Psikologi dari Perspektif Islam Bag. 1

Aku bertekad menerjemahkan artikel ilmiah ini. Bagian 1 tentang latar belakang sejarah psikologi Islami dan ilmu pengetahuan Islami pada umumnya.

Haque, A. 2004. Psychology from Islamic Perspectives: Contributions of Early Islamic Scholars and Challenges to Contemporary Muslim Psychologists. Journal of Religion and Health. Vol. 43, No. 4, Winter 2004, pp. 357-377

***

Psikologi dari Perspektif Islam: Kontribusi Para Ilmuwan Muslim di Masa Awal dan Tantangan Ilmuwan Psikologi Muslim Saat Ini

Abstrak

Muslim pada masa awal banyak menulis tentang hakikat manusia dan menyebutnya dengan Ilm-al Nafsiat atau self-knowledge (pengetahuan diri). Dalam banyak kasus, karya-karya mereka tampak merupakan ide-ide orisinal bagi banyak teori dan praktik psikologi modern saat ini. Namun demikian, yang menarik adalah banyak yang mereka tulis bercampur dengan filsafat Islam dan pemikiran-pemikiran keagamaan. Tulisan ini mencakupi kontribusi-kontribusi utama dari para ilmuwan Muslim masa awal yang terkemuka pada psikologi dan menjabarkan tantangan yang dihadapi Muslim saat ini dalam beradaptasi dengan teori-teori Barat. Tulisan ini juga menawarkan sejumlah rekomendasi tentang pribumisasi psikologi bagi masyarakat-masyarakat Muslim yang tertarik pada pencarian perspektif yang Islami tentang perilaku manusia.

Kata kunci: psikologi Islami, ilmuwan Muslim masa awal, sejarah psikologi, ilmuwan psikologi muslim, psikologi pribumi

***

Islam adalah agama besar di dunia dan ada semakin banyak Muslim di barat, terutama di Amerika Utara di mana populasi Muslim diperkirakan sekitar antara empat sampai enam juta orang (Haddad, 1991; Hussain & Hussain, 1996). Peningkatan tertinggi populasi Muslim telah terlihat selama beberapa dekade terakhir dan bertambah secara terus-menerus. Walaupun pertumbuhan Muslim tidak lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok etnik atau agama yang lain, minat terhadap Islam dan Muslim telah meningkat secara signifikan setelah insiden 11 September di Amerika. Di samping informasi tentang Muslim di media, literatur ilmu sosial kini dipenuhi oleh aspek sosiopolitis dari budaya Arab/ Muslim. Sejumlah tulisan juga tersedia tentang isu-isu psikologi yang relevan dengan komunitas yang minoritas ini (Haque, 2004; Murken & Shah, 2002; Reich & Paloutzian, 2001). Dengan bertambahnya populasi Muslim di Amerika dan minat para ilmuwan ilmu sosial tentang komunitas yang minoritas ini, menjadi penting bahwa sudut pandang Islami atas berbagai isu yang berhubungan dengan psikologi diperkenalkan dalam literatur arus utama. Penyelidikan tentang tradisi intelektual keyakinan Muslim tentang sifat dasar manusia dan metodologi pengobatan akan membuka tabir bagi orang-orang yang berprofesi di bidang penyembuhan yang mungkin akan bertemu klien-klien Muslim dalam praktek, kuliah atau penelitian. Sementara banyak Muslim yang sangat dipengaruhi oleh Al Qur’an (kitab suci Muslim) dan hadist Nabi Muhammad, beberapa juga dipengaruhi oleh karya para ilmuwan Muslim di masa awal yang berkontribusi dalam bidang ilmu-ilmu alam dan sosial. Apa yang membuat kontribusi semacam itu unik adalah bahwa semua itu didasarkan pada filsafat Islami atau konsep tauhid/ Keesaan Tuhan. Pengetahuan tentang perspektif Islami dapat berlangsung sebagai bagian dari training kepekaan kultural bagi klinisi dan peneliti-peneliti aliran utama. Tulisan ini mengekplorasi kontribusi dari para ilmuwan Muslim masa lalu (tokoh-tokoh universal) pada psikologi dan menyoroti dilema yang dikemukakan oleh psikologi barat pada para profesional dan klien Muslim, diikuti dengan beberapa rekomendasi.

Istilah “masa awal” di judul tulisan mengacu pada era penting Muslim yang pertama pasca wafatnya Nabi Muhammad (632 M). Kemunculan peradaban dan budaya Muslim yang bermula dari abad ke-7 M bertahan sampai akhir abad ke-19. Meskipun demikian, untuk menyingkat dan juga karena ilmu pengetahuan dan filsafat Islam menyebar ke pusat-pusat pendidikan lain bermula di abad ke-14, maka tulisan ini menyoroti kontribusi Muslim pada psikologi sampai di abad 10 atau sekitar 400 tahun setelah wafatnya nabi. Ilmuwan Muslim masa awal banyak menulis di area psikologi manusia, walaupun istilah “psikologi” pada saat itu belum ada, dan upaya semacam itu kebanyakan merupakan bagian dari karya-karya filsafat. Dalam tulisan-tulisan mereka, istilah Nafs (diri atau jiwa) digunakan untuk menunjukkan kepribadian perorangan dan istilah fitrah untuk sifat dasar manusia. Nafs meliputi berbagai topik seperti qalb (hati), ruh (spirit/ roh), aql (akal/ intelektual), dan irada (kehendak).1)  Banyak  ilmuwan secara langsung atau tidak langsung berkontribusi pada studi tentang diri/ self.

