Wacana VI Tahdzibul Akhlaq Ibn Miskawaih: Kesehatan Jiwa

Inilah wacana terakhir kitab Tahdzibul Akhlaq yang ditulis oleh Abu Ali Ahmad Ibn Miskawaih. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Helmi Hidayat dan diterbitkan oleh Penerbit MIZAN pada tahun 1994.

***

Menjaga Jiwa yang Sehat

1# Jiwa yang Sehat dan Jiwa yang Sakit

Penyakit jiwa adalah kekejian dan keburukan yang terjadi pada jiwa dan termanifestasikan dalam perilaku yang mencerminkan akhlak tercela. Sama seperti penyakit fisik, penyakit jiwa memiliki sebab dan obatnya. Sama seperti tubuh yang perlu dirawat, jiwa pun harus dirawat dengan arti kita menjaganya selagi sehat dan memulihkannya kalau sakit. Salah satu cara mencegah penyakit jiwa adalah dengan menjaga pergaulan: tidak bergaul dengan orang yang suka kenikmatan-kenikmatan yang buruk, suka berbuat dosa, bangga dan tenggelam dalam dosa; tidak menghiraukan kata-kata mereka, mendengarkan syair atau lagu-lagu mereka. Jiwa yang sakit penyembuhannya dapat lebih sulit dan memakan waktu lebih lama daripada tubuh yang sakit. Karena itu, kita perlu sungguh-sungguh menjaganya, terutama pada jiwa anak-anak dan remaja yang masih dalam pertumbuhan dan membutuhkan bimbingan.

Mengalami penyakit jiwa sesungguhnya adalah sesuatu yang “wajar”. Menyukai kenikmatan tubuh dan bersantai, misalnya, adalah tabiat alami kita sebagai manusia disebabkan oleh kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam diri. Namun, itu bukan untuk dibiarkan, melainkan dikendalikan dengan akal. Kita pun mengendalikan diri dan hanya menikmati kesenangan-kesenangan itu sebatas yang ditetapkan akal dan yang kita butuhkan saja.

Tanda jiwa yang sehat dan bajik adalah kesukaannya mencari kebaikan dan ingin memilikinya, dan kerinduannya pada ilmu-ilmu yang hakiki dan pengetahuan yang sahih. Kunci menjaga jiwa agar tetap sehat adalah dengan khusyuk melaksanakan tugas yang berkenaan dengan pengetahuan dan praktik (berolahraga). Bila jiwa tak lagi berpikir dan tak lagi mencari makna, ia akan jadi tumpul dan bodoh, dan kehilangan substansi segala kebaikan. Jika ia sudah malas dan bosan berpikir, maka ia tengah mendekati kehancuran, karena dengan malas itulah jiwa melepaskan bentuk khasnya dan kembali pada derajat binatang.

Orang yang sejak kecil terbiasa melatih diri dengan berpikir dan menuntut ilmu, maka di masa dewasa ia akan cenderung terbiasa dengan kejujuran, mampu menanggung beban pikiran, menyukai kebenaran, wataknya menghindari perbuatan batil, dan telinganya akan membenci kebohongan. Orang yang menjaga jiwanya, ia sedang menjaga nikmat yang sangat mulia yang diberikan Allah kepada jiwanya. Inilah kenikmatan internal yang ada dalam diri, yang tidak dapat diperoleh dari luar.

2# Katakan Cukup

Setiap dari kita perlu mengenal apa itu “cukup”.

Kita semua dinasihati, jika kita sudah berkecukupan, sudah cukup memperoleh kebahagiaan eksternal, maka kita tidak sebaiknya hidup berlebihan. Itu dikarenakan bahwa kebahagiaan eksternal ini tak ada batasnya. Semakin orang mengupayakan untuk memperoleh kebahagiaan eksternal yang lebih banyak lagi, maka semakin ia rentan mengalami bahaya yang tak habisnya. Kebahagiaan eksternal yang kita cari adalah untuk meredakan penderitaan agar kita tidak menjadi korban penderitaan, dan bukan untuk bersenang-senang dan mencari kesenangan. Orang yang perlu meredakan rasa lapar dan dahaga, maka tak perlu ia menjadikan makan dan minumnya untuk menyenangkan tubuh, melainkan untuk mengupayakan kesehatannya. Orang yang menjadikan lapar dan haus sebagai sarana mencari kesehatan dan bukan kesehatan, maka bukan kesehatan yang diperolehnya, melainkan sakit, dan kenikmatan yang didambakannya tak akan kekal.

