Tentang Pluralitas dan Minoritas

1#

Hal yang membuat kita berbeda adalah yang membuat kita menjadi beragam. Hal yang membuat kita berbeda juga adalah yang membuat kita tersegregasi menjadi kelompok-kelompok, yang mayoritas atau minoritas, kelompok yang mendominasi atau yang tersingkir. Apakah itu?

Identitas. Siapa kita.

Identitas adalah salah satu objek pencarian terbesar manusia. Hal yang paling sederhana adalah wajahmu, lalu nama, jenis kelamin, gender, ras dan etnis, dan tempat tinggal yang menunjukkan dari mana asalmu. Hal yang lebih kompleks: status ekonomimu sebagai orang kaya, biasa, atau miskin; status pendidikanmu sebagai orang terpelajar dari jenjang sekolah dasar sampai perguruan tinggi atau tak berpendidikan; pekerjaanmu (apa yang kau lakukan di masyarakat) yang menunjukkan status sosialmu sebagai orang terhormat, orang biasa, atau yang termarjinalkan. Dan, yang paling kompleks: pandangan politik, ideologi, kepercayaan, pandangan hidup, dan agamamu.

Banyak manusia berkonflik dan berperang karena perbedaan dan keragaman identitas ini. Tapi, apakah karena itu lantas kita mengira berharap dan menjadikan orang lain sama seperti kita adalah solusinya? Aku berkeyakinan bukan. Aku berpikir, betapa pun kita sendirian sebagai individu, bukankah kita tetap berkonflik dengan dan dalam diri kita sendiri? Jadi, apa jaminan jika orang lain sama dengan kita maka konflik tidak akan terjadi. Karena itu, akar konflik bukanlah pada perbedaan itu, melainkan hal yang lebih dalam ketimbang perkara identitas, yaitu ego.

Benarlah Allah berfirman:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami Menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di Sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al Hujurat 49: 13)

“Sesungguhnya Allah Menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah Melarang perbuatan keji, kemunkaran, dan permusuhan. … Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain.” (QS An Nahl 16: 90, 92)

“Hai orang-orang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Maidah 5: 8)

Di Indonesia ini, sebagai muslim, kita mungkin senang, tenang, dan merasa kuat dengan menjadi umat mayoritas. Namun demikian, aku menyadari bahwa di dalam kondisi mayoritas ini terdapat ujian-ujian dari Allah. Al Quran telah memperingatkan kita, pertama tentang kemungkinan penyalahgunaan kekuatan jumlah sebagai alat menzalimi mereka yang minor atau kalah dalam jumlah, yang mana itu dapat memicu permusuhan dan perselisihan. Kedua, adalah kemungkinan munculnya kebencian terhadap kaum lain yang bukan kita, yang itu mendorong kita untuk berlaku tidak adil. Dan ketiga, adalah kemungkinan keengganan untuk saling mengenal kelompok, suku, atau bangsa lain lantaran perasaan bahwa kita lebih baik, kita umat terbaik.

Sungguh banyak dari kita yang tertipu bahwa kunci ke-Ridha-an Allah adalah identitas ke-Islam-an; bahwa dengan sekadar terkelompokkan sebagai beragama Islam atau berafiliasi pada kelompok keagamaan Islam tertentu, kita akan menjadi “umat terbaik” itu. Bagiku bukan itu, melainkan Islam itu sendiri yang kita hidupkan dalam hidup kita, dalam setiap napas dan gerak kita, dalam perilaku kita terhadap diri sendiri, sesama yang segolongan maupun yang tidak, yang kita akrabi maupun yang kita benci.

Ketika Allah menyatakan bahwa adil itu lebih dekat pada takwa, adakah dari kita yang mulai memperhatikan perkara adil ini secara lebih baik dengan pandangan mata yang terang tanpa prasangka? Janganlah bicara kebenaran dan surga sebelum kita mengerti tentang apa itu keadilan dan apa itu kezaliman, sebelum kita mencintai keadilan dan membenci kezaliman.

***

2#

“On Plurality and Minority” adalah tema konferensi internasional The Sixth Al-Jami’ah Forum yang diadakah oleh Al-Jami’ah Research Center, UIN Sunan Kalijaga, yang aku ikuti pada 6-8 Desember 2013 yang lalu. Dalam acara itu aku mencatat banyak sekali hal, yang tentu saja sulit untuk diceritakan semuanya di sini.

