Wacana II Tahdzibul Akhlaq Ibn Miskawaih: Memberikan Tujuan bagi Pendidikan Karakter

Beliau, yang memiliki buku Tahdzibul Akhlak ini, kemarin bertanya, “Buku itu berisi apa?” Dan aku jawab, “Buku ini sebenarnya tentang pendidikan karakter.” Lalu, aku melanjutkan penjelasanku kurang lebih adalah seperti ini: “Tetapi, pendidikan karakter yang dibahas dalam buku ini berbeda dari apa yang terjadi dalam dunia pendidikan saat ini. Pendidikan karakter Ibn Miskawaih memiliki landasan yang jelas dan kuat, dikembalikan kepada jiwa manusia dan hakikat penciptaannya. Pendidikan karakter sesungguhnya memiliki tujuan yang hakiki dan mulia, yaitu menyempurnakan manusia agar ia hidup sesuai dengan tujuan mengapa ia diciptakan.”

Fundamen semacam itulah yang menurutku masih hilang dalam orientasi pendidikan karakter sekarang ini. Di mataku, desain pendidikan karakter cenderung mengacu pada spekulasi apa yang dibutuhkan untuk menjadi bangsa yang besar, kuat dan berpengaruh di dunia. (Mengapa aku menggunakan kata “spekulasi” karena sesungguhnya tidak ada resep pasti untuk mencapai tujuan tersebut.) Ia mengambil saran dari “pengalaman hidup bangsa-bangsa besar”. Ia meninggalkan apa yang sesungguhnya menjadi akarnya, yang dari situ seharusnya pendidikan karakter bermula, terkait mengapa karakter atau akhlak merupakan aspek penting diri manusia.

Persoalan mendasar ini sangat terkait dengan sebuah pertanyaan sangat sederhana yang dapat diutarakan oleh seorang anak, “Mengapa saya harus berakhlak mulia?” Bagaimana kita akan menjawab itu?

Apakah kita akan menjawab karena pemerintah menghendaki itu? Atau, agar Indonesia menjadi bangsa yang maju, kaya, dan tidak kalah dari bangsa-bangsa lain? Agar Indonesia bisa menjadi seperti Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat? Apakah kita akan juga menjawab  karena ayah, ibu, bu guru, dan teman-teman suka dengan anak yang berperilaku baik? Agar kamu disayang? Atau, agar kamu tidak jadi orang jahat dan tidak jadi sampah masyarakat yang memalukan bangsa dan negara? Agar kamu dapat jadi orang sukses, pintar dan kaya di masa depan? Agar nilai akademismu baik? Atau, agar hidupmu sesuai dengan teori yang populer saat ini bahwa orang sukses itu punya karakter begini, begini, dan begini, dengan begitu kamu jadi orang yang normal? Atau, agar kamu masuk surga?

“Mengapa saya harus jujur, bertoleransi, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, punya rasa ingin tahu, punya semangat Kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, beranggung jawab, dan religius? Mengapa saya harus menjadi orang yang seperti itu?”

Karena dunia dengan segala kepentingan sosial, politik, dan ekonominya menghendakimu harus menjadi seperti itu. Itukah jawabannya?

Jika yang seperti itulah jawaban setiap pendidik, maka sekarang aku berpikir akan potensi keberadaan pendidikan karakter yang justru menghancurkan karakter. Itulah mengapa pemikiran Ibn Miskawaih menjadi penting, karena ia menunjukkan arah yang seharusnya dituju setiap pendidik dalam menanamkan akhlak mulia. Andai Ibn Miskawaih, orangtua yang bijak itu, ada di sini, dia akan menjawab, “Semua itu demi kebahagiaanmu sendiri. Maka kemarilah nak, akan aku tunjukkan kamu bagaimana caranya.”

***

1#

Karakter atau akhlak adalah properti jiwa manusia. Karena itu, upaya menanamkan karakter tidak dapat dilakukan tanpa terlebih dahulu memahami hakikat jiwa kita sebagai seorang manusia, makhluk Tuhan yang paling mulia, dan seperti apa sifatnya.

Jiwa adalah sesuatu yang ada dalam diri kita, tetapi ia bukan tubuh, bukan bagian dari tubuh, dan tidak berbentuk sesuatu yang dapat kita lihat. Ia memiliki perbuatannya sendiri yang itu bertentangan dengan perbuatan fisik dan bagian-bagian tubuh. Mau tahu bukti keberadaannya? Renungkan tentang orang yang tersesat di tengah gunung dalam cuaca yang buruk dengan perbekalan yang habis. Ia sudah begitu lelah hingga tak dapat bergerak lagi dan ia ingin berhenti saja. Namun, ada sesuatu yang mencegahnya untuk menyerah. Ada sesuatu dalam dirinya yang mendorongnya untuk tetap melangkah, menyemangatinya untuk terus bertahan hidup. Semacam itulah perbuatan jiwa.

