Wahai Ibu, Jangan Malas…

Sebenarnya ini juga untuk para ayah dan orang dewasa pada umumnya yang berkehendak membentuk sebuah keluarga.

***

Tadi pagi aku kepikiran tentang tumpahan air di teras rumah, air sisa menyiram tanaman. Air itu secara nyata tidak ada, karena aku mengurusi tanaman-tanaman itu kemarin, bukan pagi tadi. Kemarin aku ditinggal sendirian menjaga rumah karena semua orang pergi ke luar kota, jadinya aku membayangkan kalau kemarin itu aku berkebun dengan adikku, Balya (dia sudah kelas 1 SD sekarang ^^). Aku membayangkan bagaimana kami akan heboh dengan urusan yang basah ini karena dia suka air dan terkadang, tidak mau dikasih tahu bagaimana sebaiknya menuangkan air ke tanaman, kalau yang disiram itu di tanahnya, bukan daun-daunnya.

Dalam situasi serupa di atas, aku tahu akan ada sebagian orangtua atau orang dewasa yang lebih memilih menjauhkan anak-anak kecilnya dari aktivitas semacam itu. Mereka berpikir, anak-anak itu, bukannya membantu, tetapi malah membuat rusuh. Bukannya membantu menyirami tanaman, tetapi membuat teras banjir, dan membuat kita harus mengepel, menambah-nambahi kita pekerjaan yang tidak perlu. Selanjutnya, karena maksud mereka mencegah anak-anak ikut campur, mereka berakhir bertengkar dengan anak mereka. Sementara mereka berhasil, si anak nangis.

Jadi, kali ini aku ingin membahas soal itu, tentang sikap tidak mau repot alias malas repot alias mau enak saja, yang sering menjangkiti kita, orang dewasa, ketika berhadapan dengan anak kecil.

Menunaikan Kewajiban, Memberikan Lebih untuk Mendapatkan Lebih

Sebelum menulis ini, aku teringat jingle iklan detergen, “Berani kotor itu baik!” Filosofinya bagus, untuk mendorong orang membeli produk tersebut ^^ Intinya, anak jangan dilarang untuk kotor, karena anak dapat belajar sesuatu dari aktivitas yang konsekuensinya membuat badan kotor. Tapi, poinnya yang lain adalah, sang ibu sebaiknya tidak tidak mau membersihkan yang kotor itu.

Kasus lain, rekan kerjaku suatu ketika pernah bercerita tentang keponakannya yang cerewet, yang bertanya tak berhenti berhenti, sampai akhirnya neneknya berseru, “Kok tanya terus sih!” Si keponakan akhirnya diam dan pergi. Waktu itu aku cuma berkomentar, “Anak kecil yang bertanya itu berarti dia sedang belajar. Kalau dia terus-menerus bertanya, artinya dia belum puas. Salah orang dewasa yang tidak pintar memuaskannya.”

Aku sendiri jadi ingat dulu pernah seperti itu waktu belum sekolah. Ingat menonton berita manca negara di salah satu stasiun TV dan setiap berita ditampilkan gambar bendera negara yang diberitakan. Setiap kali gambar bendera itu muncul, setiap kali pula aku berlari ke ibuku yang sedang mencuci pakaian untuk bertanya, bendera yang kayak gini, gini, gini, bendera negara mana? Sekarang aku tahu, ibuku menjawab sekenanya saja, tetapi beliau tidak pernah berseru, “Kok tanya terus sih!” atau “Nggak tahu, Nak…” Akhirnya aku berhenti sendiri, karena program beritanya selesai.

Hak anak itu mendapatkan pengajaran, sementara itu kewajiban orang dewasa atau orangtua itu adalah memberikan pengajaran dan hal-hal yang memfasilitas pengajaran. Aku sering heran dengan orang dewasa yang bersikap terlalu ekonomis, banyak inginnya, tetapi enggan berkorban untuk itu. Ingin anaknya cerdas dan kreatif, tetapi membantu anak dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan baik saja tidak mau, justru mengeluh anak yang menyusahkan. Ingin anaknya shalih-shalihah, tetapi membantu anak dengan mengajaknya pergi ke masjid untuk shalat tidak mau, justru mengeluh anak akan merepotkan.

