What to Want in Egypt: My Question and Its Responses

Sekarang aku dapat berkata, “Now, I see…”

Lama aku bergabung dalam sebuah situs yang isinya membahas perkembangan dunia Timur Tengah. Bukan ingin berperang di dalamnya, melainkan mencari tahu, apa sih yang sebenarnya dipersepsikan dunia Barat tentang Islam. Situs ini mungkin termasuk yang paling berseberangan dengan dunia Islam. Jadi para pembaca, baca saja, ok? Jika ingin merespon, buatlah tulisan balasan yang terhormat.

***

What to Want in Egypt

by Daniel Pipes
July 29, 2013

In the aftermath of the coup d’état in Egypt, a consensus has emerged, to cite an anonymous Obama administration official, that “Trying to break the neck of the [Muslim] Brotherhood is not going to be good for Egypt or for the region.”

The thinking behind this view is that (1) it’s better to have Islamists in the political process than violently rebelling and (2) participating in civil society has the potential to tame Islamists, making them see the benefits of democracy and turning them into just another interest group.

May I vociferously disagree?

Yes, we do indeed want to break the brotherhood’s neck because that is good for Egypt, the region, and (not least) ourselves. Both the above assumptions are wrong. (1) Islamists can do more damage within the political process than outside it. To put it graphically, I worry more about a Turkey, with elected Islamists in charge, than Syria, where they are engaged in a civil war to attain power. (2) Islamists have a history of using the political process for their own ends, and not of being tamed by it: see Mohamed Morsi’s year in power for one clear example.

No tolerance for the intolerant. Just as fascists and communists are not legitimate players in a democracy, neither are Islamists. No matter how smooth talking, they remain autocrats who disregard the popular will. Better that they be excluded entirely from participatory politics. (July 29, 2013)

***

Submitted by anhusna (Indonesia), Jul 29, 2013 at 20:35

Now democracy has three enemies: fascists, communists, and Islamists.

As a commoner, now I become not understand the meaning of “the popular will” and “democracy”. If in a country, they do election democratically, and the popular and the winner is the Islamist one, can’t the process be called democratic? Is there any thing that missing from my sight, so that we couldn’t value what happen in Egypt as democratic process?

Please, your explanation, Mr. Pipes. Thank you.

Dan berikut ini adalah responnya.

Daniel Pipes replies:

“I don’t believe that Islamists should be allowed to compete in elections, given that they are not democrats.”

Submitted by CynicFan (United States), Jul 30, 2013 at 15:45

“We are generally unable to clearly articulate the differences between political systems and economic systems. Democracy is a political system. Communism is an economic system. The United States is not a Democracy, we are a Republic. Fascism is a political system. Knowing the difference is important.”

Submitted by steven L (United States), Jul 29, 2013 at 22:46

“Democracies respect minorities. This is the opposite in the Islamic world. They oppress minorities. you must have missed this!!!!”

***

Sekarang aku bisa memahami cara berpikir mereka adalah demikian. Pemilu memang adalah produk sistem politik demokrasi. Akhirnya, memang benar jadinya jika yang seharusnya diperbolehkan ikut pemilu, sebagai peserta pemilu yang “sah” adalah mereka yang menganut paham politik demokrasi. Islam memiliki sistem politiknya sendiri. Membiarkan para Islamis (perhatikan, istilah yang sering dipakai bukanlah “muslim”) ikut politik dan memenangkan pemilu adalah ancaman bagi demokrasi. Para Islamis tentu ingin menegakkan sistem hidup yang Islami dan menyingkirkan yang tidak Islami, yang jika ditarik pada tataran yang lebih besar, itu berarti menyingkirkan dunia Barat.

Ceritanya akan berbeda jika yang ikut pemilu hanyalah “muslim” yang tidak punya ambisi apa-apa untuk menegakkan sistem Islami. Para muslim yang berbaur dalam sistem demokrasi, atau siapapun dengan apapun agama mereka yang berbaur dalam demokrasi, mereka disebut berpaham demokrat dan disambut, boleh, sah, ikut pemilu; dan diakui. Indonesia adalah contoh terbaiknya. Negara muslim demokratis terbesar di dunia dan (bolehkah aku menambahkan kata “sayangnya”?) kita bangga dengan itu. Indonesia adalah bukti nyata kemenangan demokrasi. Sepanjang Indonesia tidak punya ambisi menegakkan sistem yang Islami (tidak hanya politik, tetapi juga ekonomi, pendidikan, sosial, dan budaya), kita akan baik-baik saja. Itu saja syarat agar Indonesia tidak “diganggu”. Kita akan aman karena negara-negara yang selalu merasa hagemoninya terancam merasa aman, karena mereka merasa kita tidak mengancam.

