Wacana III-V Tahdzibul Akhlaq Ibn Miskawaih: Kebaikan, Kebahagiaan, Keadilan, Cinta, dan Persahabatan

Sst! Selamat bagi kalian, sebagian pembaca! Ada baiknya kalian segera mengeluarkan Ibn Miskawaih dari daftar ilmuwan muslim, tepatnya tokoh psikologi Islam dari zaman keemasan Islam, kebanggaan kalian. Beliau adalah pengikut Syiah (?!).

Kalian tahu maksudku, bukan? Kalian sebaiknya tidak membaca karya-karyanya, karena beliau seorang Syiah. Menurut kalian Syiah bukan Islam dan sesat, bukan? Tapi, di samping itu, mungkin yang satu ini adalah yang perlu kalian sangat perhatikan. Pemikiran Ibn Miskawaih ternyata menjadi salah satu bahan rujukan Al-Ghazali dalam penyusunan Ihya Ulumuddin-nya. Jadi, dalam membaca Ihya, kalian perlu super berhati-hati. Kalian mengerti maksudku. 

Kini, jelas sudah. Mulai sekarang, kalian tidak boleh lagi merasa bangga karena Ibn Miskawaih, betapa pun beliau adalah tokoh yang pemikirannya diakui dan dielu-elukkan di Timur dan Barat pada masanya sampai sekarang. Tidak boleh. Aku khawatir, jika begitu, kalian akan tergolong orang yang berkhianat. Pikirkan ini. Pahami ini. Ini demi kalian sendiri.

Peace! Oke kalau begitu! ^^

***

Kita tidak akan mengerti mengapa Ibn Miskawaih secara khusus membahas tentang kebaikan dan kebahagiaan, keadilan, cinta dan persahabatan dalam bukunya sebelum kita memahami pentingnya hal-hal tersebut dalam dan terhadap pembangunan akhlak manusia. Kata kuncinya adalah manusia adalah makhluk sosial, homo homini socius. Betapa pun kita hidup secara sempurna, berperilaku tanpa cela, dan menjalankan agama sampai setaraf malaikat, jika kebaikan kita tidak sampai, tidak dirasakan, atau berdampak pada kehidupan orang lain, maka kebaikan itu sesungguhnya adalah keburukan.

Apa yang kemudian aku camkan pada diriku sendiri adalah ini. Mengapa kita perlu berakhlak? Itu karena kita hidup bersama-sama manusia lain. Mengapa kita perlu berakhlak? Bagiku, agar kita terhindar menjadi manusia seperti yang dikhawatirkan para malaikat pada kala penciptaan manusia pertama: “Mengapa Engkau hendak Menjadikan (Khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah… ?” (QS 2: 30)

Berakhlak mulia pada dasarnya adalah perwujudan kesediaan kita mengikuti petunjuk Allah bagi manusia, agar kemudian, meskipun kita hidup di bumi ,di mana permusuhan dan perpecahan adalah fakta yang tak terhindarkan bagi manusia, kesenangan hidup tidaklah abadi, dan manusia diuji hari demi hari dengan kesulitan dan berbagai kekurangan, kita sedikit banyak dapat hidup tanpa kekhawatiran dan kesedihan hati (lih. QS 2: 38). Itulah mengapa kita, aku dan kalian, perlu berakhlak mulia. Itulah mengapa, akhlak yang baik adalah cermin ke-Islam-an kita. Pada akhirnya, tidak bisa kita tidak berterima kasih pada Rasulullah Saw yang hadir dengan ajaran-ajarannya demi memperbaiki akhlak/ cara/ karakter hidup kita manusia semua. Alhamdulillahirabbil’alamin.

***

1# Kebaikan dan Kebahagiaan

Membaca wacana ke-3, aku menyimpulkan bahwa tujuan dan konsekuensi dari pendidikan akhlak seharusnya berkaitan dengan pencapaian kebaikan yang layak dijadikan tujuan, yaitu kebahagiaan yang hakiki. Hasil pendidikan akhlak adalah pencapaian kenikmatan hidup yang bersumber dari kebahagiaan yang hakiki, yang menghubungkannya lebih dekat kepada Ilahi. Dengan begini pendidikan akhlak menjadi masuk akal untuk diusahakan.

