terlewati dan butuh syarat untuk melewati tabir tersebut, sabar tentu adalah “mudah” untuk dilakukan karena sabar menjadi bagian dari usaha dengan sendirinya.

Meskipun demikian adanya, pemahamanku tidak bisa final. Pada perenungan pada kali selanjutnya aku bertanya, mengapa Khidir berkata dan bisa berkata bahwa Musa tidak akan sanggup bersamanya? Apakah dia adalah guru yang menyebalkan sampai-sampai murid pun muak bersamanya? Bukan. Rupanya, masalah bukan terletak pada guru, tetapi pada murid, karena murid belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk bisa memahami ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang diajarkan. Apa kemudian pengetahuan yang cukup itu? Ini yang kemudian membuatku meneruskan pembacaanku pada kisah tersebut.

Mereka lalu melakukan perjalanan. Peristiwa pertama benar-benar mengejutkan: Khidir membocorkan perahu yang mereka tumpangi dan Musa pun protes. “Mengapa kamu melubangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.” Musa lupa bahwa ia tidak boleh protes, bahwa ia harus bersabar bersama orang yang tampaknya “menyimpang” secara sosial ini. Kali pertama ini ia dapat menutup mulutnya dan meminta maaf atas kelupaannya. Bagiku, aku belajar bahwa rupanya perilaku “protes” ketika melihat suatu kesalahan besar sedang terjadi benar-benar adalah sesuatu yang instingtif, tertanam dalam diri manusia sebagai fitrahnya. Orang yang takut hanya dapat membatin, mereka yang cukup berani akan bicara, tetapi mereka yang hilang rasa hormat pada pelaku akan membuat orang berani menggunakan tangannya.

Mereka kembali melakukan perjalanan. Peristiwa kedua bahkan lebih mengejutkan: Khidir membunuh seorang anak dan Musa berprotes lebih keras. “Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang munkar.” Musa bukan lupa lagi, ia benar-benar tak bisa menerima perbuatan Khidir yang sudah bertentangan dengan agama. Ia tak tahan lagi tidak berbuat apa-apa terhadap Khidir sehingga ia berkata bahwa jika setelah ini ia protes lagi, ia menyerah mengikuti Khidir. Aku membayangkan rasanya menjadi Musa. Aku juga pasti ingin memberontak dan ingin mencegah agar orang yang aku ikuti tidak melakukan perbuatan yang munkar. Ini sangat masuk akal, bukan? Tetapi itu menjadi terkecuali di kisah ini.

Mereka akhirnya berjalan lagi, untuk yang terakhir kalinya. Peristiwa ketiga ini sungguh berkebalikan dari yang sebelumnya, bahkan sangat mulia: Khidir membetulkan dinding sebuah rumah yang hampir roboh di negeri yang masyarakatnya tidak bersahabat. Musa hanya berkomentar, sesuatu yang sebenarnya ada benarnya dan tidak salah menurut kebiasaan: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.” Akhirnya, selesai sudah. Musa tidak bisa sabar, mungkin itu bahkan tidak disadarinya bahwa ciri kesabaran itu adalah menahan diri dari nafsu berkomentar, setak berguna apapun komentar itu; menyediakan diri untuk menunggu sampai waktu yang tepat tiba.

Bagian terbaik dari kisah itu pun dimulai. Khidir berkata, “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” Benar. Dorongan dalam diri Musa, ketidaksabaran Musa membuatkan tidak berpikir jernih, buru-buru berkomentar, alih-alih menanyakan secara baik-baik maksud di balik perbuatan yang tampak tidak benar. Ia tidak dapat bertoleransi karena tidak memahami apa yang menjadi tujuan di balik perbuatan atau keputusan.

Aku pun berefleksi, memang demikian adanya, mungkin karena dangkalnya akal, aku sering melompat pada kesimpulan ketimbang memahami maksud di balik perbuatan. Jika kemudian emosiku bergejolak dan dadaku terasa sesak karena kemarahan, kekecewaan dan ketidakmengertian mengapa-bisa-begini, benar, itu karena kesalahanku sendiri yang tidak berpikir jernih. Akhirnya, kesimpulanku yang pertama soal pengetahuan yang cukup adalah tentang dipahaminya tujuan, yaitu apa maksud di balik yang tampak. Untuk menjadi orang yang benar, bijaksana, kita tidak dapat hanya mengandalkan yang tampak, yang superfisial saja. Namun, memahami yang tidak tampak bukan berarti berprasangka atau menduga-duga. Ada fakta yang harus dimengerti, yang mengkonstruksi atau melatarbelakangi pengetahuan yang tidak tampak itu. Akhirnya, kesimpulanku yang kedua adalah tentang dipahaminya latar belakang, mengapa diputuskan demikian, apa yang membuatnya memiliki tujuan semacam itu.

“Bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku merusak bahtera itu karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap bahtera.” Khidir sebenarnya sedang menolong rakyat yang tertindas. Dan yang diandalkannya untuk membuat keputusan membocorkan perahu adalah keluasan pengetahuannya tentang masa kini tentang situasi di sekitarnya yang membantu mengantisipasi kerugian yang lebih besar dan dekat. Sungguh karena kehendak Allah, Khidir tentu adalah seorang yang penuh kepedulian dan cermat terhadap situasi lingkungan sekitarnya. Ia mencegah terjadinya keburukan yang lebih besar dengan melakukan keburukan yang lebih ringan. Itu sebenarnya adalah kebaikan yang sangat besar. Akhirnya, kesimpulanku yang ketiga adalah tentang dipahaminya kondisi dan situasi faktual/ kontekstual lingkungan tempat kita berada.

“Adapun anak itu, orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orangtuanya pada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki supaya Tuhan mereka Mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” Khidir kembali bertindak demi mencegah kemunkaran yang jauh lebih besar terjadi. Ia bermaksud memelihara kebaikan yang sudah ada dengan menghilangkan keburukan yang jelas mengancam, dan berharap bahwa kebaikan yang lebih besar akan terjadi. Mungkin, ibarat mengamputasi sebelah kaki yang busuk ketimbang mengorbankan nyawa. Orang yang mampu mengamputasi dengan ketenangan, bagiku pasti memiliki jiwa yang tegar. Tidak mungkin melakukan itu tanpa keyakinan dan pemikiran yang hati-hati bahwa keputusan itu benar-benar tepat. Sungguh itu butuh pertolongan Allah untuk mampu mengambil keputusan sebaik dan sepenting itu. Akhirnya, kesimpulanku yang keempat adalah tentang dipahaminya secara mendalam persoalan yang sedang terjadi, risiko-risiko dan kemungkinan-kemungkinan baiknya.

Terakhir, “Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhan-mu Menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai Rahmat dari Tuhan-mu…” Kali ini, berbeda dengan perbuatan pertama. Khidir melakukan kebaikan yang sederhana demi kebaikan yang jauh lebih besar manfaatnya. Ia mengantisipasi, menolong, masa depan dengan memfasilitasi, menjaga, kehidupan di masa sekarang. Akhirnya, kesimpulanku yang kelima adalah tentang dipahaminya probabilitas (yang mungkin terjadi) masa depan, pandangan dan prediksi akan masa depan berdasarkan fakta-fakta hari ini dengan menggunakan logika hubungan sebab akibat. Dan yang terakhir, keenam, terkait dengan kalimat terakhir Khidir, “… dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri.”: bahwa setiap keputusan perlu terbimbing oleh petunjuk Tuhan yang Maha Mengetahui, yang Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dengan begitu, insya Allah kita memiliki pengetahuan yang cukup untuk bertindak secara benar, bijaksana, dalam menyelesaikan persoalan yang sedang kita hadapi.

Lama memikirkan ini, tetap saja tak bisa mencapai final. Ramadhan ini aku kembali bertemu dengan kisah ini dan memikirkannya lagi.

Bukankah kita manusia sering bersikap seperti Musa, tidak sabar terhadap keputusan-keputusan Allah yang sungguh lebih Mengetahui keadaan kita, apa yang terbaik bagi kita, ketimbang diri kita sendiri? Kita mungkin sering bertanya-tanya, apa sebetulnya yang dikehendaki Allah? Sering kita merasa sudah baik dan memprotes peristiwa buruk yang terjadi, “Tidak mungkin Allah menimpakan ini padaku! Aku sudah beribadah, aku sudah belajar, aku sudah berbuat baik, aku sudah berjuang di jalan Allah…” Lalu kita berakhir mengkambinghitamkan orang lain, “Pasti ini rencana buruk dia ingin menghancurkanku! Aku harus bersiap-siap untuk menghadapinya…” Kita lupa melihat ke dalam dan lalai merenungkan tujuan Allah berbuat demikian. Kita mungkin tidak akan pernah tahu pasti, dan sungguh akan ada waktunya Allah “Menjelaskan” hikmahnya, tetapi tidak pernah tertutup celah untuk berprasangka baik kepada Allah. Kita manusia sering tergesa-gesa berkomentar dan mendahulukan berkeluh kesah… Andai kita bisa lebih baik dalam bersabar dan membuka diri pada setiap kemungkinan adanya pengetahuan baru yang selama ini tidak bisa kita lihat karena tertutup asumsi, prasangka, praduga, pikiran-pikiran buruk, dan ketakutan-ketakutan…

