Komentar untuk “Indonesia–Mesir: Kita Bersaudara Dekat!”: Rekonsiliasi Konflik dalam Islam

Aku baru saja membaca sebuah tulisan, lagi-lagi tentang Mesir, di blog seorang sahabatku. Bisa dibaca di sini. Ia menulis tentang aktivitas demonstrasi yang dilakukan beberapa waktu yang lalu di beberapa tempat di tanah air terkait persoalan yang sedang terjadi di Mesir. Dan aku membuat sebuah komentar panjang di sana yang aku dokumentasikan di dalam tulisan kali  ini. Namun sebelum sampai di situ, aku ingin mencatat sesuatu terlebih dahulu.

Dengan topik serupa, yaitu Mesir, baru-baru saja aku membaca perdebatan-perdebatan di ruang Facebook. Sungguh berkembang pemikiran dan pendapat orang-orang. Ada yang semula tampaknya bersimpati pada pihak yang menjadi “korban” berubah haluan menjadi berpikir bahwa demonstrasi yang tidak ada akhirnya ini sungguh mengandung kemudharatan yang besar. Argumennya berdasarkan pemikiran ulama-ulama salaf (entahlah, aku tidak begitu memahami ini karena aku hanya baik-baik membaca), demonstrasi bukanlah cara baik menyelesaikan masalah, terutama sebagai cara mengoreksi pemerintah. Menurut ulama tersebut, berdemonstrasi adalah cara orang kafir. Orang Islam punya cara yang lebih damai dan elegan.

Ada yang semula tak bersuara jadi ikut menulis di wall mareka, SAVE EGYPT, dan mencela orang-orang Islam yang tidak bersimpati pada saudara-saudara Mesirnya, yang tega-teganya bisa merasa baik-baik saja hidup di Indonesia yang tenang, aman, dan makmur dengan segala permasalahannya. Seseorang bahkan menyatakan tidak bisa mensyukuri Indonesianya karena Mesir sedang dilanda bencana.

Sikap kita orang Indonesia yang melek soal apa yang terjadi di Mesir sungguh beragam. Ada yang memutuskan acuh saja memandang itu persoalan dalam negeri orang, ada yang tidak bisa acuh karena orang dalam negeri Mesir adalah saudara sesama muslim. Dalam menentukan sikap, kita berakhir ribut sendiri. Mereka yang tidak bisa acuh pun berlainan dalam tindakan. Mereka yang acuhnya prodemonstran, ada yang berpikir harus ikut berjihad di Mesir, ada yang berdemonstrasi untuk membangun opini publik untuk mendukung dikembalikannya lagi pemerintahan yang sah, ada yang berdoa, “Semoga… semoga… semoga…” panjang sekali, ada yang berharap pemerintah kita bisa melakukan sesuatu. Mereka yang acuhnya kontra terhadap para demonstran, ada yang membuat argumentasi tandingan bahwa yang di Mesir itu bukan jihad, berdemo itu bukan jalan jihad, mengimbau ini dan itu agar muslim di Indonesia tidak perlu ikut-ikutan, juga mengimbau agar mereka yang berdemo di Mesir kembali ke rumah masing-masing.

Sekali lagi, dalam menentukan sikap, kita berakhir ribut sendiri. Tapi, apakah “perpecahan” ini salah? Aku tidak berpikir demikian. Aku malah jadi bersemangat mengetahui setiap orang semakin menggunakan akal dan sumber daya dalam diri dan sekitarnya untuk mencari jalan keluar akan masalah Mesir ini. Aku jadi bersemangat, juga karena peristiwa ini rupanya membuatku belajar sesuatu; mempertemukanku dengan beberapa ayat Al Quran yang menjadi besar maknanya dengan adanya peristiwa besar dalam sejarah umat Islam ini, tentang rekonsiliasi konflik dalam Islam.