Kebaikan adalah tujuan sebagai sesuatu. Selain itu, segala sesuatu yang bermanfaat untuk mencapai tujuan itu adalah juga kebaikan. Kebahagiaan adalah kebaikan dalam kaitannya dengan pemiliknya dan merupakan kesempurnaan bagi pemiliknya. Kebahagiaan seorang manusia terletak pada kelengkapan dan kesempurnaan sebagai manusia. Ia dirasakan berbeda antara orang yang satu dan orang yang lain, relatif, subjektif. Ia berbeda menurut orang yang mengupayakannya. Namun, lain dengan kebaikan, kebaikan tidak dirasakan berbeda, universal bagi manusia.

Kebaikan itu bermacam-macam. Kebaikan mulia adalah kebaikan yang kemuliaannya berasal dari esensinya, serta yang menjadikan orang yang mendapatkannya menjadi mulia. Kebaikan mulia adalah kearifan dan nalar. Kebaikan terpuji adalah kebajikan dan tindakan sukarela yang positif. Kebaikan potensial adalah kesiapan memperoleh semua dari yang sudah disebutkan itu. Kebaikan yang bermanfaat adalah segala hal yang diupayakan bukan demi segala hal itu semata, tetapi agar dengan demikian diperoleh kebaikan-kebaikan lainnya.

Kebaikan ada yang menjadi tujuan, ada yang bukan; ada yang sempurna (jika sudah dicapai, tak perlu menambahnya lagi, seperti kebahagiaan), ada yang tidak sempurna (terus-menerus diperlukan lagi, seperti kesehatan dan kekayaan); ada yang terletak di jiwa, di tubuh, atau di luar keduanya; ada yang dipilih karena kebaikan itu sendiri, karena sarana bagi yang lain, atau bukan keduanya. Di antara bermacam-macam kebaikan itu, kebahagiaan adalah kesempurnaan dan akhir dari kebaikan, tujuan paling akhir, pemberian dari Allah Yang Mahatinggi, berupa:

1) kebahagiaan yang terdapat pada badan yang sehat dan kelembutan indera, 2) kebahagiaan yang terdapat pada pemilikan keberuntungan, sahabat, dan sejenisnya, yang dengan itu orang dapat melakukan kebaikan-kebaikan dan menolong orang lain, dan dengan itu ia menjadi orang yang terpuji, 3) dimilikinya nama baik dan termasyhur di kalangan orang-orang yang memiliki keutamaan lantaran sikapnya yang senantiasa berbuat kebajikan, 4) sukses dalam segala hal, mampu merealisasikan cita-cita dengan sempurna, dan 5) menjadi orang yang cermat pendapatnya, benar pola pikirnya, dan lurus keyakinannya dalam agama maupun di luar perkara agama.

Kebahagiaan itu bertingkat-tingkat dan setiap manusia perlu berusaha untuk mencapainya, paling tidak tingkat pertamanya:

Kebajikan pertama adalah tingkatan di mana manusia mengarahkan kehendak dan upayanya menuju kemaslahatan dirinya di dunia, termasuk perkara-perkara jiwa, tubuh, maupun keadaan jiwa yang berkaitan erat dengannya. Dalam keadaan ini perilaku manusia tidak berlebihan, tetapi sesuai dengan yang dibutuhkannya. Sekiranya ia dipengaruhi hawa nafsu, ia berada dalam batas yang wajah. Dalam kewajaran itulah ia lebih mungkin melakukan perbuatan yang benar dan tidak menyimpang dari nalar.

Kedua adalah tingkat di mana manusia mengarahkan kehendak dan upayanya untuk membuat sebaik-baiknya jiwa dan tubuhnya tanpa terpengaruh hawa nafsu atau memperhatikan harta benda kecuali bila terpaksa.