Jiwa berbeda dari tubuh. Tubuh cenderung pada hal-hal yang dapat diindera, tepatnya kenikmatan jasadi, karena memang dari situlah tubuh mendapatkan kekuatannya dan kesempurnaannya. Hal-hal yang jasadi adalah substansi tubuh dan sebab bagi eksistensinya. Karena itu, tubuh senang padanya, juga berhasrat padanya, untuk menyempurnakan eksistensinya, meningkatkan, dan menopangnya.

Namun jiwa, semakin ia jauh dari hal-hal jasadi dan semakin bebas dari indera, maka semakin kuat dan sempurna ia, semakin mampu ia memiliki penilaian yang benar. Ia merupakan substansi yang lebih mulia dan bertabiat lebih tinggi dari tubuh. Jiwa memiliki kecenderungan pada sesuatu yang bukan jasadi, ingin mengetahui realita ketuhanan, dan mendapatkan kenikmatan akal. Jika indera cuma mampu mengetahui objek yang diindera, maka jiwa mampu mengetahui sebab-sebab harmonis dan bertolak belakang dari hal-hal yang dapat diindera tadi. Ini merupakan hal-hal yang dapat dilihat jiwa tanpa bantuan bagian apapun dari tubuh.

Itulah sebabnya ada istilah mata hati; itulah jiwa kita yang mampu melihat. Jiwa rasional kita meralat banyak kesalahan indera. Akal menolak penglihatan yang keliru, mempertanyakan, lalu mencari sebabnya dan membuat penilaian yang benar. Jiwa itu tahu, karena ia memang mengetahuinya dari esensi dan substansinya sendiri, yaitu akal.

2#

Adalah sunatullah, bahwa setiap wujud mempunyai kesempurnaan dan tingkah laku khas yang tidak dimiliki yang lainnya. Tidak mungkin sesuatu yang lain akan lebih cocok dengan tingkah lakunya selain dirinya sendiri. Yang khas bagi manusia adalah perilakunya yang muncul dari fakultas berpikirnya. Maka, setiap orang yang pemikirannya lebih tepat dan benar, serta pilihan-pilihannya lebih baik, adalah yang lebih besar kesempurnaan kemanusiaannya. Manusia yang paling baik adalah manusia yang paling mampu melakukan tindakan yang tepat untuk dirinya. Karena itu, kewajiban manusia sesungguhnya hanya satu: mengupayakan kebaikan yang merupakan kesempurnaan kita, yang karena kebaikan itulah kita, manusia, diciptakan oleh Tuhan, dan berusaha keras untuk mendapatkannya, di samping harus menjauhi keburukan yang menghambat kita mendapatkan kebaikan itu atau mengurangi kebaikan yang kita miliki.

Sekiranya tindakan seseorang kurang daripada tujuan penciptaan dirinya (pemikiran dan perilaku yang keluar dari dirinya belum sempurna), maka derajat kemanusiaannya akan merosot. Ia dapat merosot begitu dalam hingga turun ke derajat binatang. Orang yang turun derajat kemanusiaannya, akan timbul dalam dirinya tingkah laku yang berlawanan dari tujuan penciptaannya. Dia akan melulu melakukan kejelekan-kejelekan akibat pemikirannya yang tidak sempurna dan disalahgunakan akibat pengaruh hawa nafsu. Namun, jika manusia dapat menjaga kesempurnaan perilakunya sesuai dengan kekhasan tujuan penciptaannya, maka ia akan memperoleh kebahagiaan. Kebahagiaan tidak disebabkan melainkan dari dilakukannya tingkah laku yang tepat berdasarkan pemikiran.

Karena kebaikan manusiawi banyak jumlahnya dalam jiwa, dan karena kita tidak akan mampu mencapai semuanya seorang diri, maka kita perlu bergabung dengan sekelompok besar orang untuk mencapainya. Kita dan semua orang dapat bersatu untuk mencapai kebahagiaan-kebahagiaan bersama. Masing-masing dapat kesempurnaannya dengan cara saling tolong-menolong. Kita saling membagikan dan mendapatkan kebaikan lewat bekerja sama. Untuk tujuan itu, manusia harus saling mencintai, karena setiap individu akan mendapati kesempurnaannya adapa pada individu yang lain. Maka setiap orang musti menjadikan dirinya seperti organ dari satu tubuh yang sama.

