Poetry of The Week: Aku, Ia, dan Filsafat

Aku, ia dan filsafat, maka aku tahu bahwa kami berbeda.

Aku bertemu ia yang menyedihkan; ia yang sedang menyerah, ia yang sedang tak bisa menerima bahwa:

ada hal yang tidak ada jawabannya di dunia ini,

ada hal yang tidak dapat dijawab sekarang,

ada hal yang juga tak dapat dijawab besok, atau kapan pun,

ada hal yang membutuhkan syarat sebelum dapat ditemukan,

ada hal yang tak butuh apa pun selain Tuhan Sang Pemilik Segala Jawaban.

 

Aku bertemu ia yang menyedihkan; ia yang sedang tak bisa menerima bahwa:

ia manusia

aku manusia

mereka manusia

setiap orang yang kita pandang seindah bintang di langit, manusia

setiap orang yang kita pandang memiliki ilmu sedalam lautan, manusia

setiap orang yang menumbuhkan kekaguman kita, manusia

ia sedang tak bijaksana.

 

Filsafatku adalah aku:

aku yang menyadari aku manusia

aku yang menyadari kau manusia

aku yang menyadari mereka manusia.

Filsafatku adalah aku:

aku yang tak perlu menjadi malaikat

aku yang tak perlu meninggalkan bumi

aku yang tak perlu meninggalkan kemanusiaanku.

Filsafatku adalah aku:

aku yang mencintai kebodohanku

aku yang mencintai keingintahuanku

aku yang mencintai pencarianku

aku yang mencintai kenestapaan seorang pencari yang tidak berhenti mencari.

Filsafatku adalah aku:

aku yang melihat Tuhan tersenyum

aku yang mendengarkan Tuhan yang menghibur

aku yang mengetahui bahwa Tuhan tak abai

aku yang berharap Ia yang berahasia suatu saat akan membocorkannya

lalu aku akan berseru, “Segala Puji bagi Engkau!”

 

Filsafatku, filsafatnya, filsafat mereka

jalan hidupku, jalan hidupnya, jalan hidup mereka

pilihan-pilihanku, pilihan-pilihannya, pilihan-pilihan mereka

dan Tuhan berkata agar kita tidak perlu bertengkar

karena ini hanyalah pertanyaan yang dilontarkan bagaikan batu yang terjun menuju dasar samudra tak berdasar.

 

Setiap orang berusaha menangkapnya, dan batu itu membebaskan diri dari tangan yang satu menuju tangan yang lain.

Kau pikir tak akan dapat, tetapi sesungguhnya yang tak akan dapat adalah mereka yang tak mau menerjuni samudra yang sama.

Suatu saat ia akan menemui pemberhentiannya.

Saat itu mungkin tak ada lagi yang bisa dirayakan.

Saat itu kita melihat kesalahan-kesalahan kita, dan kita tertunduk.

2 thoughts on “Poetry of The Week: Aku, Ia, dan Filsafat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s