Tingkat terakhir adalah kebajikan Ilahi, yang di dalamnya orang tak merindukan sesuatu yang akan datang, tak menoleh ke sesuatu yang telah lewat, tak mengharapkan yang jauh, tak terpaku pada yang dekat, tak takut pada keadaan tertentu, tak mengharapkan nasib baik dan keberuntungan jiwa, bahkan kebutuhan tubuh. Dalam tingkatan ini orang menghabiskan waktunya untuk persoalan-persoalan Ilahi, menekuni dan mendalaminya tanpa menuntut balas apa pun.

Kesenangan dalam kebahagiaan adalah kesenangan yang sejati. Orang yang tahu realitas kebahagiaan ini dan dapat mengungkapkan perilakunya melalui kebahagiaan itu adalah orang yang menikmati kebahagiaan itu, yang menikmati kesenangan tanpa disertai kebatilan. Ia tidak tunduk pada bagian dirinya yang hina (nafsu), karena bagian dirinya yang mulia (akal) tidak lagi tunduk pada bagian yang hina itu. Inilah kenikmatan hakiki.

Orang yang tahu kenikmatan hakiki ini akan menyukainya, tapi, ia yang tidak mengenalnya, tidak akan menginginkannya, mengutamakan, mempraktikkan penyucian moral, dan teguh di dalamnya. Orang yang mengenal kebahagiaan hakiki, betapa pun ia ditimpa bencana dan nasib buruk, ia tidak takut dan tidak menemui kesulitan yang dirasakan orang-orang lain. Ia tidak terpengaruh karena ia tidak terbiasa takut atau bersedih hati. Ia tidak terpengaruh kesulitan dan kepahitan yang ditimbulkan kondisi-kondisi aksidental. Andai ditimpa kepedihan, ia mampu menahan diri dan tetap bahagia, tidak terseret keluar dari alam kebahagiaannya. Ia melihat bahwa dirinya lebih masuk akal dan lebih tepat untuk bersabar, karena tujuannya lebih mulia dan nama baiknya menjadi lebih besar. Ia pun menjadi teladan bagi orang lain.

***

2# Keadilan

Keadilan bukanlah bagian dari kebajikan, melainkan merupakan keseluruhan kebajikan. Kelaliman bukanlah bagian dari keburukan, melainkan seluruh keburukan. 

Keadilan adalah buah dari tiga keutamaan, yaitu kearifan, kesederhanaan, dan keberanian. Namun, persoalannya adalah ada kebajikan yang palsu, ada yang sejati. Perbuatan yang baik dapat dilakukan oleh orang yang sesungguhnya tidak bahagia dan tidak bajik. Orang dapat berlaku adil, berani, atau sederhana, padahal dia bukan seperti itu. Dari sini, setiap orang penting untuk mengenal kebajikan yang sejati, bahwa kebajikan sejati adalah kebajikan yang dilakukan bukan demi maksud lain melainkan kebajikan itu sendiri, yang dengan itu ia memuaskan keinginannya sebatas yang diperlukan, pada waktu dan kondisi yang tepat, dan dengan cara yang benar. Seperti itulah kondisi jiwa orang yang memiliki kebajikan sejati dalam dirinya. 

Orang yang sederhana adalah orang yang memenuhi definisi sederhana, yaitu berada pada titik tengah antara memperturutkan hawa nafsu dan mengabaikan hawa nafsu, memiliki kesederhanaan itu demi kesederhanaan itu sendiri, dan menyukainya lantaran itulah kebajikan. Orang yang pemberani adalah orang yang lebih memilih mati terhormat ketimbang hidup yang hina. Ia lebih takut bertindak hina ketimbang mati itu sendiri. Kenikmatan seorang pemberani bukan terletak pada ketika mulai bertindak, namun pada konsekuensi tindakannya bahkan setelah ia mati sekalipun, lantara ia membela agama, keimanan, dan syariat

Orang yang adil dapat dianggap benar-benar adil jika ia sudah dapat menyelaraskan seluruh fakultas, perilaku, dan kondisi dirinya sehingga yang satu tak melebihi yang lain. Ia melakukan itu demi keadilan itu sendiri, bukan untuk sesuatu yang lain. Sikap adil adalah titik tengah dari ekstrem-ekstrem, sikap untuk memperbaiki keberlebihan dan kekurangan diri, karena lebih dan kurang, banyak dan sedikit, merupakan faktor-faktor yang merusak keseimbangan segala sesuatu.