Sekarang adalah komentarku terhadap tulisan sahabatku itu. Sungguh bersyukur bisa sampai pada titik ini. Memang rasanya agak keras nadaku menuliskannya, tetapi aku menyadari kesementaraan pendapatku. Dunia berubah, pengetahuan berubah, aku berubah, pendapatku berubah. Hanya Allah dan Kebenaran-Nya yang tetap. Semoga Allah mengampuni kesalahan-kesalahan berpikir dan bertindak kita. Amin, ya Rabb…

***

“Saat kita menikmati lebaran bersama keluarga, merasakan nikmat kesehatan dan kesempatan untuk beribadah di bulan Syawal, saudara muslim kita di Mesir dibantai habis-habisan!”

Kenapa kita muslim Indonesia harus merasa bersalah karena diberi Allah kemampuan menikmati lebaran bersama keluarga, merasakan nikmat kesehatan dan kesempatan untuk beribadah di bulan Syawal? Kupikir, mereka sebenarnya juga bisa memilih untuk menikmati lebaran bersama keluarga, merasakan nikmat kesehatan dan kesempatan untuk beribadah di bulan Syawal, ketimbang berdemonstrasi dan berakhir dibubarkan aparat secara paksa. Kalau kemudian ada jatuh korban, itu akibat keputusan mereka sendiri karena tidak mau bubar dan tidak mau menerima jalan damai yang ditawarkan.

Akan ada orang yang menjawab, “Kan mereka berdemonstrasi untuk menegakkan keadilan dan mengembalikan kepemimpinan yang sah berdasarkan demokrasi.” Kupikir lagi, mereka sebenarnya bisa memilih jalan yang lebih kecil mudaratnya, yang lebih baik, lebih tenang, lebih damai, dan lebih aman, ketimbang pengerahan massa besar-besar yang sangat mungkin berpotensi rusuh dan pasti kalau rusuh akan ada yang mati.

Akan ada orang yang menjawab, “Mereka berdemonstrasi karena tidak ada jalan lain lagi untuk mencapai keinginan mereka.” Aku pikir lagi, apakah keinginan itu sekarang masih pantas untuk diperjuangkan mengingat ratusan orang sudah mati “hanya” karena diperintah untuk berdemo oleh pemimpin-pemimpin mereka? Seandainya pemimpin mereka memerintahkan mereka untuk menahan diri, bersabar, dan berpikir jernih untuk tidak terpancing suasana, kematian yang jadi bencana kemanusiaan sekarang tidak akan terjadi. Sekarang, jelas berdemonstrasi dan mati di arena demo tidak memberikan jalan. Apa tidak layak untuk dipikirkan kembali bahwa jalan yang lain itu sebenarnya ada? Berpikirlah ke arah sana.

Akan ada yang menjawab, “Matinya mereka itu jihad. Demonstrasi mereka itu jihad.” Aku berpikir kita perlu kembali ke makna jihad yang sesungguhnya: berjihad adalah berusaha sungguh-sungguh, berjihad adalah melawan musuh yang nyata, dan berjihad adalah melawan nafsu dan setan (dorongan-dorongan buruk dalam hati). Mereka yang berdemo dan yang mati itu; siapa musuh yang nyata bagi mereka? Pihak militer, yang juga adalah sama beragama Islam seperti mereka? Pihak liberal, yang sebagiannya ada yang beragama Islam? Yang mereka jadikan musuh adalah saudara mereka sendiri, yang tentu lebih dekat hubungan darah dan kebangsaannya ketimbang kita orang Indonesia.

