Diskusi Psikologi, Islam, dan Apa Saja yang Tiba-tiba Nyambung Bag. I

Malam ini panjang dan berat kepalaku bekerja. Niat cuma mengomentari status seorang adik berubah menjadi diskusi yang luar biasa panjang, lebih dari 2.500 kata. Aku cuma ingat nasihat seorang sahabat bahwa setiap diskusi itu ada baiknya jika didokumentasikan agar suatu saat bisa dilihat lagi. Dari situlah aku merasa sayang jika halaman Facebook yang berisi diskusi itu hilang sia-sia dimakan waktu, tertimpa status-status baru. Akhirnya, aku menyalin semuanya dan memindahkannya di sini.

Haha… Memang agak berantakan ya. Tapi, sudahlah. Harapanku, semoga ini bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.

***

Karim: Dalam batas ruang ketidaktahuanku, aku menganggap psikometri adalah kungkungan dan perangkap psikologi hingga ia tidak bisa memahami jiwa seutuhnya, menganalisis cinta hanya dengan regresi, menerka kesadaran hanya dengan analisa faktor…

Aku: Iya, Karim… Kamu perlu meluaskan ruang wawasanmu. Pengetahuan itu tidak ada batasnya.

Vera: pun juga aku mba.. kasih tips ke kita dong haha

Karim: aku tahu mbak, tapi aku belum bisa menangkap secara utuh alasan penggunaan psikometri selain hanya dengan menjadikan psikologi sebagai sains yang “objektif”, itu saja, menurut mbak?

Aku: Apa sih maksudnya “Dalam batas ruang ketidaktahuanku…”?

Karim: ya dalam bagian skema dari kognitif ku, ada ruang yang belum diisi oleh pengetahuan mengenai psikometri, ruang itu kosong dan mempunyai batas atau sekat dengan pegetahuan lain dalam suatu ruangan lebih besar yaitu psikologi.

Aku: Kamu pengen psikologi jadi ilmu yang seperti apa sih?

Vera: Aku merasa aku mulai tertular mba aftina dengan lebih banyak mengkritisi sesuatu, berpikir ulang, semoga ini baik *nyambung gak ya? hehe*

Karim: aku pengennya psikologi itu menjadi sebuah ilmu yang bisa mengkaji manusia seutuhnya, tidak terpisah2, mengembalikan objek kajiannya yang berubah dari perilaku ke jiwa (psyche)…

Aku: Oh, nyambung-nyambung saja, Vera. Kalau aku boleh jujur, aku benar-benar sengaja bersikap begitu ke beberapa orang. Sering bukan karena tidak setuju atau memusuhi, tapi karena ingin menguji adanya kemungkinan jawaban yang lain. Aku selalu ingin tahu jawaban yang lain itu akan membawaku ke mana, kembali ke jalan yang sudah ada dan wajar atau jalan yang baru dan mencengangkan? Dengan begitu ruang wawasanku rasanya menjadi pelan-pelan meluas. Karena pengetahuan itu tidak ada batasnya.

Vera: seutuhnya itu yang bagaimana ya? (makin asyik :DDD)

Aku: Persis. Itu yang mau aku tanyakan selanjutnya ke Karim. Apa menurutmu Karim?

Karim: kalo menurutku pengetahuan itu ada batasnya, batas itu muncul dari keterbatasan manusia sndiri

Aku: Memang kamu tahu batas dirimu di mana tepatnya?

Karim: bukan batas diriku, tapi batas manusia, seperti kisah imam malik yang ditanyakan oleh salah satu muridnya mengenai bagaimana ALLAH duduk di Arsy’ nya, ia menjawab bahwa menanyakan hal itu adalah bid’ah karena jelas pengetahuan kita tidak bisa mencapai hal itu, masih banyak lagi sebenarnya, misalnya tentang kosmologi… kalo batas diriku perlahan tapi pasti aku sedikit tahu karena aku belajar di dunia psikologi yang sedikit membantuku untuk memahami diriku sendiri

Vera: mba aftina : pun juga begitu denganku mba, sebenarnya pertanyaan-pertanyaan itu bukan mengetes atau menolak, lebih kepada kemungkinan jawaban dan sesungguhnya menjawab pertanyaanku sendiri, serunya lagi jika ada perbedaan padangan jadi bisa semakin luas aku mempelajarinya, semoga aku tidak telat memulainya, sejak dulu aku menyadari kekuranganku adalah mengkritisi dan mudah menerima pernyataan.. tapi smakin kesini aku tahu, pertanyaan memang diperlukan.. *jadi teringat kisah nabi Ibrahim yang selalu bertanya-tanya siapa Tuhannya yang sebenarnya, abaikan haha*

Karim: misalnya aku tidak suka pelajaran hitung menghitung, maka aku hanya belajar sebatas kemampuan dan minatku dalam hal apa saja yang berkaitan dengan hal tsb, sederhana…

Mas Faisal: Oh ya? Masak?

