Tahdzibul Akhlaq Ibn Miskawaih: Sebuah Ulasan

Tujuan hidup bukanlah untuk memperdebatkan apa itu kebenaran dan apa yang benar itu sendiri. Kita hidup untuk berbuat, tanpa banyak bicara kecuali diperlukan, dan menjadikan kebenaran itu adalah tindak-tanduk kita sendiri. Kita perlu beranjak dari retorika, keluar dari dunia cuma-kata-kata-saja dan teori, menuju kenyataan tempat amal perbuatan memberikan efek. Buktikan kebenaran yang kau yakini dengan tindakanmu dan rasakan sendiri kebenaran itu. Jika kau akhirnya tahu itu bukanlah kebenaran, kau menyimpulkan itu tidak dengan cara yang salah.

Pertemuanku dengan Ibn Miskawaih telah berakhir sejak seminggu yang lalu. Aku telah selesai membaca karyanya ini dan mengembalikannya ke rumah pemiliknya. Aku mencatat banyak sekali hal, yaitu hal-hal yang aku sadar mereka mendapatkan tempat di dalam hatiku yang berkata, “Benar, ini benar seperti ini. Benar, sebaiknya seperti ini.” Mereka membuatku mengangguk-angguk dan menuliskannya baik-baik karena tahu bahwa mereka semua penting. Setiap kalimat, yang tidak semua orang berkesempatan untuk mengetahuinya, bagaikan harta yang berharga. Itulah mengapa kemudian aku memutuskan menuliskannya di sini: hal-hal penting dalam Tahdzibul Akhlaq karya Ibn Miskawaih.

Apa yang aku pandang penting tentu subjektif. Peran yang aku mainkan hanyalah sebagai seorang pembaca yang baik, tanpa ide hendak mengkonfirmasi atau menggugat Tahdzibul Akhlaq, atau mengkritisi dan mengevaluasinya. Aku tak punya kemampuan semacam itu. Menulis tulisan kali ini pun aku tak punya keinginan apa-apa kecuali hendak membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku berhasil belajar sesuatu; bahwa sebagian ruang kosong dalam diriku telah terisi dengan sedikit ilmu. Meski demikian, aku tak bisa berharap semua orang yang membaca ringkasan yang aku buat di tulisan-tulisan sebelumnya akan merasakan apa yang aku rasakan, memikirkan hal yang sama, atau memutuskan yang serupa.

Karena itu, maka gugatlah isi tulisanku ini saja. Kritisi dan evaluasi tulisanku ini saja, jangan Takdzibul Akhlaq, sampai kalian bertemu sendiri dengan Ibn Miskawaih lewat karyanya ini. Aku tidak ingin tulisan-tulisanku terkait Tahdzibul Akhlaq menjadi penyebab bagi sebagian orang menzalimi Ibn Miskawaih. Bagaimana pun kalian melihat dan membacanya, sebaiknya tetap dicamkan dalam benak bahwa beliau adalah tokoh besar dalam dunia Islam. Dan aku termasuk orang yang bersyukur atas keberadaannya.

Tujuan Ibn Miskawaih menulis bukan untuk menyajikan teori tentang etika, melainkan membuat pembacanya menjadi manusia yang beretika. Untuk menjadi beretika, ia mengajak kita untuk berangkat dari titik yang paling awal dan mendasar, yaitu memahami fitrah diri kita yang merupakan manusia, betapa jiwanya diciptakan Allah demi tujuan yang mulia. Kebanyakan dari kita berhenti pada dua hal, yaitu menjadi khalifah Allah di bumi dan beribadah kepada Allah. Namun, Ibn Miskawaih menunjukkan adanya penjelasan yang melampaui kedua hal itu, terkait pertanyaan filosofis: mengapa kita manusia menerima tugas semacam itu?

Jawabannya sangat singkat: pertama, karena kita manusia. Karena itulah wacana pertama atau bab pertama Tahdzibul Akhlaq membahas tentang hakikat jiwa manusia. Kita semua diajak untuk merenungkan ayat Al Quran:

“Demi jiwa serta penyempurnaannya. Telah Allah ilhamkan pada jiwa jalan kefasikan dan ketakwaannya. Dan sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” QS Asy-Syams (91): 7-10

Itulah penjelasan yang menjadikan mengapa menjadi manusia yang berakhlak mulia, atau dengan kata lain yang beretika, adalah keharusan yang sangat masuk akal. Ini tentang sesuatu yang melekat, inheren bersama dengan kemanusiaan kita, eksistensi, dan penciptaan kita. Ia menumbuhkan bukan keimanan buta, melainkan keimanan yang berakar kuat pada rasionalitas yang tercerahkan. Ia memberikan prinsip dan jawaban yang mencegah munculnya kembali pertanyaan-pertanyaan kosong dan mengawang-awang tentang siapa kita dan mengapa kita. Jawaban itu telah ada. Hanya saja kita sering tidak melihat dan melewatinya begitu saja. Betapa pun kita sering melihatnya, kita pun sering tidak memperhatikannya.