Keadilan terletak pada tiga tempat: 1) dalam pembagian uang dan kehormatan, 2) pembagian transaksi seperti jual-beli dan tukar-menukar, dan 3) pembagian segala sesuatu yang di dalamnya dapat saja terjadi ketidakadilan dan pelanggaran hak-hak. Orang yang adil harus senantiasa mampu membuat segala hal yang tak sama menjadi sama; mengambil dari yang lebih banyak/ panjang/ berat / untuk yang lebih kurang/ pendek/ ringan sehingga diperoleh persamaan dan hilanglah kelebihan dan kekurangan. Ia harus mengetahui karakteristik titik tengah secara pasti sehingga ia mampu membuat keputusan berdasarkan pedoman titik tengah tersebut.

Terkait keadilan ini, hukum syariat pun menjadi pedoman terpenting karena hukum syariat berperan menetapkan garis tengah dan keseimbangan atas banyak persoalan. Orang yang berpegang teguh pada syariat akan senantiasa bertindak berdasarkan persamaan. Dia memperoleh kebaikan dan kebahagiaan lewat berbagai cara yang adil. Syariah menganjurkan hal-hal yang terpuji, karena ia datang dari Allah Swt. Syariah memerintahkan hanya kebaikan dan hal-hal yang dapat mengantarkan pada kebahagiaan. Syariah juga melarang hal-hal yang rendah. Ia memerintahkan keberanian, menjaga ketertiban, tebar berjuang, dan kesederhanaan. Ia melarang perkataan dan pembicaraan yang buruk.

Dalam kehidupan ada tiga hukum yang dapat diandalkan: 1) Hukum Allah, hukum agama yang menjadi model bagi hukum-hukum lainnya, 2) hakim, yang meniru hukum pertama, dan 3) uang, peniru ketiga. Dalam berbagai hal, uang adalah solusi ketidakadilan transaksi dalam kehidupan/ pekerjaan sehingga tercipta keadilan sosial antara orang yang satu dengan yang lain.

Jika keadilan adalah titik tengah, maka dua ekstremnya adalah kelaliman dan dilalimi. Orang lalim ada tiga: 1) orang yang paling lalim, yaitu yang sama sekali tidak menerima dan tidak mengindahkan hukum syariah, 2) orang yang tidak mau menerima keputusan hakim yang adil dalam transaksi maupun segala urusannya, dan 3) orang yang tidak mau bekerja, tetapi berambisi mengeruk harta sebanyak-banyaknya. Dia orang yang curang, mengambil lebih banyak dari yang layak untuknya, namun untuk orang lain, diberikannya lebih sedikit daripada yang seharusnya. Sementara orang yang adil selalu menerapkan keadilan kepada dirinya sendiri, juga kepada masyarakatnya, orang yang lalim senantiasa melakukan kelaliman terhadap diri sendiri, kerabat, dan masyarakat.

Sebab-sebab kerugian dalam kehidupan ada empat: 1) hawa nafsu yang menyebabkan kehinaan, 2) perangai jahat yang menyebabkan kelaliman, 3) kesalahan yang menyebabkan kesedihan, dan 4) nasib buruk yang menyebabkan kecemasan yang meliputi penghinaan dan kesedihan.