Sekarang bagi yang berdemo di Indonesia, apa tujuannya? Untuk bersimpati? Menunjukkan kepedulian? Menyatakan dukungan pada salah satu pihak di sana? Membuat muslim-muslim lain yang tidak ikut berdemo, tidak bersimpati, tidak menunjukkan kepedulian, dan tidak menyatakan dukungan pada salah satu pihak merasa bersalah dan berdosa? Aku tidak menafikan bahwa setiap muslim adalah bersaudara, tetapi sering kita menyempitkan makna persaudaraan itu hanya pada mereka yang satu ideologi dengan kita. Di luar itu, mereka bukan saudara kita; mereka kita panggil musuh, mereka antek-antek asing, Amerika, atau Zionis, mereka pengikut taghut, mereka sesat, mereka kafir. Kita tidak lagi berpikir besar bahwa yang bersaudara itu adalah orang-orang yang mukmin, yang menjadikan Islam agama mereka, Allah Tuhan mereka, betapa pun mereka masih belum sempurna dalam beragama.

Selanjutnya, tentang persaudaraan muslim, kamu hanya menyitir QS Al Hujurat ayat 10? Tidak membaca beberapa ayat yang sebelumnya? Aku akan menuliskannya secara lengkap untukmu, ayat 6-10:

6) Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

7) Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah Menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan Menjadikan Iman itu indah dalam hatimu dan Menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,

8) sebagai Karunia dan Nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

9) Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali (kepada Perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah Menyukai orang-orang yang berlaku adil.

10) Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.

Sebelum kita berdemo dan menyatakan keberpihakan, sudahkah kita memeriksa dengan teliti berita-berita yang datang pada kita? Sudahkah kita memeriksa bahwa tindakan kita itu betul karena keimanan, bukan menuruti kemauan atau nafsu lantaran sentimen tertentu, ideologi, kelompok, pengaruh pemimpin, takut perkataan manusia atau motif-motif lainnya, misalnya mencari simpati publik untuk diri kita sendiri? Sudahkah kita berjihad berusaha mendamaikan mereka yang berperang sebelum melakukan apapun? Sudahkah dalam berusaha mendamaikan mereka yang berperang kita berlaku adil, dan setelah itu tetap berlaku adil? Allah tidak Menyukai orang-orang yang tidak berlaku adil dan tidak mengikuti tuntunan rekonsiliasi konflik dalam Islam tersebut.

Tidak ada banyak gunanya (hanya) menyatakan simpati, merasakan kesedihan, merasakan kebencian pada “pembantaian”, melakukan demontrasi. Setelah sampai di rumah, tidakkah yang dirasakan hanyalah lelah, lalu makan, mandi, dan beristirahat, lalu emosi yang tadi bergelora hilang sudah, dan setelah itu juga bisa kembali tertawa-tawa dengan keluarga dan teman? Apakah kita puas karena sudah menyatakan simpati, merasakan kesedihan, dan mengutarakan kebencian, dan melakukan demonstrasi? Apakah kewajiban kita sebagai muslim dan mukmin jadi gugur setelah berhasil menyatakan, merasakan, dan melakukan itu semua di mana-mana, di jalanan, media sosial, di mana saja?

Bagiku belum karena kita belum melakukan yang seharusnya. Jika kita hanya tahu caranya berpihak, tetapi tidak tentang menemukan solusi yang mendamaikan, semua yang kita lakukan sia-sia. Jika kita justru mendukung salah satu, berarti kita ikut menjadi pasukan dari salah satu golongan yang berperang. Kita yang seperti itu tidak menyelesaikan masalah, justru menjadi bagian dari masalah. Kita perlu memperbaiki diri kita dulu jika mau menjadi bagian dari orang-orang yang memberikan solusi. Namun demikian, ceritanya akan lain jika kita berdemonstrasi untuk menawarkan kepada pemerintah Indonesia tentang solusi mendamaikan Mesir.

Akan ada di antara pembaca tulisan ini yang menjawab, “Kami tidak punya kemampuan untuk itu, untuk memikirkan itu.” Tidak ada kewajiban untuk kita memikirkan itu jika kita tidak mampu, tetapi ada orang yang wajib melakukan itu, yaitu pemimpin-pemimpin kita. Akan ada yang menjawab, “Pemimpin kami belum melakukan itu.” Kewajiban kita adalah mengingatkan dan mendorong mereka untuk berpikir dan sepanjang tidak ada solusi, sebaiknya kita jangan mau disuruh berdemonstrasi tanpa tujuan dan manfaat yang nyata bagi penyelesaian masalah. “Pemimpin kami tidak melakukan itu.” Kewajiban kita adalah mengingatkan atau lalu mengganti mereka yang tidak mampu bergerak ke arah perbaikan dengan mereka yang lebih cinta pada keimanan dan membenci kekafiran dalam beragama.

