Apa yang Aku Pelajari tentang Islamisasi Psikologi Bag. 1

2013, June 11

Saya tidak menyangka bahwa akhirnya saya sampai pada titik di mana saya dapat mengungkapkan persoalan terbesar saya🙂 Ingat pertanyaan awal saya mengenai psikologi Islami, bagaimana ada bagian dari konseptualisasinya yang saya pertanyakan. Sebenarnya itu hanyalah awal bagi pertanyaan yang lebih besar tentang polarisasi ilmu pengetahuan (Barat dan Islam, ilmu tak Islami dan ilmu Islami) yang mengusik hati saya.

Dulu di kampus saya aktif di kelompok studi yang berfokus pada pengembangan psikologi Islami, sempat menjadi ketuanya. Saya mencermati perkembangan kajian-kajian yang kami adakan dan semua berawal dari adanya misi islamisasi ilmu pengetahuan. Khusus bagi psikologi, maka tujuan adanya psikologi Islami adalah mengislamisasikan psikologi agar pengembangan dan penerapannya sesuai dengan nilai-nilai Islam, tepat bagi masyarakat Islam. Namun demikian, sesungguhnya di belakang itu ada agenda yang lebih besar, yaitu menduniakan psikologi Islami lantaran logika bahwa Islam adalah agama paripurna, maka ilmu-ilmu yang diderivasi darinya juga pasti sempurna bagi semua manusia. Benarkah itu? Ini pertanyaan saya yang belum puas terjawab sampai sekarang.

Tren pengembangan psikologi Islami saat ini (sekarang sudah dibakukan dengan istilah Psikologi Islam oleh beberapa dosen/ilmuwan) adalah menggali aspek psikologi dalam Al Quran dan kembali pada konsep-konsep nafsiologi abad pertengahan yang pernah dikembangkan oleh ilmuwan-ilmuwan muslim di masa lampau. Satu klaim yang kemudian didengung-dengungkan adalah Psikologi Islam telah ada lebih dahulu daripada psikologi Barat/ psikologi modern. Juga muncul justifikasi bahwa Psikologi Islam lebih baik dan benar karena didasarkan pada Al Quran dan hadist, pada penemuan orang-orang Islam. Menggunakan psikologi yang berasal dari Barat adalah menyimpang karena tidak didasarkan pada Al Quran dan hadist karenanya muncul ajakan untuk meninggalkan psikologi Barat dan kembali pada Psikologi Islam. Benarkah ajakan yang seperti ini?

Masalah ini sangat dilematis. Bagi saya sendiri, saya tidak bisa melihat apa yang salah dalam psikologi Barat yang disalahkan para pegiat Psikologi Islam. Memang beberapa teori psikologi tampak ekstrem dan tidak manusiawi, misal dalam teori Freud, tetapi bagi saya itu bukan masalah sepanjang kita bisa menyikapi itu secara proporsional; perbaiki yang salah dan akui, benarkan, dan sempurnakan yang benar. Itu sikap yang fair. Banyak teori psikologi Barat yang masuk akal, sesuai kenyataan, sangat bermanfaat, dan tidak bertentangan dengan agama. Saya tidak bisa mengerti, mengapa Psikologi Islam yang dikonseptualisasikan kini harus menjadi ilmu yang berusaha melepaskan diri dari semua kebaikan itu hanya gara-gara asal ilmu tersebut dari Barat dan dikembangkan oleh orang kafir? Saya selalu berkeyakinan, ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan bukan privilege orang Islam, melainkan orang-orang yang menggunakan akalnya. Siapa yang mengamati, berpikir dan belajar, dia yang dapat. Saya pun akhirnya bertanya, sebenarnya bagaimanakah (ilmu) yang Islami itu? Apakah secara formal harus selalu “berpedoman pada Al Quran dan Hadist”? Ataukah, cukup segala hal yang memuat prinsip dan semangat hidup yang islami, menurut kehendak Tuhan atas manusia?

Saya tidak bisa tenang dengan arogansi (maaf, jika demikian saya merasakannya) orang-orang yang “berpedoman pada Al Quran dan hadist” lalu mendakwakan diri sebagai yang terbaik, terbenar. Saya tidak senang dengan eksklusifitas semacam ini. Rasanya tidak benar, menyalahkan pemikiran orang hanya karena dia bukan muslim. Bagaimana jadinya nanti andai saya mengalami yang serupa; ketika pemikiran saya benar dan nyata bermanfaat, tetapi ditolak atau disalahkan tanpa evaluasi mendalam hanya karena saya orang Islam? Saya membayangkan situasi itu sebagai sangat menyedihkan. Dicampakkan, tertolak hanya karena agama, harokah, atau afiliasi pada kelompok/golongan tertentu; tanpa dilihat, didengarkan, atau dimengerti terlebih dahulu.

