Psikologi dari Perspektif Islam: Sebuah Ulasan

Lima tulisan terakhirku semuanya tentang psikologi dari perspektif Islam. Aku menerjemahkan artikel yang dibuat oleh Amber Haque, yang dimuat di jurnal Religion and Health dan berjudul Psikologi dari Perspektif Islam: Kontribusi para Ilmuwan Muslim Masa Awal dan dan Tantangan-tantangan bagi Ilmuwan Muslim Kontemporer.

Bagian pertama adalah tentang kotribusi para ilmuwan di masa lalu, mulai dari Al-Kindi, At-Tabari, Al-Bakhi, Al-Razi, Al-Farabi, Al-Majusi, orang-orang dalam Ikhwan Al-Safa, Ibn Miskawayh, Ibn Sina, Al-Ghazali, Ibn Bajjah, Zarbi, Ibn Tufayl, Ibn Rushd, Fakhruddin Al-Razi, dan yang terakhir Ibn Arabi. Mereka mengisi khazanah ilmu jiwa selama kurang lebih lima abad (sejak abad ke-9 sampai 13 Masehi).

Bagian kedua adalah tentang tantangan-tantangan yang dihadapi ilmuwan psikologi masa sekarang jika ingin mempribumikan psikologi, membangun psikologi yang indigenous, yang asli berasal dari, oleh dan untuk masyarakat Muslim, atau dengan kata lain membangun psikologi yang Islami, berdasarkan paradigma yang Islami. Secara teoretis:

1) Ilmuwan psikologi Muslim perlu mengidentifikasi dan mengklarifikasi pandangan mereka tentang ilmu pengetahuan secara umum dan membangun wawasan yang lebih dalam tentang hakikat dan tujuan ilmu. Ini akan memerlukan penjernihan keimanan Muslim dan pemahaman akan perbedaan antara sekularisme dan Islam.

2) Mereka juga butuh meredefinisi subjek material psikologi dari perspektif Islam dengan menggunakan paradigma Tauhid–ini akan berarti mempelajari “Nafs” (jiwa), lagi, dari perspektif religius Muslim.

3) Mereka juga butuh mengembangkan dan meluaskan kerangka berpikir teoretis tentang semua topik yang muncul dalam dunia psikologi Islami.

Secara praktik:

1) Mengumpulkan materi-materi dari masa awal sampai modern milik ilmuwan Muslim yang relevan dengan psikologi termasuk menerjemahkan karya-karya dari bahasa Arab, Perancis, Persia, Turki, dan Urdu ke bahasa Inggris agar dapat dibaca umum.

2) Mengidentifikasi organisasi yang tertarik pada pekerjaan di atas.

3) Mencari hibah-hibah universitas, sumbangan, dan pendanaan pribadi lainnya untuk mendapatkan dukungan finansial bagi aktivitas-aktivitas di atas.

4) Membentuk jaringan ilmuwan psikologi yang tertarik untuk bekerja sama dalam usaha ini.

5) Ilmuwan psikologi Muslim perlu belajar, membangun dan kemudian mengajarkan psikologi Islami secara komprehensif.

6) Mereka butuh mengembangkan skala yang terstandarisasi bagi populasi Muslim, memulai studi-studi empiris dan cara-cara yang Islami untuk mengobati masalah-masalah psikologi.

***

Di mataku, apa-apa yang dikatakan perlu dilakukan di atas hanya menunjukkan bahwa mendirikan rumah psikologi Islami setelah bangunan peradaban Islam runtuh dan di atasnya telah terbangun peradaban lain yang lebih kukuh dan akarnya telah menancap dalam sungguh merupakan pekerjaan besar dan hampir tidak mungkin untuk dilakukan, jika langkah utama yang diusulkan adalah mengajak orang-orang untuk kembali melihat “ke belakang” (e.g. mengumpulkan materi-materi dari masa awal dan menerjemahkannya). Pekerjaan seorang ilmuwan psikologi bukanlah seperti pekerjaan seorang antropolog. Seorang antropolog akan menemukan apa yang dicarinya di kedalaman bumi. Tapi, apa yang bisa diperoleh oleh ilmuwan psikologi? Apa gunanya mencari yang tersisa dari kedalaman masa lalu sementara masa sekarang dan masa depan secara pasti telah dan akan berbeda dalam hal kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk diri manusianya?

