Reaching Dream Bag. 14: Tegak Menghadapi Kesalahan

Ada bagian dari kesalahan yang membuat kita membenci diri kita sendiri. Tidak semua orang bisa biasa-biasa saja, atau cepat kembali menjadi seperti biasa, setelah melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan. Kesalahan memang sumber pelajaran, tetapi bagaimana pun rasanya tetap pahit dan mengaduk-aduk perasaan.

Semua orang merasakan hal itu, begitu juga aku, betapa pun aku sudah berusaha keras menyadari setiap keputusan yang kuambil dan tindakan-tindakanku. Kesalahan selalu bisa terjadi. Hanya saja, aku bukan lagi orang yang bertanya, “Kenapa bisa?” Sekarang aku adalah orang yang lebih suka bertanya, “Lalu apa?” Kalau sudah begitu, lalu mau apa?

Terkait kesadaran macam itulah mengapa “rumah” ini aku beri nama “I love life, life loves me.” Aku ingin bisa mencintai, menyukai, menerima tanpa syarat, seluruh aspek kehidupanku. Dengan begitu, aku berharap Tuhan memberikan berkah-Nya, yaitu dengan menjadikan kehidupan dan apapun yang terjadi di dalamnya balas mencintaiku dengan menunjukkanku jalan menuju hikmah dan nasihat. Bukankah itu yang paling aku butuhkan dalam hidup? Adakah yang lebih baik daripada itu?

Karena itulah, aku putuskan bukan hal-hal baik saja yang aku akan ceritakan di sini. Hal-hal buruk aku akui terjadi. Tindakan-tindakan buruk aku akui aku lakukan. Jadi, memang apa yang telah terjadi? Apa yang telah aku lakukan?

Kesalahan kecil, tapi berdampak luar biasa pada diriku. Alhamdulillah, seluar biasa itu pula pelajaran yang kudapat.

PS: Pembaca, aku tidak menjanjikan cerita yang luar biasa lho. Ini kehidupan biasa seorang mahasiswa biasa.

***

1#

Aku berpotensi melakukan kesalahan serupa. Itu yang pertama kali muncul dalam pikiranku setelah aku mendengar cerita itu. Beberapa minggu yang lalu, untuk tugas salah satu mata kuliah, aku mewawancarai seorang ibu. Di satu kesempatan, ia bercerita tentang salah seorang anaknya yang perilakunya sedikit membuatnya repot.

Beliau bercerita tentang anak laki-laki kecilnya yang maunya pakai baju bagus dan pemilih dalam soal makanan dan suka makan makanan enak. Tempe tahu dia tidak mau. Kalau telur, satu kurang. Maunya dua. Sukanya makanan laut, paling suka cumi-cumi. Kalau diberi udang satu mangkok, satu mangkok udang itu bisa habis dia sendiri yang makan. Bayangkan kesusahan ibu dan bapaknya yang kemampuan ekonominya pas-pasan.

Ibu tersebut dan suaminya bekerja menjadi pengurus di sebuah rumah kos. Karena itulah, ia dan suami, beserta kedua anaknya, tinggal di rumah kos itu. Mereka banyak berinteraksi dengan mahasiswa-mahasiswa yang tinggal di situ, salah seorangnya adalah mahasiswa psikologi yang hendak melanjutkan S3 di Perancis. Mahasiswa tersebut, menurut si ibu, adalah orang yang baik. Ia banyak mengajarkan cara mengasuh anak dari psikologi yang dipelajarinya. Ibu tersebut sangat berterima kasih, terutama karena dia sendiri tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Namun, ada satu yang disesalkannya, karena justru dari mahasiswa itulah, anak laki-lakinya memiliki pola perilaku yang bermasalah secara ekonomi.

Anak laki-lakinya meniru gaya hidup mahasiswa itu. Mungkin karena sudah punya uang, mahasiswa itu mampu beli makanan enak. Ia adalah seorang yang pemilih dalam soal makan. Setiap beli makanan enak, tidak habis atau tidak dihabiskan, atau hanya diambil yang dia suka, sisanya diberikan kepada anak laki-laki ibu itu. Begitu berulang-ulang hingga menjadi kebiasaan. Anak itu sulit makan kalau tidak dengan makanan yang enak.

Mahasiswa itu menyadari kesalahannya. Tapi apa daya, dia sudah harus berangkat ke Perancis. Ini seperti kisah Si Kecil Albert dan Kelinci Putih dalam eksperimen behavioral yang dilakukan oleh John B. Watson. Si anak berakhir dengan fobia sebelum sempat mendapatkan desensitisasi. Apa yang terjadi kemudian pada Albert Kecil menjadi misteri dalam dunia psikologi. Tapi, apa yang akan terjadi pada anak laki-laki ibu itu setelah ini? Dengan ibu yang tidak berpendidikan, dalam keluarga dengan ekonomi lemah, tinggal di lingkungan dan kota yang mentereng… Apa yang akan terjadi setelah ini?