Saya ingin menjadi ilmuwan (psikologi) yang lurus. Tolong, bantu saya memahami apakah yang islami itu? Karena bagi saya itulah parameter kebenaran. Bagaimana beriman tanpa mengorbankan ilmu? Bagaimana berilmu tanpa mengorbankan keimanan? Orang-orang mudah berkata Islam adalah agama yang menyinergikan iman dan ilmu, tetapi bagi saya, dinamika dan konsekuensinya bagi diri tidak sesederhana yang dikatakan. Apakah itu islami, jika kita mencari kebenaran tetapi tidak bersikap adil pada orang lain yang juga mencari kebenaran? Apakah itu islami, jika ambisi memenangkan ilmu-ilmu islami justru menciptakan kebencian?

Bagaimana menjawabnya? -_-

Orang pertama yang aku berikan pertanyaan itu tidak menjawabnya. Aku rasa, selamanya ia tidak akan menjawabnya. Memasuki kampus yang baru, aku sangat bersyukur dengan mata kuliah filsafat ilmu. Aku kehilangan orang pertama. Aku mendapatkan orang kedua. Dosenku. Aku akan belajar dari beliau.

***

Aku: Pak, saya ingin tahu pendapat bapak tentang islamisasi psikologi…

Beliau: Tentang islamisasi psikologi, kita perlu tahu tiga hal, yaitu Islam, epistemologi, dan psikologi itu sendiri.

Mendengarkan jawaban itu, aku jadi menyadari sesuatu, yaitu tentang keterbatasanku, kebodohanku.  Secara literal aku mengerti maksud perkataan beliau bahwa memang aku perlu belajar dulu untuk mampu melakukan itu. Tapi, aku tidak berhasil menemukan penjelasan, apa hubungan epistemologi dengan semua ini. Epistemologi itu tentang bagaimana cara suatu pengetahuan atau ilmu itu didapatkan, bukan? Tetapi, mengapa epistemologi ini menjadi persoalan? Hari itu aku mencegah diriku sendiri dari bertanya lebih lanjut. Karena aku tahu, aku belum benar-benar mempelajari apa itu epistemologi. Sampai hari ini, materi perkuliahan baru sampai pada ontologi. Aku merasa senang, sedikit demi sedikit sesuatu menerangi isi kepalaku.

Hari itu, beliau menjelaskan tentang ontologi, ilmu tentang “ada”. Jadi kesimpulanku, ontologi ilmu dalam perkuliahan filsafat ilmu itu tentu tentang ilmu sebagai sesuatu yang ada. Yang paling menarik adalah ketika beliau menjelaskan tentang yang ada dari segi jumlah: monisme, dualisme, pluralisme, dan monopluralisme. Beliau mencontohkan dan menyayangkan kecenderungan psikologi Islami pada aliran monisme, bahwa hakikat manusia itu hanya satu, yaitu yang ruh saja, sementara aspek lainnya berada di bawah itu.

Selama ini aku meyakini benar saja bahwa yang hakikat pada manusia adalah ruhnya, tetapi aku tidak tahu bahwa sesungguhnya keyakinan tersebut adalah sesuatu yang disayangkan karena itu berarti mereduksi apakah manusia itu. Psikologi Islami, dalam perkembangannya, menjadi psikologi ruhani, dengan tesis bahwa sisi ruhani manusia, terutama kalbu atau hatinya, adalah penentu utama diri, perilaku, kehidupannya. Jika ada yang mengatakan, “Bukan begitu. Psikologi Islami mengakui aspek-aspek manusia yang lain,” mereka tidak memandang aspek-aspek yang lain itu sebagai sesuatu yang setara dengan yang ruh. Itulah mungkin mengapa psikologi Islami banyak membahas soal hati manusia, karena hati adalah yang utama, yang ruhani adalah yang utama. Begitulah psikologi Islami yang monistik.

Persoalan ketidakberimbangan ini sesungguhnya sudah lama menggangguku karena itulah yang membuat pegiat psikologi Islami yang ekstrem menolak aliran-aliran psikologi sebelumnya, terutama psikoanalisis dan behaviorisme. Mereka yang memandang manusia itu suci dan pada hakikatnya baik seperti tutup mata bahwa ada manusia yang hidup lebih rendah dari hewan. Apakah manusia semata-mata dipengaruhi oleh motif-motif spiritual-religiusnya? Tidak. Ada manusia yang hidup mekanistis, dibawa ke sana ke mari oleh lingkungan dan situasi yang sedang dihadapinya. Apakah agama selalu dapat menjadi obat? Tidak, bukan? Anak yang menangis sering hanya perlu dipeluk, tidak ada unsur agamanya di situ. Kalau begitu, bagaimana bisa mereka yang dalam pandangannya tentang manusia justru mereduksi keutuhan manusia, bermimpi psikologi Islam menjadi mazhab psikologi yang melampaui mazhab-mazhab sebelumnya? Psikologi Islam yang seperti ini, bagiku, justru menjadi kurang berguna dibandingkan psikologi secara umum.

