Psikologi dari Perspektif Islam Bag. 2

Psikologi dari Perspektif Islam: Kontribusi Para Ilmuwan Muslim di Masa Awal dan Tantangan Ilmuwan Psikologi Muslim Saat Ini

Tulisan ini adalah terjemahan dari artikel:

Haque, A. 2004. Psychology from Islamic Perspectives: Contributions of Early Islamic Scholars and Challenges to Contemporary Muslim Psychologists. Journal of Religion and Health. Vol. 43, No. 4, Winter 2004, pp. 357-377

Bagian ke-2, kita akan melihat apa saja kontribusi para ilmuwan Muslim masa awal terhadap psikologi.

Ini sangat menarik. Ingat, dulu pernah membuat yang serupa untuk keperluan mengajar dalam Halaqah Psikologi Islami, Kelompok Studi Pengembangan Psikologi Islami (Kesppi) Fak. Psikologi Undip. Saat itu yang dapat kuandalkan sebagai referensi hanya laman-laman Wikipedia yang memuat biografi dan pemikiran para ilmuwan Muslim di abad pertengahan. Sekarang, aku dapat sumber yang lebih baik. Jika suatu saat Buku Besar Psikologi Islami untuk Mahasiswa itu bisa disusun lebih baik lagi dan diterbitkan, tulisan kali ini pasti akan kumasukkan. Amin, Ya Rabb.

***

Al Ash’ath Bin Qais Al-Kindi (801–866)

Al Kindi (Latin, Alchendius) dari Baghdad dipandang sebagai filsuf Muslim pertama. Ia menulis lebih dari 239 judul termasuk buku-buku dan risalah-risalah pendek. Yang berhubungan dengan psikologi antara lain: On Sleep and Dreams, First Philosophy, dan the Eradication of Sorrow. Ia menjelaskan “penderitaan” sebagai “kesedihan spiritual (Nafsani) yang disebabkan oleh hilangnya orang-orang yang dicintai atau hal-hal milik pribadi, atau oleh kegagalan mendapatkan apa yang diinginkan oleh nafsu”. Ia kemudian menambahkan, “Jika penyebab-penyebab kepedihan dapat dilihat, maka penyembuhnya dapat ditemukan (Hamarnah, 1984, h. 362).” Al Kindi merekomendasikan bahwa jika kita tidak menoleransi kehilangan atau kebencian akan terampasnya apa-apa yang kita senangi, maka kita sebaiknya mencari kekayaan dalam dunia intelektual. Di dalamnya, kita harus menjaga hal-hal milik kita yang berharga dan kita sayangi, yang tidak akan pernah dapat direbut dari kita… untuk itu hal-hal yang dimiliki oleh indera-indera kita dapat dengan mudah diambil dari kita.” Ia mengatakan bahwa penderitaan bukan sesuatu yang ada dalam diri kita; kita yang menyebabkannya sendiri. Ia menggunakan strategi-strategi kognitif untuk melawan depresi dan mendiskusikan fungsi-fungsi dari jiwa dan operasi intelektual dalam diri manusia. Ia mengingatkan bahwa jiwa melalui pelaksanaan kehendak akan membangun konsititusi yang baik. Para komentator karya Al Kindi telah menunjukkan bahwa observasi dan tulisan-tulisannya sebagian berasal dari Aristoteles, seperti tulisannya tentang Dreams and Intellect yang diambil dari ide-ide Aristotelian dan Platonik. Al Kindi menulis On the Soul-nya, yang pada dasarnya merupakan sinopsis dari karya yang lebih besar milik Aristoteles dan Plato10)  Ia juga membedakan antara dunia atas dan dunia bawah. Sementara dunia atas terdiri atas hal-hal yang tidak berwujud seperti intelektualitas/ akal, pembawaan, dan jiwa, dunia bawah berisi hal-hal yang berwujud seperti tubuh, penciptaan, materi, dan bentuk yang bersifat terbatas. Ia menyebutkan bahwa Tuhan tidak dapat dimengerti oleh akal yang mengarah pada munculnya “teologi negatif”.