Betapa mulut kita bisa mengajarkan apa saja, tetapi pola hidup kita juga mengajarkan sesuatu, bukan? Pola hidup kita, seberapa besar kita menyadari baik dan buruknya? Kita hidup sesuka hati kita, sesuai dengan yang menurut kita nyaman dan baik-baik saja. Pola hidup kita tak punya urusan dengan teori-teori yang kita pelajari karena inilah hidup kita, kita punya kebebasan menjalaninya seperti apa. Tapi, benarkah kita sungguh-sungguh bebas?

Skripsimu tentang motivasi berprestasi, tetapi kau tidak tampak memotivasi dirimu untuk hidup dengan cara sebaik mungkin; tentang pengawasan, manajemen, dan pengaturan diri, tetapi hidupmu tampak berantakan dan tak punya arah; tentang manajemen stres, tetapi Facebook dan Twitter-mu berisi sampah-sampah pikiran dan perasaanmu yang negatif; atau tentang kebahagiaan, tetapi kau tak mengenal kearifan hidup sederhana dan ketangguhan hidup di tengah kesulitan.

Apa arti Perancis, Jerman, Inggris, atau Amerika Serikat, atau tempat-tempat lain yang menjadi kiblat pengetahuan psikologi kita? Apa artinya universitas-universitas kenamaan tempat kita semua belajar psikologi, tempat kita bertemu para profesor dan doktor psikologi? Apa arti setiap mata kuliah yang kita mati-matian memperjuangkan nilai A di dalamnya? Apa artinya, kalau setelah semua pengorbanan yang kita lakukan demi mencapai tempat-tempat itu, kita tidak berhasil mengajarkan pada diri kita sendiri cara hidup yang baik?

Tidak ada artinya. Itu hanya tempat. Dan tempat itu hanyalah sebagian kecil bumi, di mana mungkin kita akan mati di sana, atau di sekitar tempat itu.

Tapi, apakah sepenuhnya seorang patut disalahkan? Sebagian kehidupan kita adalah “pemberian”. Kita tidak meminta dalam keluarga macam apa kita dilahirkan, dengan pola kehidupan macam apa kita dibesarkan, atau demi tujuan apa kita diarahkan untuk mengejarnya oleh orang-orang yang membesarkan kita. Orang semacam itu tak sepenuhnya bersalah, tetapi aku menemukan satu celah fatal, yaitu ketika datang suatu ketika kesadaran itu datang dan kesempatan memilih itu ada, ia memutuskan untuk mengabaikan kesalahan itu seakan-akan tak ada yang dapat dilakukan lagi. Ia melakukan kesalahan besar dengan membiarkan dirinya hidup apa adanya.

***

2#

Aku berpotensi melakukan kesalahan yang sama lagi. Itu yang pertama kali muncul ketika aku dihadapkan pada situasi yang sama lagi seperti yang enam tahun lalu pernah aku alami. Satu hal yang aku catat kali ini, betapa pun aku sudah sekuat mungkin menyadari setiap keputusan, berhati-hati atas setiap konsekuensi keputusan, dan secermat mungkin mempertimbangkan faktor-faktor yang bermain, kesalahan itu tetap mungkin.

Aku selalu tahu kelemahan terbesarku. Secara individual, ada bagian dari diriku yang lebih menonjol jika dibandingkan dengan orang-orang. Itu adalah berkah yang, entah bagaimana, juga adalah sebabku tidak dapat merasa ringan. Being intelligent is not always good; sometimes it impair you socially. Tahulah maksudku.

Aku suatu ketika pernah menjadi orang yang lebih mempercayai diri sendiri dan tidak pada orang lain. Aku tak bisa mempercayakan suatu tanggung jawab kepada orang, melainkan nantinya aku akan mengambil alihnya. Semua itu karena suatu standar. Standarku. Juga tujuan dan targetku. Cara kerjaku. Cara hidupku, untuk bertahan.

Aku orang yang memandang itu tantangan, tetapi ada banyak orang yang memandang itu menyusahkan. Betapa pun aku tahu aku benar dalam beberapa hal, tidak pernah mudah untuk membuat orang memikirkan hal yang sama, dan jauh sangat tidak mudah mengajak orang untuk melakukan hal yang sama. Itulah titik di mana aku tahu aku telah membuat sejumlah kesalahan besar: aku ingin orang lain seperti aku.

Aku berakhir tak “melihat” mereka, tidak menghargai mereka. Aku tidak percaya pada kemampuan mereka. Aku tidak memberikan mereka kepercayaan. Namun, yang paling menyakitkan adalah hidup dengan hati yang kosong dari rasa percaya. Tanpa itu, bagaimana aku dapat hidup dan bekerja bersama orang lain? Akhirnya, yang selanjutnya paling menyakitkan adalah rasa kesepian. Ketika itu orang dapat menjadi bertanya-tanya untuk apa dirinya hidup betapa pun ia hidup memiliki apa yang tak dimiliki oleh orang lain. Yang berasal dari diri, kembali kepada diri.