Aku tahu, aku boleh bermimpi, tentang psikologi Islami yang sebaiknya. Aku ingin ia menjadi psikologi yang memandang manusia secara sempurna, karena itu ia menjadi psikologi yang menyempurnakan, mengisi kekurangan dari aliran-aliran psikologi yang sudah ada. Kekurangan psikologi saat ini hanya satu, yaitu kecenderungan sebagian ilmuwannya yang mengalienasi peran Tuhan dalam kehidupan manusia. Aku bertanya, mengapa jalan mengembalikan peran Tuhan itu tidak dibuka saja lewat penelitian-penelitian ke arah sana? Inilah sepotong puzzle yang hilang itu, yang sekarang pelan-pelan sudah mulai tampak bentuknya lewat penelitian-penelitian psikologi agama. Ironi mendukung buta psikologi Islam adalah kita hanya akan berkutat pada satu potong puzzle itu, dan itu pun hanya pada sebagian bagiannya yang bernama “Islam”.

Kupikir, jika kita hendak membangun ilmu yang bermanfaat bagi umat manusia, kita harus membangun ilmu yang adil dalam memandang manusia. Mungkin jalan yang kita pilih hanya satu, yaitu psikologi yang bernapaskan Islam, tetapi wawasan kita harus terbuka bahwa ada banyak jalan menuju ilmu yang bermanfaat. Kita tidak dapat bersikap eksklusif. Memang dimulut kita berkata bahwa psikologi Islam ini adalah ilmu yang universal, tetapi sebenarnya pada dasarnya, psikologi ini hanya untuk orang Islam saja. Itu tidak fair.

***

Aku: Apa peran agama bagi ilmu pengetahuan saat ini?

Beliau: (Intinya), sangat disayangkan bahwa agama saat ini seperti sedang diparkir saja. Isi kitab suci hanya dijadikan alat justifikasi, bukannya alat sumber inspirasi bagi penemuan pengetahuan-pengetahuan baru.

Banyak orang yang sudah cukup dan merasa puas bahwa penemuan-penemuan ilmu pengetahuan saat ini terbukti telah ada dalam kitab suci agama kita. Seperti itulah bentuk orang yang menjadikan agama sebagai alat justifikasi. Orang yang demikian seperti orang yang bekerjanya hanya menunggu di tepi jalan, lalu ada bus lewat dan dia berkata, “Nah, itu kan, benar! Bus yang datang itu sudah disampaikan dalam kitab suciku. Ini membuktikan agamaku benar.” Mereka, orang-orang yang butuh bukti untuk meneguhkan diri mereka di bumi, butuh bantuan agar tetap dapat berdiri tegak, sementara itu mereka tidak berdaya untuk berdiri sendiri dan tergantung pada kontribusi orang lain. Jika aku boleh mengatakan ini, sesungguhnya mereka orang-orang dalam krisis.

Aku pribadi, malu jika diriku seperti itu, hanya menjadi orang yang duduk di pinggir jalan dan menunggu apa yang akan lewat dibawa oleh orang lain, lalu mengklaim apa yang lewat itu sebagai propertinya. Aku ingin menjadi orang-orang yang melintasi jalan kehidupan dan membawa apa yang berhasil aku temukan lewat usahaku sendiri. Aku ingin ikut dalam arus orang-orang yang bergerak. Dan aku merasa apa yang diajarkan oleh Al Qur’an melampaui apa yang disampaikannya secara literal dalam setiap kalimat-kalimatnya. Ajaran Al Qur’an yang terbesar adalah moral yang tertanam di dalam hati ini, bahwa manusia harus mengubah keadaan dirinya kalau ia ingin maju, manusia harus belajar dan banyak membaca kehidupan, manusia harus mencari ilmu pengetahuan, ilmu yang hakiki, yang mendekatkan dia pada Tuhan, bukan ilmu justru menjadi sebab perselisihan dan permusuhan antargolongan manusia.

***

PS:

Aku menunggu-nunggu kajian psikologi Islami akan diadakan di kampus. Aku pasti datang, insya Allah.

11 thoughts on “Apa yang Aku Pelajari tentang Islamisasi Psikologi Bag. 1

  1. Tulisan yang bagus dan sangat jujur, mengalir apa adanya dengan analisis-kritis yang baik.

    Jika boleh memberi saran, saya menyarankan untuk mendalami Filsafat Logika, Filsafat Ilmu (terutama Epistemologi), Islam (Tauhid, Fiqih, Pemikiran Islam), dan Psikologi tentunya. Akan sangat membantu dalam memahami psikologi dan Islam.