Karim: mesti mas faizal

Aku: Berarti sudah jelas, kan? Batas itu ternyata kamu buat-buat sendiri, Karim, karena ada yang kamu nggak suka… Seandainya kamu suka, bukankah rasa ingin tahu akan membuat kamu mengembara ke mana-mana? Sepanjang kamu masih mampu, kamu akan terus mengembara. Kalau sudah begitu, kamu tahu batas ruang akalmu di mana? Di titik di mana kamu bilang, “Sudah ah. Cukup sampai di sini saja aku tahunya.”

Karim: sebagai manusia biasa, aku hanya mempelajari yang aku butuhkan untuk mencapai tujuan, terlepas dari suka atau tidak suka, jika aku butuh, aku akan mempelajarinya, jika tidak yang tidak aku pelajari, memang batas itu aku buat karena aku menyeleksi pengetahuan yang memang penting untuk di pelajari, jika tidak penting, belum saatnya untuk dipelajari…

Aku: Kembali ke status awalmu, aku cuma mau berpendapat begini. Prinsip memahami sesuatu yang kompleks adalah dengan memecahnya menjadi beberapa bagian yang lebih sederhana sehingga analisa mungkin untuk dilakukan. Kenapa psikologi Barat jatuhnya pada hanya memahami perilaku manusia? Kupikir, itu karena mereka menyadari bahwa manusia itu begitu kompleks dan mereka sudah mentok. Kembali ke diskusi kita tentang batas ruang pengetahuan, mereka orang-orang yang berkata, “Sudah ah…”. Andai mereka mau terbuka pada agama, sebenarnya ruang pengetahuan tentang manusia bisa diperluas dan diperdalam lagi. Tapi, sekalipun sudah menerima agama, tetap ada titik di mana manusia tidak dibiarkan Allah maju terus, yaitu ketika manusia ingin tahu tentang apakah ruh itu. Ruh itu urusan Allah. QS 17: 85. Sebenarnya dalam mencari pengetahuan, Islam sudah sangat menjelaskan mana-mana saja yang manusia dibebaskan bereksplorasi, mana yang tidak. Yang tidak itu termasuk hakikat Tuhan, ruh, dan kapan tepatnya hari kiamat. Al Quran sudah sangat tegas tentang batas akal manusia ini.

Aku: Terkait psikometri… Tentu saja psikometri itu jadinya mengecewakan bagi kita yang tahu bahwa manusia itu lebih kompleks dari pada yang dipahami dalam psikologi Barat. Psikometri itu ilmu untuk membantu memahami jiwa manusia yang termanifestasikan dalam perilakunya. Yang tidak dapat termanifestasikan, jelas tidak dapat dijangkau dengan alat-alat ukur itu. Keterbatasan itu sangat dimaklumi. Memaksakan mereka untuk jadi alat memahami yang bukan peruntukannya justru jadi salah besar. Kalau kamu kecewa pada psikometri karena tidak multifungsi, itu bukan salah psikometrinya, tapi kamu sendiri yang belum memaklumi.

Karim: sekarang ini, di barat isu kajian hubungan manusia dengan agama sudah mulai tumbuh lagi, dalam arti definisi agama disini yang dipahami menurut pegartian dari mereka, selain itu, kajian mengenai filsafat ketimuran dan kepercayaan2 mistisme juga sudah mulai digalakkan di barat, tandanya adalah munculnya madzab transpersonal. kalo tentang ruh mungkin ibnu qoyyim sudah pernah membahas mbak, cuma aku belum buka lagi apakah ia menjelaskan hingga sampai pada hakikat dari ruh itu…

Aku: Akhirnya, PR kita adalah menemukan metode yang berbeda dan mungkin saja baru untuk memahami sebagian jiwa manusia yang tidak dapat termanifestasikan dalam perilaku tampak. Pendekatan-pendekatan kualitatif sudah menuju ke arah sana, makanya ia menjadi solusi keterbatasan metode kuantitatif. Tapi, akhirnya tetap saja ada yang tidak dapat diungkapkan oleh metode kualitatif. Aku pribadi belum berpikir ke arah sana… Bagaimana cara meneliti kalbu manusia coba? Bagaimana cara meneliti efektifitas agama terkait kalbu manusia? Sekarang ini aku baru bisa berkesimpulan bahwa mungkin yang sulit untuk diteliti itu memang bukan untuk diteliti. Sudah masuk ranah agama, sangat banyak misteri yang jawabannya hanya satu dan sangat sangat sederhana: kekuatan iman. Di situ ilmu pengetahuan biasa tak berkutik lagi.

