Psikologi dari Perspektif Islam Bag. 4

Psikologi dari Perspektif Islam: Kontribusi Para Ilmuwan Muslim di Masa Awal dan Tantangan Ilmuwan Psikologi Muslim Saat Ini

Kelanjutan dari tulisan sebelumnya. Ini adalah bagian ke-4 dari terjemahan artikel ilmiah berikut:

Haque, A. 2004. Psychology from Islamic Perspectives: Contributions of Early Islamic Scholars and Challenges to Contemporary Muslim Psychologists. Journal of Religion and Health. Vol. 43, No. 4, Winter 2004, pp. 357-377

***

Abu Bakr Mohammed Bin Yahya Al-Saigh Ibn Bajjah (1095–1138)

Ibn Bajjah atau Avempace berasal dari Spanyol. Ia mendasarkan studi psikologisnya pada fisika. Dalam esainya Recognition of the Active Intelligence, ia menjelaskan bahwa kecerdasan aktif adalah kemampuan terpenting manusia dan menulis banyak esai tentang sensasi dan imajinasi. Bagaimana pun, ia menyimpulkan bahwa pengetahuan tidak dapat diperoleh hanya dengan indera saja, tetapi dengan kecerdasan aktif yang merupakan akal alam yang mengatur. Dia memulai diskusinya tentang jiwa dengan definisi bahwa tubuh terdiri atas materi dan bentuk dan akal adalah bagian terpenting dari diri manusia–pengetahuan yang logis diperoleh melalui akal, yang dengan itu saja memungkinkan seseorang mencapai kesejahteraan dan membangun karakter. Ia menulis tentang kesatuan jiwa rasional sebagai prinsip identitas individual, tetapi, berdasarkan kontaknya dengan kecerdasan aktif “menjadi satu dengan cahaya yang diberikan oleh Tuhan.” Definisinya akan kebebasan adalah ketika seseorang dapat berpikir dan bertindak secara rasional dan tujuan hidup seharusnya adalah untuk mencari pengetahuan spiritual dan membuat kontak dengan kecerdasan aktif dan lalu yang ilahiah.

Ibn Al-Ayn Zarbi (W. 1153)

Dilahirkan di Ayn Zarbi (Anazarbos), sebuah kota di selatan Sicilia, Zarbi pindah ke Baghdad untuk mendapatkan pendidikan di mana ia kemudian terkenal karena kemampuan/ seni penyembuhannya. Selain menjadi seorang dokter, ia juga dikenal di bidang astronomi, astrologi, logika, matematika, dan ilmu-ilmu alam. Ibn Zarbi menulis tujuh risalah yang kini hanya tinggal dua. Bukunya tentang seni penyembuhan al-Kafi fit-Tibb menjabarkan tentang penyakit-penyakit fisik dan mental serta pengobatannya. Pada babnya tentang otak dan kelemahan mental ia mendeskripsikan penyebab fisik dari menurunnya kecerdasan, kebingungan mental, amnesia, kegelisahan, letargi/ kelesuan, epilepsi, dan sebagainya. Penting untuk dicatat bahwa ia tidak pernah merujuk pada pengaruh-pengaruh roh jahat dalam diskusinya tentang gangguan mental–pendekatannya tetap objektif dan bebas pengaruh kultural pada masa itu.

Abu Bakar Muhammad Bin Abdul Malik Ibn Tufayl (1110–1185)

Ibn Tufayl atau Abubacer berasal dari Spanyol, bekerja sebagai dokter istana dan qadi bagi khalifah Almohad, Abu Yaqub Yusuf, yang bangga mengumpulkan lebih banyak ilmuwan dan pemikir ketimbang raja-raja lain di Barat Islam. Ibn Tufayl menulis dua risalah medis dan beberapa karya tentang filsafat alam termasuk Treatment of the Soul. Kisah filosofisnya memberikan konsep unik tentang manusia sebagai Hayy bin Yaqzam (The Living, Son of the Awake) yang menunjukkan bahwa seorang manusia memiliki cukup kekuatan spiritual dan filosofis, bahkan jika ia tinggal di sebuah pulau, untuk meraih kebenaran utama yang ada ia memiliki kemampuan untuk mencapainya. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Pococke sebagai Philosophicus Autodidactus yang menginspirasi Daniel Defoe untuk menulis Robinson Crusoe. Alegori dari Ibn Tufayl ini sebenarnya berdasar pada eksperimen pikiran ‘‘Floating Man” yang ditulis oleh Ibn Sina ketika ia dipenjara di kastil Fardajan (dekat Hamadhan) dan merujuk pada Kecerdasan Aktif yang melalui itu Tuhan menyampaikan kebenaran-Nya pada manusia. Dalam alegorinya, Ibn Tufayl berusaha menunjukkan bahwa tidak hanya bahasa, budaya dan agama mungkin tidak diperlukan bagi perkembangan pikiran yang sempurna–mereka bahkan mungkin menjadi pengganggu perkembangan yang demikian. Ia membedakan antara filsafat dan agama dengan mengatakan bahwa walaupun mereka memiliki kebenaran yang sama, filsafat tidak dimaksudkan untuk setiap orang. Agama sebaliknya menggunakan pendekatan eksoterik untuk memahami keberadaan Tuhan melalui simbol-simbol dan pelanggaran agama dan filsafat pada satu sama lain pasti akan gagal. Argumen ini tentu saja tidak disepakati oleh banyak ilmuwan.