Kita pun dinasihati, jika hidup kita belum berkecukupan dan masih harus bersusah-payah untuk bisa berkecukupan, kita pun tak boleh berlebihan. Kepentingan harus dibatasi agar tak sampai memaksa diri kita untuk bekerja terlalu keras dan berani menghadapi bahaya yang berupa mendapatkan harta secara haram dan menghadapi bencana. Kita harus memilih langkah yang baik sebagai orang yang tahu betul bahwa kenikmatan material itu pada hakikatnya tak berarti.

3# Kendalikan Hawa Nafsu dan Amarah

Kita yang berupaya menjaga kesehatan jiwa dianjurkan untuk tidak menggelorakan fakultas hawa nafsu dan amarah. Biarkan saja keduanya sampai menggelora sendiri pada saatnya ia harus muncul, pada saat ia memang dibutuhkan untuk mencari kebutuhan tubuh. Caranya, gunakanlah akal dengan tidak memberikan perhatian atau mengingat-ingat hal-hal yang dapat membangkitkan nafsu dan amarah. Dengan begitu kita tidak akan menjadikan nafsu dan amarah sebagai tujuan hidup. Manusia diciptakan bukan untuk menjadi budak nafsu dan amarahnya; melainkan menggunakan akalnya untuk menaati perintah-perintah Allah.

Kita perlu menanamkan dalam diri kebencian pada hal-hal yang keji dan melanggar perintah Allah. Jika kita gagal menahan diri, malas, dan berbuat kesalahan, hukumlah diri kita; paksakan diri untuk bersedekah, menambah ibadah, merendahkan hati di hadapan orang lain, dan berhati-hati agar tidak mengulang kesalahan itu lagi. Sebaiknya kita tidak memandang kecil perbuatan salah dan tidak membela diri karena itu hanya akan mendorong kita untuk melakukan perbuatan yang lebih buruk lagi. Orang yang sudah terbiasa mengekang diri sehingga tidak terseret ajakan hawa nafsu, terbiasa bermurah hati ketika amarah bergolak, terbiasa menjaga lidah, tenggang rasa terhadap teman, maka akan ringan apa yang dirasakan berat oleh orang-orang yang belum terlatih.

4# Introspeksi

Berintrospeksi adalah salah satu cara penting untuk menjaga kesehatan jiwa. Tujuan introspeksi adalah mengenali cela apa yang terdapat dalam diri. Galen berkata, “Siapa pun adanya, kalau dia sudah terlalu cinta diri, dia tak akan pernah tahu cela yang terdapat dalam dirinya.”

Untuk mengetahui cela diri, keberadaan teman yang baik saja tidak cukup, karena terkadang seorang teman tidak mampu berkata jujur dan perlu dipaksa atau dibuat hatinya tersentuh dulu agar bersedia mengevaluasi diri kita. Dalam keadaan tertentu, “musuh” bisa jadi lebih bermanfaat ketimbang teman. “Musuh” sering tidak merasa malu menunjukkan cacat kita, bahkan melebih-lebihkan atau berdusta. Memang mengandung risiko, tapi manfatnya, itu menggugah diri kita untuk melihat betapa banyak cela kita, sesuatu yang mungkin tidak pernah kita tahu sebelumnya.

Abu Yusuf bin Ishaq Al-Kindi berkata, “Jika seseorang mencari keutamaan buat dirinya sendiri, ia harus bercermin pada orang yang dikenalnya. Karena (dengan begitu) ia akan melihat cacatnya sendiri, dan karena dia mencari-cari cacat orang lain. Maka, ketika dia melihat tindakan keji yang dilakukan seseorang, dia akan mencerca dirinya sendiri atas tindakan itu, seolah-olah dialah pelakunya… Demikianlah siang dan malam dia meninjau semua perbuatannya, hingga tak ada yang luput dari perhatiannya.

“… Sekiranya kita ketahui kekeliruan tingkah laku kita, maka marahilah diri kita, lalu hukumlah diri kita. Dan jika kita amati tingkah laku orang lain, lalu kita dapati ada satu tindakan keji, maka cercalah diri sendiri karena tindakan itu. Sebab, dengan begitu (kita) akan membenci tindakan keji dan terbiasa berbuat kebaikan. Maka perbuatan keji ini akan selalu teringat oleh benak kita, dan sama sekali kita tak akan lupa sekalipun untuk waktu yang lama. Kita harus senantiasa melakukan kebaikan, agar jiwa kita bersemangat untuk berbuat baik dan tidak mau kehilangan kesempatan berbuat baik.

