Reaching Dream Bag. 11: Menuju Kota (Penuh) Impian

Bertahun-tahun yang lalu, berbulan-bulan yang lalu, ini pernah menjadi mimpi yang, betapa pun statusnya masih “hanya mimpi”, kurasakan betul sulitnya mempertahankannya tetap sebagai mimpi. Apa-apa yang berada di alam keinginan tidak memiliki kepastian di kenyataan. Dan ketika dunia seakan memusuhimu, terasa sedikit pun tidak membantu atau memudahkan urusanmu, dan tampak yang diinginkan itu begitu jauh dari jangkauan…

Benar, aku tidak pernah berpikir untuk melepaskannya; makanya aku berakhir memerangi diriku sendiri yang merasakan keputusasaan, ketidakpercayaan, kebimbangan, kegalauan, kecemasan, dan ketakutan bahwa semuanya kosong belaka. Apakah aku bisa berada di sana? Ataukah ternyata aku ditakdirkan berada di tempat yang lain? Dan aku belajar tentang misteri pilihan-pilihan hidup bahwa di mana akhirnya kau bermuara, semua tergantung keputusanmu ingin berakhir di mana dan keputusanmu untuk berusaha  berakhir di sana.

Namun, aku belajar hal lain lagi bahwa betapa pun aku telah berusaha, aku tak punya sedikitpun kekuasaan untuk menjadikan pasti-terjadi suatu harapan. Ibn Khaldun berkata, “Seseorang dapat mengadakan persiapan menurut kehendaknya, namun hal itu tidak bisa dijadikan alasan bahwa sesuatu yang telah dipersiapkan akan benar-benar terjadi. Kemampuan untuk mempersiapkan sesuatu bukanlah suatu kekuasaan terhadap hal itu.” (Muqaddimah, h. 131)

Juga, ada Allah yang berkata, “… barang siapa yang mengikuti Petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Al Baqarah 2: 38) Akhirnya prinsipku jelas: Untuk hari ini, lakukan apa-apa yang seharusnya kau lakukan. Untuk masa depan, lakukan apa-apa yang sebaiknya kau lakukan. Semua ada saatnya. Sesuatu hal terasa sulit pada waktunya dan terasa mudah juga pada waktunya.

Setelah itulah aku dapat tenang. Aku harus mengikuti aliran. Ketika itu pelan, aku harus pelan. Ketika itu cepat, aku harus cepat. Hadapi semua yang harus dihadapi. Tahan apa-apa yang harus ditahan. Lepaskan pergi yang memang harus dilepaskan. Buang jauh rencana yang tidak realistis lagi, buat rencana yang baru, evaluasi kembali idealisme, susun prinsip-prinsip baru, dan pegang itu sampai datang kembali saat di mana kau harus mengevaluasi dan membuat yang baru.

Hidup normal berjalan seperti ini. Untuk menjalaninya, kadang kita harus garang dan bergelora seperti api, harus tenang dan teguh seperti bumi, fleksibel dan lincah seperti air, atau dinamis dan bebas seperti angin. Sering kita harus tidak menjadi diri kita yang biasa. Agar tidak berakhir hancur berkeping-keping seperti gelas yang dilemparkan ke tembok, kita sebaiknya tahu kapan harus memadat, mencair, dan menguap hilang, lalu kembali menemukan bentuk.

***

Aku tidak akan berkata bahwa berhasil sampai di titik ini seperti mimpi. Memperjuangkan semua ini, aku tidak bermimpi. Dengan penuh kesadaran aku berusaha. Sungguh kehendak Allah aku akhirnya bisa sampai. Alhamdulillah…

Perkuliahan akan dimulai 2 September nanti. Aku mahasiswa baru di Magister Sains Psikologi, Fak. Psikologi UGM angkatan 2013. Minat utamaku bidang Psikologi Pendidikan. Ya, itu demi, lagi-lagi, sebuah mimpi yang lain. Akan ada saatnya aku menceritakannya dan itu bukan sekarang ^^ Pada 27 Agustus yang lalu aku melakukan registrasi sehingga resmi aku menjadi mahasiswa S2. Sayang sekali, waktu itu aku gagal mendeteksi siapa yang akan menjadi teman-teman sekelasku, teman-teman baruku. Ingin sekali bisa mengetahui siapa mereka.

Ada tiga hal besar yang ingin aku dapatkan dalam fase hidupku yang kali ini sebagai penuntut ilmu. Pertama, aku ingin mendalami psikologi, konsep dan aplikasinya dalam dunia pendidikan. Kedua, aku ingin meluaskan wawasanku di bidang psikologi Islami. Ketiga, aku ingin tahu tentang menjadi seorang ilmuwan yang sebenarnya.