Karim: berarti aku yang salah gitu mbak ?? wah memang manusia tempatnya salah… tapi menurutku kesalahan paradigma yang dipakai dari psikologi baratlah yang jadi bumerang, yang menggunakan psikometri hanya sebagai usaha untuk mensejajarkan diri dengan ilmu eksakta agar bisa diterima sebagai sesuatu yang “objektif” dan “sesuai dengan fakta ilmiah” yang didasari pada filsafat materialisme, positivisme dkk… itu yang pada akhirnya memaksakan nilai aksiologis psikologi pada ranah kajian psikometri, padahal eksplorasi ranah itu masih dapat ditempuh dengan banyak jalan, salah satunya dengan agama sebagai jembatannya…

Aku: Menurutku, buah karya para ulama, seperti Ibnul Qoyyim, Al Ghazali, dsb cukup diterima apa adanya sebagaimana itu dituliskan sebagai bacaan agama. Dengan paradigma yang sekarang, karya-karya yang semacam itu tidak bisa disetarakan dengan buku-buku teks psikologi yang dipakai untuk penelitian. Karya mereka bukannya tidak ilmiah, tetapi terlalu canggih dan tidak terjangkau oleh metode ilmiah.

Karim: maksudnya terlalu canggih apa mbak?

Vera: Mba Aftina bagaimana aku mengetahui dan mendalami terkait statement ini : “Al Quran sudah sangat tegas tentang batas akal manusia ini…” apakah ada buku yang perlu aku baca atau web yang harus aku singgahi untuk mengenalnya lebih..? (kenapa diskusi kalian keren sekali ya >,<) Karim : kamu baca buku apa sih sehingga bisa menjawab sesuatu yang kalau pertanyaan itu ke aku, sepertinya aku tak bisa menjawabnya haha..

Aku: Agama dan psikologi itu berbeda, tetapi berhubungan, makanya bisa saling memberikan pengaruh dan manfaat. Ada titik di mana keduanya saling beririsan, tetapi pada bagian yang paling ekstremnya, keduanya tidak bisa dipertemukan. Metode-metode penelitian hanya bekerja di bagian yang beririsan itu. Di titik ekstrem ilmu pengetahuan, keimanan tidak boleh/ bisa masuk. Di titik ekstrem iman, ilmu pengetahuan tidak boleh/ bisa masuk. Tapi, bayangkan kurva U terbalik, perkara-perkara yang ekstrem itu sedikit sekali. Lebih banyak yang saling beririsan. Jadi psikologi yang berlandaskan agama sangat mungkin untuk dikembangkan. Terlalu canggih itu maksudku, tidak terjangkau oleh metode ilmiah. Kamu pernah baca Ihya Ulumuddin? Kalau pernah, kamu pikir, bagaimana caranya Al Ghazali bisa merumuskan konsep tentang penyakit hati dan metode penyucian jiwa? Lewat penelitian ilmiah? Nggak, tapi lewat perenungan yang terbimbing cahaya agama.

Aku: Vera, sebenarnya ada yang bisa dipelajari dari cara orang-orang terdahulu belajar. Mereka yang kemudian menghasilkan karya-karya besar yang kita kagumi hari ini, semua mengawali proses intelektual mereka dari mempelajari isi Al Quran (karena buku-buku agama pada abad itu tentu banyak yang belum dilahirkan dan merekalah yang melahirkannya). Ironisnya, proses kita, muslim, di abad ini justru terbalik. Yang mati-matian pertama kali kita tekuni adalah buku-buku mereka, baru Al Quran. Makanya pertanyaanmu aneh. Kenapa justru mencari/ mengandalkan buku-buku atau web sementara khatam memahami/ merenungkan isi Al Quran saja kita belum?

Membaca buku atau web agama memang isinya tentang ajaran agama, tetapi itu adalah perumusan isi agama menurut ulama tertentu. Sudah bukan firman Allah secara langsung karena sudah lewat penafsiran ulama. Bukan maksudku agar kita tidak membaca buku, tetapi karena terlalu mengandalkan pemikiran yang bukan Al Quran (rujukan pertama), banyak orang jadi bingung oleh begitu banyak pendapat, padahal Al Quran itu begitu sederhana dan dimudahkan bagi kita untuk memahaminya. Kalau yang aku lakukan sekarang, aku berusaha memposisikan diriku seperti muslim abad-abad awal yang tidak punya referensi lain selain Al Quran dan hadist nabi, yang ketika bertanya, aku tidak mencari jawabannya di perpustakaan atau Google, tapi di Al Quran. Mungkin itu bisa jadi saran dan masukan untuk memperbaiki cara kita berinteraksi dengan Al Quran.