Ketika setiap keinginan pasti mengandung konsekuensi, tidak semua orang dewasa mengerti dan siap menghadapi konsekuensi tersebut. Ingin anak berperilaku baik, tetapi luput membiasakan mereka berperilaku baik. Ingin anak berdisiplin, tetapi alpa mendisiplinkan diri sendiri untuk membantu membuat anak disiplin. Ingin barang dengan rupanya yang menarik, tetapi enggan membayarkan harga yang sesuai. Hematku bahkan, dalam membesarkan dan mendidik anak, orang dewasa justru perlu membayar lebih; memberikan lebih, bersabar lebih, menderita lebih, mengalah lebih, mengorbankan lebih, terutama mengorbankan egoismenya sendiri demi hidup manusia-manusia yang lebih muda dari dirinya.

Pengasuhan Partisipatif

Kita kembali pada cerita pertama tentang aktivitas berkebun, lalu tentang sebagian orangtua atau orang dewasa yang lebih memilih menjauhkan anak-anak kecilnya dari aktivitas-aktivitas semacam itu karena memandang anak-anak adalah penghambat, perusuh, atau pengganggu. Mereka lebih memilih tidak melibatkan anak-anak mereka karena menganggap tanpa anak-anak pekerjaan akan lebih cepat selesai, lebih ringkas, atau lebih beres. Sebenarnya, pemikiran seperti itu ada benarnya, jika yang dikerjakan adalah pekerjaan-pekerjaan yang berisiko bahaya tinggi. Namun, jika pekerjaan itu adalah aktivitas keseharian, yang biasanya kita pikir belum waktunya dilakukan anak-anak, ada baiknya jika kita mempertimbangkan untuk tidak malas mengajak anak berpartisipasi.

Di banyak keluarga sering muncul masalah anak-anak yang sudah besar bahkan remaja enggan mengerjakan pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan rumah, yang itu menyangkut hajat hidup dan masa depannya sendiri. Ia malas membersihkan dan merapikan kamar, membuang sampah atau menaruh pakaian sembarangan saja. Ia tidak langsung membersihkan peralatan makannya setelah makan, baju pun masih dicucikan. Ia yang malas mengurus dirinya sendiri, kemungkinan juga sulit diajak mengurus hal yang lebih besar, seperti rumahnya sendiri. Jika ia anak perempuan, ia tidak suka memasak di dapur, tidak suka ikut membersihkan rumah dan halaman, merawat kebun, atau apa. Jika ia anak laki-laki, maunya dilayani.

Memang ada banyak sebab, tetapi tentu salah satunya adalah mindset bahwa melakukan pekerjaan rumah adalah kerja yang tidak menyenangkan, melelahkan, tidak menarik, dan merepotkan. Selanjutnya, memang pula ada banyak hal yang membuat anak berpikiran demikian, tetapi salah satunya adalah orang dewasa atau orang tua yang tidak berhasil menanamkan pikiran positif pada anak-anak mereka. Mengapa bisa tidak berhasil? Pertama, bisa jadi orangtua sendiri punya sikap negatif terhadap pekerjaan rumah dan itu tampak dari cara mereka mengerjakan pekerjaan rumah yang disertai omelan dan keluhan. Kedua, orangtua tahu manfaat bekerja, tetapi gagal mentransfer sikap positif tersebut, misal karena merasa anak masih terlalu kecil untuk bekerja, kasihan, sayang, dan sebagainya. Ketiga, karena orangtua terlalu perfeksionis, ingin semua pekerjaan sempurna, makanya mereka merasa tidak benar mempercayakan tugas kepada anak.