Satu hal yang aku simpulkan adalah bahwa kita tidak dapat menahan gerak dan laju natural masyarakat dalam mengalami, menghadapi, dan mengatasi konflik yang terjadi lantaran perbedaan dan keragaman identitas, terutama identitas keagamaan. Jika kemudian terjadi akulturasi atau asimilasi, itu adalah fakta. Kita tidak dapat menahan manusia yang berpikir untuk mencari jalan penyelesaian persoalan hidupnya bersama hidup manusia lain. Jika kemudian kita menemukan bahwa agama tidak lagi dilakukan dalam bentuk termurninya, melainkan bercampur dengan budaya dan adat, memang ada baiknya kita memberikan nasihat, tetapi lebih dari itu kembalikan perkara ini kepada Allah yang Maha Mengetahui hati masing-masing manusia yang berusaha hidup sesuai kondisinya.

Topik-topik mengenai pluralitas dan minoritas sungguh sangat beragam.

Pertama, terkait persoalan kelompok agama, yang paling populer adalah konflik Sunni-Syiah (dibahas oleh tiga pemakalah berdasarkan riset mereka). Sebagai orang awam yang hanya mendapatkan pengetahuan dari apa kata orang, buku, dan berita, persoalan Sunni-Syiah berputar pada persoalan apakah Syiah itu Islam atau bukan yang dijawab dengan pernyataan Syiah bukan Islam, yang mana itu mencerminkan keyakinan dan pemikiran kelompok mayoritas Sunni di negeri ini.

Tahukah kita apa dampak dari keputusan tersebut? Tulisan-tulisan menyudutkan dan mencari-cari keburukan para penganut Syiah, yang itu disebarkan dengan bebas di dunia maya maupun nyata. Organisasi-organisasi masyarakat yang menebarkan ancaman penyerangan terhadap komunitas Syiah di sana dan di sini. Pelecehan terhadap ulama-ulama Syiah. Konflik horizontal dan pertikaian nyata yang menjatuhkan korban, yang dibumbui permasalahan sosial, ekonomi dan politik.

Aku lebih senang menempatkan diriku di tengah-tengah sekalipun aku seorang Sunni dan berkeyakinan bahwa titik temu dan koeksistensi layak diusahakan. Aku orang yang pernah berkata lebih baik 20 tahun belajar baik-baik tentang Syiah dan Sunni terlebih dahulu dan menahan kesimpulan akan pertanyaan yang manakah yang Islam. Aku merasa sikap seperti ini lebih berharga ketimbang kepercayaan buta pada pendapat mayoritas.

Kedua, terkait persoalan etnis. Inilah keunikan muslim di Indonesia, di mana Islam dianut oleh suku-suku yang beragam di seantero Indonesia. Sejumlah kasus sangat menarik: koeksistensi muslim Jawa dan masyarakat Tiong Hoa di Jawa Tengah, muslim Sasak dan orang Hindu Bali, umat muslim minoritas di Sulawesi Utara, dan muslim Minang dan Mandailing dan masyarakat Katolik Batak di Sumatera Barat. Kita yang wawasan ke-Islam-an kita lebih banyak dipengaruhi pemikiran-pemikiran fundamentalis asal Timur Tengah mungkin akan sulit mengerti ini dan akan sibuk mem-bid’ah-kan banyak keputusan resolusi konflik antarmasyarakat etnis tersebut.

Bagaimanakah Islam diterapkan dalam budaya matrilineal di mana wanita adalah yang memimpin? Bagaimana Islam diterapkan di negeri yang dikuasai oleh suatu suku yang tidak menganut agama Islam? Bagaimana Islam diterapkan oleh kelompok mayoritas, sementara mereka bertetangga dengan kelompok minoritas bukan Islam? Mereka sudah mengalami konflik berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus tahun yang lalu. Kini mereka berbaur dalam kekerabatan, interaksi sosial, bahkan ritual adat bersama. Itu tak ada dalam “Islam” yang kita “tahu”. Itulah kebijaksanaan mereka yang tak terjelaskan dan ketidaktahuan kita membuat mereka terancam diberi label musyrik.