Jawaban yang diberikan Amber Haque bagiku tidak masuk akal:

“Orang mungkin saja bertanya mengapa perlu mengeksplorasi kontribusi ilmuwan Muslim yang hidup berabad-abad yang lalu dan bagaimana kontribusi semacam itu relevan dengan masa sekarang. Sebenarnya terdapat beberapa manfaat dari upaya ini. Muslim saat ini secara umum melupakan warisan kaya dari para pendahulu mereka yang kontribusinya secara umum didasarkan pada prinsip-prinsip Islam dan relevan di semua waktu dan tempat. Yang terpenting dari semuanya dan dalam kebanyakan kasus, pengetahuan Islami mereka dibimbing oleh provisi Tuhan dan karenanya diyakini bebas dari kesalahan manusia. Di bidang psikologi, kita juga menemukan bahwa para ilmuwan Muslim lah yang menghasilkan banyak teori psikologi dan praktik yang lazim di saat ini.”

Pertama, kalimat seperti itu seperti menunjukkan kefakiran kita, ilmuwan Muslim abad ini, yang untuk membangun ilmu yang Islami pun, kita menggantungkan diri pada warisan intelektual yang sudah terkubur dari orang-orang yang sudah mati. Apa gunanya ingat bahwa pendahulu-pendahulu kita pernah begitu kaya? Apa gunanya ingat jika yang kemudian muncul setelah ingat hanyalah nostalgia pada kegemilangan Islam di masa silam, lalu kemarahan pada Barat yang “mencuri” kekayaan intelektual Islam, lalu ambisi islamisasi ilmu sebagai jawaban atas hagemoni Barat atas dunia, dan lain sebagainya (topik-topik yang biasa muncul dalam bincang-bincang peradaban).

Kekayaan itu tidak menetes pada diri kita kecuali dalam bentuk mimpi, bahkan angan-angan kosong, ketika itu justru menjadi sebab kebanggaan dan kesombongan diri, perasaan superior yang tidak relevan dengan realita. Berapa banyak dari kita yang kemudian tidak bisa membebaskan diri dari penyakit jiwa yang satu ini? Kita tercerai dari usaha memenuhi kebutuhan masyarakat yang sebenarnya, teralihkan dari tujuan yang sesungguhnya, gara-gara kerinduan pada kebesaran masa silam dan lupa bahwa hidup kita tidaklah panjang.

Kedua, sepanjang pemahamanku, yang relevan bagi setiap waktu dan tempat adalah prinsip-prinsip ajaran Islam, bukan kontribusi para ilmuwan sekalipun itu didasarkan pada prinsip-prinsip Islam. Kontribusi para ilmuwan tentu terikat pada waktu dan tempat di mana ia hidup. Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin perubahan, pembaruan, dan kemajuan dalam terus-menerus terjadi sampai hari ini? Kita sendiri sudah menyaksikan bahwa karya-karya para ilmuwan masa awal dimakan oleh waktu sampai-sampai tidak terlacak lagi di hari ini? Tidakkah itu berarti kemanfaatan suatu pengetahuan itu bersifat sementara karena ia pasti akan tergantikan oleh pengetahuan-pengetahuan baru yang memberikan kemanfaatan yang lebih baik lagi?

Ketiga, sangat berlebihan jika dibuat kesimpulan bahwa “pengetahuan Islami mereka (para ilmuwan Muslim pada masa awal) dibimbing oleh provisi Tuhan dan karenanya diyakini bebas dari kesalahan manusia.” Tidak ada firman Allah yang mendorong kita untuk yakin bahwa buah pikiran manusia yang dekat sekali pun dengan-Nya bebas dari kesalahan. Bahkan, nabi dan rasul pun pernah berbuat salah. Nabi Muhammad pernah “bermuka masam”. Nabi Yunus pernah meninggalkan kaumnya dan ia akhirnya ditelan ikan hiu. Nabi Ya’kub pernah tidak adil dalam mengasihi anak-anaknya. Nabi Sulaiman pernah lupa ingat Allah karena sibuk mengurus kuda-kudanya. Bagaimana kita bisa dengan mudahnya percaya dan tidak melakukan pengamatan yang kedua, ketiga atau kesekian kalinya atas karya-karya ilmuwan Muslim?

