Psikologi dari Perspektif Islam Bag. 3

Psikologi dari Perspektif Islam: Kontribusi Para Ilmuwan Muslim di Masa Awal dan Tantangan Ilmuwan Psikologi Muslim Saat Ini

Melanjutkan tulisan sebelumnya, masih menerjemahkan artikel berikut:

Haque, A. 2004. Psychology from Islamic Perspectives: Contributions of Early Islamic Scholars and Challenges to Contemporary Muslim Psychologists. Journal of Religion and Health. Vol. 43, No. 4, Winter 2004, pp. 357-377

***

Ikhwan Al-Safa: The Bretheren of Purity (Abad ke-10 M)

Kelompok ilmuwan yang merahasiakan identitas mereka ini muncul di Basra, Iraq bagian selatan. Sebanyak 52 atau 53 risalah mereka yang berisi pengetahuan spiritual dan filosofis menjadi terkenal di akhir abad ke-10. Karya mereka secara umum dibagi dalam matematika dan ilmu alam, psikologi, metafisika, dan teologi. Ilmuwan-ilmuwan ini menarik pengetahuan mereka dari sumber-sumber yang berbeda termasuk Taurat dan Injil, filsuf-filsuf Yunani masa awal, astronomi, ilmu alam, dan buku-buku keagamaan lainnya. Konsekuensinya, karya mereka sering disebut “sinkretik”. Ilmuwan-ilmuwan ini berusaha untuk menghasilkan sebuah doktrin yang akan menggantikan agama-agama historis sebagaimana yang mereka yakini bahwa tidak ada paksaan dalam beragama. Bagaimana pun, mereka merekomendasikan bahwa semua orang harus mengikuti suatu agama, yang oleh itu mereka memaksudkan bahwa hukum-hukum diperlukan bagi masyarakat yang berperadaban. Tetapi mereka mengimani bahwa Al Qur’an adalah wahyu terakhir dan Muhammad adalah utusan Allah. Dalam risalah-risalah mereka, ilmuwan-ilmuwan ini menulis tentang jiwa, otak, dan proses berpikir. Mereka membagi jiwa menjadi jiwa vegetatif, animal, dan manusia (rasional). Sementara jiwa vegetatif bekerja pada nutrisi, pertumbuhan, dan reproduksi, jiwa animal berkaitan dengan gerakan dan sensasi (persepsi dan emosi). Jiwa rasional terbatas hanya ada pada manusia dan memiliki kemampuan untuk berpikir dan berbicara. Mereka memandang otak sebagai organ yang paling penting di mana fungsi-fungsi yang lebih tinggi seperti persepsi dan berpikir terjadi; keyakinan yang umum saat itu adalah jantung lah organ utama. Mereka memandang bahwa proses berpikir dimulai dari kelima indera eksternal yang mengirimkan pesan melalui saraf-saraf halus ke otak di mana pemrosesan aktual terjadi di lokasi-lokasi yang berbeda. Deskripsi mereka tentang asal mula metafisis dari kehidupan di bumi dan kejatuhan jiwa manusia dari surga ke bumi juga pertemuan kembali mereka dengan jiwa dunia adalah yang paling menarik tetapi di luar lingkup tulisan ini.

Abu Ali Ahmad B. Muhammad B. Ya’kub Ibn Miskawayh (941–1030)

Ibn Miskawayh adalah seorang pemikir yang menulis bermacam-macam topik yang luas termasuk psikologi. Bagaimana pun, ia terkenal akan karyanya tentang sistem etik, terutama Taharat al-araq (‘‘Purity of Dispositions’’) yang juga dikenal sebagai Tahdhib al-Akhlaq (‘‘Cultivation of Morals’’). Dalam bukunya al-Fauz al-Asgar (‘‘The Lesser Victory’’), Ibn MiskawayH berbicara tentang bukti eksistensi Tuhan, kenabian, dan jiwa. Berkenaan dengan perkembangan kebajikan, ia mengkombinasikan ide-ide Platonik dan Aristotelian dengan sentuhan sufisme dan memandang kebajikan sebagai penyempurnaan aspek jiwa yang menggambarkan kemanusiaan, seperti sebab yang membedakan antara manusia dengan hewan. Ia mengemukakan bahwa kita perlu mengontrol emosi kita dan membangun sifat-sifat untuk mencegah diri kita dari berbuat salah. Argumennya tentang kesia-siaan takut mati begitu menarik, ketika ia mengingatkan bahwa seperti akal budi itu sendiri, jiwa dan moralitas tidak dapat dirampas. Konsep moralitas yang diajarkan Ibn Miskawayh sangat berhubungan dengan masalah-masalah jiwa. Ibn Miskawayh memperkenalkan apa yang sekarang dikenal sebagai “self reinforcement” dan harga respons. Ibn Miskawayh memaparkan bahwa seorang Muslim yang merasa bersalah karena melakukan sesuatu yang menyenangkan al-nafs al-ammarah-nya, harus belajar untuk menghukum dirinya secara dengan cara psikologis, fisik, atau spiritual, seperti dengan beramal, berpuasa, dan sebagainya.