    Saya sendiri lebih suka menyebutkan atau menuliskan psikologi dan Islam daripada psikologi Islami. Tidak bermaksud mendikotomikan kedua bidang ilmu ini yang sebenarnya terintegral. Namun, bagi saya ini lebih fair. Kalo mengklaim psikologi Islam lah yang lebih benar dan lebih dulu ada dari psikologi Barat, maka sebaiknya tidak menggunakan psikologi Islam, tapi ‘ilmu an-nafs, bukan juga Nafsiologi.

    Saya pun sejak awal mengenal psikologi dan Islam, kurang sepakat dengan klaim-klaim dan justifikasi termasuk penamaan psikologi Islam oleh para penggiat psikologi Islam. Sebab, bagi saya, ada kriteria dan syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu oleh ilmuan yang akan memformulasikan dan mengkonstruksi sebuah ilmu, misalnya psikologi Islam. Diantara syaratnya adalah pertama, harus bisa berbahasa Arab. Sebab, memahami Islam secara sempurna, tentu dengan bahasa Arab. Kedua, sebagai muslim, tentu harus bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Ketiga, harus memiliki wawasan ke-Islam-an. Ini tidak bisa tidak sebab ini adalah tradisi keilmuan dalam Islam. Ini diantara syarat dan kriterianya. Selain itu, tentu mendalami psikologi Barat.

    Hari ini, jika para penggiat “psikologi Islam” tidak memenuhi syarat dan kriteria dimaksud, maka tidak perlu buru-buru untuk mempercayainya. Seorang ilmuan dalam hal ini psikologi dan Islam, jika ingin menjadi ilmuan atau ‘ulama (dalam term Islam), harus memenuhi syarat dan kriteria dari Barat dan Islam.

    Sementara, itu saja dulu yang bisa saya respon dari tulisan anda. Semoga bisa saling belajar untuk mendapatkan kebenaran.

  2. assalamu’alaykum ..
    saya telah membaca apa yang anda tulis .. semoga rahmat dan hidayahNya tetap tercurahkan terhadap kita semua ..
    saya beri komentar dan saya harap ada feedback dari setiap point yang saya komen
    1. hal ini berkait dengan islamisasi sains. sebenarnya yang dikatakan islamisasi sains bukan klaim mengklaim seperti yang anda katakan (tunggu menunggu bis).. dalam dunia islamisasi ilmu, sebenarnya adalah islamisasi epistemologi ilmu itu sendiri atau bagaimana ilmu tersebut lahir .. ilmu Islam lahir dari kesadaran thelogis, artinya epistemologi ilmu harus berasaskan theologis..nah, ketika adanya integrasi antara ilmu dan dan iman, maka ketika lahir sebuah ilmu dan berkembang dsana tidak terjadi pemisahan antara keduanya .. dengan kata lain dalam perkembangan psikologi selalu ada kesinambungan antara keduanya ..
    2. sebagai contoh dalam memandang kebahagiaan.
    silahkan anda mencari definisi kebahagian perspektif psikologi yang anda pelajari (tentunya psikologi barat), maka anda akan menemukan kebahagian yang sifatnya materialistis. mulai dari kebahagiaan kekayaan, kekuasaan, hubungan seksual dll..
    jika ini diterapkan dalam kehidupan manusia maka mereka akan memandang kebahagiaan adalah kebahagiaan duniawi saja .. lantas apakah orang yang tidak kaya, orang bawahan dalam kekuasaan adalah orang yang tidak bahagia ?? (jika menggunakan perspektif psikologi barat)
    3. akan berbeda jika kita tarik konsep kebahagiaan dalam Al Qur’an yang telah lahir jauh lebih dulu.. dalam Al Qur’an selalu disebutkan sa’adah .. kebahagiaan dalam Islam adalah kebahagiaan yang tidak hanya duniawi saja, melainkan bahagiaa dunia dan akhirat .. tidak hanya kebahagian materalistis saja, tapi bahagia materi dan spiritual .. dan itu tidak boleh terpisahkan.. maka jika kebahaiaan ini diterapkan dalam kehidupan, maka manusia akan mempertimbangkan aspek ketuhanan dalam setiap berbuat .. maka tak heran jika di zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz para amil zakat kesulitan mencari para penerima zakat. padahal harta untuk para mustahiq lumayan besar ketika itu .. karena para penerima zakat sudah bahagia (karena mereka tidak ingin dikatakan mustahiq) dengan apa yang dia miliki, maka mereka tidak ingin menerima apa yang orang lain lebih membutuhkan dari dirinya sendiri .. hal ini menunjukkan bahwa orang tersebut tidak memandang kebahagiaan yang materialistis saja ..
    4.jangan terburu-buru untuk menjustifikasi bahwa semua ilmu itu netral .. berikut dahulu dan saya harap feedbacknya ..

