Renungan Tiga Tahun Imamupsi: Imamupsi, Quo Vadis?

Mayoritas orang berpikir tentang masa depan, tetapi tidak berpikir jauh. Sebagian orang berpikir jauh, tetapi sedikit yang berpikir lebih jauh lagi. Dan dari sedikit yang berpikir lebih jauh itu, lebih sedikit lagi yang berpikir dengan mempertimbangkan realita sekarang secara bijak bahwa ada baiknya mereka tidak berpikir terlalu jauh sampai meninggalkan tempat di mana sesungguhnya mereka tengah berpijak. — Aku, 14 September 2013

***

Imamupsi: Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia. Catat.

Lagi bulan September datang. Aku berharap sia-sia kalau tahun ini adalah tahun 2012. Seandainya tahun ini adalah tahun 2012, dengan perkembangan dan dinamika yang terjadi seperti akhir-akhir ini dalam tubuh Imamupsi, aku tentu akan benar-benar bersemangat menyambutnya. Benar. Sudah kutunggu-tunggu sejak tahun lalu kabar Musyawarah Nasional Imamupsi akan diadakan lagi sesuai jadwal pergantian kepengurusan setiap dua tahunan.

Umm… Sebenarnya, persoalan sesungguhnya terkait Imamupsi bukanlah masalah semangat tetap berorganisasi atau tidak karena spirit itu selalu ada seiring dengan spirit menuntut ilmu dan menemukan kebenaran. Hanya saja, persoalannya kupikir benar-benar pelik sehingga emosi yang positif itu tersapu… Whus! Aku mengerutkan kening dan memberengut karena tahu masalahnya persis seperti yang sudah aku prediksi, tapi hanya bisa kusimpan sendiri dalam hati, sejak tiga tahun yang lalu.

Ya. Silakan salahkan aku yang tidak buka mulut sejak tiga tahun yang lalu. Tapi, waktu itu dan bahkan sampai sekarang, aku masih merasa sekalipun aku bicara, tidak ada yang akan benar-benar mendengarkan. Aku berpengalaman menjadi pelawan arus dan berakhir tak digubris. Jadi, aku benar-benar sadar akan keputusanku untuk hanya menjadi “penonton”; mengamati bagaimana teman-temanku dengan keputusan-keputusan mereka. Aku menjadi orang yang belajar dari mereka saja. Terserah, siapa yang bersedia menyimak.

***

1# Kepemimpinan

Kepengurusan Imamupsi saat ini yang terlambat regenerasi sudah mengikuti jejak pendahulunya yang mengalami keterlambatan regenerasi. Mau itu terlambat satu tahun atau tiga tahun, keduanya sama-sama fatal karena itu artinya sistem organisasi tidak berjalan. Organisasi tidak berjalan berdasarkan renstra atau AD/ART dan GBHO-nya, tetapi berdasarkan kapan orang-orang di dalamnya sempat atau tidak, apakah orang-orangnya ingin berjalan atau tidak, kapan orang-orangnya fit atau tidak.

Imamupsi adalah organisasi di tingkat nasional, tetapi dalam merumuskan bentuknya, ia tidak berhasil memahami karakter keorganisasiannya sendiri sebagai organisasi nasional. Karakter yang sangat jelas adalah cakupan kerjanya yang jauh lebih luas ketimbang organisasi mahasiswa yang bergerak di tataran regional atau lokal di dalam kampus saja. Ia berisikan anggota yang karakternya jauh lebih beragam, berasal dari kampus-kampus yang berjauhan. Ketika mereka dikumpulkan dalam musyawarah pertama, kebanyakan adalah orang-orang yang belum mengerti apa yang hendak mereka kerjakan. Sejak awal segregasi terjadi; kelompok elit yang “tahu segalanya” dan pengikut yang “baru saja tahu”.

Potensi masalah sudah tercium ketika ditetapkan bahwa sistem kepemimpinannya bersifat kolektif kolegial.  Imamupsi dipimpin oleh lima presidium (presidium: pimpinan tertinggi suatu badan yg terdiri atas beberapa orang yg berkedudukan sama). Entah bagaimana bisa muncul ide semacam itu, aku tidak punya akses untuk mempertanyakannya.