Abu’l Walid Muhamad Bin Ahmad Ibn Rushd (1126–1198)

Ibn Rushd atau Averroes berasal dari Spanyol tetapi menetap di Maroko. Ia menegakkan bahwa pikiran itu pasif, dan abstraksi itu aktif. Terdapat eksistensi kemampuan dalam pikiran, yang didesain untuk menerima bentuk-bentuk yang dapat dimengerti, dari kecerdasan aktif. Kemampuan ini berkenaan dengan kecerdasan pasif atau imajinasi, dan karena ia secara terpisah dibentuk oleh tubuh, ia juga binasa karena tubuh. Bagi Ibn Rushd, jika seseorang ingin mengerti sesuatu, kecerdasan aktif harus berhubungan dengan pikirannya dalam cara tertentu. Kecerdasan aktif adalah penyebab efisien dari bentuk-bentuk dalam imajinasi, dan adalah bentuk makhluk manusia karena ia menentukan bagi mereka lantaran fungsi sebenarnya dan produksi ide abstrak dan perenungan. Ibn Rushd berargumen bahwa terdapat tiga macam kecerdasan, yaitu kecerdasan yang menerima, menghasilkan, dan dihasilkan. Dua yang pertama dari kecerdasan tersebut bersifat eternal, tetapi yang ketiga dapat dimunculkan dan memburuk di satu sisi, dan eternal di sisi yang lain. Ia yakin bahwa kita tidak bisa hanya menggunakan indera sebagai objek dari pikiran kita, tetapi juga harus menggunakan imajinasi agar kita cukup mampu melepaskan diri dari data sensori, agar objektivitas dapat terjadi. Dalam Fasl al Maqal (The Decisive Treatise), Ibn Rushd mendeskripsikan tiga tingkatan hierarki belajar. Hakikat manusia adalah pada level-level yang berbeda sehubungan dengan jalan mereka untuk membenarkan. Sebagian dari mereka membenarkan dengan cara argumen dialektis (Jadali). Yang lain membenarkan melalui demonstrasi (Burhan). Yang lainnya melalui argumen retoris (Khatabi). Ia meyakini bahwa pertimbangan kita menerima sebuah naskah (materi) dengan baik makna tampak (zahir) maupun tersembunyi (Batin) terletak pada keragaman kapasitas alami orang-orang dan perbedaan pembawaan mereka. Pertimbangan mengapa kita menerima suatu teks naskah yang makna tampaknya saling berkontradiksi adalah untuk menarik atensi mereka yang memiliki pemahaman/ dasar bagus dalam ilmu pengetahuan bagi interpretasi, yang mendamaikan mereka.

Fakhr Al-Din Muhammad Umar Al Razi (1149/50–1209)