3#

Jiwa kita memiliki tiga fakultas, yaitu jiwa yang berpikir, melihat, dan mempertimbangkan realitas, jiwa yang terungkap dalam marah, berani, ingin berkuasa, menghargai diri, dan menginginkan kehormatan, dan jiwa yang membuat kita memiliki nafsu dan keinginan pada kenikmatan inderawi.

Kebajikan manusia, akhlak mulia, sesungguhnya sangat sederhana, hanya empat: 1) memiliki kebajikan pengetahuan dan kearifan, 2) memiliki sikap sederhana yang diiringi kedermawanan, 3) memiliki sikap sabar yang diiringi keberanian, dan 4) yang terpenting, memiliki kebajikan sifat adil. Pengetahuan yang arif dicapai ketika jiwa rasional memadai dan tidak keluar dari jalur dirinya, ketika jiwa mencari pengetahuan yang benar, bukan yang diduga sebagai kebodohan tetapi sebenarnya kebodohan. Kesederhanaan dicapai ketika fakultas nafsu syahwiyah memadai, terkendali oleh jiwa berpikir, tidak menentang apa yang diputuskan jiwa berpikir, dan tidak tenggelam dalam memenuhi keinginannya sendiri. Kesabaran dicapai ketika jiwa amarah memadai, mematuhi aturan yang ditetapkan jiwa berpikir, tidak bangkit pada waktu yang tidak tepat atau tidak terlalu bergolak. Keadilan adalah kelengkapan dan kesempurnaan dari kearifan, kesederhanaan, dan kesabaran, jika ketiga fakultas jiwa tersebut serasi dan berhubungan dengan tepat. Buah dari kebaikan-kebaikan ini adalah sikap yang mendorong orang memilih selalu untuk adil pada diri sendiri, dan kemudian adil pada orang lain atau menuntut keadilan dari mereka.

Seseorang tidak akan merasa bangga kecuali pada keutamaan-keutamaan ini dan tidak pula bangga pada leluhurnya kecuali leluhurnya memiliki beberapa atau semua kebajikan ini. Satu atau empat kebajikan ini dikatakan dimiliki oleh seseorang dan ia terpuji karenanya hanya bila itu semua juga dirasakan oleh orang lain. Sementara itu, kebalikan dari empat keutamaan itu juga ada empat, yaitu: kebodohan, kerakusan, kepengecutan, dan kelaliman. Ini merupakan penyakit-penyakit jiwa dan menimbulkan banyak kepedihan.

4#

Karakter atau akhlak merupakan suatu keadaan jiwa. Keadaan ini menyebabkan jiwa bertindak tanpa dipikir atau dipertimbangkan secara mendalam. Keadaan ini ada dua jenis, yaitu: 1) karakter yang alamiah dan 2) karakter yang tercipta melalui kebiasaan dan latihan. Pada mulanya keadaan ini terjadi karena dipertimbangkan dan dipikirkan, namun karena dilatih melalui praktik terus-menerus, ia pun menjadi karakter. Karena dapat dilatihkan, maka karakter yang buruk dapat diubah menjadi baik, karakter yang belum ada dapat dilatihkan sehingga ada. Setiap orang berbeda-beda kemampuannya dalam menerima pendidikan karakter. Ada anak yang mudah dan lunak. Ada yang keras dan sulit. Ada yang pertengahan. Namun prinsipnya, jangan sampai karakter yang buruk dibiarkan dan tidak didisiplinkan dan dikoreksi. Jika dibiarkan, maka anak akan tumbuh dengan karakter itu dan selamanya hidup dengan kondisi itu. Ia akan memuaskan apa yang dianggapnya cocok menurut selera alaminya, apakah itu marah, jahat, tamak, dan sebagainya.

Tujuan pendidikan karakter, sekali lagi, adalah untuk mencetak tingkah laku manusia yang baik, sehingga ia berperilaku terpuji, sempurna sesuai dengan substansinya sebagai manusia, yang bertujuan mengangkatnya dari derajat yang paling tercela. Manusia harus berperilaku selayaknya manusia; itulah kekhasannya. Bila manusia tidak bertindak sesuai kekhasannya menurut substansinya, maka dia menjadi persis seperti kuda yang jika tidak lagi berperilaku kuda, digunakan persis seekor keledai untuk membawa barang. Dan, pedoman terpenting perilaku manusia adalah agama. Maka, syariat agama seharusnya dijadikan pedoman pendidikan karakter, karena agama menunjukkan aktivitas-aktivitas apa saja yang khas sesuai kemanusiaan manusia.

