Menangkan Pergulatan Spiritualmu

Bertanya adalah ciri kemanusiaan kita. Bertanya adalah cermin rasionalitas. Kita hidup tidak dengan cara yang pasif. Kita bukan makhluk yang menerima begitu saja apa-apa yang diberikan kepada kita. Kita berusaha memahami dan mengerti, untuk menerima atau menolak. Kita mengkritisi satu demi satu hal. Kita tidak ingin hidup apa adanya. Kita ingin rasa. Kita ingin makna.

Tuhan Menciptakan kita tentu dengan “pengetahuan” bahwa makhluk bernama manusia yang diciptakannya ini akan bertanya tentang-Nya, mencari-cari-Nya, ingin menemukan dan menemui-Nya. Manusia dari generasi ke generasi berusaha menemukan jalan untuk mencapai-Nya. Keinginan tersebut begitu jujur dan suci. Ini sama dengan keinginan akan kebahagiaan dan kedamaian yang sejati, ketenangan yang abadi, jawaban yang hakiki.

Manusia mencari “cahaya” untuk meninggalkan dunia yang diselimuti kegelapan yang tidak hanya disebabkan oleh malam. Apa yang disebut dengan kegelapan sebagian berupa kejahatan, penderitaan, kesakitan, kematian yang menaungi kehidupan setiap manusia, sementara sebagian yang lain berupa ketakutan dan kekhawatiran yang ada dalam diri akan hal-hal itu. Sebagian orang bertanya-tanya tentang mengapa kejahatan, penderitaan, kesakitan, dan kematian terjadi di bumi. Di manakah Tuhan yang Maha Pengasih? Namun, sebagian lain bertanya tentang mengapa manusia merasakan ketakutan dan kekhawatiran. Mengapa Tuhan Menciptakan manusia seperti ini?

Mengapa manusia memiliki hati yang mampu merasakan dan diisi dengan kedua hal itu? Mengapa hati ini tidak kosong saja sehingga tak perlu merasakan apa-apa? Mengapa hati ini ada? Mengapa Tuhan menanamkannya dalam jiwa kita? Aku bertanya berulang-ulang dan mendapatkan satu jawaban: agar kita dapat merasakan kebenaran; kebenaran yang sering tidak dapat sempurna dimengerti atau disangkal oleh akal atau indera dalam perjuangan kita memahami kehidupan dan apa-apa yang terjadi di dalamnya. Hati “bersuara” dan suaranya berupa gemuruh dan gejolak yang dirasakan di dalam dada. Ada kalanya ia sunyi. Ada kalanya ia bernyanyi.

Aku pun belajar mendengarkannya, sungguh-sungguh mendengarkannya. Dengan tanganku aku membuka kunci-kunci peti yang menyembunyikan dan meredam keberadaan suara itu. Aku tidak membiarkannya lagi hanya sebagai rasa dengan makna yang tak bermakna. Aku akhirnya dapat berkesimpulan bahwa setiap rasa diciptakan untuk membawa dan mendekatkan kita kepada Allah. Aku berhenti bertanya kepada Allah: “Di manakah Engkau yang Maha Pengasih dan Penyayang?” Aku kini bertanya pada diriku sendiri: “Mengapa kau tak mengasihi dan menyayangi dirimu sendiri dengan menyerahkan diri pada apa kata-Nya? Mengapa kau menyakiti dirimu sendiri dengan tidak menurut pada Ia yang Mengasihi dan Menyayangimu?”

Lalu perjalanan itu dimulai, perjalananku sebagai manusia, mungkin hanya untuk melihat seberapa besar ini benar dan mengapa ada yang menganggap ini salah. Satu ayat yang tidak pernah membuatku selesai berpikir: “… barang siapa yang mengikuti Petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Al Baqarah 2: 38) mungkin membimbingku.

***

Ada lubang hitam dalam agama, termasuk dalam agama kita, Islam.

Allah menurunkannya sebagai satu jalan yang lurus dan terang, tetapi bagi setiap manusia yang pernah hidup dan menerimanya, itu berarti miliaran jalan menuju-Nya di level individual. Itu berarti miliaran jawaban dan penjelasan bagi setiap pertanyaan tentang kehidupan. Betapa pun manusia berkelompok-kelompok berdasarkan kesamaan paham dan pengertian, tetap ada berjuta-juta jalan menuju-Nya. Ketiga Rasul-rasul diutus-Nya, jalan itu dimurnikan dari hal-hal yang menyesatkan manusia dalam mencapai Tuhan. Namun waktu terus berlalu. Bagi setiap manusia yang pernah hidup dan menerimanya, sekali lagi itu berarti ada miliaran jalan. Meskipun demikian prinsipnya jelas, manusia perlu tahu untuk mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

“Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS Al Israa’ 17: 15).

