Reaching Dream Bag. 12: Minggu Pertama di Kampus

I

It is because of God. He ask me to  I look for knowledge, hikmah. Then, I state it firmly for my own self: I come here not for money, fame, or recognition, but knowledge.

Kau tahu, banyak yang menghantammu bahkan ketika kau baru saja menginjakkan kaki: orang-orang yang kau lihat lebih berpengetahuan, lebih berpengalaman, lebih fasih dan ahli, lebih pandai, lebih percaya diri, lebih menarik perhatian, lebih bersinar… Kau kira kau kemudian akan kehilangan arah karena mendapati dirimu tidak seperti mereka. Tapi, tidak, ketika kemudian kau menyadari, sungguh omong kosong punya cita-cita untuk menjadi seperti mereka karena kualitas-kualitas itu bukanlah ukuran kesuksesan hidup yang kau yakini. Kau ke sini bukan untuk menjadi seperti mereka. Kau punya tujuanmu sendiri dan hanya kau dan Tuhan yang tahu seberapa murni tujuan itu, dan Tuhan tidak akan menzalimimu karena keinginanmu itu, melainkan memberimu kekuatan, sepanjang kau benar. Kau harus punya cahayamu sendiri dan bernaung di dalamnya, dan membesarkan dirimu sendiri seperti yang dikehendaki Tuhan pada diri hamba-Nya. Jadi, bangkit dan melangkahlah dengan mantap dalam dunia yang kau ditakdirkan Tuhan berada di dalamnya.

Ya. Aku akan mengulang-ulang ini dalam hatiku. It is because of God. He ask me to  I look for knowledge, hikmah. Then, I state it firmly for my own self: I come here not for money, fame, or recognition, but knowledge.

Aku tahu aku bodoh. Semoga Allah memberiku ilmu dan pemahaman. Amin Ya Rabb…

***

II

Ternyata, seminggu itu cepat! Sudah seminggu aku jadi mahasiswa pascasarjana. Dalam seminggu yang cepat itu, aku sudah mendapatkan banyak. Ada baiknya jika aku bisa mengabadikan sedikit semua yang terjadi.

Hari-hari pertama sebenarnya bisa dikatakan kacau. Pertama kali di Yogya, wajar sekali kalau aku buta arah dan tidak tahu jalan dan tempat-tempat. Paling takut jika sampai tersasar. Agenda pertama hari Senin (2/9) adalah pembekalan, dimulai pukul 08.00. Sudah berangkat dari pukul 07.00, aku habiskan satu jam untuk mencari-cari tempat pembekalan yang ternyata dekat sekali dengan kampus fakultas sendiri. Ngapain aku jauh-jauh sampai ke Sekolah Pascasarjana kalau tempatnya ternyata hanya di gedung pascasarjana Fakultas Psikologi? Memang aku akhirnya jadi tahu jalan, tapi deg-degan-nya itu lo… Paling takut jika sampai terlambat. Memalukan.

Masalah belum selesai. Rupanya aku juga buta peraturan lalu lintas di lingkungan UGM. Tidak tahu apa itu KIK dan non-KIK dan konsekuensi-konsekuensinya. Tidak punya (dan tidak akan bakal punya) KIK (Kartu Identitas Kendaraan) buat aku dipingpong ke sana kemari demi berada di tempat parkir kendaraan yang benar. Berkali-kali kena tegur. Tidak boleh lewat sini, harus lewat sana. Tidak boleh parkir di sini, harus parkir di sana. Bagi yang tak punya KIK, kalau masuk UGM harus punya karcis kuning itu. Mau parkir di masjid kampus juga ada nomor parkirnya. Kau tahu, salah satu poin yang aku dijanji dalam surat pernyataan jadi mahasiswa pascasarjana adalah mematuhi peraturan lalu lintas di kampus. Ya, kalau aku begini terus aku bisa dikeluarkan, bukan? Tapi untunglah aku cepat belajar. Sekarang aku tahu, tempat tebaik untuk parkir. LEMBAH. Haha… tapi juga pernah karena baru pertama kali parkir di sana, aku lupa taruh di mana sepeda motorku. Pernah juga salah masuk; bukannya lewat pintu masuk, aku malah lewat pintu keluar. Kalau kena tegur petugas di tempat parkir, andalanku: Saya mahasiswa baru, Pak!

