Adik, Surat, dan Prangko, dan Pencarian Makna dari Semua Ini

Adikku Balya, 6 tahun, ia tahu tablet dan i-Pad, tapi tidak tahu apa itu perangko. Calon benda-tinggal-jadi-sejarah: prangko. Bagaimana aku bisa bercerita bahwa aku seorang filatelis?

***

Hari ini aku menyempatkan diri menunjukkannya tiga album prangko-prangko yang aku koleksi sejak SD. Pertama kali melihat, dia mengira kertas berbentuk kotak itu adalah UANG (!) Karena memang, di setiap lembar perangko pasti ada harganya. Lalu aku menunjukkan bahwa ini namanya perangko, untuk mengirim surat. Ia mengamati gambar-gambarnya, dan yang paling menarik, tentu saja, perangko bergambar dinosaurus dari luar negeri.

Aku ceritakan, bahwa pada zaman telepon langka, handphone belum ada, sms apa lagi… satu-satunya cara berkomunikasi adalah dengan berkirim surat. Kita menulis surat, lalu mengirimkannya via pos. Prangko itulah biaya posnya. Kalau pakai prangko yang mahal, suratnya cepat sampai. (Tapi, pos kilat justru tidak ada perangkonya -_- Aku tidak mengerti…….) Kami bersama-sama melihat harga prangko yang berubah-ubah dari tahun ke tahun. Ada yang cuma 75,- rupiah (!) sampai yang termahal yang aku punya seharga Rp2.000. Aku punya prangko dari tahun 1980-an sampai yang terakhir aku kumpulkan tertanda tahun 2002 atau sekitar itu. Dahulu, waktu masih kecil, rasanya minder karena aku tidak punya prangko langka. Sekarang, ketika waktu sudah berlalu sekian tahun, semua yang aku punya menjadi barang langka! Aku kaya! Hahaha ^^

Ya, seiring dengan semakin populernya telepon, handphone, sms, internet-email, dan semua yang hari ini kita nikmati untuk berkomunikasi, benda-benda macam prangko dan surat semakin langka dan rasanya, akan punah suatu hari nanti. Kantor pos, rasanya sekarang pun telah bertransformasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Terakhir aku ke sana, kantor pos adalah kantor yang sepi dari orang yang mau berkirim surat. Urusan orang-orang di kantor pos adalah: BLT atau BLSM, membayar pajak, mengirim paket, atau dokumen kertas berukuran besar. Tidak ada lagi surat yang di amplopnya tertulis “Kepada yang tersayang/ Yts. temanku X” atau “Kepada yang tercinta/ Ytc. Cucunda Y”.

Teknologi mengubah cara bagaimana orang-orang saling memberi dan menunjukkan afeksi, bukan? Dan, aku termasuk orang yang lama gagap menghadapi perubahan ini. Ketika kecil, aku sering menulis surat, pertama untuk kakek dan nenek yang tinggal di ujung Indonesia sementara aku berada di bagian Indonesia yang lain, kedua untuk bapak yang pergi sekolah ke Pulau Jawa, lalu ketiga untuk teman-teman yang aku tinggalkan, karena aku pindah rumah ke Jawa, serta keempat untuk kuis-kuis berhadiah dari majalah anak-anak yang aku langgan. Kelas 2 atau 3 SD aku naik sepeda ke kantor pos. Masuk kantor pos, lalu bilang, mau kirim surat. Lalu beli prangko, lalu cari lem untuk melekatkannya. Lalu, serahkan saja ke petugasnya. Mudah!

Tapi, sekarang ada yang lebih mudah lagi. Klik menu, pesan, pesan baru, ketik-ketik-ketik, kirim, cari nomor atau ketik nomor, kirim! Sangat mudah. Itu sms. Masalahnya, tidak bisa kirim surat yang panjang. Kalau mau yang panjang, lewat email. Masalahnya, kakek dan nenekku tidak punya email. Teman-temanku, tidak semua punya email. Dan, rasanya pun aneh… mengirim email dengan bahasa surat. Dalam surat, aku bisa berlama-lama menulis di bagian pembukaan, “Hai, X, apa kabar? Semoga baik dan sehat selalu. Alhamdulillah, aku juga. Sekolah menyenangkan, teman-teman baik. Musim apa di sana? Di sini sudah musim hujan… tapi juga musim buah-buahan! …”