Apa yang kemudian aku maknai sebagai lubang hitam agama mengacu pada suatu sisi agama yang tak terjelaskan, yang tidak terang, dan justru menjadi labirin dengan jalan keluar yang sulit ditemukan bagi orang-orang yang memasukinya; juga sisi agama yang tidak menjelaskan, tidak menerangi, dan justru sebab kebingungan, keruwetan, dan perselisihan bagi orang-orang yang menjadikannya sebagai pedoman hidup. Tidak salah jika kemudian sejumlah ahli psikologi menemukan bahwa ada bagian dari agama yang sifatnya merugikan diri manusia, yang memicu terjadinya pergulatan spiritual pada orang-orang yang mendapati ketidaksinkronan atau kontradiksi terkait peran agama yang sakral.

Sejumlah gangguan psikologis yang melibatkan distres emosional salah satunya disebabkan oleh adanya pergulatan spiritual. Orang yang mengalaminya bukan tidak menderita, melainkan sangat menderita. Dalam kondisi meragu dan mempertanyakan kebenaran agama, ia mengalami “kerenggangan” hubungan dengan Tuhan, yang mana itu berarti ia kehilangan sumber dukungan terbesar dalam menghadapi berbagai permasalahan kehidupan. Ia mengalami persoalan interpersonal, lantaran orang-orang yang memandang buruk dirinya yang bersikap “anti” pada agama karena menggugat. Ia pun mengalami konflik batin dalam usahanya memahami kontras-kontras dan menemukan titik terang yang tidak juga terlihat.

Bisakah kita memahami fenomena ini dengan cara seperti itu?

Mereka orang-orang yang memutuskan berhenti shalat, berhenti membaca Al Quran, berhenti bersedekah, berhenti berpuasa karena mereka rasakan agama tak memberi apa-apa kecuali persoalan. Mereka orang-orang yang kemudian tenggelam dalam urusan dunia dan pencarian kesenangannya dan tidak lagi percaya pada kehidupan akhirat. Mereka yang memandang agama hanyalah kebohongan dan permainan yang dibuat-buat lantaran ketakutan-ketakutan manusia. Mereka yang mempertanyakan dan kehilangan keimanan. Mereka yang lalu berubah haluan, mencari agama lain atau menjadi tak bertuhan. Mereka yang merasakan ada gejolak dan gemuruh dalam hati mereka. Mereka sesungguhnya sedang berada dalam suatu pencarian akan Tuhan yang ingin sekali Diri-Nya ditemukan dan mereka ingin memenangkannya.

Hati mereka mungkin pernah tertutup rapat atau sekeras batu; tetapi di sela-selanya masih mengalir air. Oleh sentuhan yang paling lembut, hati mereka dapat tergerak untuk merobohkan tembok yang membatasi cahaya dari menyinari mereka. Mereka pernah menjadi penentang dan pembangkang, tetapi siapa yang tahu tentang bagaimana manusia berubah? Ketimbang penilaian negatif, kritik, dan oposisi, mereka lebih butuh dipahami, dibantu, dan dirangkul sebagai saudara sesama manusia. Dan cara terbaik membantu mereka adalah dengan tidak menjadikan diri kita sendiri mengandung pertentangan atau kemunafikan dan ancaman.

Kita hidup bukan untuk memperdebatkan mana jalan hidup terbaik, melainkan dengan satu jalan yang sudah kita yakini, kita berkomitmen di dalamnya dan bersiap mempertanggungjawabkannya.

Semoga kita mampu selalu bersyukurlah kepada Allah atas nikmat-Nya berupa petunjuk karena tidak sedikit orang yang butuh bertahun-tahun bahkan seumur hidup hanya untuk mendapatkan pengetahuan paling hakiki bahwa Allah adalah Tuhan-nya. Semoga kita mampu selalu menghargai hidup atas ketentraman, ketenangan, dan kebahagiaan yang diberikan-Nya sebagai hadiah bagi orang-orang yang berserah diri, yang beriman dan ber-Islam dengan niat yang benar. Semoga kita mampu selalu memetik pelajaran dari kehidupan ini dan bersegera kembali ke jalan yang benar di mana pun kita tersesat. Itulah kemenangan, menemukan wajah Allah di mana pun kita menghadap.

***

PS: four more days ^^

2 thoughts on “Menangkan Pergulatan Spiritualmu

    • Wah, itu memang sempat saya pikirkan, antara menangkan atau menangi. Tapi, setelah dipertimbangkan, saya justru tidak bisa membedakan keduanya. Jadi saya pilih “menangkan” saja yang enak di telinga saya😀

      Mis. Kamu harus memenangkan pertandingan ini! -> Menangkan pertandingan ini!

      Begitulah isi kepala saya waktu memutuskan judul…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s