Hari Senin itu aku tutup dengan mengunjungi UIN Sunan Kalijaga, tepatnya ke Pusat Pelatihan Bahasa-nya, untuk mencari tempat kursus bahasa Arab. Lho, tidak ada yang semacam itu rupanya di sana. Lalu aku mengunjungi Pusat Pelatihan Bahasa UGM untuk mencari tahu tempat kursus bahasa Jerman. Ada, di Pusat Studi Jerman, tapi… mahal biayanya. Aku lalu mendatangi tetangganya. Pusat Studi Jepang. Aku mendaftar. Aku bertekad bisa menguasai minimal dua bahasa lagi dalam sepuluh tahun ke depan. Haha… punya cita-cita melanjutkan studi di Jerman dan meneliti tentang regulasi diri orang Indonesia sebagai disertasiku! Semoga dimudahkan Allah. Akhirnya aku setiap minggu punya agenda belajar bahasa Jepang. Level 1. Aku belajar sesuatu yang sudah aku kuasai. Sedikit terasa buang-buang uang, karena kalau bisa aku ingin loncat ke Level 2 atau 3. Tapi, rupanya yang terpenting itu bukan kontennya, melainkan diskusi-diskusinya. Ya… aku akan menikmati semua ini.

Lanjut ke acara pembekalan yang berlangsung satu minggu lamanya. Aku bertemu beberapa orang yang akan menjadi dosenku. Bu Avin, Bu Ira, Bu Ariana, Pak Dicky, Pak Bagus Riyono, Pak Subandi… Baru bertemu sedikit orang dan sebentar saja dalam kelas, tapi semua itu begitu… wow. Ya, karena aku punya cita-cita untuk menjadi orang yang seperti mereka. Ketika rambutku sudah kelabu dan putih nanti, aku ingin bisa menjadi penerus yang menggantikan posisi mereka, berbicara pada generasi-generasi selanjutnya. Tak peduli apakah nanti aku akan tetap kurus atau berubah gemuk, masih seperti ini atau berubah keriput berkerut-kerut, masih bisa berjalan atau tak bisa lagi berdiri tegak jika tanpa tongkat, rasanya sampai mati aku ingin bisa menjadi orang yang berdiri dan mengajarkan sesuatu. Aku ingin sekali belajar banyak, terutama dari kehidupan mereka. Aku tahu di masa lalu mereka pernah jadi seperti aku, jadi di masa depan kenapa aku tidak bisa menjadi seperti mereka? Insya Allah.

Dari beberapa dosen di atas, kuliah yang paling membekas adalah yang disampaikan oleh Pak Bagus dan Pak Subandi.

Jika teman-teman pernah membaca tulisanku beberapa waktu yang lalu tentang kesombongan kau ulama, yang sesungguhnya adalah komentarku atas status Pak Bagus yang isinya keprihatinan akan keberadaan ilmuwan yang ilmunya gagal membuat mereka rendah hati, kalian akan mengerti mengapa kuliah hari itu sangat berkesan. Pak Bagus menjelaskan tentang itu dan aku akhirnya menjadi lebih mengerti bahwa kerendahhatian seorang ulama itu sebenarnya persoalan yang akan rumit jika kita gagal memahami apakah ilmu dan apakah yang ilmiah itu sebetulnya. Topik yang bagiku religius ini sangat berkaitan dengan etika seorang ilmuwan di hadapan pengetahuan dan kebenaran, bahwa pencarian akan kebenaran yang dilakukan secara jujurlah yang sejatinya akan mendudukkan ilmuwan tersebut pada tempatnya. Kerendahhatian menjadi sesuatu yang otomatis tertanam ketika orang tahu di manakah tempat mereka sebetulnya. Dengan begitu, tidak pernah ada kesempatan atau alasan untuk sombong.

Jalan menuju pengertian di atas sungguh berliku-liku sampai-sampai aku harus menenangkan diri agar bisa memastikan alur pikiranku sendiri. *Akhirnya aku tahu kenapa Pak Bagus nge-fans sekali dengan al-Haytham. Beliau pertama-tama bertanya pada hadirin tentang siapakah orang yang dinobatkan sebagai ilmuwan pertama di dunia (ilmuwan yang menggunakan metode ilmiah untuk pertama kalinya). Sedikit banyak, karena aku pernah ikut kajian dengan beliau, aku tahu siapa, tetapi rasanya akan tidak lucu jika aku buka mulut karena skenario akan sempurna berjalan jika hadirin tidak tahu apa-apa dan membuat pembicara “terpaksa” membeberkan semuanya. Benar. Al-Haytham. Beliau lalu bercerita tentang perjalanan hidup tokoh tersebut dalam usahanya menemukan kebenaran.