Abu ‘Ali Al-Husayn B. ‘Abd Allah Ibn Sina (980–1037)

Ibn Sina, dikenal sebagai Avecenna di Barat berasal dari Bukhara. Dia terutama dikenal sebagai seorang filsuf dan dokter, tetapi juga berkontribusi dalam kemajuan semua ilmu pengetahuan di masanya. Di bidang psikologi, Ibn Sina menulis tentang pikiran, eksistensinya, hubungan tubuh-pikiran, sensasi, persepsi, dan sebagainya, dalam bukunya yang terkenal Ash-Shifa (“Healing”). Pada level yang paling umum, pengaruh pikiran pada tubuh dapat dilihat dari gerakan-gerakan volunter, seperti kapan pun pikiran ingin menggerakkan tubuh, maka tubuh akan patuh. Level kedua pengaruh pikiran pada tubuh adalah dari emosi dan kehendak. Katakan saja, jika sebuah papan kayu dipasang sebagai jembatan di atas jurang, seseorang hampir tidak mungkin melaluinya tanpa jatuh karena ia membayangkan dirinya jatuh sebagai kemungkinan yang begitu jelas sehingga “kekuatan natural anggota badan menyelaraskan diri dengannya”. Emosi-emosi yang kuat sesungguhnya dapat menghancurkan temperamen seseorang dan menyebabkan kematian dari mempengaruhi fungsi-fungsi vegetatif. Sebaliknya, jiwa yang kuat dapat menciptakan kondisi-kondisi dalam diri orang lain–berdasarkan fenomena ini, ia menerima realita hipnosis (al Wahm al-Amil).

He divided human perceptions into the five external and five internal senses: (a) sensus communis or the seat of all senses that integrates sense data into percepts, (b) the imaginative faculty which conserves the perceptual images, (c) the sense of imagination, which acts upon these images by combining and separating them (by intellect in humans) and is therefore the seat of practical intellect, (d) Wahm or instinct that perceives qualities like good and bad, love and hate, etc. and it forms the basis of one’s character whether or not influenced by reason, (e) intentions (ma’ni) that conserves in memory all these notions. (Paragraf yang ini, jujur, sulit membahasa-Indonesia-kannya… -_- karena sulit dimengerti konsepnya.)

Ia menulis tentang akal potensial (dalam diri manusia) dan akal aktif (luar diri manusia) dan bahwa kognisi tidak dapat secara mekanis dihasilkan tetapi melibatkan intuisi di setiap tahap. Menurutnya, pikiran manusia biasa adalah seperti cermin yang di hadapannya penggantian ide-ide berefleksi dari akal aktif. Sebelum pemerolehan pengetahuan yang berasal dari akal aktif, cermin tersebut tampak kabur/ berkarat, tetapi ketika kita berpikir, cermin tersebut terpoles dan ia tetap mengarahkannya pada matahari (akal aktif) sehingga ia mampu memantulkan cahaya. Ibn Sina juga memberikan sejumlah penjelasan psikologis tentang penyakit somatis tertentu. Ia memandang berfilsafat sebagai cara menjadikan “jiwa mencapai kesempurnaan”. Ibn Sina selalu menghubungkan  penyakit-penyakit fisik dan psikis secara bersama. Ia menyebut melankolia (depresi) sebagai suatu tipe gangguan mood di mana seseorang dapat menjadi penuh curiga dan membangun tipe-tipe fobia tertentu. Kemarahan, dikatakannya, mengubah melankolia menjadi mania. Ia menjelaskan bahwa tingkat kelembapan di dalam kepala berkontribusi pada gangguan-gangguan mood. Ini terjadi ketika jumlah pernapasan berubah. Kebahagiaan meningkatkan pernapasan, yang menyebabkan meningkatnya kelembapan di dalam otak, tetapi jika kelembapan ini berlebihan, otak akan kehilangan kontrol atas pikiran rasionalnya yang akan mengarah pada gangguan-gangguan mental. Ia juga menggunakan metode-metode psikologis untuk mengobati pasiennya. Ibn Sina juga menulis tentang simtom-simtom dan pengobatan sakit cinta (Ishq), mimpi buruk, epilepsi, dan memori lemah.

Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali (1058–1111)

Al-Ghazali lahir di Tus, Khurasan, dan wafat di tempat yang sama. Ia adalah seorang filsuf, teologian, ahli hukum, dan mystic. Ketika ia menjadi ilmuwan yang tenar dan sangat dihormati di Baghdad,  ia meninggalkan Baghdad dan menyendiri di Damaskus. Ghazali melakukan ziarah ke tanah suci dan mempertanyakan indera-inderanya lantaran menyadari bahwa indera dapat terperdaya. Ia dipandang sebagai arsitek perkembangan Islam di masa selanjutnya. Dikatakan bahwa dengan Al-Ghazali, sebuah era mencapai akhirnya dan era yang baru dimulai.16)  Setelah Ghazali, pendirian-pendirian dari aliran pemikiran yang berbeda-beda tidak berhenti, tetapi ukuran baru untuk kesatuan dan harmoni menjadi tercapai. Beberapa dari karya besarnya meliputi Ihya Ulum ad Din (Revival of the Religious Sciences), Al-Munqid min ad-Dalal (the Savior from Error), Tahafut al-Fhalasifa (Destruction of the Philosophy), Kimiya as-Saadah (Alchemy of Felicity), Ya Ayyuhal walad (O Young Man), Mishkat al-Anwar (the Niche of the Lights). Semuanya, ia menulis sekitar 70 buku.

Deskripsi Ghazali tentang hakikat manusia berpusat pada penemuan “diri”, tujuan akhirnya, dan sebab-sebab penderitaan dan kebahagiaannya. Ia menjabarkan konsep tentang diri dengan empat istilah: Qalb, Ruh, Nafs, dan Aql, yang semuanya menandakan entitas spiritual. Ia lebih memilih menggunakan istilah Qalb untuk diri dalam semua tulisannya. Diri memiliki kerinduan yang melekat akan yang ideal, yang (karena itu) ia berusaha untuk mencapainya dan ia dianugrahi dengan kualitas-kualitas untuk membantu mewujudkan itu. Untuk memenuhi kebutuhan tubuh, diri memiliki motif penggerak dan motif sensori. Motif penggerak berisi kecenderungan-kecenderungan dan impuls-impuls. Kecenderungan memiliki dua jenis, yaitu hasrat/ nafsu dan amarah. Nafsu mendesak rasa lapar, haus, dan hasrat seksual. Amarah berbentuk dalam amukan (kemarahan yang meledak-ledak), indignasi (kemarahan yang disebabkan oleh sesuatu yang tidak adil, jahat, dan hina), dan dendam. Impuls terletak di otot-otot, saraf, dan jaringan, dan menggerakkan organ-organ untuk memenuhi nafsu.

Motif-motif sensori (aprehensi) meliputi lima indera eksternal, yaitu: penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, dan perabaan, dan lima indera internal,  yaitu: akal sehat (Hiss Mushtarik)–ia mensintesiskan kesan-kesan inderawi yang dibawa ke otak sambil memberikan makna untuk mereka, imajinasi (Takhayyul)–memungkinkan manusia untuk menyimpan gambaran dari pengalaman, refleksi (Tafakkur)–menyatukan pikiran-pikiran yang relevan dan mengasosiasikan atau mendisosiasikan mereka sampai dianggap cocok; ia tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, karena belum siap dihadirkan dalam benak, ingatan (Tadhakkur)–mengingat kembali bentuk luar dari objek sebagaimana ada dalam memori, Tadhakkur mengingat kembali maknanya, dan memori (Hafiza)–kesan-kesan yang diterima lewat indera-indera yang disimpan dalam memori. Indera-indera internal tidak memiliki organ khusus, tetapi terletak pada lokasi-lokasi yang berbeda di otak. Sebagai contoh, memori terletak di lobus bagian belakang, imajinasi di lobus depan, dan refleksi di bagian tengah otak. Indera-indera dalam ini membantu seseorang untuk belajar dari pengalaman masa lalu dan meramalkan situasi di masa depan. Dalam Ihya, Ghazali menyatakan hewan memiliki kelima indera internal yang sama dengan manusia. Di Mizan al Amal, karyanya selanjutnya, ia mengklarifikasi bahwa hewan tidak memiliki kemampuan reflektif yang berkembang baik. Hewan-hewan berpikir kebanyakan dalam bentuk ide-ide bergambar dengan cara yang sederhana dan tidak mampu membuat asosiasi dan disosiasi yang kompleks atas ide-ide abstrak yang terlibat dalam refleksi. Diri memiliki dua kualitas tambahan, yang membedakan manusia dari hewan dan memungkinkan manusia untuk mencapai kesempurnaan spiritual. Kualitas ini adalah Aql (akal) dan Irada (kehendak). Akal adalah kemampuan rasional yang fundamental, yang memungkinkan manusia untuk memunculkan dan membentuk konsep-konsep dan memperoleh pengetahuan. Kehendak pada manusia berbeda dari yang ada pada hewan. Pada manusia, kehendak ditentukan oleh akal; sementara pada hewan, kehendak ditentukan oleh amarah dan nafsu. Semua kekuatan ini mengontrol dan mengatur tubuh. Qalb (hati) mengontrol dan mengatur di atas semuanya. Hati memiliki enam kekuatan: nafsu, amarah, impuls, aprehensi, akal, dan kehendak. Tiga yang terakhir tergantung pada tiga yang lainnya dan membedakan manusia dari hewan. Hanya manusia yang memiliki keenam kekuatan, hewan hanya memiliki tiga yang pertama.

