Merenungkan Nilai Komunikasi Kita

I

Suatu ketika aku mengikuti sebuah kajian, aku terkesan pada ustadzah yang menjadi pembicara utamanya. Ia bercerita tentang caranya mendidik anak bahwa ia tak akan membelikan anak remajanya HP sampai anaknya bersedia bertanggung jawab atas HP-nya, dalam arti mampu menggunakan HP-nya untuk menyebarkan kebaikan. Kalau dahulu aku bisa ber-“wow” dalam hati, sekarang aku berpikir bahwa terkadang yang begitu idealis itu tidak realistis, dan sering yang tidak realistis karena tidak praktis itu akan ditinggalkan. Beliau lalu cerita tentang anaknya yang tampaknya tidak apa-apa tidak dibelikan HP, bahwa tidak pegang HP itu bukan masalah. Si anak tidak protes, tetapi jelas, aku kehilangan cerita selanjutnya, apa yang terjadi setelah beliau menerapkan kebijakan yang “mematikan” bagi kebanyakan remaja zaman sekarang itu?

Aku belum mengerti betul ajaran pendidikan anak yang Islami itu; sampai saat ini masih terus merumuskan, apa yang sesungguhnya dikehendaki Allah agar dilakukan manusia dalam mendidik generasi mudanya. Hanya saja, aku berpegangan bahwa dalam berkomunikasi, yang harus dihindari itu sebenarnya hanya ada dua, yaitu menyebarkan keburukan dan membicarakan hal-hal yang tidak berguna. Namun, beginilah cara setan mempermainkan manusia sehingga manusia tertipu dengan memutarbalikkan segala sesuatunya. Setan membuat manusia memandang baik aktivitasnya menyebarkan keburukan dan memandang berguna pembicaraan-pembicaraan yang tidak ada gunanya.

Bagiku, cara menangkal ketertipuan tersebut sesungguhnya sederhana; dengan memahami betul bagaimanakah sesuatu itu dikatakan baik atau buruk, berguna atau tidak berguna, betapapun itu sesungguhnya benar. Hal yang benar, jika dilakukan pada tempat atau dengan cara yang tidak tepat, dapat menjadi salah. Hal yang benar, juga jika dilakukan pada situasi atau demi tujuan yang tidak semestinya, dapat menjadi tidak berguna. Secara pribadi aku menjadikan itu sebagai pedoman dan ketika kugunakan itu untuk menimbang-nimbang dan menilai sifat komunikasi yang terjadi di media sosial kita, yang dilakukan oleh orang-orang atau diriku sendiri, entah di dunia nyata atau maya, rupanya banyak sekali pembicaraan yang tidak berguna dalam arti itu tidak memberikan nilai tambah; tidak menjadikan hal yang semula minus menjadi netral, yang netral menjadi plus. Justru, yang netral menjadi minus, yang minus menjadi bertambah minus.

Sungguh Allah Maha Penyayang. Allah menciptakan manusia pandai berbicara; dan menjadikan bicara itu sebagai jalannya untuk memenuhi sebagian kebutuhan hidupnya. Kepandaian itu dapat menjadi jalan menuju surga, tetapi jika tidak dipakai dengan hati-hati justru dapat menjadi lubang neraka bagi kita semua. Apakah yang keluar dari mulut kita? Mutiara ataukah bisa? Apakah yang kita sampaikan lewat tulisan-tulisan kita? Mutiara atau bisa? Allah tidak mewajibkan manusia untuk menjadi sempurna dalam berbicara, untuk selalu menyampaikan perkataan-perkataan mutiara, tetapi ketika dengan penuh kesadaran kita tahu kita belum bisa menyampaikan mutiara itu, lebih baik kita diam. Lebih baik kita stop menulis atau mengetik untuk sementara waktu. Itu semua demi menjaga diri kita sendiri. Menghindari perkara-perkara yang diragukan manfaatnya, kurang manfaatnya, atau tidak ada manfaatnya, rasanya itu salah satu bentuk akhlak mulia yang kita semua sepakati.

Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam… (HR Bukhari dan Muslim)

***

II

Aku menggemari sejarah dan karenanya, jadi belajar bahwa peradaban manusia benar-benar berkembang dramatis, terutama dalam hal komunikasi. Allah yang mengajarkan Adam nama-nama benda membuat kita membayangkan betapa sulitnya keadaan manusia sebelum ia mampu mengenal nama-nama benda, sebelum ia menjadi manusia yang sempurna akal budinya. Allah yang mengajarkan manusia berbicara, lalu menulis dan membaca, membuat kita membayangkan betapa sulitnya keadaan manusia yang belum bisa bicara (lihat anak-anak kecil kita) untuk menyampaikan apa yang terjadi dalam dirinya, pikiran-pikiran atau kebutuhan-kebutuhannya. Lewat menulis manusia mendokumentasikan hasil-hasil intelektual peradaban. Lewat membaca manusia membesarkan dirinya dengan belajar. Lewat berbicara manusia mendiskusikan apa yang diketahuinya dan muncullah hasil-hasil yang baru. Karena itu, pada dasarnya komunikasi adalah proses yang memuliakan manusia.

Alhamdulillah.

Ada masa di mana orang yang bisa bicara dengan baik, menulis dan membaca adalah suatu kelangkaan yang ekstrem. Hanya orang-orang yang cerdas, punya minat tinggi pada ilmu pengetahuan, berkemauan tinggi dan/ atau berharta yang bisa menulis, membaca, dan berpendapat. Hanya orang-orang yang mulia yang bisa bicara, menulis dan membaca, dan bicara, menulis dan membaca membuatnya semakin mulia di antara manusia. Mereka menjadi harta berharga dalam masyarakatnya. Dijadikan juru penerang bagi orang-orang yang hidupnya masih berada dalam kegelapan lantaran kebodohan.Kubayangkan, itulah masa di mana yang dapat dibicarakan secara luas, ditulis dan dibaca oleh manusia “hanyalah” yang baik-baik dan penting-penting saja; aturan-aturan pemerintahan (seperti hukum Hamurabbi), ajaran-ajaran agama (lihat yang dipahatkan di dinding-dinding piramida dan kitab-kitab suci), ilmu pengetahuan, catatan peristiwa penting, dan kisah-kisah ternama, dengan maksud agar semua itu bertahan lama sebagai kekayaan bersama untuk generasi-generasi selanjutnya.

Berbicara, menulis, dan membaca/ kemampuan berkomunikasi pernah “dimonopoli” atau secara eksklusif dimiliki oleh orang-orang tertentu saja, sementara sisanya hanya dapat mendengarkan. Tetapi, setelah disadari betapa pengetahuan adalah kunci kesejahteraan dan kemuliaan hidup dan kunci untuk mendapatkannya adalah dengan saling berbicara, menulis, dan membaca, muncul masa di mana mampu berbicara dengan baik, menulis, dan membaca menjadi harta yang diklaimkan adalah milik semua orang. Berbahasa, menulis dan membaca dijadikan kemampuan paling dasar dalam proses pendidikan. Akhirnya buta aksara diperangi sedemikian rupa. Negara-negara berlomba-lomba menjadikan semua rakyatnya melek huruf. Pertama kalinya pendidikan dijadikan salah satu hak asasi manusia, akhirnya begitu pula dengan kesempatan belajar bahasa, membaca dan menulis. Karena saking umumnya, orang-orang memandang kasihan sesamanya yang masih buta aksara karena itulah cermin ketertinggalan zaman, tetapi karena saking umumnya pula, orang-orang pun kehilangan rasa mulia menjadi orang yang tidak buta aksara.

Di masa sekarang, berbicara, membaca dan menulis menjadi kemampuan yang ditanamkan dengan begitu anehnya. Mampu bicara, membaca dan menulis adalah kemampuan yang mudah ketika keduanya dijadikan bagian dari tugas perkembangan manusia, teknologi dan ilmu-ilmu yang berkaitan dan mendukung itu telah berkembang sedemikian rupa. Tak perlu kedewasaan agar seseorang mampu mengerti mengapa ia perlu bisa bicara, membaca dan menulis dengan baik, kemampuan itu dilombakan ditanamkan sedini mungkin dalam diri anak-anak kecil. Orangtua-orangtua yang anaknya cepat bisa berbahasa, membaca dan menulis adalah fenomena yang hanya terjadi di zaman sekarang. Guru-guru yang tertekan tak berhasil menjadikan murid-muridnya bisa membaca adalah fenomena yang hanya terjadi sekarang. Komunikasi yang menjadi keterampilan terpenting hidup, didewa-dewakan sebagai penentu keberhasilan hidup, dan harus secara sempurna dikuasai generasi muda, adalah fenomena yang tidak pernah terjadi di masa lalu.