Pada awalnya, al-Haytham punya misi besar mendamaikan Sunni dan Syiah. Ia orang yang berusaha menemukan titik temu antara kedua golongan besar muslim tersebut. Aku membayangkan, berdasarkan ceritanya Pak Bagus, al-Haytham berjalan ke sana kemari untuk bertemu tokoh-tokoh Sunni dan Syiah, melakukan wawancara untuk mendapatkan pemahaman, sebenarnya persoalan apa yang menjadikan dua kelompok tersebut selalu berbeda, berseberangan, dan berkonflik. Al-Haytham gagal. Dua kelompok tersebut punya hal yang sama-sama kuat yang meneguhkan posisi mereka. Sama-sama Islam, tetapi mereka punya sudut pandang yang berbeda atas Islam. Dari situ, Pak Bagus menyadarkanku tentang “bahaya” orang-orang yang hanya tahu sesuatu dari perspektif mereka saja. Perkaranya jelas, pandangan mereka menjadi tidak utuh, merasa opininya sendiri yang benar dan orang lain adalah salah. Mereka lalu bukan lagi berpikir untuk kebenaran, tetapi demi kemenangan golongan, pandangan dan opini dari perspektif mereka. Ya, itu bukan akhlak terpuji seorang ilmuwan sejati.

Cerita berlanjut pada bagaimana al-Haytham, yang lelah dengan manusia yang “merepotkan” beralih dari perkara manusia menuju alam. Baginya, alam adalah yang terjujur di dunia ini. Apa yang dilihat tidak punya niat untuk menipu yang melihat. Dari situ al-Haytham lalu menjadi ahli fisika dan pencetus teori tentang sifat-sifat cahaya yang terkenal sampai sekarang ini. Cerita lalu berakhir, tetapi kuliah mulai masuk pada topiknya yang utama, tentang bagaimana menulis ilmiah.

Memang benar, semua harus bermula dari kesamaan pemahaman akan apakah yang ilmiah itu dan aku menjawab: yang ilmiah itu adalah yang tidak subjektif. Yang ilmiah itu tidak berisi perkiraan-perkiraan semata, melainkan berdasarkan penyelidikan. Yang ilmiah itu bukan berisi prasangka-prasangka dan opini-opini, tetapi berdasarkan data. Persoalan berlanjut bukan lagi ada atau tidaknya data, melainkan bagaimana data diperoleh, apakah caranya benar berdasarkan kaidah-kaidah pengambilan data yang benar dan terpercaya.

Pembahasan masuk ke area pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Aku kemudian paham bahwa kedua pendekatan itu sesungguhnya tidak berseberangan, hanya saja mereka punya parameter mereka sendiri akan apakah yang ilmiah itu. Bagi peneliti kuantitatif, telah pasti bahwa yang ilmiah itu hanyalah yang pasti, berupa angka, dipahami dengan matematika yang pasti dan tidak menipu. Bagi penelitian kualitatif, di mana yang dianalisa adalah data berupa pendapat manusia, keilmiahan itu hadir ketika peneliti mampu menganalisanya dengan meminimalisasi subjektifitasnya sendiri dalam interpretasi data atau dengan menempatkan subjektifitasnya (pendapat atau pandangannya) pada tempatnya. Begitulah, akhirnya seperti ada lampu yang menyala dalam kepalaku, terutama setelah dikatakan bahwa hasil analisis itu akhirnya nilainya lebih rendah daripada data yang dianalisis.

Data itu fakta yang masih murni yang menjadi berwarna setelah diinterpretasi. Setiap orang boleh memandangnya dan menceritakan hasil pengamatannya, tetapi apapun itu, itu bukanlah yang sebenarnya dan salah besar jika ia mendaulat bahwa yang dilihatnya adalah yang terbenar. Dari sinilah, “Saya benar tapi mungkin ada salahnya, anda salah tapi mungkin ada benarnya,” tidak lagi sekadar jargon atau kalimat mutiara. Itu pemahaman nyata yang harus ada dalam diri seorang ilmuwan. Dan jika tujuannya lurus adalah kebenaran, pencarian ilmu akan selalu menjadi aktivitas yang menyenangkan, juga mencerahkan.

Dari Pak Subandi, dari mendengarkan kisah-kisah dan penjelasannya, aku mengambil kesimpulan: insya Allah sejauh ini aku tidak salah.

Haha… aku penasaran apa yang akan terjadi besok di kampus, apa yang aku dengar dan lihat, apa yang akan aku pelajari, kekeliruan-kekeliruan apa yang akan tampak di mataku tentang pemahaman dan diriku sendiri? Menyenangkan dan mencerahkan. Hidup memang seharusnya begitu.

PS: Oh iya! Aku sempat itu acara bedah film-nya Mr. Lamelson di kampus. Aku ingat betul pertanyaanku: After this, how should we educate our people? Lagi-lagi, pencerahan. Alhamdulillah.

2 thoughts on “Reaching Dream Bag. 12: Minggu Pertama di Kampus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s