Pertama, hawa nafsu merupakan faktor yang membuat seseorang merugikan orang lain, dan dia tidak menyukai kerugian itu, tetapi hal itu hanya agar dia mencapai apa yang diinginkannya. Ia tahu ia dapat menderita karenanya, tetapi kekuatan hawa nafsu memaksanya melakukan itu. Kedua, orang yang berperangai jahat, sebaliknya, sengaja membuat kerugian bagi orang lain karena dia menyukainya dan bersenang-senang di atas kerugian itu. Tindakannya tidak akan menguntungkannya, tetapi tetap dilakukannya karena dia senang dengan penderitaan orang lain. Ketiga, adapun kesalahan, pelakunya tidak bermaksud merugikan orang lain, juga tidak menghendaki atau menyukainya. Yang ia tuju sesungguhnya adalah perbuatan tertentu, tetai ia justru melakukan perbuatan yang lain. Karena itu, orang yang berbuat salah merasa sedih atas perbuatannya yang tak sengaja dilakukannya itu. Keempat, kalau nasib buruk, penyebabnya bukan orang yang bersangkutan, melainkan faktor-faktor dari luar dirinya. Orang yang demikian pantas dikasihani dan diampuni, tidak disalahkan atau dihukum.

Keadilan ada tiga bagian: 1) apa yang dilakukan manusia terhadap Tuhan-nya, berupa keharusan berperilaku menurut kewajibannya pada Pencipta dan sebatas kemampuannya lewat beribadah, banyak bersyukur, dan memuji-Nya, mendekatkan diri pada-Nya, merawat kesucian jika, dan berbuat baik menurut perintah-Nya, 2) kewajiban terhadap sesama manusia, mulai dari menunaikan hak-hak sesama, menghormati para pemimpin, melaksanakan amanat, sampai bersikap adil dalam transaksi, dan 3) kewajiban terhadap leluhur, seperti membayar hutang-hutang mereka, melaksanakan wasiat, dan sebagainya.

Kewajiban manusia terkait dengan apa yang telah ia dapatkan dari Tuhan, sesama manusia, dan leluhurnya. Berikap adil kepada Tuhan, sesama, dan leluhur adalah wujud terima kasih, membalas kebaikan (kenikmatan-kenikmatan yang diberikan) dari Tuhan, sesama, dan leluhur dengan kebaikan yang serupa. Orang yang tidak membalas kebaikan itu dengan ketaatan dan kecintaan yang tulus, maka orang itu berlaku culas dan lalim. Semakin banyak yang diterima, maka semakin buruk dan keji perilaku lalimnya.

***

3# Cinta dan Persahabatan

Keadilan yang melahirkan keadilan sosial adalah kunci keharmonisan dalam tata masyarakat kita. Masyarakat yang harmonis, di dalamnya ada cinta dan persahabatan. Orang harus bersikap adil demi menjaga cinta dan persahabatan yang selanjutnya akan menjadi jalannya memelihara kehidupannya. Bagiku, ini adalah tujuan akhir dari pendidikan karakter; bagaimana memperbaiki dan meningkatkan karakter individu dapat menjadi jalan untuk memperbaiki dan meningkatkan karakter masyarakat. Demikianlah perjalanan tahdzibul akhlaq, mulai dari unit terkecil sampai yang terbesar.

Mewujudkan kebajikan yang direalisasikan dalam suatu kolektivitas adalah tujuan yang mulia dari masyarakat. Orang-orang yang sudah saling mencintai, maka hubungan mereka akan erat, dan tiap individu menghendaki bagi temannya apa yang dikehendaki bagi dirinya sendiri. Kekuatan-kekuatan mereka akan menjadi satu, dan mereka akan mencapai pendapat yang benar dan tindakan yang tepat. Persatuan yang demikian hanya dapat dicapai melalui pendapat-pendapat yang benar, dari jiwa-jiwa yang sehat, hasil keyakinan yang kuat pada agama.

Manusia adalah makhluk yang lahir dengan membawa kekurangan yang harus mereka sempurnakan, dan penyempurnaan itu mustahil dilakukan seorang diri. Manusia perlu bekerja sama dengan manusia lain. Namun, kemampuan bekerja sama membutuhkan sebab dan sebab itu adalah cinta.