Sikap negatif, rasa kasihan yang tidak tepat, atau ketidakpercayaan adalah penghambat pertumbuhan diri manusia. Pertumbuhan diri merupakan fungsi tantangan dan dukungan (pertumbuhan = tantangan + dukungan). Untuk tumbuh dan dewasa, seseorang butuh tantangan yang menariknya ke atas dan bantuan yang mendukungnya dari bawah. Sebelum akhirnya bisa dan biasa, seseorang pasti pernah tidak bisa dan belum biasa. Ia butuh kesempatan untuk mencoba dan mengenali dirinya sendiri, sejauh mana ia bisa atau belum bisa. Ketika ia belum bisa, ia butuh dijelaskan, diajari, dan dilatih.

Kewajiban orang dewasa adalah mengenalkan anak tentang kehidupan dan praktik nyata, bukan cerita atau sekadar cita-cita. Kewajiban orang dewasa atau orangtua adalah percaya bahwa anak mereka pasti bisa dan memberikan dukungan yang tepat; karena tantangan yang terlalu tinggi justru dapat merusak anak, sebaliknya dukungan yang berlebihan akan mematikan motivasi dan inisiatif.

Berdasarkan itu, tidak ada salahnya sengaja mengajak anak berpartisipasi dalam mengerjakan pekerjaan rumah atau aktivitas keseharian lainnya. Selain untuk mengasah kemampuan dan mengembangkan dirinya, mengajak anak untuk berpartisipasi akan menumbuhkan rasa memiliki; bahwa rumah ini dan barang-barang yang ada di dalamnya adalah juga miliknya maka harus dijaga. Meskipun demikian, tentu akan ada yang bertanya, apakah anak suka diajak melakukan aktivitas-aktivitas itu? Aku bisa menjawab, insya Allah, suka.

Belajar dari adikku sendiri, aku menyadari bahwa anak kecil itu manusia yang sangat altruis, suka sekali menolong dan tidak pamrih. Ia belum mengenal senangnya mendapatkan upah, dan itu berarti pula ia belum mengenal menjauhi hukuman. Motivasi anak kecil itu begitu intrinsik. Ia mau bekerja karena ia suka dan menikmatinya. Apa yang kita lihat sebagai pekerjaan serius dipandangnya sebagai bermain dan itu sangat mengasyikkan baginya. Jika pun ia ingin imbalan, ia sudah puas dengan hanya “bintang” atau “Allah suka anak yang suka menolong” atau “insya Allah pahalanya banyak” atau “terima kasih sudah menolong”, sebagai bentuk reaksi senang kita.

Kalau adik atau anak kita suka air, kenapa tidak mengajaknya untuk mencuci (tentu saja, tetap hati-hati dengan sabun) atau menyirami tanaman atau mengepel? Kalau dia suka tanah, kenapa tidak mengajaknya berkebun? Kalau dia aktif bergerak, kenapa tidak mengajaknya menyapu lantai rumah atau halaman, atau membersihkan jendela? Kalau dia suka berkreasi, kenapa tidak mengajaknya ke dapur untuk memasak, mencicipi bumbu-bumbu, gula dan garam, membuat masakan berdasarkan resep imajinasinya? Kalau dia suka merawat, kenapa tidak mengajaknya memelihara ikan atau ayam?

Ada banyak hal yang bisa dilakukan bersama anak. Ada banyak “pekerjaan” yang bisa dimainkan anak. Untuk bersenang-senang, anak dapat tidak melulu harus diberikan buku, mainan, game komputer, puzzle, lego, mobil-mobilan, atau boneka. Beri anak aktivitas yang produktif, insya Allah ia akan lebih menghargai hidup.

children and housework

7 thoughts on “Wahai Ibu, Jangan Malas…

    • Aku banyak belajar dari adikku, salah satunya ini. Dia kan cukup punya kegemaran main game, entah di HP atau di komputer. Selalu aku tanya, “Kenapa sih suka main game?” Lalu dia jawab, “Karena aku nggak punya pekerjaan…” Nah, sekarang aku tahu caranya biar anak tidak mencandu game. Kasih dia aktivitas. Itu artinya, kita tidak boleh menjadi orang dewasa yang malas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s