Menurut Al-Ghazali, pengetahuan merupakan pembawaan lahir juga sesuatu yang diperoleh. Pengetahuan yang diperoleh memiliki dua macam: fenomenal (dunia material) dan spiritual (Tuhan, jiwa, dan sebagainya). Pengetahuan dapat diperoleh lewat imitasi, penalaran logis, perenungan, dan/atau intuisi. Terdapat empat elemen dalam hakikat manusia: the sage/ orang bijak (akal dan penalaran), the pig/ babi (nafsu dan kerakusan), the dog/ anjing (kemarahan), dan the devil/ orang jahat (karakter brutal). Tiga yang terakhir memberontak melawan yang pertama dan oleh karena itu orang yang berbeda memiliki kekuatan dengan proporsi yang berbeda.

Ghazali membagi nafsu menjadi tiga berdasarkan Al Qur’an: Nafs amarah (12: 53)–ia mendorong seseorang untuk secara bebas memperturutkan dorongan nafsu dan menganjurkan berbuat yang buruk. Nafs lawwamah (75: 2)–kata hati yang mengarahkan manusia pada yang baik atau buruk, dan Nafs muthmainnah (89: 27)–diri yang mencapai kedamaian akhir. Jiwa dalam tubuh dibandingkan dengan raja dalam kerajaannya. Anggota-anggota tubuh seseorang dan kemampuannya seperti para tukang dan pekerja, dan akal seperti penasihat yang bijak, sementara nafsu seperti pelayan yang jahat, dan amarah seperti polisi di kota. Jika sang raja menggunakan penasihatnya dalam urusan pemerintahannya dan memalingkan muka dari saran pelayan yang jahat dan menjaga pelayan dan polisi di tempatnya yang seharusnya, maka keadaan negara akan baik-baik saja. Serupa itu, kekuatan jiwa menjadi seimbang jika ia menjaga amarah tetap terkontrol dan menjadikan akal mendominasi nafsu. Jiwa yang sempurna harus melalui beberapa tahap, yaitu: sensuous (manusia seperti seekor ngengat, tidak memiliki memori dan membentur-benturkan diri pada lampu), imaginative (hewan tingkat rendah), instinctive (hewan tingkat tinggi), rational (melampaui tahap hewan dan memahami objek melampaui jangkauan inderanya), dan divine (memahami realita hal-hal spiritual).

Ia menjelaskan bahwa penyakit memiliki dua macam, yaitu: fisik dan spiritual. Penyakit-penyakit spiritual lebih berbahaya dan menyebabkan kebodohan dan penyimpangan dari Tuhan. Penyakit spiritual ini contohnya: keegoisan, cinta harta, ketenaran, dan status, suka mengumpat/ memfitnah, kebodohan, kepengecutan hati, kebengisan, memperturutkan syahwat, keragu-raguan (waswas), kedengkian, iri hati, ketidakjujuran, dan keserakahan/ kekikiran. Ghazali menggunakan terapi lawan, yaitu menggunakan imajinasi untuk mencapai yang sebaliknya, contohnya: kebodohan/ belajar, membenci/ mencintai, dan sebagainya. Ia mendeskripsikan kepribadian sebagai integrasi kekuatan spiritual dan tubuh. Ghazali meyakini bahwa kedekatan pada Tuhan ekuivalen dengan normalitas, sementara jauh dari Tuhan menyebabkan abnormalitas.

Bagi Ghazali, manusia menduduki posisi pertengahan antara hewan dan malaikat dan pembedanya adalah pengetahuan. Manusia dapat naik ke level malaikat dengan bantuan pengetahuan dan jatuh ke level hewan dengan membiarkan amarah dan nafsu mendominasi dirinya. Dia juga menekankan bahwa pengetahuan akan Ilm al Batin adalah fardhu kifayah atau diwajibkan bagi setiap orang dan meminta orang-orang untuk melakukan Tazkiya Nafs atau penyucian diri/ jiwa. Perilaku yang baik hanya dapat terbangun dari dalam diri dan tidak membutuhkan penghancuran total kecenderungan-kecenderungan alami.

(bersambung)

***

Ya Allah, masih sembilan halaman lagi ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s