Manusia diajarkan kemampuan komunikasi tanpa memahami bahwa komunikasi adalah jalan untuk mendapatkan pelajaran hidup yang lebih besar. Kemampuan komunikasi akhirnya dimiliki hampir oleh semua orang, termasuk orang-orang yang “tak menggunakan akal”, “tak peduli ilmu pengetahuan”, “tak punya kemauan dan pemalas”, “tak punya visi pada kemajuan”, “hidup sesuka hatinya”, dan “tak mengerti bahwa ada tanggung jawab moral dalam setiap kemampuan dan tindakan”. Orang-orang yang sedianya adalah sebenar-benarnya penerang kehidupan pun menjadi redup lantaran kemunculan cahaya-cahaya palsu orang-orang yang karena mampu berkomunikasi merasa berhak bicara untuk memberikan penerangan.

Ketika semua orang mengklaim diri mereka berhak dan boleh bicara dan media sosial untuk itu dibuka seluas-luasnya, orang berlomba-lomba tidak untuk mendapatkan apa yang lebih baik dan benar, melainkan apa yang paling banyak diyakini dan disetujui khalayak. Orang tak lagi berlomba-lomba terkait kualitas apa yang dikomunikasikan, melainkan kuantitasnya. Memilah dan memilih mana yang benar pun menjadi pekerjaan tersulit abad ini karena semua orang dapat berbicara, dapat mempengaruhi dan dapat menggalang pengikut. Sementara informasi mengalir bagaikan bah, tak diketahui sumber-sumber asli pemikiran itu sehingga penelitian akan kebenaran menjadi sulit dilakukan.

Media komunikasi dan komunikasi itu sendiri pertama kalinya dalam sejarah manusia menjadi barang yang harus dikuasai, menjadi penentu kekuasaan manusia atau segolongan manusia di bumi, menjadi alat untuk saling menjatuhkan dan menghancurkan, menjadi mesin berperang yang lembut dan bekerja secara begitu manusiawi tanpa menumpahkan darah manusia setetes pun lewat perang pemikiran-pemikiran dan pendapat-pendapat, menjadi sarana mengadu domba orang-orang, dan semua itu terjadi tanpa disadari oleh pelakunya. Kita, ikan-ikan yang berada dalam air, hidup dengan air, bagaimana akan mempertanyakan air?

Arus kehidupan “menghendaki” manusia sampai di titik yang seperti ini dan perputaran roda zaman menuju titik pemberhentiannya menjadikan proses tersebut bagian dari hakikat komunikasi manusia yang akhirnya diketahui. Manusia didesain untuk sampai di masa ini. Namun, berapa banyak yang kemudian menyadari kenikmatan berkomunikasi ini mengandung ujian-ujian keimanan yang besar dan berpotensi menjerumuskan banyak sekali manusia menjadi ahli neraka? Mereka menggunakan nikmat Allah berupa kemampuan berbicara, menulis dan membaca ini untuk perkara-perkara yang dibenci oleh-Nya. Mereka berkata sedang memperjuangkan kebenaran, tetapi kebenaran apa yang justru melahirkan kerusakan? Mereka berkata sedang melakukan perbaikan, tetapi apakah ada perbaikan yang dicapai lewat kebencian, perselisihan dan permusuhan lantaran perkataan-perkataan dan kalimat-kalimat yang buruk?

Astaghfirullah.

***

III

Aku membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan. Apakah kita akan hidup di era yang lebih menakjubkan?

Orang semakin tak lagi berlomba-lomba terkait kualitas apa yang dikomunikasikan, melainkan hanya kuantitasnya. Orang-orang semakin berlomba-lomba tidak untuk mendapatkan apa yang lebih baik dan lebih benar, melainkan hanya apa yang paling banyak diyakini dan disetujui khalayak. Setiap orang memandang diri mereka penting dan perkataan mereka berharga untuk didengarkan. Mereka mengklaim diri mereka berhak dan boleh bicara dan media sosial dibuka seluas-luasnya untuk itu. Kehidupan diatur oleh hukum sosial yang semacam itu. Mereka yang melarang kebebasan bicara pun dicap tiran dan sok benar ketika keyakinan umum berkata semua orang setara. Padahal dalam beberapa hal, tidak.