“Kita tidak boleh merasa puas menjadi seperti (orang) yang memberikan makna kearifan pada orang lain, atau menjadi seperti pengasah pisau yang mempertajam alat lain, tapi dirinya sendiri tidak dapat memotong. … Jadilah matahari yang berguna bagi bulan. Bila matahari menyinari bulan, bulan pun jadi bercahaya sehingga menyerupai matahari, meski sinarnya tak seperti sinar matahari. Beginilah mestinya kita, jika kita menebarkan keutamaan demi keutamaan kepada orang lain.”

***

Menyembuhkan Jiwa yang Sakit

 1# 

Jenis-jenis penyakit jiwa adalah kebalikan dari empat kebajikan (kearifan, kesederhanaan, keberanian, dan keadilan), yaitu: 1) sembrono (berani dalam hal yang tak semestinya dia berani) dan pengecut (takut pada apa yang tak semestinya ditakuti) sebagai lawan dari keberanian, 2) jangak (memperturutkan hawa nafsu) dan frigid (mengabaikan hawa nafsu, kenikmatan yang sah dan diperlukan tubuh, serta dibolehkan syariat) sebagai lawan dari kesederhanaan, 3) bodoh (menggunakan fakultas berpikir pada sesuatu yang tidak baik) dan tolol/ dungu (sengaja mengabaikan fakultas berpikir) sebagai lawan dari kearifan, dan 4) lalim (memperoleh harta/ atau apapun dari sumber salah dan dengan cara yang salah) dan watak budak (tunduk dan memberikan respon pada orang yang salah dengan cara yang salah) sebagai lawan dari keadilan.

Di bawah delapan jenis penyakit jiwa tersebut, masih terdapat banyak lagi jenis-jenis lain yang tak terbatas.

2# Jenis-jenis Penyakit yang Mempengaruhi Jiwa

Marah

Marah merupakan jenis paling parah dari sekian banyak penyakit jiwa. Marah dapat memutuskan fungsi fakultas berpikir yang memutuskan apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Orang yang dikuasai amarah akan sulit mendengarkan orang lain terhadap saran dan nasihat mereka. Anjuran bahkan dapat semakin memperbesar amarah. Ketika marah, tak ada tempat untuk berpikir panjang. Orang yang demikian, dapat berbuat apa saja.

Menyembuhkan marah adalah salah satu ujung dari kesehatan jiwa. Marah adalah gejolak jiwa yang liar dan kuat, yang akibatnya berupa darah hati mendidih hingga menimbulkan nafsu balas dendam. Lawan marah adalah ketenangan jiwa di saat jiwa itu mestinya bergolak dan tiadanya nafsu membalas. Meskipun demikian, ketenangan yang berlebihan dan buruk ini adalah sebab kepengecutan dan kelemahan, sebab kehidupan yang hina dan sengsara. Orang yang “terlalu tenang” menjadi orang yang takluk pada setiap orang, pasrah kalau dihina dan ditindas orang lain, memikul segala skandal yang mempengaruhi diri sendiri, keluarga, maupun harta, mendengarkan ungkapan-ungkapan keji, dan tidak mampu melecehkan apa yang dilecehkan oleh orang-orang yang merdeka.

Manusia tidak mungkin bisa terbebas sepenuhnya dari daya amarah. Namun, sesuatu dapat dilakukan untuk mengendalikannya, mengurangi kapasitasnya agar tidak berkobar secara tidak tepat. Tiap orang tidak sama kadar marahnya karena hal ini tergantung temperamen masing-masing. Banyak hal yang menyebabkan marah, seperti sombong diri, cekcok, meminta dengan sangat, bercanda yang berlebihan, berolok-olok, mengejek, berkhianat, berbuat salah, mencari hal-hal yang membawa kemasyhuran dan yang membuat manusia saling bersaing dan iri. Semua penyebab itu mengarah ke nafsu balas dendam. Akibatnya banyak: sangat menyesal, mengharap dihukum cepat atau lambat, perubahan temperamen, kepedihan, dikutuk orang lain, kematian…

Bagi orang yang marah karena sombong: sombong itu salah mempercayai diri sendiri, di mana diri ditempatkan di tempat pada derajat yang tak patut dimiliki. Orang yang sombong tidak tahu dirinya bahwa ia punya cacat dan kekurangan, dan bahkan kebaikan/ kelebihan itu dimiliki juga oleh orang lain dan ia tidak dapat hidup tanpa orang lain. Orang yang masih memerlukan orang lain, tak patut ia bersikap sombong.

