Reaching Dream Bag. 13: Aku (Memilih) Mencintai Statistika

“Some people even hate the name of statistics, but I find them fully of beauty and interest. Whenever they are not brutalized, but delicately handled by the higher methods, and are warily interpreted, their power of dealing with complicated phenomena is extraordinary. They are the only tools by which an opening can be cut through the formidable ticket of difficulties that bars the path of those who purse the Science of Man.”

— Sir Francis Galton

***

Karena ia adalah kenyataan yang tak terhindarkan, karena memang sepertiga mata kuliahku adalah tentang metodologi penelitian dan pengukuran psikologi, aku memutuskan menghadapi statistika secara penuh. Aku datang di kampus ini dengan satu kelemahan: aku bodoh dalam penelitian kuantitatif juga analisis statistikanya. Karena itu, aku berusaha memahami statistika secara utuh.

Suatu ketika aku bertanya pada dosenku, apakah ilmuwan yang baik itu perlu memahami semua metode penelitian. Jawabannya abu-abu dan penuh toleransi bahwa yang ideal itu pada kenyataannya tidak mudah. Tetapi, aku bisa bersikap tegas pada diriku. Aku masih muda dan memang saat ini adalah masaku untuk belajar. Maka aku bertekad untuk menguasai metode penelitian baik kualitatif maupun kuantitatif secara menyeluruh.

Aku bukan orang yang alergi matematika, data-data angka, dan analisa statistiknya. Hanya saja, dari dulu aku merasa aku akan berperforma lebih baik jika bekerja dengan kata-kata, kalimat dan bahasa, ketimbang angka. Itu salah satu motif yang mendorongku untuk mengambil studi fenomenologis untuk penelitian skripsiku. Tetapi, sekarang situasiku berbeda. Aku diberi kesempatan untuk menguasai satu metode yang lama aku abaikan. Bagaimana bisa aku tidak mengambilnya? Aku punya dosen-dosen yang bersedia mengajariku. Bagaimana bisa aku tidak mempelajari metode kuantitatif dan statistika secara sungguh-sungguh?

Dan, aku terharu pada seorang dosenku. Pak Azwar, di kelas Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan-nya. Mungkin kalian akan memandangku mahasiswa aneh karena memaknai segala peristiwa dengan perasaannya. Kemarin, di menit-menit terakhir, beliau menawarkan diri untuk membantu kembali menyegarkan pengetahuan statistika kami. Aku tentu tidak mengerti mengapa beliau memutuskan begitu dan aku juga tidak mengerti karena topik kami pada kali itu belum bersangkutan betul dengan statistika dan statistik. Aku hanya menebak, semua itu mungkin bersumber dari kesadarannya bahwa sebagian (besar) mahasiswanya buta statistika.

Ketika itu, aku langsung merasa menjadi mahasiswa paling beruntung sedunia; karena sudah hampir seminggu penuh aku berusaha mencerna isi buku Basic Statistical Analysis-nya Sprinthall dan itu lumayan memeras otak, dan ada bagian yang benar-benar aku merasa lebih baik berhenti dulu. Beliau memenuhi kebutuhan intelektualku tanpa aku minta. Aku sangat bersyukur bisa bertemu dan belajar dari beliau. Aku ingin bisa ahli seperti beliau dalam menerangkan hal yang sulit dengan cara yang mudah. Aku semakin bersemangat dengan statistika. Siang itu aku tidak jadi mengembalikan buku Mr. Sprinthall ke perpustakaan.

Peristiwa itu membuatkan kembali mengenang apa yang pernah terjadi dalam hidupku di masa lalu; pengalamanku mengerjakan skripsi, lalu interaksiku dengan dosen-dosen pembimbingku, dan pertanyaanku pada diriku sendiri, kenapa aku harus tahu dan mengerti banyak hal?

Sebagian memang demi diriku sendiri yang punya cita-cita menjadi ilmuwan yang bertanggung jawab sehingga harus tahu caranya melakukan penelitian secara bertanggung jawab. Tetapi, bersamaan dengan kemampuan dan tanggung jawab itu, ada tujuan yang lebih besar ketimbang kepentingan pribadiku sendiri. Ini demi orang-orang di masa depan nanti yang mungkin ditakdirkan Allah akan menjadi orang yang belajar dariku jika aku menjadi akademisi. Ini adalah tanggung jawab moralku sebagai orang yang bercita-cita menjadi ilmuwan. Pengetahuan yang benar adalah kunci dibangunnya ilmu pengetahuan yang benar dan pengetahuan yang benar itu hanya dapat diperoleh jika jalan mendapatkannya benar.