Hubungan ancam, mengancam, dan diancam ini sungguh menarik. Sebagian berbasis pada prasangka, sebagian realita. Dua pihak yang sepanjang zaman berseteru pasti membangun perasaan terancam dalam alam ketidaksadaran mereka, lantaran masing-masing perlu melindungi eksistensi mereka. Islamis tidak bisa menerima Barat karena Barat pasti akan menghancurkan, dan sebaliknya juga begitu yang ada dalam pemikiran Barat tentang para Islamis.

Inilah yang membuatku memahami, perang ideologis ini tak akan berakhir sampai akhir zaman. Bagi kita orang Islam sendiri, dalilnya jelas. Kita dilarang berhukum dengan hukum buatan orang kafir, hidup dengan gaya hidup orang kafir, dan sebagainya. Bagi Barat, fundamen mereka pun teguh. Mereka adalah orang-orang yang lama merasakan kenikmatan dan keuntungan sistem demokrasi. Mereka belum punya pengalaman akan sisi lemah demokrasi. Sebelum mereka mengalami itu, mereka tidak akan berganti ke lain sistem, apalagi mengakui sistem Islami.

Dari sini, kemunculan para muslim yang liberal-modern menjadi masuk akal. Mereka, mungkin [karena aku belum menemukan referensi yang menjelaskan ini secara lebih baik], adalah orang-orang yang berusaha mencari “titik temu” antara Islam dan Barat. Mereka, mungkin, adalah orang-orang yang sudah capek dengan peperangan ideologi Islam-Barat ini, makanya mereka bermaksud mengalah, caranya dengan menurunkan garis batas atau standar apa yang disebut Islami. Mereka kemudian banyak melakukan revisi ajaran Islam agar sesuai dengan kebutuhan hidup “aman” di era ini. Mereka akrab dengan tetangga, tetapi celakanya, berakhir dibenci oleh saudara seiman yang konservatif-tradisional. Mereka berteman dengan tetangga, tetapi berperang, tidak bisa menemukan “titik temu” dengan saudara satu rumah.

Kembali pada persoalan Barat-Islam, kita muslim tentu sering membela diri dan menjelaskan panjang lebar bahwa Islam tidak diskriminatif. Tetapi, ada orang di luar Islam yang selalu merasa para Islamis tidak akan menghormati eksistensi mereka, terutama yang ditakdirkan Allah menjadi minoritas. Sebagian dirundung rasa takut dibunuh karena ada Islamis yang berdalil darah dan harta mereka halal. Sebagian dirundung kekhawatiran diusir dari kampung halaman mereka karena keyakinan (misal, Ahmadiyah dan Syiah) dan agama mereka berbeda dari golongan dan agama mayoritas. Mereka yang seperti itu tidak punya tempat mengadu pada muslim yang mayoritas karena pasti tidak dianggap, disalah-salahkan sesat, dan ditekan-tekan untuk meninggalkan keyakinan, maka mereka lari, minta perlindungan pada orang-orang yang mau mengakui mereka, para demokrat dan Barat. Akhirnya, mereka berteman dengan tetangga karena tidak bisa menemukan “titik temu” dengan saudara mereka sendiri, yang sama-sama satu Tuhan.

Akhirnya, mengapa Barat mati-matian membela demokrasi mereka untuk tegak di negara-negara muslim? Karena ada orang-orang Islam sendiri yang membutuhkan demokrasi dan Barat, entah karena alasan ideologi, ekonomi, dan sebagainya. Mereka belum dapat melihat kelemahan sistem demokrasi karena mereka masih melihat apa yang dikatakan Islami ternyata tidak lebih baik. Sementara itu, kita yang mati-matian membela sistem Islami untuk tegak, menjual mimpi kehidupan madani dengan cara mengobrak-abrik realita kehidupan beragama dan bermasyarakat di negara-negara kita sendiri. Siapa yang butuh dan bisa percaya pada sistem yang seperti ini? Mereka sudah melihat “kelemahan” sistem Islami sehingga enggan mengenal lebih dalam Islam yang sebenarnya untuk menyadari kelebihannya.