Karena cepat, hari ini mengirim, hari ini sampai, dan hari ini pun balasannya datang. Paragraf pertama, tempat aku memulai segalanya, menanyakan dan menceritakan keadaan diri dan lingkungan, menjadi garing. Lewat internet dan berita yang serba cepat, tak perlu bertanya, orang sudah tahu kabar orang lain. Paragraf-paragraf selanjutnya, tempat aku menceritakan apa saja yang terjadi selama satu atau dua bulan terakhir, pun menjadi garing. Sekarang, via media sosial online, tak perlu bertanya, orang sudah memperbarui status mereka. Tak perlu menunggu satu atau dua bulan lagi. Perasaan kangen itu hilang karena setiap hari bisa bertemu secara online. Perasaan luar biasa memiliki seorang sahabat yang harus dijaga juga hilang; karena faktor yang merenggangkan persahabatan, yaitu jarak dan waktu, sudah tidak ada lagi.

Tidak ada yang diperjuangkan lagi. Tanpa ada yang diperjuangkan dan bisa dihargai karena perjuangan itu, komunikasi menjadi kehilangan maknanya. Ia tidak lagi mencerminkan perjuangan manusia untuk memelihara kehidupan. Hari ini, terlalu mudah berkata “hai!” Perasaan yang dulu pernah menyertai satu kata sederhana itu tidak ada lagi. Mungkin karena itulah, aku tidak tahu caranya eksis via Facebook atau Twitter atau media sosial lainnya. Karena perasaan yang dulu selalu menyertai setiap kata dan kalimat kepada teman dan sahabat, sudah tereduksi maknanya. Banyak orang bisa hidup dengan cara yang modern, tetapi bagiku, rasanya hidup yang modern inilah yang butuh perjuangan karena yang seperti ini membuatku justru banyak bertanya:

Apa filosofi di balik “update status“? Mengapa orang-orang memperbarui informasi status diri mereka? Mengapa aku juga harus seperti itu?

Dahulu aku “update status” (lewat surat) adalah karena memang ada kakek dan nenek, ada bapak, ada teman-teman, yang butuh tahu perkembangan dan kemajuan diriku, aku bisa melakukan apa sekarang. Orang-orang yang setiap hari memperbarui informasi status diri mereka via jejaring sosial, apakah juga seperti itu; ada orang-orang dalam hidup mereka yang butuh sekali tahu perkembangan diri mereka? Atau, apakah perkembangan diri mereka yang memang butuh sekali untuk diketahui orang lain?

Apakah kebutuhan itu nyata adalah kebutuhan? Entah mengapa, aku merasa semua ini adalah ilusi. Secara pribadi, aku tahu aku bukan orang penting yang jika orang lain tak tahu keadaan, pikiran, dan perasaanku, maka dunia akan kiamat. Aku merasa semua ini konyol. Apa yang penting dari semua ini: menunggu-nunggu siapa yang akan memperhatikan, yang akan membaca, yang akan berkomentar, yang akan kau balas komentarnya? Ada banyak status sampah. Jika kemudian kau menjawab, aku menulis bukan untuk mencari perhatian, pembaca, atau komentator, maka aku akan bertanya, “Lalu, buat apa kau mengungkapkan semua itu?” Mengapa tidak lebih baik menyimpannya saja; karena itu milikmu seorang?

Namun, ada jawaban yang lebih sederhana: semua ini untuk bersenang-senang saja. Begitu saja kok repot?

Ya, karena aku tak mudah mengerti; betapa zaman yang sudah berubah ini telah menjadikan jutaan orang resmi menjadi pengejar kenikmatan dan kesenangan. Betapa mudahnya perasaan senang itu diperoleh: Hanya dari membaca sesuatu yang lucu, berbagi sesuatu yang lucu, membaca hal-hal yang begitu manusiawi, keluhan-keluhan, kesedihan, kegembiraannya, juga berbagi hal-hal yang manusia itu pula. Setiap orang menjadi aktor dalam kehidupan, dan orang-orang lain adalah figurannya. Setiap orang merasa penting dan berharga, merasa setiap pendapatnya penting dan berharga.

Mungkin, makna semua ini memang hanyalah untuk bersenang-senang saja. Karena kita manusia. Titik. Tidak perlu bertanya lagi.

5 thoughts on “Adik, Surat, dan Prangko, dan Pencarian Makna dari Semua Ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s