Wacana I Tahdzibul Akhlaq Ibn Miskawaih: Kebajikan adalah Titik Tengah

Dalam kajian Psikologi Islam di rumah Pak Bandi minggu lalu, aku bertemu Ibn Miskawaih, seorang filosof besar Islam abad ke-9. Wah, senang sekali. Sejak lama aku tertarik dengan persoalan etika, akhlak, filsafat etika. Dan, di rumah Pak Bandi, aku bertemu dengan pakarnya, lewat bukunya yang terkenal Tahdzibul Akhlaq yang diterjemahkan oleh Helmi Hidayat menjadi berjudul Menuju Kesempurnaan Akhlak (Penerbit MIZAN, tahun 1985). Aku berjanji mengembalikan buku ini Sabtu minggu ini, tetapi apa boleh buat. Aku belum selesai membacanya. Buku ini aku rasakan begitu penting sehingga selain membacanya, aku juga mencatat sejumlah poin penting.

Persoalan akhlak berkaitan dengan pendidikan karakter yang saat ini menjadi isu besar pendidikan nasional Indonesia. Kita semua kebakaran jenggot ketika mendapati generasi muda kita semakin liar perilakunya. Namun, betapa pun pendidikan karakter ini berkaitan erat dengan akhlak, aku merasakan upaya pembangunan karakter tidak dihubungkan dengan upaya pembangunan akhlak. Membangun akhlak memang tak pelak lagi akan membuat kita kembali pada pendidikan agama. Namun persoalannya, pendidikan agama yang macam apa? Apakah pendidikan agama yang hanya terhenti di tataran kognitif berupa pengetahuan-pengetahuan baik dan buruk? Atau pendidikan agama yang menyentuh sanubari orang yang mempelajarinya?

Sekarang, aku mengerti mengapa pembahasan akhlak, oleh Ibn Miskawaih, dimulai dengan pembahasan tentang jiwa manusia. Ia mengingatkan kita akan makna Al Quran, Surat Asy-Syams (91): 7-10, “Demi jiwa serta penyempurnaannya. Telah Allah ilhamkan pada jiwa jalan kefasikan dan ketakwaannya. Dan sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” Ibn Miskawaih berkata, dalam pengantarnya tentang mengapa ia menulis Tahdzibul Akhlak, sebagai berikut:

“Yang menjadikan tujuan kami menulis buku ini adalah menghasilkan moral untuk diri kita yang menjadi sumber perbuatan-perbuatan kita yang seluruhnya adalah indah, seraya dengan itu ia mudah kita lakukan, tidak kita buat-buat dan tidak pula sulit. Semua itu bisa kita capai melalui suatu perekayasaan dan pendidikan yang sistematis. Untuk itu, pertama-tama kita harus mengetahui jiwa kita: apa jiwa itu, dari mana datangnya, dan untuk tujuan apa ia ada pada diri kita. Tegasnya kita harus mengetahui kesempurnaan dan tujuannya, kemampuan dan daya inteligensinya, sehingga bila saja telah kita pergunakan menurut ketentuan yang paling layaknya, akan sampailah kita pada derajat yang tertinggi dan mulia. Selain itu, mesti pula kita ketahui, apa saja yang menjadi kendala bagi kita untuk mengetahui serta mendalami jiwa kita ini? Lantas apa pula yang dapat mengotorinya hingga Anda sengsara?” (h. 33)

Pemikiran Ibn Miskawaih dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Aristoteles. Aku tidak begitu mengerti persoalan pengaruh ini, tetapi satu istilah penting yang aku dapat dalam buku ini adalah Etika Nicomachean. Kebajikan adalah Titik Tengah. Aku pribadi sangat tertarik pada topik ini karena aku sendiri punya prinsip bahwa yang pertengahan adalah yang terbaik, seperti yang disampaikan dalam Al Quran bahwa Islam adalah agama pertengahan (QS Al Baqarah 2: 143). Terkait dengan cara pandang hidup, aku akhirnya memahami cara hidup pertengahan lebih dari sekadar cara hidup yang moderat. Berada di tengah sesungguhnya tidak begitu tepat jika dimaknai sebagai berada di posisi moderat, yang rata-rata saja, atau tidak ekstrem, sehingga memunculkan orang yang menamai diri mereka Muslim Moderat.

Menurut prinsip yang diyakini Ibn Miskawaih ini, “kebajikan merupakan titik tengah antara dua ujung, dan dalam hal ini ujung-ujung itu merupakan keburukan-keburukan. … kebajikan adalah titik tengah di antara dua kehinaan dan pada posisi yang paling jauh dari kedua kehinaan itu.”  Ibn Miskawaih menjelaskan bahwa kebajikan itu layaknya titik poros sebuah lingkaran. Titik tengah atau poros lingkaran terletak pada posisi yang paling jauh dari tepi lingkaran yang mengelilinginya. Bayangkan, seperti itulah kebajikan itu. “Karena itu, jika kebajikan bergeser sedikit saja dari posisinya, lalu ke posisi yang lebih rendah, maka kebajikan itu mendekati salah satu kehinaan, dan menjadi berkurang nilainya menurut dekatnya ia dari kehinaan yang dicenderunginya.”

Karena itu, sulit sekali mencapai titik tengah ini, dan mempertahankannya bila telah dicapai adalah lebih sulit lagi. Sebab-sebab kejelekan lebih banyak daripada sebab-sebab kebaikan. Bagiku, seperti inilah perjuangan beragama secara lurus dan adil, berada di pertengahan yang jauh dari kehinaan dan keburukan. Tidak ada kebanggaan mendaulat diri sebagai umat pertengahan, umat yang adil, dan umat pilihan, jika akhlak yang mencerminkan kebajikan di titik tengah itu tidak ada dalam diri kita.