    • Terima kasih atas komentarmu atas tulisan saya. Terima kasih banyak. Sebetulnya, akan sangat bermanfaat bagi saya jika pertama kali bisa kenal Mas Farid, terutama bidang ilmu yang Mas Farid geluti. Jika Mas Farid ternyata juga mahasiswa psikologi, insya Allah kita punya pengetahuan pendahuluan yang sama. Jika tidak, saya rasanya perlu berusaha lebih untuk menyetarakan diri dengan Mas Farid.

    • Untuk persoalan pertama, “menunggu bus” itu mengacu pada pengamatan saya terhadap dinamika yang terjadi di tataran masyarakat umum, bukan masyarakat keilmuwan. Mereka adalah “konsumen” ilmu pengetahuan yang sangat bersemangat, dan yang namanya konsumen, terkadang mereka tidak mengerti betul duduk perkara ilmu yang sesungguhnya, betapa “produksi”-nya tidak mudah dan tidak sesederhana “Wah, semua itu sudah ada dalam Al Quran”. Kebermanfaatan pengetahuan bagi mereka terbatas pada kemampuan mereka untuk mengunyah fakta dan kesimpulan ilmiah, dan terkadang tidak tertutup kemungkinan mereka memanfaatkan pengetahuan tersebut secara semena-mena, misal untuk alat justifikasi kebenaran ideologi atau kepentingan kelompok mereka.

      Seperti inilah perbedaan makna ilmu pengetahuan bagi orang biasa dan ilmuwan. Menuliskan yang di atas itu, saya bukan hendak menggugat Islamisasi ilmu atau apa, tetap menarik garis yang jelas, seperti apa yang seharusnya saya lakukan jika saya ingin menjadi ilmuwan. Saya tidak bisa memelihara sikap orang awam dalam diri saya, jika saya ingin ikut mengembangkan ilmu. Itulah maksud saya.

      *Oya, boleh saya sampaikan bahwa blog ini adalah blog pribadi saya, ya. Kebanyakan isinya bukan pemikiran yang mengacu pada pengetahuan baku atau pendapat ilmuwan tertentu, melainkan diskusi-diskusi dengan diri sendiri. Jadi, apapun yang saya tuliskan, tolong jangan terlalu “diseriusi” ya, karena ini mencerminkan pendapat pribadi dan saya tidak pernah merasa bersalah atas setiap pemikiran pribadi saya yang saya tahu senantiasa berkembang.🙂

    • Kedua, terkait kebahagiaan… Saya merasa pengetahuan Mas Farid tidak terlalu lengkap akan hal ini. Perkembangan psikologi saat ini sebenarnya tidak bisa dikatakan mengecewakan karena ia pada kenyataannya mengakomodasi pula pemikiran-pemikiran yang, biasa menurut pemikiran pendek sebagian orang Islam, tidak mungkin ada di Barat. Selama ini, kita sering terjebak dalam dikotomi bahwa Barat itu selalu materialistis dan Timur itu spiritualistis. Dalam kehidupan, yang terjadi tidak seperti itu. Materialisme dan spiritualisme; kesenangan hedonistis maupun kebahagiaan yang eudaimonis terjadi di mana-mana, di seluruh dunia, dalam diri semua manusia. *Oya, kalau boleh saya mengatakan, tesis saya akan tentang materialisme-antimaterialisme. Jadi, saya cukup tahu persoalan kesenangan dan kebahagiaan hidup ini.

      Dalam psikologi, jenis kebahagiaan yang Mas Farid contohkan, masuk dalam konsep subjective well-being (SWB; Diener). Memang akarnya adalah filsafat hedonisme-Epicurean, dan materialisme termasuk di dalamnya. Menurut konsep tersebut, seseorang dikatakan sejahtera jika ia merasa (secara subjektif) hidupnya memuaskan, dalam arti kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi, ia merasakan perasaan/ afek yang positif, seperti senang, gembira, tenang, nyaman, aman, dll; tidak merasakan perasaan/ afek yang negatif, seperti sedih, takut, khawatir, cemas, dll.

      Jenis kebahagiaan yang Mas Farid harapkan lebih spiritual, tidak hanya duniawi, masuk dalam konsep psychological well-being (PWB; Ryff). Konseptualisasinya berbeda dengan SWB. Menurut teori yang ini, orang bahagia itu jika ia mampu menerima dirinya sendiri, menumbuhkan diri, memiliki tujuan hidup yang bermakna, hidup otonom (tak tergantung pada orang lain), dan memiliki hubungan yang positif dengan orang lain. Konsep ini berakar pada filsafat eudaimonia-Aristoteles. Kalau Mas Farid tahu bahwa pemikiran Aristoteles juga banyak dijadikan rujukan oleh para ilmuwan muslim di masa lalu, jadi pada dasarnya, tidak ada masalah dengan konsep Barat ini, bukan?