Presidium pertama mengurusi manajemen organisasi, selanjutnya mengurusi media, keilmuwan, harta organisasi, dan jaringan. Presidium pertama bertempat tinggal di Jawa Timur, wakilnya di Jawa Tengah. Presidium kedua di Jawa Barat. Presidium tiga di Jawa Tengah. Presidium empat dan lima juga di Jawa Timur. Bagiku, ini seperti menceraikan anggota badan dari badannya. Kepala di timur, kaki tangan di barat dan selatan, dan seterusnya; padahal tubuhnya itu masih kecil, anggota aktualnya belum sampai 100 orang. Tidakkah badan yang seperti itu justru akan mati? Sekalipun tujuannya baik, yaitu untuk mempersatukan semua orang, agar semua dilibatkan dan tidak ada rasa cemburu, tetapi organisasi tidak bisa berjalan dengan landasan yang sosialis begitu, bahwa semua orang harus setara.

Belajar dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang menggunakan sistem presidium, tujuannya adalah agar organisasi tidak disalahgunakan orang tertentu dan agar setiap orang dapat mensinergikan kemampuan dan keahlian. Itu landasan yang tepat bagi organisasi yang berisikan cendekiawan, yang masing-masing punya pandangan, organisasi, dan pendukungnya sendiri-sendiri. Landasan penggunaan sistem yang sama dalam Imamupsi tidak logis karena sebagai organisasi mahasiswa, permasalahannya tidak seperti ICMI.

Prinsip yang melandasi kepemimpinan salah satunya adalah “kecerdasan, kemampuan dan kekuatan”; berdasarkan itulah kekuasaan dan kewenangan benar diberikan kepada seseorang atau sekelompok orang. Kekuasaan itu diberikan kepada orang yang mampu mengendalikan orang lain, tetapi yang terpenting adalah mampu mengatur dirinya sendiri. Itu artinya kualitas dirinya harus memadai.

Berdasarkan itu, aku ingin menyarankan bagaimana jika sistem kepemimpinan Imamupsi diubah, tidak dipimpin oleh orang-orang lintasorganisasi, tetapi untuk tahun-tahun awal secara tunggal dipimpin oleh organisasi Kelompok Studi Psikologi Islami (KSPI) yang kondisinya paling mapan di antara KSPI-KSPI di bawah naungan Imamupsi? KSPI yang bentuknya sudah mapan ada kemungkinan akan menularkan kemapanannya pada Imamupsi untuk menjadi organisasi yang seperti apa. Lebih jauh, perkembangan KSPI yang sudah mapan akan membawa serta Imamupsi. Imamupsi yang “baru lahir” ini masih seperti bayi, perlu dibimbing dahulu oleh orangtuanya. Orangtua Imamupsi adalah KSPI-KSPI. Karena itu, proses pengembangan Imamupsi tidak boleh terbalik. Yang menentukan Imamupsi itu KSPI, bukan KSPI yang ditentukan oleh Imamupsi.

2# Rencana Strategi (Renstra) yang Diprioritaskan

Waktu itu, okelah. Aku mengikuti keputusan mayoritas dan tidak memperdebatkan sistem presidium. Aku memutuskan percaya pada mereka. Satu dua bulan awal, semua begitu ideal. Rapat sampai mengunjungi kota lain yang jaraknya berpuluh-puluh kilometer dilakoni. Rapat via Yahoo! Messenger dilakoni. Kepemimpinan regional tingkat provinsi pun dibentuk. Struktur organisasi membesar, tetapi yang menduduki tempat-tempat dalam struktur itu sedikit sekali.

Tentu saja, karena sumber daya manusia kebanyakan sudah tersedot di KSPI. Mereka yang berada di Imamupsi sebenarnya adalah orang yang “menguat-nguatkan” diri dan kantongnya. Dari situ aku wajar skeptis, serius Imamupsi dengan sumber daya manusia yang seperti ini mau mengadakan sistem kaderisasi yang ideal dan kajian-kajian yang wah? Belum waktunya. Tapi, lagi-lagi aku kalah suara dalam menyuarakan bahwa seharusnya sikap realistislah yang dikedepankan. Mau sampai kapan rapat sedemikian mahal dan penuh pengorbanan seperti ini? Siapa orang yang bertahan berkorban dua tahun mendedikasikan diri dalam organisasi yang seperti ini? Organisasi apa yang bisa bertahan jika cara menjalankannya seperti ini?

