Wasiat Ibnu ‘Arabi: Semoga Kau Tidak Mudah Membenci Sesama Manusia, dan Sesama Muslim

Abu Bakar Muhammad ibn al-‘Arabi adalah seorang sufi yang berasal dari keluarga Hatim ath-Tha’i. Ia dilahirkan di Murcia, Andalusia (Spanyol) pada tahun 1165 dan wafat pada tahun 1240 di Damaskus. Di kalangan masyarakat sufi, ia dikenal dengan nama Muhyiddin yang berarti “Penghidup Agama”. Sejak abad kedelapan, ketika ia dan ayahnya pindah ke Seville, ia belajar dengan tekun, dan kemampuan intelektual serta tingkat spiritualnya tampak menonjol di mata para gurunya. Saat berusia 30 tahun, ia mulai mengembara, bukan hanya di Spanyol, tetapi sampai ke Afrika Utara dan Asia. Ajarannya sedemikian berpengaruh hingga ia diberi gelar Asy-Syaikh Al-Akbar (Guru Terbesar).

Buku yang ditulis oleh Ibn ‘Arabi cukup banyak. Sebagian besar darinya tampaknya telah hilang, dan dua di antara karya pentingnya yang masih ada adalah Futuhat Al-Makkiyyah (Pengungkapan Rahasia Makkah) dan Fushush Al-Hikam (Untaian Hikmah).

Buku yang sedang kubaca ini, Al-Washaya li Ibn al-‘Arabi (Wasiat-wasiat Ibnu ‘Arabi; Penj. Irwan Kurniawan, Pustaka Hidayah, 1993) adalah bagian-bagian yang dinukilkan dari Futuhat Al-Makkiyyah yang sering disebut-sebut sebagai suatu ensiklopedia tasawuf. Bagian-bagian yang mengandung nasihat dan wasiat dikumpulkan, dibukukan, dan diberi judul Al-Washaya li Ibn al-‘Arabi. Buku ini berisi 200 wasiat beliau tentang berbagai aspek kehidupan yang bermanfaat bagi kita untuk menjalani kehidupan ini.

***

Benar. Ada 200. Dan aku sudah menyelesaikan 70. Masih jauh dari selesai, tetapi memang ini yang aku cari: kebersamaan dengan seorang guru. Jarak kita dengan orang-orang seperti Ibn ‘Arabi telah ratusan tahun lamanya, bukan? Yang tersisa, entah kenapa, hanya pemikiran, dan itulah hal terbaik dari diri mereka sehingga Allah melestarikannya. Aku memanfaatkan waktu luangku, sebelum tidur atau jika lelah mengerjakan tugas kuliah, dengan berpaling pada buku ini.

Buku ini tidak memberikan hal yang benar-benar baru. Inilah yang mengagumkan itu. Buku ini sepenuhnya berisi Al Qur’an dan hadist-hadist nabi, hanya saja disampaikan dalam bentuk nasihat-nasihat yang ramah dan diintegrasikan dengan kehidupan sehari-hari. Dari buku ini aku jadi tahu bahwa permasalahan umat di tahun yang mana saja, di abad yang mana saja, dan di mana saja, adalah sama saja. Akhir zaman itu juga sudah terhitung sejak masa Ibn ‘Arabi hidup. Masalah-masalah perilaku, kebejatan-kebejatan manusia, perkara orang-orang saling membenci dan saling mengkafirkan, orang-orang yang mengalami kekeringan spiritual… di mana-mana sama saja. Kita semua sama-sama mencari jalan yang benar dan berusaha menempuhnya. Ibn ‘Arabi telah berusaha, sama seperti kita yang juga berusaha. Setiap generasi memiliki tantangannya masing-masing, dan Ibn ‘Arabi di mataku bagaikan orangtua bijak yang mengulurkan tangannya untuk kita, generasi yang masih muda.

Beliau lahir tahun 1165, 54 tahun setelah Al-Ghazali wafat (tahun 1111). Dalam benakku aku berpikir, sungguh manusia-manusia mutiara kehidupan muncul dan menghilang, sambung-menyambung membentuk jalinan yang begitu indahnya. Semoga Allah membalas kebaikan mereka, perjuangan mereka. Semoga Allah menghadiahkan kita pula kebaikan, karena kita telah menyediakan diri untuk menjadi manusia-manusia yang belajar dan mencari hikmah dan nasihat. Semoga hidup kita tidak pernah kering dari nasihat-nasihat yang baik.

***

Memimpikan Rasulullah Saw. adalah hal yang tak bisa diragukan kebenarannya. Yang mendorongku menulis kali ini adalah satu wasiat Ibnu ‘Arabi yang menceritakan isi mimpinya bertemu Rasulullah:

Berhati-hatilah engkau agar jangan membenci orang yang menolong Allah dan Rasul-Nya atau yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Aku pernah bermimpi bertemu dengan Rasulullah Saw. pada tahun 590 di Tlemcen (sebuah kota di Al Jazair). Telah sampai kepadaku kabar mengenai seseorang yang membenci Syaikh Abu Madyan. Aku yakin bahwa Abu Madyan termasuk tokoh di kalangan kaum arif. Aku benci kepada orang yang membenci Abu Madyan. Maka, Rasulullah Saw. pun bertanya kepadaku dalam mimpiku itu:

“Mengapa kau membenci si fulan?”

“Karena ia membenci Abu Madyan,” jawabku.

“Bukankah ia mencintai Allah dan mencintaiku?”

“Betul, wahai Rasulullah, ia mencintai Allah Swt. dan mencintaimu.”