Selanjutnya, sudah bertahun-tahun yang lalu aku menyelesaikan membaca Fiqih Prioritas. Namun, sungguh butuh pertolongan Allah untuk benar-benar dapat mengamalkannya seperti yang dilakukan Khidir: mencegah kerugian yang lebih besar keburukannya dengan melakukan perbuatan yang lebih kecil kerugiannya, mencegah keburukan yang besar dengan melakukan kebaikan yang sama besarnya, dan memelihara kebaikan yang lebih besar dengan melakukan kebaikan yang sederhana. Benar-benar butuh pertolongan Allah untuk menjadi orang yang berilmu, tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, mampu membaca situasi sosial, dan kondisi lingkungan dalam lingkup ruang dan waktunya, serta wawasan tentang masa depan, sehingga kewajiban ber-amar ma’ruf nahi munkar dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya sebagai pemelihara kehidupan manusia, bukan justru berbalik menjadi bumerang karena tidak bijak mengambil keputusan. Ya, kita perlu mengenali apakah yang benar itu agar kita tak diombang-ambingkan oleh kecenderungan zaman, pendapat mayoritas, tekanan formalitas dan normalitas, atau pengaruh orang-orang tertentu.

Insya Allah seperti itu. Allah-lah yang Maha Tahu. Semoga Ia Mengampuni dosa kita semua.

PS: semoga situasi di Mesir kembali damai. Sedih rasanya, banyak orang tewas dalam bentrokan di jalanan, sementara sebenarnya mereka dapat memilih untuk tenang, beribadah dengan khusyuk di Ramadhan ini, dan bertemu dengan Syawal dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih. Tidakkah keburukan yang lebih besar justru sedang terjadi di sana?

15 thoughts on “Belajar pada Kisah Musa Bersama Khidir

  1. “sementara sebenarnya mereka dapat memilih untuk tenang, beribadah dengan khusyuk di Ramadhan ini, dan bertemu dengan Syawal dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih. Tidakkah keburukan yang lebih besar justru sedang terjadi di sana?”

    silakan dicari apa seruan sang penulis Fiqh Al Awliyat (fiqh Prioritas) kepada dunia internasional terhadap kondisi di Mesir saat ini

    • Sebenarnya jawabannya sederhana: ya atau tidak. Kalau tidak, biarlah mereka dengan “tidak”nya, kalau ya, juga demikian. Semua orang nanti akan mempertanggungjawabkan perbuatannya, bukan? Allah nanti akan menunjukkan siapa yang paling baik amalnya di akhirat. Hanya saja, kita semua masih di dunia. Maka, sebaiknya kita berhati-hati karena yang merugi adalah orang yang menyangka baik perbuatan buruknya dan enggan mendengarkan nasihat dalam kebenaran dan kesabaran.

      • “Maka, sebaiknya kita berhati-hati karena yang merugi adalah orang yang menyangka baik perbuatan buruknya dan enggan mendengarkan nasihat dalam kebenaran dan kesabaran.”

        ini ditujukan kepada siapa?

      • jadi,berdemonstrasi meminta pemerintah yg sah untuk kembali adalah membawa mudharat yg lebih besar dibanding jika kita khusyuk saja beribadah di ramadhan ini?

      • Jawaban pertanyaan itu terserah pada siapa yang merenungkannya. Di tulisanku aku hanya mengajukan pertanyaan dan memberikan pertimbangan bahwa semua orang perlu berhati-hati. Aku tidak hendak mempengaruhi orang untuk menjawab ya atau tidak. Setiap orang silakan memikirkan dan menentukan sikap pribadinya. Setiap orang dapat punya pendapatnya sendiri-sendiri tentang apa yang salah dan yang benar; hanya saja dalam masalah ini ulama yang memang punya kewajiban memberikan fatwa sebaiknya dapat memberikan penerangan yang sejelas-jelasnya, setegas-tegasnya, sesegera mungkin.Itulah yang sampai hari ini belum kita dapatkan dari para ulama, pemimpin-pemimpin kita.

  2. Kisah Khidir as mmg sllu fenomenal ye. saya pribadi menyadari smpt mengkultuskan sosok beliau dgn bgtu ghuluw, tp saya fkir2, studi2 ttg hakikat yg kbtulan lazim didaerah saya yg mmng berfokus pd setiap fenomena2 berkaitn dgn logika mistika & eksistensi beliau nyatanya mmungkinkan kondisi yg demikian. salam tujuh Khidir as & AbdKadir Jaelani sakral bgt bagi org2 melayu dsni, pernah dnger kah?^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s