Memilah dan memilih mana yang benar sungguh menjadi pekerjaan tersulit karena semua orang bebas berbicara, bebas mempengaruhi dan bebas menggalang pengikut demi kebenaran mereka. Orang-orang yang sedianya adalah sebenar-benarnya penerang kehidupan akhirnya redup oleh kemunculan cahaya-cahaya palsu orang-orang yang karena mampu berkomunikasi, merasa juga berhak memberikan penerangan. Orang-orang yang sedianya benar ditinggalkan lantaran pemikiran mereka yang tak menarik dan tak sesuai keinginan. Otoritas mereka meredup sedemikian rupa dan akhirnya padam. Dunia dalam kebisingannya pun senyap dari pengetahuan yang benar. Tong kosong yang benar-benar nyaring bunyinya, tak memberikan apa-apa. Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab. Pertanyaan yang terjawab memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang tak ada habisnya; karena para penjawab dan pemberi komentar yang bodoh, yang tak peduli apa yang keluar dari pikiran lewat mulut atau tulisan mereka.

Akhirnya, di titik di mana orang-orang begitu bangga bisa bersuara lantang dan tak takut apapun, mereka yang benar mungkin adalah yang justru diam.

***

IV

Diam itu bukan karena mereka tak mampu bersuara, tetapi karena mengerti mengapa harus diam. Bukan karena tak punya kebenaran untuk disuarakan, tetapi karena tahu kebenaran butuh cara dan media yang benar untuk disampaikan; bahwa kebenaran itu tak perlu mati-matian digadang-gadangkan karena ia harus mengalir keluar (dikomunikasikan) dari sumbernya dengan cara yang disukai Allah.

Kita sepakat diam adalah bagian dari akhlak mulia dalam berkomunikasi. Diam sama berharganya dengan berbicara; diam adalah cara bersuara yang lain. Diam untuk mendengarkan terlebih dahulu, mengamati dan meneliti terlebih dahulu. Diam untuk menata pikiran terlebih dahulu, menilai dengan hati-hati, dan menyelidiki asumsi atau prasangka. Diam untuk menunggu dan tidak mengambil kesimpulan yang terburu-buru. Diam untuk menenangkan diri, menyelamatkan diri dari pusaran isu yang dapat menenggelamkan.

Ada baiknya, jika tak ada yang perlu dikatakan, lebih baik diam agar jangan sampai bicara/ berkomentar menjadi kebutuhan yang kita ada-adakan sendiri. Jaga lisan dan tulisan tetap berisikan sesuatu yang baik, benar, dan bermanfaat. Diam bukan melamun dan menganggur, melainkan berdzikirlah kepada Allah, berpikir dan merenungkan tentang ayat-ayatnya di bumi dan di langit, serta yang ada dalam kitab, mendoakan kebaikan, dan semoga petunjuk selalu dilimpahkan-Nya kepada mereka yang mengharapkannya.

PS:

Ketika diam adalah bagian dari akhlak Islami dalam berkomunikasi, kupikir, kita yang tak belajar kemampuan untuk diam tidak berhak bicara tentang memperjuangkan sistem kehidupan yang Islami. Misal adalah sebagian dari kita yang mati-matian ingin mengakhiri sistem demokrasi yang dikatakan tak Islami, tetapi tanpa sadar menghidupkan sistem itu dalam kehidupan mereka sendiri dengan suka sekali berbicara dan berkicau, tak mau berhenti bicara, berkomentar  terus, terus, dan terus.

Menggugat ulama X, menyesat-nyesatkan ulama Y, menyebarkan berita-berita negatif, mengghibah atau memfitnah, membicarakan kejelekan golongan lain tanpa evaluasi konstruktif, mengumpat dan mencela orang-orang yang berselisih paham dan pendapat… Mereka yang seperti itu, atas nama Islam, “menikmati” demokrasi dan kebebasan yang ditawarkannya, salah satunya kebebasan bicara dan berpendapat.

Kupikir, kalau sungguh-sungguh ingin menegakkan sistem hidup Islami, kita harus belajar tahu kapan harus diam karena memang lebih baik diam. Kita harus tahu kapan harus membatasi diri kita dalam berbicara. Ya implikasinya banyak akhirnya; ke Facebook, ke Twitter, ke weblog masing-masing, ke website masing-masing.

Itu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s