Ali Ibn Sahl Rabban At-Tabari (838–870)

At Tabari, seorang Persia dan mualaf Muslim, merupakan pioner dalam bidang perkembangan anak, yang ia jelaskan dalam bukunya Firdaus al Hikmah. Firdaus pada dasarnya adalah teks kedokteran yang dibagi dalam tujuh bagian dan 30 risalah (360 bab). Tabari mendiskusikan teks-teks India kuno dalam bukunya dan mengacu pada kontribusi Sushtra dan Chanakya dalam hubungannya dengan kedokteran, termasuk di dalamnya psikoterapi (Hamarnah, 1984). Ia juga menekankan dibutuhkannya psikoterapi dan mendorong para dokter untuk menjadi cerdas dan jenaka untuk membuat pasiennya merasa lebih baik. Orang sering merasa sakit karena imajinasi delusif, jelas At Tabari, tetapi dokter yang kompeten dapat menyembuhkan mereka dengan “konseling yang bijak”. Dia mengisahkan cerita tentang seorang dokter yang bertanya pada pasiennya, “Tadi anda makan anggur, atau semangka?” di masa musim buah-buahan tersebut. Pertanyaan-pertanyaan intuitif semacam itu akan membuahkan hubungan baik dan kepercayaan pasien dan akan menghasilkan hasil terapi yang positif. At Tabari menekankan hubungan yang erat antara psikologi dan kedokteran.

Abu Zaid Al-Balkhi (850–934)

Abu Zaid Al-Bakhi mungkin adalah ahli psikologi medis dan kognitif pertama yang mampu secara jelas membedakan antara neurosis dan psikosis, mengklasifikasikan gangguan-gangguan neurosis, dan menunjukkan secara detail seberapa rasional dan spiritualnya terapi kognitif dapat digunakan untuk mengobati setiap gangguan yang diklasifikasikannya. Al-Bakhi menklasifikasikan neurosis ke dalam empat gangguan emosional: ketakutan dan kecemasan, kemarahan dan agresi, kesedihan dan depresi, dan obsesi. Dia juga membandingkan antara gangguan fisik dan psikologis dan menunjukkan interaksi keduanya dalam menyebabkan gangguan psikosomatis. Dia menyarankan agar orang yang sehat menyimpan sejumlah obat dan pertolongan pertama di dekat mereka untuk mengantisipasi kondisi fisik darurat yang tak terduga, juga menjaga pikiran dan perasaan yang sehat dalam benaknya untuk mengantisipasi gejolak emosional yang tak terduga. Al-Bakhi mengatakan bahwa adalah keseimbangan antara jiwa dan tubuhlah yang menyebabkan kesehatan dan ketidakseimbangan akan menyebabkan kesakitan. Lebih jauh, ia mengatakan bahwa pengobatan tubuh mengikuti pendekatan-pendekatan yang berlawanan dan timbal balik dengan memperhatikan ketidakseimbangan yang ada, seperti demam–permukaan tubuh dingin, rasa dingin–panas. Pendekatan ini disebut ‘al-ilaj bi al-did’’ yang serupa dengan istilah “inhibisi resiprokal” yang diperkenalkan Joseph Wolpe tahu 1969. Al-Bakhi mengklasifikasikan depresi ke dalam tiga macam: hazn/ kesedihan normal sehari-hari, yang sekarang dikenal dengan depresi normal, depresi endogen, dan depresi reaktif. Depresi endogen berasal dari dalam tubuh sementara depresi reaktif berasal dari luar tubuh.

Abu Bakr Mohammad Ibn Zakariya Al-Razi (864–932)

Orang Persia yang dikenal sebagai Rhazes di Barat, Al-Razi mendukung psikoterapi sebagaimana mentornya, At-Tabari. Ia menunjukkan ucapan/ komentar yang memberikan harapan dari dokter akan menyemangati pasiennya, membuat mereka merasa lebih baik, dan mendorong penyembuhan yang lebih cepat. Al-Razi meyakini bahwa gejolak emosional tinggi yang tak terduga memiliki efek kuratif yang cepat pada gangguan-gangguan psikologis, psikosomatis, dan organis.11)  Ia adalah ahli prognosis dan pengobatan psikosomatis dan juga anatomi. Al-Razi menulis sebuah risalah tentang bagaimana mengukur inteligensi, walaupun terjemahan berbahasa Inggris atas karya ini tidak dapat ditemukan. Kitab al-Hawi-nya atau al-Hawi fit-Tibb adalah karya terpanjang yang pernah ditulis dalam sejarah kedokteran Islam dan itu dikenal sebagai buku pegangan kedokteran di dunia Barat sampai abad ke-18. Dalam ringkasan ini, Al-Razi membandingkan pendapat-pendapat medis milik ilmuwan Yunani dan Arab dengan miliknya sendiri dan tidak seperti ilmuwan lainnya pada masanya, ia mengkritik karya Hippokrates dan Galen, ilmuwan Yunani kenamaan. Beberapa karya Al-Razi yang lain adalah Mujarabbat, buku tentang pengalaman-pengalaman rumah sakit, al-Tibb al-Mansuri, buku tentang seni penyembuhan medis, dan al-Tibbal-Ruhani, yang di dalamnya ia mendiskusikan cara mengobati menyakit hati dan psikologi dalam jiwa manusia. Ia menulis bahwa praktik medis yang sehat tergantung pada pemikiran independen dan jiwa yang diobati sebagai substansi dan otak sebagai instrumennya. Ia juga menulis bahwa kompulsi/ tekanan religius dapat diatasi dengan alasan demi kesehatan mental yang lebih baik.