Karim: titik ekstrem ilmu pengetahuan dan iman itu apa mbak? menurutku, al-ghazali juga menggunakan metode ilmiah, cuma versi islam, karena ia mengkombinasikan sumber2 islam dengan fakta dilapangan yang ia temui, berijtihad dengan akal, lalu ia rumuskan menjadi suatu konsep, konsep inilah yang digunakan untuk menjelaskan mengenai penyakit hati dkk, seperti ibnu qoyyim dalam menjelaskan perkara tentang cinta, ia mengkombinasikan sumber2 ayat Al-Qur’an, hadist, sirah dan pengalaman2 sahabat dan orang2 shaleh lain, lalu ia rumuskan ke dalam suatu gambaran besar dan konsep yang saling terkait satu sama lain, aku merasa dasar keilmiahan barat adalah hipotesis2 yang berasal dari para filsuf yunani, sedangkan ilmuwan seperti ibnu qoyyim, al-ghazali, ia menjadikan Al-Qur’an dan hadist sebagai dasar bangunan ilmiah, dititik itu yang berbeda sehingga menimbulkan perbedaan, belum lagi perbedaan mengenai konsep poengetahuan, wahyu, dll…wallahu’alam bi shawab

Aku: Jujur aku tidak mengerti istilah yang kemudian ilmuwan muslim abad ini munculkan. “Metode Ilmiah Versi Islam”? Itu seperti untuk membangun suatu pengetahuan saja kita masih butuh pengakuan dan penerimaan dunia Barat bahwa itu ilmiah. Kalau kita bisa memahami bahwa ada hal yang ilmiah dan tidak bisa diilmiahkan, tidak perlu kita memaksakan penjelasan bahwa metode yang dilakukan Al Ghazali dkk itu metode ilmiah versi Islam. Dari sudut pandang ilmu pengetahuan modern, yang dilakukan itu jelas tidak ilmiah. Yang ilmiah itu macam skripsimu itu lo: ada bab 1, bab 2, bab 3, bab 4, dan bab 5.

Karim: nah itulah kesalahan yang ada di zaman sekarang, karena kita tanpa sadar telah mengekor pada barat, segala sesuatunya memakai standar yang digunakan oleh barat, itu pentingnya memahami worldview yang berbasis islam, bukan berbasis westernisasi, hal ini yang sering ditekankan oleh para cendekiawan muslim seperti pak adian, pak hamid, agar kita tidak mengalami nasib yang sama seperti teman2 JIL sekarang ini…

Karim: merenungkan dan memahami al-qur’an juga ada tata caranya yang sesuai dengan ajaran para ulama sehingga tidak menyelewengkan esensi dari ayat yang terkandung di dalam al-Qur’an, begitu juga dengan hadist dan ilmu2 lain spt fiqh misalnya..

Karim: mengapa perlu untuk merujuk ulama sebagai dasar pendapat? menurutku ini menyangkut ilmu sanad dan rawi mbak, kapasitas ulama zaman dahulu itu lebih tinggi dibanding kita yang ada di zaman sekarang, dengan hafalan yang luar biasa dan pemahaman yang mendalam mengenai sirah, kedekatannya dengan zaman sebelumnya dan lain-lain, korelasinya dengan ilmu sanad dan rawi adalah dimana kita memahami al-qur’an lewat jalan turun temurun dari rasulullah, sahabat, dan orang2 shaleh setelah sahabat misalnya empat umam mahdzab, hingga alim ulama, agar tidak serta merta ceroboh menyelewengkan tafsir dan hadist sehingga tidak sesuai dengan maksud yang sebenarnya, karena yang lebih mengetahui ajaran islam adalah rasulullah dan para sahabat yang bersamanya…

Vera: sebab memang beginilah prosesnya bersyukur ada yang mulai menjalaninya.. hehe~ pertanyaan selanjutnya : pemahaman yang bagaimana mba? bukankah memang ada tata cara pemahamannya mba? apa yang membuat kita memahami sesuatu dan tidak memahami sesuatu? bagaimana dengan banyaknya pemahaman-pemahaman itu? mengapa harus memposisikan diri sebagai muslim abad-abad awal mba? apakah fasilitas yang ada sekarang ini tidak menemukan seseorang pada jawaban yang membuatnya memahami al-quran? apakah berarti para ulama tidak berusaha memposisikan dirinya sebagai muslim yang mengikuti terdahulu? #kenapajadibanyakpertanyaan -,- maap…

Aku: Dan jujur lagi, aku belum pernah menemukan dalam Al Quran tata cara merenungkan Al Quran. Merenungkan ayat-ayat Allah ya merenungkan. Apa ada cara merenungkan yang lain lagi? Dan jelas sekali kamu tulis “…ada tata caranya yang sesuai dengan ajaran para ulama…” Kupikir, inilah bukti bahwa proses kita belajar agama benar-benar terbalik, tidak dari sumber utama (Al Quran) dan sekunder (Hadist) terlebih dahulu, melainkan dari yang tersier. Apa Al Quran itu begitu sulit dipahaminya sampai-sampai esensinya sulit untuk didapatkan oleh manusia, siapa saja, yang membacanya? Seakan-akan hak memahami Al Quran itu hanya ada di tangan ulama dan yang boleh kita lakukan adalah mendengarkan, taklid pada mereka saja. Memang ada jaminan ulama itu bebas dari kesalahan? Dan apa ada yang memastikan bahwa hasil perenungan manusia bukan ulama atas Al Quran itu lebih besar salah pahamnya? Ilmu itu dari Allah, petunjuk itu dari Allah. Selama niat kita baik, apa tega Allah membiarkan hambanya tersesat ketika ia berusaha memahami Al Quran?