Bagi orang yang marah karena berbangga diri: orang yang bangga karena keluarga, keturunan, harta, atau apapun mesti menyadari bahwa kebaikan-kebaikan itu bukan miliknya, dapat ditimpa bencana dan kehancuran sewaktu-waktu. Sesuatu yang bukan milik kita, tidak ada dalam diri kita, tidak sepatutnya kita bangga-banggakan. “Kalau kamu bangga dengan pakaian dan harta kekayaanmu, maka kebaikan itu sebenarnya ada pada pakaian dan harta yang kamu miliki. Bukan pada diri kamu. Kalau kamu bangga dengan bapakmu, maka sebenarnya kehormatan itu miliknya. Bukan milikmu. Oleh karenanya, kalau kehormata dan kebaikan itu berada di luar dirimu, kamu tak memiliknya, dan jika kehormatan dan kebaikan itu dikembalikan pada pemiliknya, maka siapa kamu sebenarnya?

Takut

Takut timbul akibat merasa bakal terjadi sesuatu yang buruk atau bahaya. “Merasa bakal terjadi” (antisipasi) berkaitan dengan kejadian-kejadian di masa mendatang yang mungkin serius, mungkin remeh, bisa terjadi, bisa belum tentu terjadi. Kejadian-kejadian ini sifatnya baru kemungkinan, bisa diri sendiri yang jadi penyebabnya, bisa orang lain. Orang yang takut adalah orang yang menetapkan dalam hati bahwa yang buruk pasti terjadi. Akibatnya, ia merasakan derita antisipasi itu, sementara peristiwa itu sendiri belum terjadi dan bisa saja tidak pernah terjadi.

Manis dan nikmatnya hidup hanya bisa terjadi kalau kita memiliki keyakinan yang baik dan harapan yang kuat, serta kalau kita buang jauh-jauh kekhawatiran pada keburukan yang belum terjadi. Adapun hal yang menakutkan yang disebabkan oleh pilihan buruk kita atau dosa kita sendiri, maka kita harus mengekang diri untuk tidak mengulang perbuatan itu dengan meninggalkan semua perbuatan keji yang kita cemaskan segala konsekuensinya, dan dengan tidak lagi melakukan perbuatan berbahaya. Jangan kita lupa bahwa kemungkinan adalah sesuatu yang bisa terjadi dan bisa tidak terjadi. Kalau kita melakukan perbuatan dosa, takutlah pada akibat buruk yang mungkin dan bisa terjadi, dengan begitu kita akan mengendalikan diri kita agar terhindari dari terjadinya kemungkinan yang buruk akibat perbuatan dosa.

Takut Mati

Takut mati hanya menghantui orang yang tidak tahu apa itu mati, tidak tahu ke mana sebetulnya jiwanya akan pergi nanti, salah menduga bahwa tubuh dan jiwanya akan hancur dan lenyap tanpa bekas dan bahwa dunia akan kekal karena tidak tahu akhirat, menduga bahwa dalam kematian ada penderitaan yang sangat menyakitkan, yakin akan ada siksa yang bakal menimpanya setelah mati, bingung dan tidak tahu apa yang akan dihadapi setelah mati, dan sayang sekali pada harta sehingga sedih kalau hartanya itu akan ditinggalkan.

Bagi orang yang tidak tahu apa itu mati: kematian itu tak lebih dari sekadar non-aktifnya jiwa dari penggunaan organ-organ yang secara keseluruhan disebut jasad. Mati itu bagaikan seorang pengrajin yang tidak lagi menggunakan alat-alatnya. Ketika jiwa meninggalkan tubuh, maka jiwa akan mencapai kehidupan kekal yang sesuai dengannya, bersih ia dari keruhnya jasmani, dan ia mencapai kebahagiaan sempurna, serta tidak musnah.

Bagi orang yang tidak tahu ke mana jiwanya akan pergi: orang yang demikian hanya tidak tahu kekekalan jiwa dan akhirat. Karena itu, sebenarnya dia bukan takut mati, melainkan tidak tahu apa yang seharusnya ia tahu. Ketidaktahuan inilah yang sebetulnya menakutkan karena ketidaktahuan adalah biang ketakutan. Cara sembuh dari ketakutan ini adalah dengan tahu. Barangsiapa takut pada kematian yang alami dan pasti melanda manusia, berarti ia takut terhadap apa yang mestinya didambakan. Kematian sebenarnya merupakan perwujudan dari apa yang tersirat dalam definisi tentang manusia, yaitu makhluk yang hidup, berpikir, dan akan mati. Karena itu, kematian justru merupakan kelengkapan dan kesempurnaan manusia.