Renstra yang pernah dibuat mencanangkan program-programnya untuk dijalankan secara beriringan dan simultan dari tahun ke tahun untuk mencapai tujuan lima tahunan. Tetapi, jika dicermati, setiap program butuh kondisi dan syarat-syarat yang berbeda, dan memenuhi syarat-syarat itu sangat tidak mudah. Meskipun demikian, aku tahu apa yang paling sederhana untuk dilakukan di tengah kondisi yang belum mapan itu. Hanya saja, aku tidak bisa memastikan apakah para presedium juga tahu tentang apa yang aku tahu.

Lama sekali aku menunggu, tiga tahun sudah, hal termudah yang bisa dilakukan orang-orang yang melek internet: Imamupsi tidak punya laman Facebook yang terbuka bagi seluruh simpatisannya. Imamupsi tidak punya media untuk berkomunikasi. Bagi organisasi yang kekuatan jaringan antar-KSPI-nya masih lemah, Facebook adalah jalan termudah dan termurah untuk mendekatkan orang-orang. Facebook bisa jadi media untuk melakukan rapat virtual atau diskusi tentang psikologi Islami dan itu bisa menjangkau puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang. Tetapi, pembangunan media ini tidak menjadi prioritas. Bahkan aku dengar, presidium yang khusus mengurusi media dan jaringan ini tidak terdengar suaranya, (atau mengundurkan diri?).

Imamupsi masih menggunakan cara-cara konvensional, lewat kajian-kajian yang boros dan terbatas, tidak dapat diakses oleh banyak orang. Yang diprioritaskan adalah bidang kajian yang sebenarnya sifatnya tidak semendesak pembangunan jaringan di antara anggota dan KSPI, agar mereka saling tahu dan kenal. Bagaimana mau membangun organisasi nasional jika tidak saling kenal?

Berdasarkan itu, aku menyarankan bangun jaringan, bangun ikatan yang kuat, sesuai dengan nama organisasi Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi. Baru setelah cukup mapan secara sosial, kerja sama dapat dilakukan dengan komunikasi yang lebih baik.

3# Organisasi Pergerakan atau Organisasi Keilmuan?

Ini pertanyaan yang tidak pernah dijawab; hanya dilontarkan tetapi tidak dipikirkan betapa penting jawaban tersebut pada  bentuk dan program-program Imamupsi. Dua hal, organisasi pergerakan dan organisasi keilmuwan, memang berhubungan, tetapi berbeda landasan. Organisasi pergerakan berisi orang-orang yang bergerak bersama untuk memajukan pandangan politik, sosial, atau ideologi mereka. Caranya bermacam-macam, salah satunya bisa lewat jalur ilmu pengetahuan. Sementara itu, organisasi keilmuan berisi orang-orang yang berkumpul untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, di mana khusus bagi organisasi keilmuwan Islami, tujuan utamanya adalah mengembangkan ilmu pengetahuan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Satu hal yang aku pegang adalah Imamupsi adalah organisasi keilmuwan. Tetapi, mengapa sistem kaderisasinya bercorakkan gaya kaderisasi organisasi pergerakan? (Mungkin karena sebagian elitnya adalah anak-anak kerohanian Islam di kampusnya masing-masing?) Mulai dari direncanakan adanya standar mutu kader, program-program pendidikan tentang psikologi Islami yang harus ditempuh kader agar layak menempati posisi ini dan itu, buku pegangan bagi setiap kader tentang psikologi Islami, dan penggunaan istilah kader dan kaderisasi itu sendiri.

Bagiku, sistem kaderisasi semacam itu terlalu panjang, tidak praktis, menyimpang dari orientasi organisasi, dan terlalu menuntut. Kenyataannya sistem itu tidak jalan, yang ideal tidak pernah terwujud, dan organisasi selalu terdiri atas orang yang datang dan pergi sesuka hati. Karena memang bukan organisasi pergerakan, menuntut kesetiaan penuh adalah praktik yang membebani. Belajar itu tentang kebebasan bereksplorasi. Mengapa memberikan terlalu banyak syarat bagi orang-orang yang datang dengan niat sederhana ingin belajar?