Cinta mempunyai berbagai jenis dan sebab, yaitu: 1) cinta yang terjalin cepat dan pupus dengan cepat, 2) cinta yang terjalin cepat, tapi pupusnya lambat, 3) cinta yang terjalin lambat, tapi pupusnya cepat, dan 4) cinta yang terjalin lambat dan pupusnya lambat. Pembagian tersebut dikarenakan tujuan kehendak dan tindakan manusia ada empat, yaitu kenikmatan, kebaikan, manfaat, dan perpaduan dari kenikmatan, kebaikan, dan manfaat. Cinta yang pertama adalah cinta yang timbul karena kenikmatan, yang kedua adalah karena kebaikan, yang ketiga adalah karena manfaat, dan yang keempat adalah paduan ketiganya, sebaik-baiknya cinta.

Persahabatan adalah bagian dari cinta, tetapi lebih khas karena pada esensinya ia berarti kasih sayang dan ia tidak terjadi di antara banyak orang. Sementara itu, cinta asmara adalah keberlebihan dalam cinta, dan lebih khas dari kasih sayang karena ia terjalin di antara dua orang saja, serta motifnya pun bukan manfaat, melainkan kenikmatan. Cinta yang demikian tergolong tercela.

Islam menganjurkan persahabatan dan cinta dan membantu manusia untuk mengembangkan persahabatan. Islam menganjurkan manusia berkumpul di masjid lima kali sehari dan lebih menyukai salah jamaah ketimbang salat sendiri-sendiri agar sifat bersahabat alami manusia dapat dinikmati dan berpotensi aktual mempersatukan masyarakat. Islam mewajibkan masyarakat yang untuk berkumpul sekali seminggu pada hari Jumat di masjid, mewajibkan pula berkumpul dua kali setahun di tanah yang lapang, dan mewajibkan paling tidak sekali seumur hidup untuk berkumpul di Mekkah. Ini agar manusia dapat berkumpul, yang berjauhan menjadi dekat, mencapai cinta, dan masyarakat yang baik dan bahagia.

Cinta yang terjalin di kalangan orang baik bukan demi kenikmatan atau manfaat, melainkan yang esensial, yaitu sama-sama mengharapkan kebaikan. Kesamaan tujuan ini menjadikan mereka saling menasihati, sepakat untuk adil, dan sama dalam menghendaki kebaikan, sehingga itulah yang mempersatukan mereka.

“Sungguh saya tak habis pikir mengapa mereka yang mendongengkan pada anak-anaknya kehidupan para raja dan peperangan di antara para raja, peperangan demi peperangan, kebencian demi dendam, dan pemberontakan, lupa menceritakan kasih sayang, kerukunan, dan kemaslahatan yang diperoleh umat manusia melalui cinta dan persahabatan? … tak ada orang yang sanggup hidup tanpa kasih sayang, meski seluruh pesona dunia dilimpahkan kepadanya.

Kalau ada orang yang menyangka bahwa kasih sayang itu hal yang sepele, sesungguhnya sepele pulalah orang iu, dan jika dia percaya bahwa kasih sayang dapat dicapai dengan mudah (maka dia benar-benar sesat), karena (harus dia ketahui) betapa sulit mencapai kasih sayang, dan betapa sulit membina persahabatan.

Tak ada satupun benda di bumi ini yang bisa menggantikan peran teman yang dipercaya dapat membantu mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Betapa bahagia orang yang memperoleh nikmat besar seperti ini ketika dia tak memiliki otoritas, dan betapa sangat bahagia orang yang memperolehnya pada saat dia memiliki otoritas! Kalau dia mempunyai teman yang bisa dipercaya, niscaya teman itu baginya akan menjadi mata, telinga, dan hati, seakan itu semua milik dia. Dengan begitu, semuanya itu akan membuat yang jauh menjadi dekat baginya, sehingga dia dapat mendeteksi yang terjauh dan melihat yang tidak hadir.