Jika kita mengkaji latar belakang historis di dalam situasi apa tradisi keilmuan ini terbangun, kita akan menemukan bahwa ia bangkit di bawah payung filsafat, yang meliputi hampir semua area penyelidikan tentang manusia. Filsafat, dalam istilahnya yang paling sederhana, mengacu pada pengetahuan tentang segalanya, baik yang ilahiah maupun manusiawi.2)  Itu terjadi selama abad ke-8 dan 9 bahwa Alexandria dan Syria menjadi pusat filsafat yang dipengaruhi terutama oleh pemikiran Yunani dan juga sejumlah pemikiran India dan Persia. Al-Ma’mun (813-933), seorang khalifah dari Dinasti Abbasiyah, menunjukkan minat dan memerintahkan penerjemahan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab. Ia mendirikan akademi filsafat Baitul Hikmah yang mendorong keingintahuan dan diskusi di antara ilmuwan Muslim tentang isu-isu filosofis, menghasilkan penerjemahan karya-karya filsafat Yunani, ulasan-ulasan, dan beberapa risalah-risalah orisinal dalam banyak bidang ilmu pengetahuan. Muslim tertarik pada bidang filsafat karena beberapa sebab, termasuk ayat-ayat Al Qur’an yang mendorong manusia untuk memikirkan tentang eksistensi, alam, sifat-sifat Tuhan, dan akhirat; hadist nabi3) yang menekankan nilai pengetahuan4)  dan juga karena para mualaf yang memiliki kelekatan dengan filsafat. Upaya awal Muslim untuk merenung dalam rangka memahami hakikat segala sesuatu disebut Kalam yang melahirkan dua mazhab utama, yaitu Mu’tazilah (rasionalis)5)  dan Asy’ariyah (tradisionalis atau kaum ortodoks)6),  dan banyak mazhab lain yang lebih kecil yang berada di luar lingkup diskusi kita. Al-Ma’mun tentu saja, merupakan pendukung setia Mu’tazilah yang memfavoritkan rasionalisme akan semua hal, termasuk agama.

Di sini, penting untuk membedakan antara filsafat Muslim dan Islam sebagai dua hal yang tidak harus sama. Istilah filsafat Muslim secara umum mengacu pada karya-karya para pemikir Muslim yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Yunani, tak pandang apakah mereka menyukainya. Ini meliputi metafisika dan konsep-konsep filsafat lainnya tidak hanya dari para ilmuwan masa awal, tetapi juga mazhab-mazhab yang berbeda yang muncul dalam Islam selama bertahun-tahun. Karakter unik dari filsafat Muslim adalah ia menggabungkan filsafat asing dengan pemikiran Islam yang menghasilkan perubahan dalam filsafat Helenistik itu sendiri. Kebalikan dari Yunani yang memberontak dari dogma-dogma agama Kristen, para Muslim sesungguhnya mengakurkan agama dengan filsafat. Para filsuf Muslim menulis dalam bidang-bidang seperti: (a) Hubungan antara agama dan filsafat, (b) Causa Prima, (c) Bukti-bukti eksistensi Tuhan, (d) Teori Penciptaan dan Evolusi, dan (e) Teori jiwa. Sementara di awal, filsafat Muslim berkutat terutama dengan isu-isu teologis, fase keduanya mengarah pada perkembangan mistisisme. Di fase ketiga, yang dicirikan dengan philosophy proper, ilmuwan Muslim juga berkontribusi secara signifikan dalam ilmu-ilmu alam.7)  Sepanjang psikologi mendapatkan perhatian, kita melihat kontribusi ilmuwan Muslim di setiap tahapnya, walaupun sifat dan lingkup kontribusi mereka bervariasi dan saling tumpang-tindih. Istilah filsafat Islam lebih sempit dalam pendekatan dan mendapatkan ide-ide dari Al Qur’an dan hadist. Ia berkaitan dengan aspek eksternal (syariah) dari Al Qur’an dan juga makna tersembunyi (Hakikat) dari ayat-ayatnya. Filsafat Islam sesungguhnya adalah upaya untuk mendapatkan Hakikat ini, yang merupakan realitas tunggi dan satu-satunya kebenaran, juga tujua akhir dari filsafat Islam. Juga diketahui bahwa hampir semua ilmuwan Muslim masa awal, termasuk Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd, terhadap siapa tuduhan ateisme dibuat (karena konsepsi Aristotelian mereka tentang kekekalan dunia) mendapatkan inspirasi dari sumber-sumber Islami.