      Semacam itulah perspektif Barat. Barat itu tidak melulu berisi hal-hal yang tidak kita suka. Mengatakan bahwa yang buruk-buruk itu semua adalah Barat dan yang baik-baik adalah Islam, itu tidak benar. Yang baik dan benar menurut saya datang dari mana saja. Kecenderungan saat ini justru lebih menggembirakan ketika ada dialog antara Barat dan Timur. Timur belajar dari Barat dan Barat belajar dari Timur. Memang agar memprihatinkan, jika saat ini yang dianggap Timur adalah Asia Timur dan India, yang Buddha dan Hindu. Kenapa tidak Islam, ya? Saya kira, bisa jadi ini akibat stigma yang berkembang sepanjang zaman antara Barat-Kristen dan Timur-Islam. Dampaknya sekarang, psikologi yang Islami tidak banyak dilirik, yang karenanya tidak banyak ada kerja sama dalam mengembangkan ilmu. Tapi, semoga ini hanya masalah waktu saja, di mana kita harus menunggu dan berusaha agak lebih keras agar bisa terjalin pertemanan keilmuan.

    • Ketiga, memang sudah diakui luas bahwa kebahagiaan itu bukan hanya kebahagiaan material, tetapi juga kebahagiaan spiritual. Dalam agama (Islam) dan psikologi sama-sama mengatakan itu. Islam sudah benar memberikan tuntunan sejak awal dan psikologi mendukung itu dengan membantu memberikan penjelasan rasional ilmiahnya. Persoalannya yang paling penting itu bukan di ranah teoretis lagi, melainkan praktis. Kalau kita sudah tahu yang sebaiknya bagaimana, bersediakah kita hidup berdasarkan itu? Persoalan selanjutnya, ini bukan sekadar masalah mau atau tidak mau. Ini sangat dalam, jauh menghujam ke dalam jiwa kita.

      Studi psikologi tentang mengapa orang hidup dengan nilai materialistis menunjukkan bahwa akarnya sesungguhnya ada pada “kesempurnaan penciptaan manusia yang diilhamkan ketakwaan dan kefasikan”, dalam bahasa saya yang juga mempelajari Islam. Setidaknya ada tiga sebab dan akibat (membentuk lingkaran setan), yaitu:

      1) Rasa tidak aman -> rasa takut mati, takut sakit, takut miskin, takut tidak bisa hidup, takut akan masa depan, takut tantangan dan ancaman kehidupan, dll. Manusia adalah makhluk yang menghendaki keberlangsungan hidup, keamanan dan kestabilan dalam hidupnya, makanya ia membangun rumah, memakai pakaian, bekerja mencari uang, dan sebagainya. Materi itu untuk membangun “benteng” baik secara fisik juga psikis. Ada banyak sekali hal yang manusia takutkan, makanya Allah bilang, “Takutlah pada Aku saja.”

      2) Diri yang rapuh, lemah -> merasa rendah diri, inferior, merasa tidak berharga, merasa dilecehkan, mengevaluasi diri secara negatif, selalu merasa kurang, selalu merasa ada kesenjangan, tidak merasa cukup. Karena itu, muncul keinginan mencapai kesempurnaan, kebahagiaan yang sempurna, kepuasan hidup yang sempurna, diri yang sempurna dalam arti apa saja. Pada sebagian orang, yang muncul bisa obsesi pada agama/ spiritualisme -> beribadah terus-menerus, hidup asketis, ingin jadi pertapa/ rahib/ orang suci. Pada sebagian orang yang lain, obsesinya pada materi. Apakah dua-duanya baik? Tidak. Makanya Allah bilang, “Kejar duniamu, tapi jangan lupakan akhirat; berorientasilah pada akhirat, tapi jangan abaikan dunia.”

      3) Relasi sosial yang buruk -> tidak punya hubungan yang bermakna/ berharga dengan orang lain atau keluarga, tidak menghargai manusia, memandang manusia hanya objek, memperlakukan manusia seperti memperlakukan objek yang bisa dimanipulasi. Demi “dilihat” orang lain, seseorang berinvestasi dengan materialisme, tetapi bersamaan dengan itu, sikap hidup materialistisnya membuat dia tidak dilihat. Itulah orang yang hatinya ada penyakit riya’, ada syirik kecil yang membuat syirik besar -> memuja harta benda.