Bagiku, respon-respon buruk terhadap agama kita seharusnya dapat dipandang sebagai nasihat menuju perbaikan. Respon buruk itu tidak akan pernah ada tanpa adanya stimulus, bagaikan tak mungkin ada asap tanpa api. Kita, orang-orang yang meyakini Islam itu sudah sempurna, tentu sebaiknya bisa mengartikan bahwa api yang menimbulkan asap itu bukan ajaran agama yang salah, melainkan diri orang-orang yang beragama secara salah, yang tidak bisa menemukan titik temu di antara perbedaan-perbedaannya sendiri, yang bangga dengan golongan dan pemahamannya, yang merasa paling benar dan yang lain adalah salah besar, karena itu enggan menerima kritik, evaluasi dan nasihat, sementara dirinya belum dan tidak akan pernah bebas dari bujuk rayu nafsu dan bisikan setan.

Psikologi (Islami) yang kupelajari mengajarkan untuk melihat baik-baik ke dalam diri, apa yang sudah dan belum kita lakukan, ketimbang menyalahkan sebab-sebab eksternal, demi suatu kemajuan. Allah tidak mengubah keadaan kita sebelum kita mengubah keadaan dalam diri kita sendiri. Jadi, mengapa evaluasi diri tidak bisa menjadi gerakan nyata?

Ambisi untuk menjadi yang benar, yang berkuasa, yang menang, yang kuat, yang sejahtera, apakah itu lurus benar-benar untuk Allah atau bengkok karena nafsu, sungguh beda-beda tipis. Apa yang diucapkan di mulut dapat benar-benar manis, tetapi siapa yang tahu apa yang ada di hati? Sekarang aku pun bisa berpikir bahwa benar, semua yang terjadi di panggung dunia ini adalah ujian siapa benar siapa dusta, siapa beriman, siapa munafik. Jadi, mengapa saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran tidak bisa menjadi gerakan nyata?

Psikologi (Islami) yang kupelajari juga mengajarkan bahwa perilaku manusia adalah manifestasi fungsi psikologisnya (pikiran, perasaan, dan hati). Kalau perilaku kita seperti ini, sebabnya tentu ada di dalam jiwa kita. Jadi, penyakit-penyakit hati apa saja yang tidak berhasil kita deteksi dengan mata biasa? Untuk menyadari dusta dan kemunafikan diri, mengapa penyucian jiwa tidak bisa menjadi gerakan nyata?

Kita mungkin sering merasa Allah sudah suka pada kita, tetapi bagaimana jika tidak? Merasa lebih tahu kebenaran daripada orang lain, lebih religius, lebih berilmu, lebih tinggi kedudukan di antara manusia… bagaimana jika tidak? Kita tenggelam pada persepsi kita sudah menjadi umat terbaik, bagaimana jika tidak? Al Quran berkali-kali memperingatkan Bani Israil akan kedurhakaan mereka, sementara mereka telah Dilebihkan Allah melebihi umat-umat lain pada masanya, tidakkah kita perlu belajar sesuatu dari situ?

Ya Allah, semoga akhir yang baik itu dianugrahkan kepada kami, ampunilah dosa kami jika kami bersalah…

16 thoughts on “What to Want in Egypt: My Question and Its Responses

  1. skip konflik ideologi n politik diluar sana, bagi sya pribadi appun yg brkaitan dgn srombongan,golongan,pergerakan,partai brbasis ideologi berlabel islami tdklah msti mrpresentasikn esensi islam,saya mngkn salah mngkn bnar.
    maaf klo out of topic ^_^
    stiap ideologi pstlah berpotensi unggul scara normatif, tdk trkcuali sstm demokrasi jika kita mlihat akar dan sjrah trbntuknya, mskipun prkmbngan dn pnerapn telah brgeser dr cita2nya semula. berawal saat plato menebalkan kata ‘perorangan’ yg mnjdi kata kunci demokrasi, artinya adlh bnr2 perorangan,namun mnjadi ricuh saat orang2 yunani kala itu mulai hiruk pikuk, berkasta kasta dan mnggolong2kan diri. lalu aristotls mnimpali dgn mng’akur’kan idealita dgn realita, bhwa istilah ‘budak dan tuan’ adalah kodrat, dan manusia adalah mkhluk politis yg gemar berkumpul kumpul ( iya jg sih ^^ ) lalu ia menyatakan bhwa demokarsi adalah wadahnya orang2 bebas yang ingin dipimpin kbebsannya, penguasanya mengabdi pada kepentingan rakyat, bukan karena Tuhan memerintahkannya, melainkan karena ia tahu.