Aku: Betapapun ” kapasitas ulama zaman dahulu itu lebih tinggi dibanding kita (aku) yang ada di zaman sekarang”, itu tidak mengurangi hakku sebagai manusia untuk memahami Al Quran. Apa potensi manusia zaman sekarang lebih jongkok daripada manusia zaman dahulu? Apakah Allah menciptakan manusia zaman dahulu lebih baik daripada manusia zaman sekarang? Tidak, bukan? Kita semua sama. Kita semua berhak mengharapkan petunjuk Allah. Ibarat kalau memohon kita bisa langsung berdoa kepada Allah, kenapa dalam perkara ilmu kita mewajibkan diri harus lewat perantara ulama? Perbedaan akhir tergantung usaha kita. Aku akan mempertanggungjawabkan apa yang aku usahakan dan mereka akan mempertanggungjawabkan apa yang mereka usahakan. Kalau mereka ada salahnya dan aku ikut tanpa menelitinya, aku dosa. Sekarang dalam rangka meneliti kembali perkara-perkara yang diributkan dan diperselisihkan umat, aku menahan diri dari ikut siapa-siapa dan membuka diri untuk memahami apa-apa dari siapa dan mana saja, terutama Al Quran. *Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ketersesatan dan ketertipuan dalam perkara ini… Amin Ya Rabb.

Aku: Vera, “mengapa harus memposisikan diri sebagai muslim abad-abad awal mba?” Aku tidak menulis kata “sebagai” lo… Tapi, “seperti”. Seperti itu tidak sama dengan sebagai.

Aku: Kupikir, sebenarnya ini adalah kunci jika kita mau menjadi orang yang kritis dan evaluatif pada ilmu-ilmu Barat. Kita semua sepakat bahwa caranya adalah dengan tahu kebenaran, yang ideal, dan prinsipil sehingga kita tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kita perlu, yang pertama, memiliki pandangan yang jernih terlebih dahulu tentang agama kita, dan kejernihan pertama itu berasal dari pembacaan Al Quran tanpa campur tangan orang lain, cukup diskusi itu berisi kita dan Allah yang berfirman. Kedua, ketika kita khatam belajar dengan cara seperti itu, kita maju ke tahap selanjutnya, memahami agama dari pandangan berbagai ulama sehingga kita tahu bahwa apa yang benar itu ternyata bermacam-macam, tidak hanya satu, sehingga kita tidak menjadi orang yang kaku, tidak memusuhi perbedaan pendapat, lantaran mengerti kedudukan dan kondisi yang melatarbelakangi masing-masing pendapat. Ketiga, setelah kita berhasil belajar dengan cara begitu, baru kita mampu memberikan evaluasi yang baik. Belajar itu dari akar, naik ke batang, lalu percabangan, baru buahnya. Dari Al Quran (yang berisi prinsip), naik ke hadist nabi (penjelasan utama atas prinsip), naik ke pendapat para ulama (penjelas kedua), baru ke pendapat orang-orang di luar Islam.

Situasi kita di Indonesia memang tidak ideal. Kita direcoki psikologi Barat lebih dahulu, lalu pendapat-pendapat ilmuwan-ilmuwan muslim yang bervariasi, yang mereka pun menganut mazhab yang berbeda-beda, yang kalau dikonfrontasikan, semua bilang Al Quran bilang begitu. Rasanya memang pasti sulit menemukan kebenaran kalau prosesnya begitu. Jadi, kupikir kenapa tidak bisa dibalik saja prosesnya, minimal untuk diri kita sendiri?

Vera: *kenapa pakai jujur mba? itu pertanda apa? Oh iya itu berbeda walaupun aku belum bisa menguraikan konsepnya hehe… wah, mba.. aku pamit dulu.. otakku butuh menyerapnya terlebih dulu ya semoga besok bisa melanjut diskusi asyiiiiik banget ini! ^^

***

Diskusi ini berlangsung selama tiga jam lebih. Ketika aku membaca keseluruhan isinya untuk yang kedua kalinya, rasanya ada pemahaman baru yang muncul yang intinya bahwa selama ini kita, minimal mahasiswa muslim psikologi, umat Islam pada umumnya, tahu yang ideal itu. Kita tahu apa yang seharusnya kita lakukan, tetapi kita seakan kehilangan jalan untuk melakukan yang seharusnya itu.