Kontribusi penting dan berkelanjutan dari ilmuwan Muslim selama berabad-abad menunjukkan bahwa dunia Barat lebih mewarisi penemuan dan pemikiran Islam ketimbang pemikiran Yunani. Itu disebabkan oleh globalisasi kultural dan intelektual yang diimpor dari dunia Muslim ke Barat selama lebih dari seribu tahun. Seperti yang kita tahu, ada banyak kata dalam bahasa Inggris hari ini yang diambil dari bahasa Arab, seperti contohnya, algebra, admiral, chiper, amalgam, alcohol, alcove, coffe, dan sebagainya, yang menunjukkan pengaruh Arab pada budaya Barat.

Ilmu pengetahuan Islam mengalami kemunduran di abad ke-14 terutama karena ditutupnya pintu ijtihad (interpretasi bebas) yang menyebabkan pembekuan pengetahuan dari apa yang sudah diketahui.8)  Pendukung teori ini menunjukkan bahwa apapun yang Muslim harus ketahui, dipahami paling baik pada masa pewahyuan dan oleh para sahabat Nabi. Para tradisionalis meyakini bahwa pengetahuan baru akan menghasilkan inovasi, sebuah praktik yang dianggap haram (terlarang) dalam Islam. Bagaimana pun, terdapat hadist yang membedakan antara inovasi yang baik dengan yang buruk. Ilmuwan Muslim saat ini telah mengklarifikasi bahwa inovasi dalam Islam terlarang pada area agama dan bukan pada ilmu pengetahuan. Sementara kontribusi keilmuwan Muslim terhenti selama beberapa abad, terdapat beberapa kontribusi filosofis dari para pemikir Islam antara abad 14-19, seperti Shah Waliullah, Sheikh Ahmad Sirhind, Mohammad Iqbal dari India, Abd al Wahhab dari Arabia dan sebagainya. Faktor lain yang menyebabkan kejatuhan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam diatribusikan pada kolonialisasi dunia Islam yang menghasilkan adopsi budaya Barat oleh para elit. Imitasi buta budaya Barat menyebabkan hilangnya kepercayaan para pemuda Muslim pada peradaban dan budayanya sendiri. Ditarik dari dua arah yang berbeda, mereka tidak akan bisa benar-benar memahami atau menguasai kedua peradaban (Barat dan Islam). Beberapa ilmuwan Muslim, seperti Faruqi (1982) juga menyalahkan sistem pendidikan dan pengasuhan yang sekular yang dikombinasikan dengan kurangnya visi, yang menyebabkan krisis intelektual di antara para Muslim.

Orang mungkin saja bertanya mengapa perlu mengeksplorasi kontribusi ilmuwan Muslim yang hidup berabad-abad yang lalu dan bagaimana kontribusi semacam itu relevan dengan masa sekarang. Sebenarnya terdapat beberapa manfaat dari upaya ini. Muslim saat ini secara umum melupakan warisan kaya dari para pendahulu mereka yang kontribusinya secara umum didasarkan pada prinsip-prinsip Islam dan relevan di semua waktu dan tempat. Yang terpenting dari semuanya dan dalam kebanyakan kasus, pengetahuan Islami mereka dibimbing oleh provisi Tuhan dan karenanya diyakinin bebas dari kesalahan manusia. Di bidang psikologi, kita juga menemukan bahwa para ilmuwan Muslim lah yang menghasilkan banyak teori psikologi dan praktik yang lazin di saat ini. Sementara ada banyak karya mereka yang tertulis, tidak banyak yang tersedia dalam bahasa Inggris.

Penjelasan tertulis tentang deskripsi diri dan hakikat manusia yang diberikan oleh ilmuwan Muslim dapat ditemukan sejak tahun 800 sampai 1100 M. Harapan yang penulis tekankan dalam tulisan ini adalah lebih sebagai survei atau ikhtisar ketimbang studi mendalam tentang kontribusi ilmuwan-ilmuwan ini, dan seharusnya menjadi pendorong bagi penelitian lebih jauh tentang karya asli dari ilmuwan tersebut. Perlu dicatat bahwa literatur tentang kontribusi Muslim sangatlah jarang dan tersebar di mana-mana. Penulis terutama mengandalkan buku-buku filsafat Muslim/ Islam, monograf yang ditulis oleh berbagai peneliti dan terjemahan materi-materi yang relevan dari buku-buku berbahasa Arab yang disediakan oleh para mahasiswa pascasarjana penulis. Sementara meneliti berbagai sumber, frase-frase tertentu dalam tulisan ini mungkin telah menyalin tanpa rujukan yang tepat — suatu kelemahan yang sepenuhnya milik penulis. Tahun lahir dan wafat dari ilmuwan-ilmuwan ini berbeda-beda di berbagai tempat. Saya mengandalkan tanggal-tanggal yang diberikan dalam Sejarah Filsafat Islam karangan Nasr dan Leaman (1996).

(bersambung)

***

Ya Allah, aku punya cita-cita menjadi penerjemah… ^^ Amin, Ya Rabb.

2 thoughts on “Psikologi dari Perspektif Islam Bag. 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s