Dahulu, aku bisa bilang menyukai semua bidang psikologi, tetapi akhirnya dengan sendirinya minat itu mengerucut. Selain psikologi pendidikan, rupanya aku tertarik di bidang psikologi industri dan organisasi dan psikologi sosial. Aku suka segala sesuatu yang menyentuh dunia yang lebih besar, tentang bagaimana psikologi yang pada umumnya terbatas pada dunia seorang individu manusia dapat terkoneksi dengan dunia masyarakat manusia yang lebih luas sehingga akhirnya dapat terlihat di mana posisinya dalam bangunan kehidupan dan peradaban manusia.

Dunia pendidikan itu tentang pencapaian keberdayaan dan keberadaban hidup. Kehidupan sosial itu tentang pencapaian keteraturan dan harmoni. Bidang industri dan organisasi itu tentang pencapaian keterkelolaan dan produktivitas.

Bukannya psikologi klinis dan perkembangan tidak dapat seperti itu, tetapi hanya saja mereka rasanya tidak seluas rekan-rekannya yang aku favoritkan. (Akan ada orang lain yang memfavoritkannya. Tenang saja.)

Aku tidak begitu pro pada ide berkutat pada “gangguan-gangguan psikis dan penyimpangan-penyimpangan perkembangan”. Aku menginginkan psikologi yang lebih positif, yang melihat jauh ke depan, yang dekat pada visi kemajuan, yang memandang manusia bukan untuk disembuhkan dan ditempatkan sebagai pasien penerima perlakuan melainkan untuk dimanusiakan semanusia-manusianya.

Aku tidak pro dengan ide “menjadikan manusia sempurna” karena pada dasarnya “manusia tidak boleh sempurna”. Aku memikirkan tentang manusia yang berkembang tanpa dikekang teori-teori perkembangan yang bias budaya. Dan, secara pribadi aku berpendapat persoalan psikologis yang dialami manusia adalah bagian dari kesempurnaan penciptaannya sebagai manusia dan sering memang harus dialaminya sedemikian rupa agar ia tahu jalan “pulang”, bukan untuk diperangi dengan resep-resep yang sayang, juga timpang.

Aku ingin belajar psikologi sebagai ilmu yang hakiki; ilmu yang mendekatkan manusia pada Tuhan-nya, memperbesar kepasrahannya pada Tuhan dan keinginannya untuk takwa, dan mengajaknya untuk beragama… Ya, karena itulah sebenar-benarnya penyembuh. Mungkin aku hendak membuktikan sesuatu bahwa psikologi Islami bisa jadi berakhir sama seperti ilmu-ilmu pada umumnya, hanya menjadi bunga-bunga pikiran, kesenangan intelektual orang-orang yang berpikir.

Aku ingin menjadi seorang ilmuwan. Aku ingin hidup dengan berbuat. Bukan hanya berpikir. Sungguh ini adalah kekurangan terbesarku. Aku ingin belajar caranya berbuat, bagaimana berpindah dari dunia konsep-konsep teoretik dan menghadapi realita yang butuh diubah dengan dukungan ilmu? Dalam benakku, ini bukan sekadar perkara profesi yang akan menjadi mata pencaharian. Tahu bagaimana melakukannya dengan benar sehingga tumbuh kemampuan mempertanggungjawabkannya adalah yang terutama untuk dimengerti. Aku sungguh tidak mau, jangan sampai aku membuka pintu rezeki dunia dengan menutup pintu rezeki di akhirat.

Terakhir, yang aku sadari betul adalah bahwa yang akan mewujudkan mimpiku dengan menjadikanku seorang ilmuwan bukanlah sekolah pascasarjana ini dan gelar akademik apapun yang akan kudapat nanti, melainkan apa dan bagaimana aku setelah selesai menempuh fase kehidupan yang satu ini.

Mungkin aku akan selamanya menjadi orang yang berjuang tanpa sedikit pun merasa telah mengecap hasil. Mungkin selamanya mimpi hanyalah menjadi mimpi. Mungkin pula selamanya aku tak akan pernah menjadi ilmuwan seperti yang aku impikan. Tapi, mulai sekarang aku tidak akan mengistilahkan semua keinginan, cita-cita dan harapan ini dengan kata “mimpi”. Semua keinginan, cita-cita dan harapan ini sesungguhnya adalah “niat baik”. Ya, dengan begitu aku telah berusaha menutup satu pintu bernama ratapan penyesalan, kecemasan dan kesedihan. Betapa pun tidak terwujud, niat baik bukanlah sesuatu yang menggagalkan manusia. Niat baik tidak pernah “kosong”.

Dan, Allah adalah sebaik-baiknya pemberi penerang dan petunjuk… Semoga di kota impian yang penuh dengan impian ini, aku tidak menjadi orang yang sesat dan hilang arah. Semoga aku berakhir pada akhir-akhir yang baik. Pada saatnya semua ini selesai, aku keluar dari kampus, dari kota ini, dari fase kehidupan ini dengan cara keluar yang baik… lalu masuk ke tempat-tempat yang baru, fase kehidupan yang baru juga dengan cara masuk yang baik.

2 thoughts on “Reaching Dream Bag. 11: Menuju Kota (Penuh) Impian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s