Poetry of The Week: A Time to Shed

Aku tak tahu siapa aku. Dalam diriku tak kutemukan siapa aku.

Aku bercermin dalam kedalaman matamu, dalam setiap binar dan cahaya.

Tak berlalu, tak berkedip, tak menjauh.

Aku bercermin di dalamnya, pada setiap hal yang terpantul.

Aku menemukanku di sana. Dengan setiap kerut kesedihanku,

dan kau berkata, “Indah kau tanpa kepalsuan.”

 

Aku berharap akan sepasang cahaya itu.

Dengan setiap kejernihannya, aku sempurna.

Tanpa selubung, tanpa kepura-puraan, memandangku penuh.

Aku bercermin di dalamnya, pada setiap hal yang lalu muncul.

Dengan setiap kesadaran bahwa di sana ada aku. Di sana ada aku,

dan kau berkata, “… akhir yang kau temukan.”

 

“Demi setiap kata yang membutuhkan kata-kata yang lain.

Demi setiap suara yang membutuhkan suara-suara yang lain.

Kita adalah bayu yang berhembus. Kita adalah gelombang yang menghempas.

Kita pergi dan mencari, dalam perjalanan menghendaki kembali apa-apa yang lepas.

Bukan gemintang yang dipandangi dengan kerinduan dan kehilangan,

itulah kita.” Itulah kita.

Januari tanggal 3, 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s