Kedua, karena kita manusia adalah pendamba kebahagiaan.

Jalan-jalan kehidupan bukankah kita tempuh berdasarkan pengetahuan asumtif, dugaan, harapan, atau perkiraan bahwa itulah jalan menuju keterbebasan kita dari penderitaan dan pencapaian kebahagiaan sejati? Meskipun orang-orang banyak berakhir saling berselisih arah, berpisah jalan, dan berbeda tujuan, pada dasarnya kita semua mencari hal yang sama dan tak ada yang lebih baik dari yang lain dalam menginginkan hal ini.

Hidup bukanlah masalah yang sederhana. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang apa yang baik itu. Setiap orang bebas memiliki jalannya sendiri-sendiri dan bertanggung jawab atas ketersesatan atau kebenaran jalan yang ditempuh berdasarkan pilihannya. Meskipun demikian, Allah bukan Tuhan yang abai, yang lepas tangan atas nasib manusia yang Diciptakan-Nya sendiri. Tidak disebut dalam Tahdzibul Akhlaq, tetapi pemahaman semacam itu membawaku ingat pada beberapa ayat Al Quran yang lain, yang benar-benar terdapat di awal Al Quran, tentang awal perjalanan hidup manusia ditakdirkan mendiami di bumi, kisah Adam dan Hawa:

“Turunlah kamu dari surga itu. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” QS Al Baqarah (2): 38.

Bagaimana mengikuti petunjuk Tuhan akan membawa kita pada kebahagiaan bukan tanpa penjelasan. Penjelasan ini terdapat dalam bab-bab yang membahas bahwa kebaikan itu ada di pertengahan, di titik yang mencerminkan keadilan pemikiran, sikap, keputusan, dan tindakan-tindakan kita berkenaan dengan diri kita sendiri, orang lain, lingkungan, dan Tuhan. Petunjuk Tuhan dalam firman-firman-Nya sepenuhnya adalah tentang titik tengah dan keadilan itu. Akhlak mulia adalah tindakan-tindakan di titik tengah dan keadilan itu; bukan ekstrem ke arah positif atau ke arah negatif.

Manusia hidup bukan untuk menjadi makhluk yang sangat baik, melainkan makhluk yang adil dengan kearifan akalnya, keberanian berdasar kebenaran, dan kesederhanaan cara hidup. Jika kemudian selanjutnya disebutkan bahwa Islam adalah agama pertengahan, maka secara filosofis dan psikologis, beginilah aku kemudian mampu memaknainya. Aku meninggalkan definisi-definisi ideologis-politis yang didengungkan sebagian orang yang kemudian memunculkan istilah-istilah seperti muslim moderat, muslim fundamentalis, atau muslim liberal. Ber-Islam itu bukan dengan menjadi muslim yang moderat, fundamentalis, atau liberal. Ber-Islam itu jauh lebih dalam ketimbang atribut atau identitas superfisial itu. Ber-Islam itu berakar dalam hati dan pikiran yang mengerti tentang keadilan dan jalan pertengahan itu, sehingga memungkinkan ada kalanya kebijaksanaan itu akan diekspresikan lewat sikap dan tindakan yang moderat di satu situasi, konservatif di situasi lain, atau bebas di situasi yang lain lagi. Mampu bersikap dan bertindak benar, di saat yang benar, dan demi tujuan yang benar, bagiku itulah jihad yang sesungguhnya, karena di dalam itu jelas sekali ada nafsu dan iblis yang harus diperangi dalam diri kita sendiri.

Berangkat dari penjelasan kedua itu, semakin masuk akal gagasan penyucian jiwa, yaitu upaya untuk menjaga jiwa tetap berada di titik tengah, titik keseimbangannya. Setiap ibadah dan zikir, evaluasi, dan renungan introspektif, amal perbuatan, belajar, dan bekerja, menangis atau tertawa, berada dalam kerangka penyucian jiwa, penyempurnaan akhlak, peribadahan kepada Allah, tanpa menafikan diri manusiawi kita. Kita berusaha berakhlak mulia karena Allah yang memerintahkan demikian, tetapi sesungguhnya kebaikan itu dikembalikan-Nya pada diri kita sendiri.

Allah, sungguh adalah Tuhan yang tak ingin makhluk-Nya bersedih hati dan khawatir, bukan? Allah ingin kita bahagia. Segala Puji hanya bagi-Nya, Tuhan Semesta Alam, yang telah mengutus Rasulullah demi tugas menyempurnakan akhlak manusia.

Sekarang aku mengerti.

***

PS: Psikologi akhlak mulia. Pasti semacam itu ^^ Terima kasih Ibn Miskawaih… Dan, aku bertemu seseorang lagi! Ibn ‘Arabi. Selanjutnya aku akan menulis tentang Wasiat-wasiat Ibn ‘Arabi. Semoga ada kesempatan, insya Allah…

One thought on “Tahdzibul Akhlaq Ibn Miskawaih: Sebuah Ulasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s