Kita generasi yang hanya tahu Islam sebagai mayoritas di negara ini, tetapi tidak tentang Islam yang pernah asing dan minor. Kita generasi muslim yang merasakan kehidupan beragama yang telah jauh lebih mudah, tetapi tidak tentang perjuangan orang-orang pertama ber-Islam di nusantara. Kita mungkin lebih kenal Hasan al Bana, Jamaluddin al Alfghani, Muhammad Abduh, Sayyid Quthb, Taqiyyuddin an Nabhani, atau Syeikh Ahmad Yassin. Kita mengagumi dan tergugah oleh mereka yang heroik dan hidup dalam epik. Tapi, ada baiknya kita juga belajar dari mereka yang berjuang dengan kecerdikan dan kreativitas, mencari cara agar Islam dapat diterima tanpa pertumpahan darah dan korban nyawa, lewat adaptasi.

Ketiga, terkait muslim sebagai umat minoritas. Ini bukan masalah utama Indonesia, tetapi iya di Singapura, Thailand, Myanmar, Vietnam, Kamboja, India, Jepang, China, seantero Eropa dan Rusia, benua Amerika dan sebagian Afrika. Di Indonesia, sebagai kelompok mayoritas, diskriminasi lantaran agama bukan persoalan kita, tetapi di luar sana, ini adalah masalah besar. Di negara-negara di mana muslim adalah minoritas, mereka sering menghadapi tantangan religius, pendidikan, sosial, kultural, ekonomi, dan politik. Di banyak negara, mereka mengeluhkan ketidakberuntungan, kekurangan fasilitas, dan kesempatan untuk hidup dengan baik juga sebagai warga negara tersebut. Mereka tanpa perlindungan dan dua hal yang kita sangat harapkan mereka dapat perolah adalah: pengakuan dan kesetaraan.

Harga pengakuan dan kesetaraan sangat mahal. Kita mungkin mulai berpikir bahwa negara yang demokratis, yang menjunjung tinggi ekualitas, lebih baik dalam hal melindungi hak warga negara. Negara kapitalis kaya dengan kekuatan ekonomi yang stabil dalam lebih memberikan jaminan bagi pendidikan dan kesehatan. Negara yang sekular lebih baik memberikan kebebasan beragama. Dan negara yang menghargai pluralitas lebih mampu melindungi kaum minoritas. Namun, pemikiran semacam itu akan dipandang mengkhianati Islam di negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim. Ya. Inilah relativitas yang lain. Kita membutuhkan kondisi untuk bertahan. Tetapi, bersediakah kita menyediakan kondisi yang sama agar orang lain dapat bertahan?

Bagaimana menjawab pertanyaan, berapa harga yang harus dibayarkan untuk mencapai koeksistensi? Kesimpulan resmi konferensi ini adalah dialog antaragama dan dialog intraagama penting, karena konflik tidak hanya terjadi antara muslim dengan nonmuslim, tetapi juga antara muslim dan sesamnya. Itulah langkah awal menunju koeksistensi, jika kita adalah orang-orang yang menghargai tinggi koeksistensi. Benarlah bahwa saling mengenal dan dikenal adalah kebutuhan dan jaminan hidup bersama. Mengetahui kekuatan dan kelemahan setiap pihak adalah kunci toleransi.

***

Kita menemukan kekuatan dan keberanian dari banyaknya jumlah kita. Kita menemukan kepercayaan juga harga diri dari banyaknya jumlah kita. Betapa rentannya menjadi berbeda dan berjumlah sedikit. Betapa lemah, dipenuhi rasa takut, terancam, dan tak berdaya, ketika setiap saat kita menjadi korban stigma dan prasangka, serta kesalahpahaman.

Kita dapat berbeda dalam banyak hal, tetapi selama kita masih manusia, ada baiknya kita ingat sebanyak dan seberagam apapun perbedaan di antara kita, kita berasal dari ibu dan bapak yang sama, dari ruh yang sama yang Ditiupkan Allah pada kala penciptaan kita. Secara agama, persaudaraan kita adalah persaudaraan muslim. Namun secara kemanusiaan, persaudaraan kita adalah persaudaraan sesama manusia. Selalu ada alasan untuk bersikap pemurah dan penyayang. Orang dapat bersikap demikian karena banyak alasan, tetapi sesungguhnya itulah akhlak seorang muslim ketika menghadapi isu pluralitas dan minoritas.

*Semoga aku adalah orang yang dapat menjalankan apa-apa yang aku katakan. Amin ya Rabb.

One thought on “Tentang Pluralitas dan Minoritas

  1. Pingback: Reaching Dream Bag. 16: Dunia di Luar Tempurung | I love life, life loves me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s