Sekali lagi, dari manakah datangnya kemuliaan serupa ini kalau bukan dari peran serta sahabat sejati? Dan bagaimana mungkin dapat ditemui, kalau bukan dengan persahabatan yang baik?”

— Socrates

Bagaimana memilih teman?

“Hati-hati dengan seekor domba

Teliti agar tak salah duga

Domba bengkak disangka gemuk.”

Pertama, pertanyakan bagaimana perilaku orang itu waktu kecil terhadap orangtuanya, saudara-saudara, dan keluarganya. Kalau dia berperilaku baik, dapat diharapkan dia akan baik. Kalau tidak, jauhi dia dan jangan berhubungan dengannya.

Kedua, kenali baik-baik seluruh karakternya kalau dia bergaul dengan teman-temannya. Lalu, bandingkan karakternya ini dengan karakter dia saat bergaul dengan saudara dan orangtuanya.

Ketiga, telusurilah sepak terjangnya.

Dia tipe manusia yang mensyukuri nikmat yang memang seharusnya disyukuri, atau kufur nikmat. Amati kecenderungannya, apakah dia suka bersantai atau tidak. Suka bersantai merupakan serendah-rendah kepribadian. Kecenderungan ini melahirkan suka pada nikmat, dan menjadi penyebab seseorang tidak memenuhi kewajiban yang diembannya. Apakah dia suka emas dan perak serta rakus mengumpulkannya? Apakah dia suka menguasai dan egois? Barang siapa yang bersifat demikian, maka dia tak punya rasa cinta dan selalu iri terhadap milik orang lain. Apakah dia suka berolok-olok? Orang yang demikian tidak mungkin mau menyibukkan diri untuk membantu dan menolong orang lain.

Kalau kita tidak menemui orang dengan cela-cela di atas, amanlah kita bersahabat dengannya dan sayangilah dia. Puaslah dengan sahabat yang seperti itu karena kesempurnaan yang demikian jarang ada.

Keempat, dalam berteman dengan orang yang berkepribadian baik, sadarilah bahwa dia adalah manusia yang pasti punya cacat-cacat kecil. Janganlah kita memperhatikan itu secara berlebihan dan berusahalah untuk menutupinya. Instrospeksi diri sendiri, lalu jadikanlah hal itu sebagai tolok ukur terhadap orang lain. Janganlah sampai kita bermusuhan dengannya.

Kelima, tunaikanlah kewajiban kita terhadapnya. Jika ia tertimpa musibah, pahami kesedihannya dan hiburlah ia. Di saat gembira, tampillah dengan wajah ceria. Berbagilah hal-hal yang baik dan jangan jadikan kebaikan sebagai milik sendiri. Jangan berdebat dan bertikai dengan teman. Jika punya kelebihan, janganlah bersikap kikir. Terakhir, jagalah lisan.

***

Huff! Tulisan yang panjang sekali. Semoga doa pemilik buku ini terkabul, “Semoga buku ini bermanfaat bagi diriku sampai istri dan anak-anakku, serta siapa saja yang membaca buku ini. Amiin.”

Aku akan menutupnya dengan kalimat indah Aristoteles yang dikutip oleh Ibn Miskawaih:

“Cita-cita manusia hendaklah jangan cita-cita manusiawi, meski dia manusia. Jangan puas dengan aspirasi binatang yang akan mati, meski dia juga akan mati. … dengan seluruh potensi yang dimilikinya, dia harus bercita-cita untuk hidup dengan kehidupan Ilahi. Manusia, biarpun dia kecil secara fisik, tapi dia besar karena kearifan dan mulia karena akalnya. Akal mengatasi semua makhluk yang ada. Sebab, akal merupakan esensi utama yang menguasai seluruh yang ada melalui perintah Yang Mahatinggi.”

— Aristoteles

2 thoughts on “Wacana III-V Tahdzibul Akhlaq Ibn Miskawaih: Kebaikan, Kebahagiaan, Keadilan, Cinta, dan Persahabatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s