Aku tidak bisa membiarkan apa yang pernah aku alami ketika menjadi mahasiswa terulang pada diri mereka. Aku tahu, rasanya benar-benar frustrasi lantaran terhambat mengerjakan penelitian karena dosen yang seharusnya bisa memberikan bimbingan tidak bisa memberikan penjelasan yang baik tentang metode penelitian yang aku gunakan. Lebih jauh, aku ingin bisa membantu orang-orang meraih makna dari karya yang mereka usahakan agar lulus perguruan tinggi; agar tumpukan kertas itu tidak menjadi hanya tumpukan kertas yang terpaksa dibuat agar bisa keluar dari perguruan tinggi, agar angka-angka yang bertaburan dalam berkas karya mereka tidak berakhir menjadi entitas bisu.

Angka-angka adalah juru bicara bagi ilmu Allah yang bertebaran di semesta. Jika kita bisa memahami angka, maka kita telah berhasil memahami satu di antara banyak akses menuju pengetahuan Tuhan. Kini, aku menjadi orang yang kagum pada statistika, teori-teori dan praktiknya.

Hari ini, aku bisa menyadari keberadaan pengetahuan baru dalam diriku, tentang bagaimana akhirnya sikap berat sebelah itu pelan-pelan dapat dikurangi; tentang bagaimana kini aku dapat bersikap adil pada pendekatan-pendekatan kualitatif maupun kuantitatif. Kata-kata kualitatif maupun angka kuantitatif sama-sama mengandung makna yang besar. Aku bisa cukup memahami mengapa ada orang yang pendiriannya begitu kukuh pada objektivitas, empirisme dan positivisme, tetapi ada juga yang begitu kukuh pada fenomenologi dan peran subjektivitas manusia. Sebagian dari mereka ada yang saling bertengkar, tetapi aku ingin menjadi orang yang mampu mengakurkan dan menemukan titik temu bagi keduanya; karena metode yang satu sesungguhnya punya kelebihan yang melengkapi kelemahan metode yang lain. Itulah mengapa, menguasai kedua metode, kuantitatif maupun kualitatif, akan memberikan manfaat yang besar.

***

Terakhir, mungkin ini akan tampak seperti aku sedang membela metode kuatitatif, tetapi sebenarnya aku sedang membela kedua metode agar digunakan secara tepat sesuai peruntukannya. Dahulu ketika masih menjadi mahasiswa S1, selalu saja dikatakan sifat hasil penelitian kuantitatif yang dangkal, minim makna, dan menyederhanakan ilmu tentang manusia. Singkatnya, setelah diketahui ada perbedaan atau ada hubungan, lalu apa? “Lalu apa” itulah yang selalu dimunculkan dan menjustifikasi bahwa penelitian kualitatif lebih baik.

Tapi… memang ia lebih baik jika berkaitan dengan tujuan penemuan makna peristiwa dan fenomena yang setiap orang pasti punya pandangannya masing-masing. Ia lebih mendalam, tetapi… sempit. Kita tidak bisa menggeneralisasi hasil dan kesimpulan kita kepada orang banyak. Inilah tugas penelitian kuantitatif, untuk mengangkat penemuan-penemuan dari penelitian kualitatif ke tingkat yang lebih tinggi, meluaskan penemuan ini ke orang banyak (dengan statistika inferensial yang luar biasa itu). Pertanyaan “lalu apa” pantas muncul (seakan-akan penemuan tersebut miskin makna) karena sebagai ilmuwan kita hanya bergerak di tataran teori bahwa ini ada hubungan dengan ini, dan sebagainya.

Tugas selanjutnya adalah bagaimana mengangkat lagi penemuan teoretis ini ke tempat yang lebih tinggi, yaitu ke ranah terapan. Di sini penelitian tindakan atau eksperimen sangat bermanfaat. Jika ada banyak ilmuwan yang melakukan penelitian dengan topik serupa tetapi dengan subjek, kondisi, atau konteks yang berbeda-beda, akan ada saat di mana penelitian dengan menggunakan metode meta-analisis akan menemukan kegunaannya. Lagi-lagi, ini pekerjaan yang berkaitan dengan angka-angka. Angka memang menyederhanakan sesuatu yang kompleks, bukan? Tapi, nanti akan ada saat di mana inkonsistensi penemuan terjadi, hal-hal yang unik dan tidak bisa dijelaskan dengan teori arus utama bermunculan. Di sini penelitian kualitatif akan bermain lagi, dan siklus pun kembali berputar untuk menemukan kebenaran ilmiah dari suatu perkara.

Aku berkesimpulan, jika aku mengerti kedudukan masing-masing metode dengan baik, maka aku tidak akan lagi menjadi orang yang kepalanya dipenuhi ide-ide yang bertentangan. Semua memang berbeda, tetapi berhubungan erat menyusun rantai keberlangsungan kemajuan ilmu pengetahuan.

PS: kalian tahu, tulisan-tulisan di dalam tag ini bukan tulisan yang ilmiah. Ini semua berisi dokumentasi kehidupan, kemajuan diri, imajinasi-imajinasi, dan mimpi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s