Dia Senang Dapat Ranking 15

Balya, kelas 1 sekarang, senang dapat ranking 15. Dia bilang 15 itu lebih banyak daripada 1, jadi dia oke-oke saja dengan ranking 15-nya itu. Di telepon, mendengar cerita ibu tentang perkembangan belajar adik terkecilku itu, aku tertawa. Aku pribadi terkejut dengan optimismenya, atau mungkin tepatnya caranya berpikir yang begitu positif. Apakah itu karena dia belum mengenal makna ranking? Bisa jadi, tetapi aku akan menjadi kakak yang mengajarkannya, membuatnya mengerti apakah ranking itu, agar ia memiliki pemahaman yang bijak tentang apa itu prestasi yang selalu menjadi objek pengejaran berjuta-juta manusia selama berabad-abad. Dia manusia kecil, kelak juga akan menjadi satu dari berjuta-juta manusia itu.

Kemarin Balya datang ke Yogyakarta, mengunjungiku. Adikku tambah besar dan dia membawa berita-berita baik; hasil-hasil kerja kerasnya. Dia yang beberapa bulan yang lalu belum bisa mengendarai sepeda, sekarang sudah bisa ngebut dengan sepedanya. Aku tahu usahanya, dia pernah menjadi satu-satunya anak yang belum bisa naik sepeda di lingkungan tempat tinggal kami. Dia yang dua minggu yang lalu baru akan membaca EBTA Iqro’ jilid 5, sekarang sudah jilid 6. Dia sudah bisa menulis dan membaca; dia sempat menulis surat untukku dengan tulisannya yang masih buruk itu… Kau tahu, rasanya sangat mengharukan, bukan? Dia benar-benar berusaha untuk bisa. Aku bersyukur kepada Allah atas semua itu.

Di sore hari, aku memandikannya setelah sebelumnya bermain-main sebentar dengannya. Aku ingin tahu ceritanya tentang ujian semesternya. Benar adik dapat ranking 15? Benar, dapat ranking 15, ceritanya dengan semangat. Bagaimana soal-soalnya? Susah atau mudah? Susah, katanya. Tapi, ada yang dapat 100. Kataku, itu bagus. Lalu, bagaimana cara adik mengerjakannya? Adik tidak menyontek, bukan? Dia jawab tidak, tetapi teman-temannya iya dan dia diconteki oleh teman-temannya. Ini mungkin situasi yang tak terelakkan, jadi aku berkata, iya, tetapi adik jangan ya. Dia lalu berkata, aku hampir saja mau menyontek, tetapi tidak jadi.

Good job! Adik hebat. Tidak apa-apa adik dapat nilai jelek, tetapi itu hasil kerja sendiri. Dapat nilai bagus, itu juga harus hasil kerja sendiri. Kalau nilai adik bagus, tetapi menyontek, itu berarti bukan nilai adik. Itu nilai bohongan. Itu tidak jujur. Allah tidak suka. Kakak tidak pernah menyontek. Kak Ida dan Kak Marsa juga tidak pernah menyontek. Jadi, adik jangan menyontek juga ya.

Aku tidak tahu bagaimana nilai-nilai moral itu akan sampai, tetapi aku akan berdoa demikian. Aku sadar hidup yang tidak sempurna, di mana suatu saat mungkin saja dia akan pernah bertindak tidak jujur. Dan aku berdoa, semoga selalu ada rasa takut di dalam hatinya, semoga ketidakjujuran itu selalu menyakiti batinnya dan melukai harga dirinya. Semoga selalu ada alasan dan sebab untuk bertindak jujur dan lurus. Sekalipun tidak ada lagi teladan, semoga selalu ada orang-orang yang membantunya untuk jujur dan berbahagia dengan kejujuran itu.

***

Aku jarang bercerita ini pada orang-orang. Aku menjadikan kejujuran sebagai prinsip hidupku. Ketika banyak orang tidak mampu ingat berapa kali mereka pernah menyontek atau bertindak tidak jujur, terutama di sekolah, aku termasuk orang yang ingat kenyarisan-kenyarisanku bertindak tidak jujur.

Aku tahu rasa berdosa dan kegelisahan itu. Waktu kecil, sekitar berusia tujuh atau delapan tahun, ketika pernah (hampir) mencuri permen di toko, aku berakhir mengembalikannya. Pernah di kelas dua aku (hampir) memalsu nilai ulangan yang seandainya satu nomor itu tidak salah jawab aku akan dapat nilai sempurna, aku berakhir mengakui itu pada guru dengan mengatakan itu sebenarnya salah, meskipun jawabannya sudah aku ganti yang benar. Satu kali di SMP, ketika aku sedih dengan guruku yang selalu membanding-bandingkan nilai kelasku dengan nilai kelas sebelah yang lebih baik, aku (hampir) mau menyontek jawaban teman untuk soal yang tidak bisa aku kerjakan, tapi tidak jadi. Aku takut. Aku malu. Masa SMA, pengalaman menjadi underachiever memalukan tidak membuatku rela mengorbankan harga diriku dengan menjadi “pengemis” nilai dengan menyontek atau meminta bantuan teman. Masa kuliah, persoalan-persoalan di masa hidupku sebelumnya tidak lagi menyulitkanku.