Dengan begini, manusia yang paling mulia adalah manusia yang paling dapat mengejawantahkan aktivitas khasnya itu, juga yang paling bisa mempertahankan aktivitas tersebut selamanya. Inilah manusia (dengan akhlak/ karakter) terbaik. Kesempurnaan dan tujuan hidupnya tidak terletak pada kenikmatan inderawi atau jasadi, melainkan kenikmatan spiritual lewat dilakukannya aktivitas-aktivitas yang khas manusia, seperti mendapatkan ilmu dan beribadah. Kenikmatan inderawi bukanlah kenikmatan yang sesungguhnya, karena itu cuma nama lain dari rasa tenteram dan lega setelah sebelumnya menderita; selesainya seseorang dari derita dan rasa sakit yang sebelumnya dia alami. Orang yang puas mengupayakan kenikmatan tubuh dan menjadikannya sebagai tujuan dan kebahagiaannya, berarti menjadikan dirinya serendah-rendahnya budak pada serendah-rendahnya tuan, karena dia telah menjadikan jiwa mulianya, yang membuatnya sama derajatnya dengan malaikat, serendah binatang yang hidup demi nafsu.

5#

Berdasarkan hal di atas, pendidikan karakter tidak hanya berupaya menjadikan manusia berkarakter, tetapi juga membantunya mengendalikan nafsu. Manusia memang cenderung meladeni tabiat biologisnya, maka wajar jika banyak orang yang mengutamakan kenikmatan inderawi sehingga ia terjebak pada melakukan tindakan-tindakan yang tercela. Berdasarkan itu pula, yang harus dilakukan orang yang berakal adalah mengetahui kekurangan-kekurangan jasmani dan kebutuhan-kebutuhan primernya untuk melenyapkan kekurangan-kekurangan itu serta memperbaikinya. Pendidikan karakter harus dilakukan dari aktivitas yang paling sederhana dan primer:

Dalam soal makan yang penting untuk menjaga keseimbangan tubuh, seseorang harus mengambilnya hanya bila diperlukan untuk menghilangkan ketidaksempurnaannya dan demi kelangsungan hidupnya. Kalaupun sedikit melampaui batas, hendaknya dalam tingkatan yang dapat menjaga kepribadiannya dan menyelamatkannya dari dituduh hina dan serakah, sesuai dengan kondisi dan kedudukannya dalam masyarakat. Dalam soal berpakaian, dia harus berpakaian sekadar bisa melindungi tubuhnya dari sengatan panas dan dingin, dan menutupi auratnya. Kalaupun dia melewati batas itu, itu pun harus tidak membuatnya terhina dan dianggap pelit (atau angkuh) sehingga jatuh derajatnya di mata sesama. Dalam soal bersebadan (ketika anak akhirnya dewasa), itu harus sebatas melahirkan keturunan. Andaipun melebihi batas itu, itu harus tidak mengeluarkan dirinya dari garis-garis sunnah, serta tidak melanggar milik orang lain. Ia memberikan makanan, tidak hanya bagi tubuh, tetapi juga bagi jiwanya. Makanan jiwa berpikir adalah ilmu pengetahuan, mendapatkan objek-objek pikiran, membuktikan kebenaran pendapat, menerima kebenaran bagaimana dan dari siapa pun datangnya, serta menolak kebohongan dan kepalsuan dari mana pun datangnya.

Berdasarkan itu, dalam pendidikan karakter, penting untuk mendidik anak mengikuti syariat agama, untuk mengerjakan syariat-syariat agama, sampai dia terbiasa; mendorong anak untuk membaca buku-buku tentang akhlak, sehingga akhlak dan kualitas terpuji merasuki dirinya melalui dalil-dalil rasional; mengajaknya untuk belajar dan mengasah logika, agar dia terbiasa dengan perkataan yang benar dan argumentasi yang tepat dan terpercaya. Buat ia selalu ingat bahwa tenggelam dalam kenikmatan jasadi berarti melalaikan kebahagiaan sejati yang semestinya dimiliki. Kenikmatan jasadi bukan kebahagiaan, melainkan kesengsaraan, bukan keberuntungan, melainkan kerugian.