Saranku, buang kata kader dan kaderisasi. Tidak perlu ada tanggung jawab mengkader dari senior kepada junior. Yang ada adalah tanggung jawab moral orang yang lebih tahu mengajarkan pengetahuannya kepada orang yang kurang dan butuh tahu.

Orang berilmu itu untuk beribadah, bukan untuk meneguhkan hagemoni di bumi, sekalipun kita orang-orang yang benar. Dalam berilmu pengetahuan, tidak ada yang paling benar dan selamanya benar; jadi, mengapa harus ngotot psikologi Islami-lah yang harus menang di antara bidang-bidang psikologi lainnya? Kebenaran ilmu pengetahuan, sekalipun dilandaskan pada agama, tidak sama seperti kebenaran agama yang absolut. Yeah, mengapa isi kajian dalam rangka mewacanakan psikologi Islami sering sekali tentang “psikologi Islami, mazhab kelima psikologi”, “psikologi Islami kunci kesempurnaan manusia”, “psikologi Barat sesat dan menyesatkan”, dan sebangsanya?

Orang-orang pergerakan akan menjawab, “Memang begitu!” Orang-orang keilmuwan akan bertanya, “Mengapa bisa begitu?”

***

PS: Maaf ya, kalau aku bawa nama organisasi di sini. Tapi, tidak ada nama orang-orangnya, kan? Ini murni hanya pendapatku. Kalau ada yang tidak setuju atau tidak suka, bilang saja. Jika pendapatku ada yang salah dan kalian bisa menunjukkan apa yang lebih benar, aku akan memperbaiki tulisan ini. Peace.

3 thoughts on “Renungan Tiga Tahun Imamupsi: Imamupsi, Quo Vadis?

  1. Tulisan yang bagus sekali mbak, setelah membaca ini saya jadi mengerti bagaimana kepedulian mbak terhadap organisasi ini..🙂.
    Saya setuju koq dengan evaluasi yang mbak hadirkan, dimana 3 tahun yang lalu, hal-hal yang ideal itu terlihat indah dan membuat kita lupa melihat kemungkinan terburuk yang ada. Dan sayangnyadulu saya juga termasuk yang melupakan kemungkinan terburuk itu, hehe..🙂
    Namun setelah melaluinya secara langsung dan merasakan 3 tahun di alam kenyataan bernama Presnas, saya sadar perlu banyak perbaikan yang ada dalam organisasi ini, termasuk 3 hal yang mbak sebutkan diatas..🙂.
    Yaah, saya tau, bagaimana kekecewaan mbak, dan saya juga mengalami kekecewaan yang sama, namun beberapa hari lagi akan ada kesempatan untuk membuat IMAMUPSI jadi lebih baik lagi, semoga mbak lebih vokal menyuarakan pendapatnya, karena pendapat2 seperti mbak sangat2 perlu untuk diperhatikan..🙂

    #thanks atas masukannya.. ^___^

      • Eh, sebaiknya tidak salah paham dan salah menyimpulkan. Tidak ada satu pun kata “kecewa” dalam tulisan saya lho. Apa yang saya rasakan bukan kekecewaan atau keinginan menyalahkan. Rasa kecewa ada karena keinginan atau ambisi yang tidak sampai dan sikap menyalahkan ada jika kita menganggap kegagalan tersebut dikarenakan orang lain. Saya tidak punya ambisi apa-apa atas Imamupsi dan secara pribadi saya tidak merasa orang lain bersalah karena telah menzalimi atau membuat saya gagal.

        Jadi, bukan itu perasaan saya. Tulisan saya murni untuk mengevaluasi. Kalaupun terkesan ada kegeraman di sana, itu karena saya, dengan perspektif saya, tahu apa yang lebih baik untuk Imamupsi. Meski demikian, saya tetap bisa salah analisis mengenai apa yang lebih baik ini. Saudara juga perlu memikirkannya, jangan hanya bisa merasa kecewa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s