Beliau bertanya lagi kepadaku, “Lalu mengapa engkau membencinya karena kebenciannya kepada Abu Madyan? Mengapa engkau tidak mencintainya karena kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya?”

“Wahai Rasulullah, demi Allah, mulai sekarang aku tidak akan keliru dan lupa. Sekarang aku bertobat dan ia menjadi orang yang paling aku cintai. Engkau telah mengingatkan dan memberiku nasihat, semoga Allah memberikan shalawat kepadamu,” jawabku.

Ketika bangun, aku ambil pakaian yang mahal harganya, harga yang tidak kuketahui nilainya. Aku tunggangi kendaraanku dan pergi menuju rumahnya. Lalu aku kabarkan apa yang telah terjadi. Maka ia menangis dan menerima hadiah dariku. Ia menjadikan mimpi itu sebagai peringatan dari Allah Swt. Maka hilanglah kebencian dalam dirinya kepada Abu Madyan, dan berbalik mencintainya. Aku ingin tahu sebab kebenciannya kepada Abu Madyan, padahal ia mengatakan bahwa Abu Madyan adalah seorang saleh. Aku tanyakan hal itu kepadanya. Maka ia menjawab:

“Kami pernah hidup bersamanya di Bougie (sebuah kota pelabuhan di Al Jazair). Pada hari raya ‘Id Al-Adhha, dibawakannya kepadanya hewan kurban. Lalu ia membagikan daging hewan kurban itu kepada sahabat-sahabatnya. Akan tetapi, ia tidak memberikan sedikit pun kepadaku. Inilah sebab kebencianku kepadanya, dan sekarang aku telah bertobat.”

Lihatlah betapa bagus pengajaran Nabi Saw. Beliau adalah orang yang pengasih dan lemah lembut. (h. 181)

***

Kisah itulah yang membuatku… bersedih. Karena ingat, ujian/fitnah terbesar umat Islam saat ini adalah kebecian pada sesamanya sendiri. Aku bukan orang yang membenarkan dan mentoleransi penyimpangan-penyimpangan yang terjadi lewat keberadaan golongan-golongan umat yang kita cap sesat dan menyesatkan. Tetapi, ketika mereka berusaha mengatakan diri mereka (masih) Islam, sesungguhnya ada alasan bagi kita untuk tetap mencintai mereka dan selanjutnya melakukan sesuatu selayaknya orang yang menyayangi sesamanya. Kita belum berhasil melihat lebih jauh pada karunia apa yang Allah akan berikan atas kesediaanku kita mencintai dan meredam kebencian.

Membaca wasiat Ibnu ‘Arabi tentang bagaimana Rasulullah Saw. menasihatinya, aku jadi membayangkan Rasul mendatangi diriku, diri kita. Beliau bertanya:

“Mengapa kau membenci si fulan?”

“Karena ia tidak masuk dalam golongan saya. Dia Syiah. Dia Ahmadiyyah. Dia berpahaman liberal. Dia fundamentalis. Dia kolot. Dia berpaham sekular. Dia bukan muslim yang taat. Dia ahli neraka. Dia masalah sosial. Dia tidak mendukung negara Islam. Dia seorang nasionalis. Dia pemecah-belah umat. Dia pluralis. Dia menjelek-jelekkan ustadz saya. Dia menghina pemimpin partai saya, dan partai saya. Dia pro-Barat, dia, dia…” jawabku.

“Bukankah ia muslim? Bukankah Allah Tuhannya dan aku nabinya?”

Beliau bertanya lagi kepadaku, “Lalu mengapa engkau membencinya karena semua itu? Mengapa engkau tidak mencintainya karena kemuslimannya?”

Aku membayangkan seperti itu. Mereka bukan orang yang berkata mereka membenci Allah dan Nabi; apa alasan terbaik kita sehingga kita membenci mereka. Kenapa tangan kita tidak berat merusak kediaman mereka? Kenapa kita tidak berat menyebarkan berita-berita yang memojokkan mereka? Kenapa mulut kita tidak berat mendiskusikan buruknya keadaan mereka? Kenapa pikiran kita tidak berat mencari cara agar mereka resmi terlarang; menulis buku-buku dan artikel-artikel untuk membuktikan kesalahan mereka? Kenapa kita tidak berat melakukan hal-hal yang seperti itu?

Di mataku, kita yang seperti itu adalah kita yang merugi. Kita lupa hal yang sederhana sekali, yang sudah kita hafal sejak lama sekali:

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” QS Al-‘Ashr (103): 1-3

Dan aku sadar, nasihat-menasihati itu tidak akan pernah terjadi dan justru menciptakan permusuhan dan perpecahan jika tidak ada rasa kasih sayang di dalam hati ini. Aku tak punya kemampuan lebih untuk mencerna banyak ayat dan mengajarkan banyak ayat pula. Di antara yang sedikit yang aku pahami dan aku tanamkan dalam diriku sendiri, semoga Allah memudahkanku untuk menjadi penyambung lidah para ulama yang arif. Semoga kita adalah generasi yang menghidupkan nasihat, saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang (QS Al-Balad [90]: 17-18). Semoga kita adalah orang-orang yang memenuhi perintah Allah menghubungkan apa-apa yang Ia perintahkan supaya dihubungkan: silaturahim (QS Ar-Ra’ad [13]: 21).

One thought on “Wasiat Ibnu ‘Arabi: Semoga Kau Tidak Mudah Membenci Sesama Manusia, dan Sesama Muslim

  1. Pingback: Hari Perpisahan dengan Ibnu ‘Arabi | I love life, life loves me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s