      Nah, dari contoh itu, bukankah benar ilmu dan iman itu bersahabat baik? Hanya saja, tidak banyak ilmuwan atau agamawan/ ulama muslim yang bisa “melihat” benang merah itu. Banyak orang yang, kalau tidak mengagung-agungkan agama adalah solusi segala macam masalah, mengagung-agungkan ilmu sebagai solusi. Memang agama itu solusi, tetapi bagaimana caranya, kebijaksanaan menerapkannya butuh ilmu?

      Kamu ingin hidup seperti zaman khalifah Umar II? Sadarlah bahwa situasinya kini berbeda. Jika kamu menakar kebahagiaan negara itu dari banyak sedikitnya zakat atau orang-orang yang mau atau tidak mau menerima zakat, hati-hatilah, karena sebenarnya kamu sedang menggunakan takaran material untuk mengukur religiusitas dan spiritualitas. Kamu termasuk orang yang MATERIALISTIS secara tidak sadar. Kita dengan “semena-mena” menafsirkan bahwa itulah masa keemasan, itulah yang ideal, itulah yang harus dijadikan model. Tapi, apakah itulah yang benar? Saya rasa, seorang ilmuwan tidak akan berpikir sependek itu. Jika ia sadar bahwa religiusitas dan spiritualitas itu hanya Allah yang tahu, ia tidak akan terlena pada aspek superfisial atau artifisial dari kehidupan dan fokus pada bagaimana membuat agar ada lebih banyak muslim yang berzakat dan yang menerima zakat, bukannya menciptakan negara yang tak butuh zakat lagi. Allah tidak memerintahkan kita untuk menciptakan surga di bumi, karena memang belum masanya. Dalam pikiranku, tugas manusia adalah bagaimana agar bumi ini tidak menjadi neraka sebelum waktunya. Setiap dari kita bertanggung jawab atas generasi kita, jadi, untuk apa melihat terus ke belakang, pada “zaman keemasan” yang lewat yang tidak menyumbang apapun bagi zaman ini selain romantisisme?

    • Keempat, sebenarnya ini pertanyaan pertama dalam ujian Filsafat Ilmu tahun lalu. “Ilmu itu netral atau tidak netral? Sebagai ilmuwan, kamu berpihak pada yang mana?” Jawaban saya masih saya ingat. Terima kasih, sudah mengangkat topik ini lagi🙂

      Semua ilmu itu berpihak secara absolut pada satu, yaitu Tuhan (Allah), yang merupakan Pemiliknya. Karena ia berpihak pada Tuhan sejak awal, perjalanannya hingga sampai pada manusia yang mencarinya berpihak pada kebenaran dan kebaikan; mengajak manusia untuk berpihak pada Tuhan -> membenarkan Tuhan, mengagumi Tuhan, memuji Tuhan, mengikuti Tuhan, berserah diri pada Tuhan. Berdasarkan pemikiran ini, saya merasa benar berpendapat bahwa orang-orang yang mencela atau merendahkan ilmu yang ditemukan di Barat dan mengagung-agungkan ilmu yang ditemukan di Dunia Islam, mereka sedang tidak “melihat”. Seharusnya ada tanda-tanda Tuhan dalam setiap hal yang ada di langit dan bumi. Jika mereka tidak berhasil melihat bahwa tanda-tanda itu ada, termasuk ada pada ilmu yang ditemukan di Barat, maka mereka tidak benar-benar “melihat”. Ilmu, sekalipun ditemukan di Barat, bukan lalu menjadi ilmu Barat, melainkan tetap ilmu Allah; ditemukan di Dunia Islam, tetap ilmu Allah; ditemukan dalam belantara hutan oleh orang-orang yang tak mengenal peradaban modern, juga ilmu Allah. Dengan membagi ilmu secara rata itulah, Allah memberdayakan manusia, agar manusia hidup dengan baik, punya kekuasaan untuk mengelola dunia. Tidak ada manusia yang berwewenang berkata ilmu Barat buruk dan ilmu Islam baik; ilmu Barat tidak boleh dipelajari, ilmu Islam satu-satunya yang wajib dipahami. Pada tataran ini, karena Tuhan, ilmu berpihak pada seluruh manusia.

      Persoalannya menjadi lain ketika ilmu mulai dalam “penguasaan” manusia. Ternyata kemanfaatan suatu ilmu bergantung pada kondisi. Pada awalnya, ini sekadar, “Kalau hujan, buka payung; kalau tidak, tutup.” Tetapi, kondisi ini berkembang, dari yang sekadar sifatnya kondisi lingkungan fisik, menjadi lingkungan sosial. “Di sana, orang kalau hujan tidak pakai payung, tapi jas hujan. Di sana tidak ada hujan, yang ada salju, payung maupun jas hujan tidak terpakai karena tidak berguna.” Mengapa kemudian ada ilmu Barat yang tidak bisa (bukan tidak boleh) dipakai di Timur, dan sebaliknya, bukan karena ilmu tersebut terlarang, melainkan kebutuhan/ kepentingan kondisionalnya berbeda, meskipun tidak tertutup kemungkinan adanya kesamaan kondisi/ kepentingan.