Bagi orang yang berpendapat bahwa kematian membawa penderitaan yang teramat berat, lebih dari penderitaan karena sakit: penderitaan hanya dialami oleh makhluk hidup. Tubuh yang tak dipengaruhi oleh jiwa, tidak akan menderita atau mampu merasakan lagi. Karena itu, kematian yang merupakan perpisahan jiwa dari tubuh  tak membawa rasa sakit atau penderitaan karena tubuh tak dipengaruhi jiwa lagi. Kematian adalah kondisi tubuh di mana tubuh tidak merasakan dan tidak menderita karena kondisi ini melibatkan hilangnya apa yang dirasakan dan diderita tubuh.

Bagi orang yang takut mati karena siksa yang akan menimpa: yang sesungguhnya ditakuti bukanlah kematian, melainkan siksaan. Barangsiapa mengakui kekalnya sesuatu setelah hancurnya badan, maka dia niscaya mengakui bahwa ia telah melakukan perbuatan-perbuatan keji sehingga dia patut dihukum. Tuhan Yang Mahaadil hanya akan menghukum pelaku perbuatan keji, bukan pelaku perbuatan baik. Dengan begitu, orang yang demikian sebenarnya takut pada dosa-dosanya sendiri, bukan pada kematian. Jika takut disiksa karena berbuat dosa, maka jauhilah perbuatan dosa, perilaku-perilaku rendah, dan watak-watak yang buruk

Bagi orang yang tidak tahu apa yang akan dihadapi setelah mati: ia perlu belajar agar tahu dan percaya. Itu satu-satunya obat bagi ketidaktahuannya.

Bagi orang yang berkata tidak takut mati, tapi cuma sedih meninggalkan keluarga, anak, harta, keturunan, dan kesenangan duniawi: kesedihan yang seperti itu tidak membawa manfaat. Manusia dan kehidupan dunia adalah hal-hal yang menjadi. Setiap yang menjadi pasti hancur. Maka, barangsiapa menghendaki tidak hancur, berarti dia menghendaki tidak menjadi. Barangsiapa menghendaki tidak menjadi, berarti dia menghendaki kehancurannya sendiri. Kematian, kehilangan, dan kehancuran adalah bentuk keadilan Allah untuk keseimbangan kehidupan di bumi. Ada lahir, harus ada mati. Karena itu, takut pada kematian berarti takut pada keadilan Sang Pencipta, Kearifan, dan Kemurahatian-Nya.

Sedih Hati

Kesedihan hanyala derita jiwa yang timbul akibat hilangnya apa yang kita cintai, atau karena kita gagal mendapatkan apa yang kita cari. Biang keladinya adalah kita serakah pada harta benda, haus pada nafsu-nafsu badani, lalu merasa rugi kalau salah satu dari semua itu hilang atau gagal kita peroleh. Hanya orang yang menduga bahwa segala kesenangan duniawi yang diperolehnya bisa kekal dan senantiasa jadi miliknya, atau yang menduga bahwa apa saya yang telah hilang darinya pasti bisa diperoleh dan menjadi miliknya kembali, yang akan sedih dan gundah gulana.

Kegagalan dan kehilangan pasti terjadi di dunia ini karena dunia ini tak lain adalah alam-menjadi-dan-hancur. Barang siapa mengharapkan agar sesuatu-yang-menjadi-dan-hancur itu tidak menjadi dan tidak hancur, berarti dia mengharapkan hal yang mustahil. Barangsiapa mengharapkan hal yang mustahil, selamanya ia akan kecewa. Orang yang kecewa selamanya akan gundah gulana. Orang yang gundah gulana selamanya sengsara.

Barang siapa dengan berbuat baik merasa puas dengan apa yang didapatnya dan tidak bersedih hati karena kehilangan sesuatu, maka ia akan gembira dan bahagia selamanya. Kalaupun diperolehnya kebaikan ini, maka hal itu ditempatkannya pada tempatnya yang tepat. Dia hanya akan mengambilnya sebatas yang diperlukannya untuk menghilangkan rasa nyeri dan derita. Dia tidak akan menimbun harta, tidak akan berfoya-foya dan berbangga ria. Sekiranya harta itu lepas dari tangannya, dia tak akan menyesalinya dan tak akan mempedulikannya. Barang siapa yang tidak menerimanya dan tidak mengobati jiwanya dengan cara ini, dia akan gelisah dan bersedih hati selamanya.

***

Demikian, tercapai sudah targetku bulan ini ^^ Satu buku lagi masuk dalam lapangan wawasanku dan juga wawasan teman-teman. Semoga semua ini bermanfaat dan membawa kebaikan yang besar. Selanjutnya aku akan menulis pendapatku sendiri tentang buku ini. Insya Allah di tulisan selanjutnya ^^

One thought on “Wacana VI Tahdzibul Akhlaq Ibn Miskawaih: Kesehatan Jiwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s