Sejak itu aku hidup dengan banyak hal yang aku camkan pada diriku. Pelan-pelan aku beranjak dari posisi negatifku menyusuri arah yang lebih baik. Aku sampai pada titik di mana aku menyengajakan diriku untuk “melihat” orang lain terlebih dahulu ketimbang diriku sendiri, mengakomodasi keinginan orang lain sebelum diriku sendiri… Tapi, ada satu ketika di mana aku berpikir, sikap semacam itu bisa jadi ada tidak benarnya juga.

Prinsip mempercayai orang lain paling baik diterapkan jika kau menghadapi orang yang dapat dipercaya, punya kepercayaan pada dirinya, dan bisa memimpin dirinya sendiri. Namun persoalannya, memang ada di dunia ini orang yang ingin dihargai, tetapi sesungguhnya ia belum menunjukkan dirinya yang patut dihargai. Dan kesalahanku adalah aku memandang dunia dengan pandangan yang terlalu positif. Being social is not always good; sometimes it makes you dull. Hidup itu tak hanya berisi perasaan orang; ia berisi tujuan yang harus dicapai.

Ini terjadi dalam kehidupan akademikku yang sekarang. Aku hanya tahu bahwa kami bukan lagi anak-anak sehingga asumsiku, kami ini orang-orang dewasa yang bisa mengarahkan diri, tahu dan punya inisiatif tentang apa yang harus dilakukan. Aku sungguh sangat berhati-hati agar tidak bersikap bossy seperti aku yang dulu, betapa pun aku tahu, aku yang seperti ini bukan aku. Aku ingin pertama-tama bisa menghargai mereka dengan menyerahkan banyak hal agar dilakukan sesuai dengan apa petunjuk kepala dan anjuran hati mereka.

Tapi, rupanya ada beberapa orang yang kepalanya tidak berhasil menunjukkan yang seharusnya, hatinya tak menganjurkan yang sebaiknya… Dan, yang terbodoh di antara mereka adalah aku yang tidak mengikuti petunjuk akal dan hati ketika mendapati indikasi yang tidak baik dalam cara kami bekerja. Bagaimana bisa memberikan kepercayaan tanpa alasan yang benar? Hanya karena aku tidak ingin dianggap bossy. Ya Tuhan, alasan yang begitu manusiawi. Dan konsekuensinya jelas. Aku mengorbankan sesuatu karena sesuatu yang bodoh… Aku berakhir menyakiti hati seorang teman lagi.

Meskipun aku dapat belajar sesuatu, rasanya juga tetap pahit, sama seperti akibat dari melakukan kesalahan yang sudah-sudah. Tapi, apakah sepenuhnya ini adalah salahku? Sebagian kehidupan kita adalah “pemberian” yang tidak bisa ditolak. Apa yang pernah terjadi, dengan siapa kita bertemu, di mana kita berada, waktu yang melingkupi kita… Kita bagian dari arus kehidupan yang normal, karena kita manusia normal.

Namun, untuk menjadi manusia yang lebih baik kita tidak bisa hidup apa adanya, menerima apa adanya, tanpa merengek pada Tuhan untuk sesuatu yang lebih baik. Sayangnya, Tuhan sudah sejak lama menjawab pertanyaan bodoh ini:

“… Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. ”

Qur’an Surat Ar-Ra’ad (13): 11

Merubah keadaan yang ada pada diri sendiri? Siapa yang kira itu pekerjaan mudah?

Kau perlu tahu terlebih dahulu keadaan dirimu. Kau perlu tahu dulu kondisi macam apa yang lebih baik dan yang terbaik. Kau tahu kenal dulu cara mengevaluasi diri dan mengevaluasi dirimu, dan mengakui sesuatu. Tak ada yang ingin berubah kecuali lantaran kepahitan yang sungguh-sungguh pahit ada lebih dahulu. Namun yang terpenting dari itu semua, kau perlu tahu dulu mengapa perubahan itu adalah bagian yang normal dari kehidupan yang baik, mengapa kau perlu menerimanya, dan mengikuti jalan menuju itu.

Tegak menghadapi kesalahan => bersedia untuk berubah dan berubah.

5 thoughts on “Reaching Dream Bag. 14: Tegak Menghadapi Kesalahan

  1. Dari kesalahan-kesalahan itu kita jadikan bahan perbaikan diri, Tina. Bersyukurlah, karena sudah mendeteksi kesalahan itu sedini mungkin. Kalau An belum bisa menganalisa kesalahan yang An perbuat selama ini sedetail Tina.

    Hijrah (pergantian) diri untuk bermetamorfosa lebih baik. Baik menurut diri sendiri atau orang lain? Selama kita bersikap ‘baik’ menurut Allah, Insya Allah, kita memang telah berkomitmen untuk lebih baik secara nyata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s