    saya fkir prlu memaklumi ketidakamaan perepsi brkaitan dgn postingan Tina. Pola prdaban mereka ( kataknlah barat ) telah trbntuk sdmikian rupa,trmsuk bhwa ideologi agama ( apapun )bukanlah suatu yg etis untuk muncul di ranah publik, trlbih politik. ditmbah lgi ap2 yg trjdi belakangan ini ( U know wht I mean ) yg smkin mmprtegas stigma negatif. ssderhana itu mnrut saya. gmnamnrtmu?
    smoga Allah memberi kita petunjuk

    • Kalau diminta “skip konflik ideologi n politik diluar sana”, itulah yang paling ingin kulakukan. Aku ingin menjauhkan diri dari perkara-perkara buntu seperti ini karena dalam hidup, ada banyak hal yang lebih penting. Tapi meskipun demikian, sejauh-jauhnya aku menjauhkan diri, entah bagaimana aku kena juga, entah lewat teman-temanku, berita di media massa, postingan di media sosial, atau apapun. Aku mungkin berakhir terombang-ambing dalam berbagai pendapat orang, karena itu aku ingin memeriksa sendiri apa yang terjadi dan membangun sikap pribadi, yang minimal bisa kupakai sebagai landasan untuk merespon andai aku ditanya orang.

      • maaf, jd trkesan satir thdp ktrtarikan Tina ttg isu2 dluar sana, ga lah ^^. Justru mnarik mlihat ( akhirnya ) ad jg yg mnyoroti wcana ini dgn sdut pndang dan opini yg proporsional, appun itu bkn brrti tdak lbih pnting jika ad pljran yg bs diambil kan?

        Sbnnya g trllu fham jg dgn yg trjdi dsna, kehwatiran sbgian pihak akan ancaman trhdp demokrasi oleh sbuah ideologi, lalu kekhwatiran itu jstru mncoreng buah demokrasi itu sndri bhkan sblm kehwtiran itu trbukti, dtmbh lg politik ilegal dsusul kjhtan kmnusiaan, lalu bbrp oknum yg mmg antipati dgn ideologi trsbut mulai ikut ambil bagian. well,sgtu aj taunya ^^

        Tp smpet lihat byk artikel ttg ini dgn spekulasi2 provokatif dan sarat emosional. alih2 mmbkar smngat jihad ‘katnya’, yg ada jstru mnimbulkan pradigma2 yg trkesan dipaksakan, para muslim dianggp perlu brtnggung jwab atas ‘kepulihan politik islami’ dsna, tekanan trhdp IM mrupkan tknan trhdp islam, yg trjdi pd IM mrupakan agenda yg akan brlnjut pd ngra2 islam lain, pd akhirnya mnggap stiap ideologi dan sistm yg trbntuk diluar ideolog islam mngindikasikan tantangan trbuka trhdp islam, yang tak beraroma islam seolah adalah ancaman, make sense ga Tin mnrutmu?

      • Sebelumnya, aku pernah menulis begini di sini: https://aftinanurulhusna.wordpress.com/2013/07/05/tentang-mursi-biarkan-yang-harus-tumbang-tumbang/

        Aku berpendapat, “…masalah hubungan antarmanusia ini sebaiknya tidak disangkut-pautkan dengan isu-isu agama. Artinya, sebaiknya tidak dianggap serangan terhadap Mursi sama dengan serangan terhadap Islam, tidak dianggap pula serangan terhadap IM sama dengan serangan terhadap Islam. Mursi bisa salah, sebanyak apapun kebaikannya sebagai manusia. IM pun bisa salah, sebanyak apapun kebaikan yang dicita-citakannya sebagai organisasi manusia.”

    • Aku tidak keberatan jika komentarmu keluar dari topik. Sebenarnya, pemahaman tentang demokrasi itu masih asing bagiku. Aku sebagai warga negara mengalami demokrasi tanpa mengenal apakah demokrasi itu sebenarnya, juga tanpa mengetahui betul apa yang dipedomankan Islam terhadap pemeluknya yang hidup dalam alam demokratis, yang dikatakan tidak Islami. Apakah yang lebih baik dan bijak untuk dilakukan saat ini: memperjuangkan demokrasi, memperjuangkan Islam, atau memperjuangkan titik temu antara demokrasi dan Islam? Apakah jalan tengah yang adil untuk semua itu (benar-benar) ada? Sampai di sini, aku mentok. Tidak bisa menjelajah lebih jauh lagi. Belum menemukan hal-hal yang dapat membukakan jalan. Aku putuskan duduk dulu, melihat-lihat.