6#

Fakultas dalam diri manusia ada banyak jumlahnya dan yang tampak pertama kali terbentuk adalah fakultas yang membawa manusia menyukai makanan, yang menjadikan dia bertahan hidup, seperti pada bayi yang punya naluri untuk menyusu pada ibunya. Bersamaan dengan ini, ia lalu memiliki fakultas untuk meminta dengan suara, yang merupakan sarananya untuk memperlihatkan kesenangan dan kesedihan. Perkembangan fakultas ini menyebabkannya terus menghendaki perkembangan dan menggunakannya untuk mendapatkan berbagai macam kesenangan. Setelah ini, muncul fakultas lain yang digunakannya untuk memuaskan kesenangan itu melalui organ-organ yang terbentuk pada dirinya, dan ini diikuti kecenderungan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang memberinya kesenangan tersebut.

Melalui panca indera, muncul fakultas imajinasi, dan dia mulai menginginkan gambaran-gambaran yang terbentuk dalam imajinasi itu. Kemudian muncul fakultas amarah, yang dengan fakultas ini dia menolak apa-apa yang menyakitkannya dan menyingkirkan apa saja yang dapat menghalanginya dari memperoleh sesuatu yang bermanfaat baginya. Kalau dia sanggup membalas, ia akan segera membalasnya. Kalau tidak, ia akan mencari pertolongan pada orangtuanya dengan cara merengek dan menangis.

Setelah ini, terjadi berangsur-angsur dalam dirinya kecenderungan untuk melihat tingkah laku khas manusia, hingga sampailah dia pada kesempurnaan dalam hal ini. Pada tahap ini ia disebut makhluk berakal. Ciri pertama fakultas yang terjadi pada diri manusia ini adalah perasaan malu, yaitu satu kondisi di mana dia merasa takut kalau-kalau berbuat buruk. Inilah tanda pertama pada anak kecil bahwa ia mempunyai akal pikiran. Rasa malu menunjukkan bahwa dia telah mulai mengetahui apa-apa yang buruk, lalu dia akan berusaha menghindari dan khawatir kalau terperosok dalam keburukan itu.

Karena itu, jika kita melihat anak kecil yang malu-malu, maka itulah bukti pertama bahwa ia telah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Rasa malunya berasal dari pengekangan diri karena khawatir kalau-kalau ada keburukan yang bakal tampak dari dirinya. Jiwa yang seperti ini siap menerima pendidikan, serta tidak boleh diabaikan dan dibiarkan bergaul dengan orang yang berakhlak buruk. Jiwa yang demikian perlu diupayakan mencintai kemuliaan, terutama yang datang dari agama, bukan uang atau barang. Pujilah dia sekiranya tampak perilaku baik, sebaliknya buat dia risih terhadap sesuatu yang tercela. Salahkan jika dia makan, minum, dan berpakaian secara berlebihan, puji ia jika ia menahan diri, dan celalah jika dia rakus pada kenikmatan jasmani pada umumnya. Setelah itu, didik dia agar dapat memperhatikan orang lain dalam hal makanan dan agar ia puas dengan yang wajar dan sederhana. Upayakan agar dia tidak mendengar atau membaca syair-syair cengeng dan murahan, yang cuma melontarkan buaian. Yang demikian itu dapat merusak jiwanya.

Jika anak melakukan perbuatan yang bertolak belakang dari yang seharusnya, pertama adalah jangan cerca dia. Jangan pula berkata terus terang bahwa dia telah melakukan perbuatan buruk. Pura-puralah tak memperhatikannya, seakan-akan ia tak sengaja melakukannya; atau katakan bahwa sebetulnya ia tidak ingin melakukan itu. Ini khususnya diperlukan jika anak menutup-nutupinya, atau bersikeras menyembunyikan apa yang dilakukannya. Jika anak melakukan itu lagi, maka diam-diam cela dia, tunjukan betapa fatal yang dilakukannya, dan ingatkan agar ia tidak melakukannya lagi. Jika kita mencelanya secara terang-terangannya, kita justru akan membawanya pada keburukan. Akibatnya ia tidak mau lagi mengindahkan nasihat.

***

Huff! Benar-benar wacana yang panjang. Setelah ini aku akan masuk ke dalam wacana ketiga, tentang kebaikan dan kebahagiaan, lalu keadilan. Semoga ada waktu untuk membaca! Dua minggu ke depan adalah minggu yang sibuk. Proyek penelitian untuk tugas mata kuliah harus sudah dimulai, di samping saat ini sedang masa ujian. Ya, bersemangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s