Abu Nasr Mohammad Ibn Al-Farakh (Al-Farabi) (870–950)

Al-Farabi, juga dikenal sebagai Alpharabius, Avenasser, atau Abynazal, adalah orang Turki. Ia menulis risalahnya tentang Psikologi Sosial, yang paling terkenal di antaranya adalah Model City. Al-Farabi menyatakan bahwa individu yang terisolasi tidak akan pernah dapat mencapai semua kesempurnaan dengan sendirian saja, tanpa bantuan orang lain. Ini adalah disposisi bawaan dalam diri setiap orang untuk bergabung dengan orang lain dalam pekerjaan yang harus dilakukannya. Karena itu, untuk mencapai kesempurnaan yang ia inginkan, setiap orang butuh tinggal bersama-sama dengan orang lain dan membuat asosiasi dengan mereka.12)  Dia juga menulis On the Cause of Dreams— Bab 24 dalam Book of Opinions tentang orang-orang dalam Kota Ideal dan membuat perbedaan antara interpretasi mimpi dan hakikat dan penyebab mimpi.13)  Al-Farabi juga menulis sebuah risalah tentang Meanings of the Intellect dan efek terapeutik musik bagi jiwa.14)  Seperti filsuf Muslim lain pada masanya, Al-Farabi menulis ulasan atas karya-karya Yunani, risalah-risalah independen, dan sanggahan-sanggahan atas karya para filsuf dan teologian. Banyak dari risalah-risalahnya tentang metafisika dianggap sebagai mahkota karya intelektualnya, contohnya Treatise on the Aims of Aristotle’s Metaphysics, Bezels of Wisdom, The Book on the One, dan the Unity, Explanatory remarks on Wisdom, dan sebagainya.

Abul Hasan Ali Abbas Al-majusi (W. 995)

Al-Majusi dikenal di Eropa sebagai “Haly Abbas”, adalah orang Persia. Leluhurnya mengikuti agama Zoroaster (majusi) dan mulai beribadah selama periode awal Islam. Dia menulis Al-Kitab Al-Malaki (al-Kamil) atau ‘‘The Royal Notebook” yang merupakan salah satu dari karya-karya klasik terbesar dalam kedokteran Islam dan mampu menjaga kerangkanya berdampingan dengan The Canon of Avicenna melalui masa Abad Pertengahan sampai masa modern. Dia adalah dokter yang ditunjuk oleh Raja Adud-ad-Dawlah ketika menulis bukunya itu. Dalam buku ini, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dua kali dan dijuluki Liber Regius (selanjutnya disebut “The Complete Art of Medicine“), Al-Majusi menulis tentang keseluruhan bidang kesehatan meliputi penyakit-penyakit mental dan tentang otak. Al-Majusi mendeskripsikan anatomi, fisiologi, dan penyakit-penyakit otak meliputi penyakit tidur, hilang ingatan, hipokondria, koma, meningitis panas dan dingin, epilepsi vertigo, penyakit cinta, dan hemiplegia. Ia menekankan penjagaan kesehatan dengan mencegah penyakit dan penyembuhan alami ketimbang penyembuhan medis atau obat-obatan yang seharusnya ditempatkan sebagai solusi terakhir. Buku tersebut berisi 20 risalah yang meliputi seluruh bidang kedokteran–sepuluh risalah pertama berupa teori (399 bab) dan sepuluh yang terakhir berupa praktik dalam 644 bab. Keimanan Al-Majusi pada Allah adalah bukti dalam peribadahan dan gaya ekspresi di sepanjang ringkasan ini. Banyak juga yang membahas tentang hubungan dokter-pasien, terutama aspek moral dari profesi kedokteran. Juga menarik untuk dicatat tentang detail dan pentingnya metodologi riset untuk buku yang baik mana saja yang tidak banyak berbeda dengan riset modern saat ini di Barat.

(bersambung)

One thought on “Psikologi dari Perspektif Islam Bag. 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s