Dalam diskusi ini, aku terkejut sendiri bahwa aku “berhasil” mendefinisikan untuk diriku sendiri, apa yang dimaksud dengan “kembali pada Al Quran dan Hadist”. Ketika menghadapi masalah, “kembali pada Al Quran dan Hadist” selalu menjadi andalan. Tapi, kenapa orang-orang yang sudah “kembali pada Al Quran dan Hadist” tetap saja berpecah-pecah dan berselisih? Apakah Al Quran dan Hadist-nya berbeda-beda? Lalu muncullah wawasan soal pohon belajar itu. Ingin aku tebali sebagai pengetahuan yang aku dapatkan hari ini:

Belajar itu dari akar, naik ke batang, lalu percabangan, baru buahnya. Dari Al Quran (yang berisi prinsip), naik ke hadist nabi (penjelasan utama atas prinsip), naik ke pendapat para ulama (penjelas kedua), baru ke pendapat orang-orang di luar Islam.

Dalam mengembangkan psikologi Islami pun, aku ingat isi AD/ART dan GBHO organisasi kelompok studiku dulu, semua berslogan menjadi psikologi ini berlandaskan Al Quran dan Hadist. Tapi, mengapa tetap tak ada hasil nyatanya? Apakah Al Quran dan Hadist begitu sulit untuk dijadikan landasan berpikir? Idealnya tidak, tetapi pada praktiknya, berpikir berlandaskan Al Quran dan Hadist itu tidak semua orang mengerti bagaimana. Kebanyakan hanya sebatas menggunakan keduanya untuk menemukan hukum atas suatu perkara, misalnya boleh tidaknya suatu terapi. Lainnya, menggunakan pemikiran ilmuwan muslim masa lampau dengan asumsi bahwa karya mereka itu Islami, karena mereka muslim, karena mereka mempelajari Al Quran dan Hadist.

Jawaban atas hasil itu terpastikan hari ini. Karena kita yang berusaha tidak berproses seperti orang-orang terdahulu berproses. Kita sungguh-sungguh tidak mulai belajar dari yang prinsip, padahal yang prinsip itu begitu dekat, di rak buku setiap dari kita. Kita merasa lebih percaya diri jika mengikuti kata ulama ini dan itu, pada jika aku klasifikasikan, karya mereka termasuk di percabangan. Kita menyibukkan diri dengan cabang yang banyak sekali itu. Kita merasa yang cabang itulah satu-satunya yang benar dan menggunakannya untuk menilai yang prinsip. Akhrinya, yang prinsip dimanfaatkan untuk menjatuhkan cabang-cabang lain yang tidak sependapat. Begitulah perpecahan terjadi dan persatuan memang bisa diwujudkan jika orang-orang kembali belajar pada yang prinsip melalui yang prinsip, bukan lewat cabangnya.

Terakhir, yang rupanya luput aku berikan balasan adalah perkataan adikku: “sebagai manusia biasa, aku hanya mempelajari yang aku butuhkan untuk mencapai tujuan, terlepas dari suka atau tidak suka, jika aku butuh, aku akan mempelajarinya, jika tidak yang tidak aku pelajari, memang batas itu aku buat karena aku menyeleksi pengetahuan yang memang penting untuk di pelajari, jika tidak penting, belum saatnya untuk dipelajari…”

Aku ingin menuliskannya sebagai penutup diskusi ini: Pemikiranmu tidak salah. Tapi, semoga saja ada saatnya, muncul titik di mana kamu sangat merasa harus berwawasan luas demi cita-cita besarmu. Cita-cita besar membutuhkan jiwa yang tidak kerdil dan pikiran yang tidak sempit. Di saat itu, kamu akan sadar ada begitu banyak hal penting yang harus kamu pelajari, tidak hanya psikologi dan Islam, karena dunia dibangun dengan kompleksitas, tidak hanya psikologi dan Islam.”

8 thoughts on “Diskusi Psikologi, Islam, dan Apa Saja yang Tiba-tiba Nyambung Bag. I

  1. Tp mksudnya bukan mengesampingkan keharusan bermazhab slain pra mujtahid kan? soalnya saya seringnya merenung dan alhasil mengawang2 Tina ^_^
    Ibn Abbas prnah memilah penafsiran mnjdi 4 atau 5 bagian ( tingkatan ) klo g salah, dlm artian ada bagian yg hnya bs dijangkau dgn syarat ilmu2 trtntu. Berhubung scara pribadi blm mampu ber-istinbath dgn baik jdinya bertaqlid sedptnya trhdp kosakata trjmhan. Perkara mrenungkan ( sklipun untuk diri sndri ) tidak bs tdak brujung pd perumusan ( pun- utk diri sndiri ) dan idealnya dgn tidak mngbaikan konsep2 sperti pilah memilah satu per(satu)an atau mufradat, membedakan kata musytarak (sekutuan), detail huruf jer-kalimah huruf dalam disiplin ilmu Nahwu,huruf istifham (tanya) dan huruf syarat, tabir metaforis ‘ala muffakir fih isi kandungan, asbab nuzul, nasikh mansukh atau hukum atau lafazh al-Quran yang dirubah atau di ganti, muhkam dan mutasyabih, umum dan khusus, muthlak dan muqayyad, fahwa al Khithab, khithab at–taklif dan mafhum muwafaqah srta mafhum mukhalafah. faham hadits bidang dirayah (mushthalah hadits or kritik perawi hadits) dan riwayat, bahkan smpai kmampuan ber-olah fikir terhadap bentuk prmasalahan umum.
    banyak yg ingin ditanyain soalnya banyak buntunya drpd fahamnya klo soal tafsir menafsir, mdh2 koneksi lncar bs imel km.

    ps :Maaf telat, maafkan ksalahan saya slama interaksi maya ini, dari 0 ya ^_^

    • “Tp mksudnya bukan mengesampingkan keharusan bermazhab slain pra mujtahid kan?”