Aku kini adalah orang yang berkesimpulan bahwa bersikap jujur itu lebih baik dan mudah. Lebih tidak menyakitkan menanggung akibat dari kejujuran ketimbang akibat ketidakjujuran. Lebih tidak memalukan menanggung akibat dari kejujuran ketimbang akibat ketidakjujuran. Sekalipun menderita, kebahagiaan karena kejujuran lebih kekal di kehidupan yang sebentar ini. Aku tidak perlu mengusahakan “topeng-topeng” yang tidak aku perlukan. Aku tidak perlu berpura-pura baik-baik saja. Hidup dengan cara yang otentik, tidak membohongi diri sendiri, dan sinkron… itu lebih ringan dan menyenangkan.

Dan aku berdoa untuk diriku sendiri, di tengah kesadaran bahwa hidup ini tidaklah sempurna di mana mungkin nanti akan ada saatnya aku bertindak tidak jujur, semoga selalu ada rasa takut di dalam hatiku, semoga ketidakjujuran itu selalu menyakiti batinku dan melukai harga diriku. Semoga selalu ada alasan dan sebab bagiku untuk bertindak jujur dan lurus. Semoga selalu ada orang-orang yang membantuku untuk jujur dan berbahagia dengan kejujuran itu.

***

Kejujuran adalah satu jalan menuju kesempurnaan yang selalu kita perjuangkan dalam hidup yang singkat ini. Kita berharap menjadi pribadi yang sempurna, membentuk keluarga yang sempurna, dan membangun masyarakat yang sempurna. Tapi, sering kita sadar bahwa hambatannya terletak pada diri kita sendiri. Kita tidak bisa menegakkan hukum Allah pada diri kita sendiri. Apakah kita mengira kita akan dimudahkan-Nya untuk mengarahkan dan mengatur orang lain, anak-anak dan cucu-cucu kita jika kita tidak dapat mengarahkan dan mengatur diri kita sendiri? Kegagalan bertanggung jawab atas diri orang lain berakar dari kegagalan bertanggung jawab atas diri sendiri. Kalau kita tak menegakkan kejujuran atas diri kita sendiri, kita tak berhak meminta orang lain untuk jujur. Melakukan yang demikian, justru akan menumpuk kebohongan demi kebohongan, tanda kemunafikan diri.

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS Ash-Shaff 61: 2-3)

Lihatlah ke dalam diri apa-apa yang tidak kita kerjakan, sementara kita mengatakan telah mengerjakannya.

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS Al-Baqarah 2: 44)

Ingat kecaman Allah pada Bani Israil, lihatlah ke dalam diri apa-apa yang tidak kita kerjakan, sementara kita menyuruh orang lain mengerjakannya.

Semoga kita merasa tenang, ataupun merasa buruk, lantaran sebab-sebab yang tepat. Sungguh tulisan ini adalah peringatan bagi diri sendiri.

***

Ini adalah bait-bait nasihat yang diucapkan oleh Abul Aswad ad-Du`ali, seorang tabiin, pengikut setia Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib, peletak ilmu Nahwu yang wafat tahun 65 H.

Abul Aswad berkata,

يَا أَيُّهَا الرَّجُلُ المُعَلِّمُ غَيْرَهُ
هَلاَّ لِنَفْسِكَ كَانَ ذَا التَعْلِيْمُ

Wahai pengajar orang lain
Mengapa kamu tidak mengajar dirimu dulu

تَصِفُ الدَوَاءَ لِذِي السَقَمِ وَذِي العِنَا
كَيْمَا يَصِحُّ بِهِ وَأَنْتَ سَقِيْمُ

Kamu menulis obat untuk orang sakit dan orang sulit
Agar dia sehat, padahal kamu sendiri sakit

وَنَرَاكَ تُصْلِحُ بِالرَشَادِ عُقُوْلُنَا
أَبَدًا وَأَنْتَ مِنَ الرَشَادِ عَدِيْمُ

Dan kami melihatmu terus memperbaiki akal kami dengan petuah
Sementara kamu sendiri tidak mengindahkan petuah itu

اِبْدَأْ بِنَفْسِكَ فَانْهَهَا عَنْ غَيِّهَا
فَإِذَا انْتَهَيْتَ عَنْهُ فَأَنْتَ حَكِيْمُ

Mulailah dengan dirimu sendiri, cegahlah ia dari keburukan
Jika kamu telah menghentikannya maka kamu bijaksana

وَهُنَاكَ يُقْبَلُ مَا تَقُوْلُ ويُشْتَفَي
بِالقَوْلِ مِنْكَ وَيُنْفَعُ التَعْلِيْمُ

Pada saat itu apa yang kamu katakan diterima,
Ucapanmu didengar dan ajaranmu berguna

لاَ تَنْهَ عَنْ خُلُقٍ وَتَأْتِيَ مِثْلَهُ
عَارٌ عَلَيْكَ إِذَا فَعَلْتَ عَظِيْمُ

Jangan melarang sesuatu sementara kamu melakukannya
Aib bagimu, berat perkaranya jika kamu melakukan itu

 

Sumber nasihat: ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s