Al-Razi berasal dari Persia. Menurutnya, jiwa manusia berbeda dalam sifat dasarnya; sebagian bersifat mulia, sebagian hina dan rendah. Sebagian baik dan lembut, sebagian lalim dan mendominasi; beberapa tidak menyukai tubuh, dan beberapa berhasrat untuk menguasai dan mencapai jabatan. Mereka tidak pernah menyimpang dari sifat dasar mereka, tetapi dengan latihan dan kewaspadaan, mereka dapat mengubah perilaku dan kebiasaan mereka. Al-Razi dalam bukunya Kitab al Nafs Wa’l Ruh menganalisis jenis-jenis kesenangan sebagai indrawi/ sensuous dan akali/ intellectual dan menjelaskan hubungan komparatifnya antara satu sama lain. Sifat dasar kesenangan inderawi baik bagi manusia maupun hewan tidak membentuk tujuan yang istimewa atas kebahagiaan manusia akan kesempurnaan. Kenyataannya, Al-Razi menegaskan bahwa pengawasan yang hati-hati atas kesenangan akan menunjukkan bahwa ia secara esensial merupakan unsur utama dalam penghilangan kepedihan. Contohnya, semakin lapar seseorang, semakin besar kenikmatan yang dirasakannya dari makan. Lebih dari itu, pemuasan kesenangan sepadan dengan kebutuhan dan nafsu hewan. Ketika kebutuhan ini terpenuhi dan nafsu terpuaskan, kesenangan sesungguhnya berubah menjadi rasa muak, makanan atau seks yang berlebihan tidak lagi memunculkan kenikmatan, melainkan kepedihan. Sebagai tambahan, permintaan yang terlalu banyak bagi kesenangan jasmani sama dengan penolakan kemanusiaan. Manusia tidak diciptakan untuk menyibukkan dirinya dengan pemuasan kesenangan jasmani, tetapi untuk mencapai aprehensi intelektual dan merenungkan kehadiran Ilahi, dan menurut Al-Razi kepuasan mereka secara pasti tidak mungkin. Karena itu, masalah penting dari dunia ini bukanlah pada pencapaian melalui peningkatan dan pemenuhan, melainkan melalui pelepasan dan penghindaran. Ia menyimpulkan bahwa kesenangan mental adalah mulia dan sempurna ketimbangan kesenangan inderawi, dan menyarankan bahwa keunggulan dan kesempurnaan manusia tidak hanya diwujudkan dengan ilmu, pengetahuan dan perilaku yang baik sekali, tetapi juga dengan tidak makan, minum, dan berhubungan seksual.

Muhyid-Din Muhammad Ibn Ali (Ibn Arabi) (1164–1240)

Ibn Arabi dilahirkan di Murcia (Spanyol), belajar di Lisbob dan kemudian pindah ke Seville di mana di situ ia bertemu guru-guru spiritual pertamanya. Ia menulis banyak, tetapi hanya 150 karya yang bertahan. Tampaknya tidak ada angka pasti berapa jumlah risalah yang ditulisnya. Diyakini bahwa kebanyakan karya yang ditulisnya ditulis ketika ia berada di Mekah dan di Damaskus–gayanya dikenal sulit dan ambigu. Di bidang psikologi, Ibn Arabi menulis teori tentang jiwa, persepsi, hakikat kehendak/ keinginan, imajinasi, dan mimpi. Interpretasi sufinya atas hati adalah bahwa hati adalah instrumen di mana pengetahuan esoteris terungkapkan. Hati bukan lah organ yang ada dalam dada, melainkan “terkoneksi secara fisik juga spiritual, tetapi juga berbeda dari itu”. Hati adalah simbol aspek rasional manusia, tetapi tidak sama dengan akal–itu merupakan bagian dari “Akal Universal”. Hati memiliki “mata batin” yang dapat menangkap Realita. Bagaimanapun, pikiran-pikiran jahat dan jiwa hewani dan kebutuhan dunia material dapat secara mudah membutakan “mata batin” ini. Seperti Aristoteles, Ibn Arabi mengakui tiga elemen manusia–tubuh, jiwa dan ruh, dan mengklasifikasikan jiwa manusia ke dalam tiga aspek, vegetatif, hewani, dan rasional. Tapi, ia tidak menyamakan jiwa rasional dengan akal. Jiwa manusia baginya adalah wahana Jiwa Universal dan ruh wahana Penalaran Universal. Ruh juga merupakan prinsip rasional yang dimaksudkan untuk mencari pengetahuan sejati. Sementara jiwa vegetatif mencari makanan bagi organisme, jiwa hewani adalah uap halus dari hati fisik. Jiwa rasional yang eternal adalah ruh yang murni, yang dilahirkan bebas dosa tetapi dosa-dosa berakumulasi sebagai hasil dari konflik antara jiwa rasional dan jiwa hewani. Akal adalah salah satu kekuatan jiwa rasional yang berfungsi selama asosiasinya dengan tubuh. Jiwa rasional secara absolut independen dari tubuh dan dapat eksis secara independen sebagaimana ketika ia bergabung dan akan tetap ada setelah meninggalkan tubuh, ketika mati. Dia menjelaskan bahwa Khayal atau imajinasi selalu aktif, bahkan ketika tidur menghasilkan mimpi yang diasosiasikan dengan gambaran yang diinginkan oleh seseorang. Tetapi, jiwa individual juga dapat mengungkapkan dirinya dalam mimpi, walaupun simbol-simbolnya harus diinterpretasikan dengan benar.

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s