      “… Mengesampingkan keharusan bermazhab selain para mujtahid…” ? Emm… sorry, aku kok nggak begitu paham kalimat itu setelah ada tambahan “selain para mujtahid”-nya. Apakah maksudmu para mujtahid boleh tidak ikut mazhab mana-mana? Atau kalau bukan mujtahid berarti harus ikut salah satu mazhab?

      Aku tidak mengesampingkan keharusan bermazhab, karena bermazhab itu perlu. Ibarat kalau kita mau bergelantungan di pohon demi memetik buah, kita cuma bisa berpegangan pada salah satu cabang yang menurut kita kuat, tidak mungkin pada seluruh cabang karena pohon itu begitu besar. Tapi, untuk menentukan mana cabang yang kuat, kita perlu yakin akan pokok pohonnya terlebih dahulu. Begitu menurutku.

      • maaf, soaly prtm baca jd keinget dialog ( debat ) al-albany dgn al-buuthy ^_^
        prtanyaan “mngapa ‘Muhammad’?” dgn “mngapa syafi’i,hanafi,maliki,hambali?” tntu brbeda. prtnyaan mngapa 4 imam yg diakui mujtahid tsb trnyta brdasar pd prkara kapasitas kredibilitas yg agaknya tdak mlulu teknis smcam pnguasaan ilmu,wawasan,kesungguhan,ktjaman brfkir,intelektual,kebijaksanaan,pengabdian penuh hingga kprcayaan ummat dan pengakuan pd wktu itu. apkah kini pntu ijtihad tdak lg slebar masa itu? apkah level istimewa trsbut diyakini tak trjngkau lg atau tdk etis untuk dijangkau? sdngkan 4 imam trsbut-pun sling mmpngruhi dn bermuara pd mzhb iraq dan hijaz, tfsir bi al-ma’tsur dan bi al-ra’yi. Apkah pngembangan2 wawans Qur’an mllui prantara ulama,pemuka,faqih,ahli tafsir kini bnr2 murni dr uhlul ‘ilmi 4 mazhab? atau stidaknya dpt mnimbulkan ksdaran personal pr awam bhwasanya mreka sdang bermazhab 4? bgiamna mmndng yg trjdi pd pngikut2 ulama2 yg ckup giat ttg politik, logika burhani-irfani dan ftwa2 kemsyrakatan sperti Al Albani, Ibn Hazam, Qoyim,Ahmad abdul wahab di saudi,Taimiyah Muhammad Abduh dn rasyid ridho di mesir serta Sayyid Jamaludin alAfgani di afganistan atau ulama2 trdisiona smcam al bantani, nurudin raniri dll? dlm bbrp hal agaknya trkesan melampaui mazhab 4, entahlah mngkn saya yg keliru tlong diluruskan ya ^_^

      • ad jg prtnyaan, apkah hal2 mnyangkut furuq misalnya mmg tlah terinternalisasi, sbagiamna sy-syafi’iyah dsni, bgtupula Al-Hanafiyah di turki krena faktor dimensi sosiokultural dan simplifikasi pngjran?
        kdang pnsaran jg knp mzhab2 besar diluar yg 4 akhirnya tngglam. krena tdk lbih relevan dri mzhb 4 kah? trmkan zamankah? atau hnya krena loyalitas pngikut yg tdk lbh baik mnjaganya? pdhal ada Imam al’Laith bin sa’ad yg hdup zman mam Maliki dan sama tegasnya, Sufyan al’thauri yg pola fkirny mrip2 Imam Hanafi, Imam at’Tabari, lalu yg plg gede nih Ja’far asshadiq dan zaid bin Ali bin Husain. klo mzhab zaidiyah sndiri entah skrg msh dipake di (sbgian kecil) Yaman atau ngg. Saya pribadi kdang tkut jgn2 udah bertafliq n menggampangkan ini scra g sdar krna rsanya krg brkesadaran dgn ap yg sbnrnya saya ikuti, pdhl sekelas Imam Ghazali dan Bukhari aja ttp rendah hati untk mau mngikuti, jd malu sndiri

    • Seumur hidup aku tidak pernah benar-benar tahu mazhab apa yang aku ikuti. Katanya orang Indonesia kebanyakan pengikut Syafii, tetapi aku tidak mengerti mazhab Syafii itu bagaimana. Bagaimana menurutmu? Di tengah-tengah umat Islam, aku termasuk kalangan grass root; di bawah sekali. Tidak mengerti betul kewajiban bermazhab, mungkin mengikuti salah satu karena masyarakat dan keluarga.