Pemimpin yang tidak bisa melihat jauh ke depan adalah pemimpin yang tidak berguna. Hati-hati, jika tetap berada di belakang orang yang seperti itu, itu berarti sebagai pengikut kita sedang menganiaya diri sendiri. Semoga tidak di hari kiamat kita menjadi orang yang menyesal dan berkata:

“Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada rasul.” Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.”

QS Al-Ahzab 33: 66-68

***

PS: Dibandingkan dengan komentar asliku, tulisan ini di beberapa titik telah kuperbaiki. Terakhir, ajarilah aku apa yang belum aku tahu.

2 thoughts on “Komentar untuk “Indonesia–Mesir: Kita Bersaudara Dekat!”: Rekonsiliasi Konflik dalam Islam

  1. Sangat sependapat dengan komentar/koreksimu atas tulisan temanmmu. Argumen dan hujjah yang kau sampaikan jauh lebih mendekati kebenaran dibanding tulisan pertama(tulisan temanmu).

    # Teruntuk saudara2 ku yang suka berdemo;
    -Belum datangkah/sampaikah ke telinga kalian nasihat para ulama ahlussunnah yang derajat keilmuannya lebih tinggi dibanding para penyeru yang mengajak kalian berdemo?

    -Jika telah sampai nasihat itu, kenapa kalian “lempar ke tembok”(abaikan) nasihat itu dan lebih memilih jalan-jalan yang menyimpang dari jalan Allah?

    -Belum sampaikah kisah Nabi Musa kepada kalian? Ketika Allah mengutus Nabi Musa untuk mendakwahi Penguasa yang dzalim(Fir’aun) bahkan mengaku dirinya Tuhan? Apakah Nabi Musa dan kaumnya berdemo???

    Allah berfirman:
    “Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas,dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan).” Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?”

    #Semooga Allah menjadikan hati kita lembut, tidak keras laksana batu, bahkan lebih keras lagi..

    #Teruntuk saudara2 kita di Palestine, di Suriah, di Mesir dan di belahan bumi manapun mereka yang terdzolimi, semoga Allah berikan kekuatan, kesabaran dan pertolonganNya. Dan semoga bait-bait doa kita untuk kebaikan bagi mereka disetiap sholat 5 waktu, dipenghujuung 1/3 malam, dan dikesempatan lainnya, Allah kabulkan.

  2. QS Taaha: 43-44 “Pergilan kamu berdua kepada Firaun, karena dia benar-benar telah melampui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepada Firaun dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar dan takut.”

    Benar. Bahkan terhadap Fir’aun, Musa dan Bani Israil yang ribuan orang itu tidak berdemo, tetapi dengan bertukar pikiran, dengan berbicara baik-baik. Terhadap Fir’aun memang tidak berhasil, namun dengan begitu, ada sekelompok tukang sihir yang kemudian memilih beriman karena melihat kebenaran. Kisah mereka yang kemudian dihukum mati karena memilih beriman sangat menggetarkan, diabadikan dalam Al Quran. Mereka berani mati dengan alasan yang benar, dengan penuh kepasrahan kepada Allah.

    Apakah di Mesir bisa diterapkan metode yang sama? Aku berpikir, mengapa tidak? Api tidak bisa dipadamkan dengan api. Itu bukan ucapan yang klise. Namun, di tengah situasi yang membara luar dan dalam, siapa yang mampu berpikir dengan kepala dingin? Benar-benar, kita semua bertanya-tanya, kita semua sedang berpikir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s