      Diskusi netral atau tidaknya ilmu, karena itu, sebaiknya tidak terhadap ilmu sendiri, tetapi kebutuhan dan kepentingan yang ada di balik tindakan menggunakan ilmu. Jika ada yang ingin dilarang atau tidak diperbolehkan, itu bukan ilmunya, melainkan niat atau maksud pemanfaatan ilmu. Yang tidak netral itu bukan ilmunya, melainkan niat dan maksud yang mana itu tentu menjadikan ilmu berpihak pada orang yang punya niat dan maksud. Ilmu harus dibuat netral dari keberpihakan pada yang buruk, tetapi harus tidak netral pada yang baik. Jadi netral/ tidak netral itu bukan harga mati, melainkan dinamis dalam pemanfaatan ilmu. Bukan karena kita masyarakat Timur atau masyarakat beragama lantas kita otomatis meyakini bahwa ilmu itu tidak netral, ilmu itu tidak bebas nilai; atau bukan karena kita tinggal di Barat lantas kita otomatis meyakini ilmu itu netral, bebas nilai. Ada alasan di balik mengapa ilmu itu harus diikat atau dibebaskan dari nilai-nilai tertentu (bukan semua nilai) dan alasan itulah yang harus lebih dipahami sebelum masuk pada diskusi-diskusi lainnya yang memperuncing perdebatan dan perbedaan ilmu Barat-Timur, bahwa Barat itu kurang bermoral, Timur itu lebih bermoral, dan sebagainya.

      Ilmu itu tidak berwarna sampai manusia memberinya warna; dan sebelum manusia memberinya warna, warna yang ada pada dirinya adalah warna Ilahiah. Mas Farid mungkin, dari membaca tulisan saya, berpendapat bahwa saya cenderung orang yang bebas dan menerima begitu saja ilmu Barat (psikologi), sehingga mewanti-wanti agar sebaiknya saya tidak buru-buru menjustifikasi bahwa semua ilmu itu netral. Dalam tulisan saya, tidak ada justifikasi bahwa semua ilmu netral, dan jika pun ada kesan itu, sebenarnya itu bukan justifikasi kenetralan, melainkan rasa percaya bahwa ilmu-ilmu (yang dikehendaki Allah ditemukan/dikonstruksi di) Barat itu pada dasarnya sama baiknya dengan ilmu-ilmu Islami. Ia ada bukan untuk mencelakakan saya, mencelakakan masyarakat atau agama saya, maka saya membuka diri terhadapnya dengan harapan semoga Allah memberikan apa yang dijanjikan-Nya, yaitu hikmah dari ilmu pengetahuan. Ia ada untuk bermanfaat bagi saya; kalaupun ia datang kepada saya dalam kondisi terburuknya (dalam celaan muslim yang tidak “melihat”, misalnya), saya akan membersihkannya agar orang-orang bisa ikut melihat ada Tuhan di dalamnya.

      Kalaupun ada yang harus netral, maka itu adalah diri saya. Saya yang harus berusaha menjadikan diri saya netral, tidak berpihak pada kelompok manusia/ ilmuwan mana pun. Saya ingatkan pada diri saya nasihat Rasul, “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi) Saya orang beriman, dan saya tidak akan menolak apa yang ditetapkan berhak saya miliki, di mana saja saya menemukannya, dari mana saja ia berasal. Dengan ini, saya justru ingin mengingatkan orang-orang yang terlampau fanatik pada ide-ide Islamisasi ilmu dan berakhir menyudutkan ilmu-ilmu Barat yang dikatakan materialistis, sekular, anti-Tuhan, dan sebagainya. Mereka itu menghabiskan usia mempropagandakan sentimen anti-Barat dalam bidang ilmu mereka, dan luput pada apa yang lebih penting, yaitu menemukan hikmah. Karena kondisi zamannya, orang Barat yang tidak bisa melihat ada Tuhan dalam ilmu, tetapi saya sebagai muslim, saya diajarkan untuk mampu menemukan yang spiritual dari yang material, kebenaran agama dari yang sekular; menemukan ada Tuhan di “tempat-tempat” yang katanya bebas Tuhan. Bagi saya, inilah Islamisasi ilmu yang sesungguhnya.

  3. Pingback: Apa yang Aku Pelajari tentang Islamisasi Psikologi Bag. 2 | I love life, life loves me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s