      • yah agaknya akarnya memang sy-Syafi’i dikita. ad yg blg sbgai zona aman, penengah atau mazhab leraian antara literasi al-ma’tsur dan al-ra’yi yg ( sudah diduga akan ) berbenturan pd masa itu. saya juga g punya kpsitas ngjwabnya Tin. tp bbrp wktu lalu prtnyaan ini akhirnya sekilas trjwab dalam kajian saat prantauan kedaerh klahiran nenek saya,di tepian kalbar. Internalisasi itu mmg nyata adanya. Dijlskan bhwa internalisasi konsep teologi scra umum msyrakat muslim melayu dsna ckup jelas disadari melalui ulama2 tradisional stempat. mreka merujuk pd konsep qadariyah naqsybandiyah-nya syekh khatib al sambasi yang trnyata beliaupun merujuk pula pada konsep kholik & muktasib-nya Al Asy’ari. Sanadnya tentu jelas keluasan qiyas ala imam syafi’i. sbgian msyrakat lain dgn teologi jabariyah yg serta merta terilhami oleh Al maturidi pun muaranya Syafi’i pula. kdang kepikiran apkah lbih baik untuk tdak trlalu mau tau dan mmpertnyakan ini dan itu ^_^

      • Jadi begitu sejarahnya… Ceritanya panjang ternyata sampai akhirnya kita menjadi muslim yang demikian hari ini.

        Rasanya aku bisa berkesimpulan bahwa ada baiknya kita menyadari apa mazhab kita. Itu implikasinya tidak hanya dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat, bukan? Maaf, karena saat ini aku sedang banyak berpikir soal perkembangan ilmu (ya, terutama psikologi), aku ingin bertanya ini. Seperti apa pengaruh mazhab terhadap upaya islamisasi ilmu?

        Setiap bicara soal islamisasi ilmu, orang-orang selalu berkata kembali ke Al-Quran dan hadist. Aku sering berpikir-pikir, apa sebetulnya maksud “kembali ke Al-Quran dan hadist”? Kalau kemudian ada persoalan mazhabi ini, bukankah bisa jadi “kembali ke Al-Quran dan hadist itu = kembali ke mazhab masing-masing”? Kalau mengikuti salah satu mazhab itu diharuskan, berarti mengembangkan ilmu berdasarkan salah satu mazhab itu wajar, bukan?

        Yang aku cermati sekarang, terutama di lingkunganku, orang tidak lagi banyak mendiskusikan soal perbedaan mazhab (minimal yang empat besar itu), melainkan konsep agama menurut kelompok-kelompok tertentu (misal NU, Muhammadiyah, muslim liberal, tarbiyah, salafi, wahabi, sunni, syiah, ahmadiyah, dan macam-macam yang tidak aku kenal betul sebetulnya itu semua apa; organisasi, kelompok, golongan, kelompok ideologi, sekte, atau mazhab?). Mulai di sini, aku belum mengerti apakah mengembangkan ilmu berdasarkan itu juga wajar? Karena kecenderungan saat ini adalah “kembali ke Al-Quran dan hadist itu = kembali ke kelompok masing-masing”.

        Bagiku yang tidak bergabung dengan kelompok mana-mana, rasanya itu jadi masalah besar. Karena selalu saja ada yang bertanya, pendapatku itu berdasarkan siapa, siapa, dan siapa. Ketika aku bilang itu pendapat berdasarkan pemahamanku sendiri berdasarkan apa-apa yang aku pelajari, mereka bilang aku tidak boleh memahami sendiri, harus ikut pendapat ulama. Rasanya sekarang ini, bilang minimal saya ini sunni-syafii tidak lagi cukup. Tapi, misal aku mengikuti pendapat ulama yang aku setujui pandangannya, ada saja yang bilang ulama itu liberal atau yang itu pendukung syiah. Aku jadi merasa bodoh sendiri. Yang boleh aku jadikan pemahaman dan pendapat itu yang seperti apa? Atau, mungkinkah ada yang terlewat dan belum aku mengerti sehingga aku seperti kesasar begini?

        Terakhir, kalau di masyarakat desa, mungkin mereka masih dekat dengan ulama-ulama tradisional. Tapi, bagi masyarakat kota, mereka tentu dekat dengan yang modern, tidak hanya yang dari negara sendiri bahkan juga yang hidup di negara lain. Nama-nama ulama yang kamu sebutkan mungkin tak dikenal lagi, kecuali oleh mereka yang menekuni kitab-kitab tua, karena orang cenderung tidak lagi belajar agama sejauh dan sedalam itu. Kalau sudah begitu, akan ada saja orang yang berkata tak ada gunanya mendalami apa mazhab dan bagaimana duduk perkaranya.

        *Wah, panjang ternyata komentarku ini! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s