Orang-orang yang meyakini bahwa karya para ilmuwan ini bebas dari kesalahan manusia, akan membuat pintu ijtihad tertutup untuk yang kedua kalinya (jika yang terjadi sekitar abad ke 13 adalah yang pertama). Sikap itu akan memunculkan taklid buta. Jika kita memandang hanya orang-orang di masa awal yang mendapatkan petunjuk Allah, pikiran tersebut sungguh sempit. Petunjuk Allah adalah hak Allah akan diberikan kepada siapa. Tetapi prinsipnya jelas, petunjuk diberikan kepada semua orang yang beriman dan mau bertakwa, di masa lalu, sekarang, maupun masa depan. Jika kita, ilmuwan di masa kini bisa bertakwa dengan baik seperti mereka di masa lalu, tidak tertutup kemungkinan bahwa kita juga akan terbimbing oleh Cahaya Ilahi dan mampu berkarya secara lebih baik untuk masyarakat kontemporer kita.

Keempat, terlalu cepat jika kita merasa bangga dari menemukan bahwa “para ilmuwan Muslim lah yang menghasilkan banyak teori psikologi dan praktik yang lazim di saat ini.” Secara pribadi, aku tidak mengerti tujuan dari kalimat ini. Apakah karya intelektual semacam teori-teori dan praktik psikologi berhak cipta sehingga tidak boleh diduplikasi atau ditemukan juga oleh orang lain? Apakah karya intelektual membutuhkan kredit sehingga nanti akan ada masanya kita mendebat teori-teori Barat dengan mengatakan bahwa ini, ini, dan ini pernah ditemukan oleh orang Islam, si A, si B, dan si C? Lalu kita akan mengatakan bahwa yang menemukan lebih dahulu lebih baik, sedangkan yang kemudian adalah penjiplak, peniru, atau pencuri, tak peduli bagaimana yang dituduh ini telah berusaha?

Aku hanya berpikir, objek material ilmu jiwa tetap sama sejak zaman dahulu sampai sekarang adalah manusia, yang kecenderungan-kecenderungan hakikinya tidak berubah dari waktu ke waktu. Jika orang di satu tempat dan di tempat yang lain, di waktu yang satu dan waktu yang lain, menyimpulkan hal yang sama tentang manusia, apa yang aneh atau apa yang salah? Bukankah penemuan lama jika tidak terfalsifikasi oleh penemuan yang baru, maka ia berarti terkonfirmasi dan itu justru menegaskan kebenarannya? Mengapa di antara kita ada yang merasa susah atau merasa terzalimi jika bukan istilah-istilah Arab atau nama-nama orang Arab zaman dahulu yang menghiasi buku-buku psikologi? Apakah harga diri kita sebagai Muslim sudah sedemikian rentannya sampai-sampai kita begitu inginnya kembali mendulang kebesaran dan kemuliaan yang terampas? Terlalu berlebihan remehnya jika sebab gejolak batin kita hanyalah masalah pengakuan ini.

Kelima, kepada apa seharusnya kita mengembalikan penilaian apakah suatu ilmu itu Islami atau tidak? Bukan pada penemunya seorang Muslim, atau lebih spesifik lagi para Muslim pada masa awal, melainkan Al Quran yang menjadi pembeda antara baik dan buruk dan hadist-hadist nabi. Membendung sekularisasi ilmu hanya dapat dilakukan dengan kembali pada agama untuk mengembalikan spiritualitas dan keberagamaan dalam hidup masyarakat. Itu artinya juga dengan yang utama adalah semakin mengakrabkan diri dengan Al Quran dan hadist, bukannya pada karya-karya ilmuwan muslim pada masa awal, untuk kemudian dengan pengetahuan Qurani tersebut kita melihat kembali psikologi yang kontemporer, apakah sesuai dengan agama dan hakikat kemanusiaan manusia atau tidak.