      • klo demokrasi dan islam, sya prefernya ke pmikiran M Natsir, setidaknya corak demokrasi nasional lebih akrab dan lbh mudah ditrjemahkan semenyimpang apapun ia dari definisi awalnya ^^ . beliau brkeyakinan bhwa islam tdak sematamta berorintasi pda ‘hukum’ tapi juga ‘nilai’. Pancasila mmg bukan produk islam, trlebih bhineka tunggal ika, bahkan sila pertama yg awalnya sempat terumuskan ‘menjalankan syariat islam bagi pemeluknya’ diubah mnjdi ketuhanan yg Esa krena dkhwtarikan berpotensi mencidrai islam mnjdi agama yg arogan dan tidak berkeadilan. Intinya mnurut beliau pancasila yang mrupakan pmikiran para religius nasionalis pastilah mngandung nilai2 islam dsna.

        Klo dlm sjrah khilafah, mnrut Tina apa mmg bner2 g trdpt sntuhan demokrasi sdkitpun? seilusif apapunlah

      • Wah, akhirnya bisa juga sampai di titik ini. Lama sekali aku menyimpan pertanyaan tentang sistem khalifah dan demokrasi karena secara pribadi, aku sendiri bisa melihat bahwa titik temu itu sebenarnya ada.

        Aku pernah membaca “Khilafah dan Kerajaan”-nya Abul A’la Al-Maududi (dan berharap semoga nanti akan ada orang yang menulis Khilafah dan Demokrasi…). Entah bagaimana, aku bisa menyimpulkan bahwa sistem khilafah bukan-kerajaan itu seperti penyempurnaan sistem demokrasi. Jika dalam demokrasi kebenaran itu di tangan mayoritas/ rakyat (boleh siapa saja), khilafah itu demokrasi di tangan rakyat/ orang-orang yang beriman (artinya terpimpin oleh ajaran agama/ Tuhan). Karena itu, aku bisa mengerti bagaimana M. Natsir maupun Hamka ridha dengan negara Indonesia yang berlandaskan Pancasila, sekalipun belum pernah membaca sendiri buku-buku mereka terkait agama dan sistem politik di Indonesia. Karena itu, aku termasuk orang yang bersyukur hidup di Indonesia, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

        Bagaimana menurutmu?

    • “saya fkir prlu memaklumi ketidakamaan perepsi brkaitan dgn postingan Tina.” Iya, aku mengerti. Memang ada hal yang perlu dimaklumi di sini dan memang tidak ada gunanya menyalah-nyalahkan.

      • Oya, sebenarnya senangnya menyelidiki hal-hal semacam ini adalah jadi bisa melihat bahwa peradaban manusia itu seperti bunga yang memekar, semakin lama semakin indah sampai pada waktunya ia melayu.

        Aku tidak tahu akan seperti apa akhir dari pembicaraan ini, tetapi aku tidak ingin terlambat bilang, terima kasih banyak sudah membuatku belajar secara lebih baik. ^_^

  2. hmm mau komen apa y.. pertama seneng baca tulisan mbak tina ini (kecuali yg inggris sya skip, gk mudeng *_*), tulisannya proporsional.. beda kalau sya yg menulis, mungkin sya trmsuk yg ‘terideologi’ maka mau tdk mau, tiap tulisan sya mengandung ideologi yg sya anut..
    trus msalah demokrasi, ideologi, dll, komentarnya nanti sajalah..sperti yg mbak tina rasakan..bisa jadi membahas topik ini sama saja menyemai musuh.

    • Mungkin memang akan menyemai musuh, tetapi itu sebaiknya tidak menjadi sesuatu yang membuat kita menghindar, melainkan mempersiapkan diri, semoga kita bisa lebih bijak lagi dalam berpikir, berpendapat, dan bereaksi.

      • yupz, berharap lawan berbicara kita jg berpikir demikian..
        semakin tinggi intelektual seseorg seharusnya lebih menerima perbedaan dan tegas thd penyimpangan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s