***

1#

Kearifan (al-hikmah) adalah titik tengah yang letaknya ada di antara bodoh (al-safh) dan dungu (al-balh). Kebodohan adalah menggunakan fakultas berpikir pada sesuatu yang tidak baik. Manusia macam ini disebut terkutuk. Dungu adalah sengaja menyingkirkan fakultas berpikir, bukan karena cacat alami.

2#

Pandai adalah titik tengah yang terletak pada posisi antara kebusukan mental (al-khabatsu) dan ketololan (al-baladah). Salah satu ujung yang mengapit titik tengah keutamaan di atas merupakan kondisi mental yang sifatnya berlebihan, sedang satunya lagi bersifat kekurangan. Kerap kali kita lihat kelicikan, tipu muslihat, dan tindak manipulasi, yang kesemuanya berada pada posisi yang melebihi titik tengah yang merupakan kepandaian.

3#

Ingat merupakan titik tengah yang berada pada posisi dua lupa. Lupa yang pertama berupa melalaikan apa yang harus diingat, sedang lupa kedua berupa memperhatikan sesuatu yang tidak boleh diingat.

4#

Kemampuan berpikir merupakan kemampuan mengkonsepsi secara benar. Ini merupakan titik tengah yang berada pada posisi antara terlalu memikirkan sesuatu sampai melampaui yang seharusnya, dan tidak memikirkan sesuatu sebagaimana mestinya.

5#

Cepat memahami adalah titik tengah antara cepat menangkap sesuatu tanpa memahaminya secara penuh, dan lamban menangkap realitasnya.

6#

Kejernihan pikiran adalah titik tengah antara gelapnya jiwa yang menyebabkan lamban menyimpulkan apa yang diperlukan, dan berkorban jiwa sehingga mencegahnya dari menyimpulkan apa yang diperlukan.

7#

Kecemerlangan dan kekuatan jiwa merupakan titik tengah antara terlalu memikirkan sesuatu sedemikian rupa sehingga memikirkan sesuatu yang tidak semestinya dipikirkan.

8#

Kemampuan belajar adalah titik tengah antara terlalu mudahnya memahami sesuatu sampai-sampai tak melekat kokoh dalam benak, dan merasa sulit atau tak mungkin memahami sesuatu.

9#

Sederhana adalah titik tengah antara dua kehinaan: jangak (memperturutkan hawa nafsu), dan mengabaikan hawa nafsu. Jangak adalah menenggelamkan diri dalam kenikmatan jasadi; sedang mengabaikan hawa nafsu (frigid) adalah tidak mencari kenikmatan absah yang memang dibutuhkan oleh tubuh agar tubuh berfungsi normal dan yang diperbolehkan syariat dan akal.

10#

Keutamaan yang menjadi salah satu bagian dari sikap sederhana adalah rendah hati. Rendah hati merupakan titik tengah antara dua kehinaan: tak tahu malu dan terlalu malu.

11#

Berani merupakan titik tengah antara dua kehinaan: pengecut dan sembrono. Pengecut adalah takut terhadap apa yang semestinya tidak ditakuti, sedang sembrono adalah berani dalam hal yang tidak semestinya dia berani.

12#

Dermawan adalah titik tengah antara dua kehinaan: boros atau royal, dan kikir. Boros adalah memberikan apa yang tidak boleh diberikan kepada orang yang tidak berhak menerimanya. Sedangkan kikir adalah tidak memberikan apa yang harusnya diberikan kepada orang yang berhak menerimanya.

13#

Adil adalah titik tengah antara berbuat lalim dan dilalimi. Orang berbuat lalim bila dia memperoleh banyak harta dari sumber salah dan dengan cara yang salah. Orang dilalimi kalau dia tunduk dan memberikan respon pada orang yang salah serta dengan cara yang salah. Oleh sebab itu, orang lalim hartanya banyak, sebab dia mendapatkan hartanya dengan cara yang salah, dan cara yang salah itu banyak. Sedangkan orang yang dilalimi hartanya sedikit sekali, karena dia menahan diri dari mendapatkannya dengan cara yang benar. Orang yang adil berdiri pada posisi tengah, karena dia memberi hartanya melalui cara yang benar, serta ditinggalkannya cara-cara yang salah.

Adil merupakan satu kebajikan yang menyebabkan seseorang adil terhadap dirinya sendiri dan orang lain, dengan tidak memberikan lebih banyak sesuatu yang bermanfaat kepada dirinya sendiri, sedang kepada orang lain lebih sedikit. Namun, mengenai sesuatu yang tidak bermanfaat, kejadiannya terbalik. Barang yang tidak bermanfaat tidak akan dia berikan kepada dirinya sendiri lebih sedikit, sedang kepada orang lain lebih banyak. Ia menerapkan sistem keseimbangan, yang merupakan hubungan yang proporsional di antara segala sesuatu. Sebaliknya, orang lalim mengupayakan bagi dirinya hal-hal yang menjanjikan manfaat lebih banyak, sedang buat orang lain lebih sedikit. Kalau hal-hal yang tidak menjanjikan manfaat, cuma sedikit yang dia upayakan bagi dirinya sendiri, dan untuk orang lain lebih banyak.

***

Demikian isi Wacana Pertama dalam buku Tahdzibul Akhlaq. Aku akan lanjut pada wacana selanjutnya minggu depan! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s