Menggali apa-apa yang sudah terkubur di masa lalu sangat buang-buang waktu, tenaga, dan biaya. Jika tergali pun, upaya menelaah, membaca dan menerjemahkannya tetap buang-buang waktu, tenaga, dan biaya. Jika hasilnya didapat, adaptasinya untuk menjadi teori dan praktik psikologi yang bermanfaat dan dapat diterima umum pun luar biasa buang-buang waktu, tenaga, dan biaya. Sungguh tidak praktis di tengah keterbatasan yang dialami kita semua, sementara kebutuhan masyarakat semakin mendesak untuk dipenuhi.

Lagipula, jika dibandingkan, mana yang lebih unggul, teori-teori persepsi dan sensasi orang-orang zaman dahulu atau orang-orang sekarang yang sudah modern? Tentang penderitaan dan kebahagiaan, orang-orang zaman sekarang pun berteori tentang sebab-sebab penderitaan dan kebahagiaan, bahkan Al Quran pun sudah menjelaskannya tanpa perlu kita membuka kembali literatur kuno. Gangguan-gangguan jiwa, psikosomatis, neurotis, psikosis, dan sebagainya, bukankah yang ditemukan sekarang lebih berkembang dan terdokumentasi lebih sistematis plus pilihan-pilihan terapinya, termasuk terapi yang religius? Hubungan antara jiwa dan tubuh sudah diketahui orang secara luas, bahkan sudah lintas bidang ilmu, tidak hanya ditelaah dalam psikologi. Fungsi akal, hati, nafsu, dan ruh telah jelas, maka apa lagi yang belum kita tahu tentang manusia? Apakah masih relevan untuk memahami gangguan mood menggunakan penjelasan Ibn Sina tentang “kelembapan di dalam kepala”?

Kembali pada penemuan-penemuan ilmuwan Muslim masa lalu untuk membangun psikologi yang Islami memang tampaknya ideal dan indah. Namun, upaya untuk mencapai itu, diperkirakan dengan rasio saja sangat boros sehingga bisa jadi manfaatnya tidak akan lebih besar daripada kerugiannya, meskipun manfaat itu tidak dipungkiri mungkin tetap ada. Menurutku, penghargaan itu penting, tetapi ada baiknya jika kita memberikan penghargaan itu secara proporsional. Juga, ada baiknya kita mengambil pelajaran dari orang-orang masa lalu secara bijak. Mungkin yang perlu dipetik dari karya-karya mereka bukanlah konten dari karya-karya itu, melainkan semangat yang melatarbelakangi dan proses yang membuahkan karya-karya besar itu sehingga tetap dikenang sampai sekarang sebagai karya manusia yang luar biasa pada zamannya. Semangat dan proses itulah yang bisa kita munculkan dalam diri kita untuk membangun psikologi Islami kita sendiri, manusia-manusia abad ini.

Yang sudah menghilang di makan zaman bisa jadi karena memang sudah tidak bermanfaat lagi, karenanya ditinggalkan oleh masyarakat. Itu artinya, bisa jadi akan sia-sia usaha mencari dan menemukan yang sudah lenyap. Sungguh, pengetahuan dan ilmu yang benar semuanya adalah milik Allah.

… Demikianlah Allah Membuat Perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah Membuat Perumpamaan-perumpamaan. (QS 13: 17)

3 thoughts on “Psikologi dari Perspektif Islam: Sebuah Ulasan

  1. syangnya ( mungkin ) bahasan ttg filsafat muaranya emg org2 jadul sih, so bljar filsfat sbnrnya muter disitu2 aja ^_^
    btw ulasan yg bgus Tina. mencerahkan.
    istilah org jaman dulu sih ; aisa al-fata an yaqula kaana abi.. walakin al-fata man yaqulu Ha ana dza!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s