Reaching Dream Bag. 15: Melihat pada Enam Bulan ke Belakang dan Enam Bulan ke Depan

Hehe ^^ Aku menunggu-nunggu bisa menulis tentang ini. Pengalaman belajar di Yogya sangat luar biasa. Senang dengan hidup yang dipacu setiap saat dengan target-target, tidak hanya terkait tugas kuliah, tetapi juga pengejaran-pengejaran pribadi. Setiap harinya aku merasa hidup. Aku bergerak. Aku membuat kemajuan. Aku tidak tahu seberapa telah-berubah aku yang sekarang jika dibandingkan dengan aku yang lalu. Apapun itu, sekecil apapun itu, rasa syukurku besar sekali. Ya Allah, terima kasih banyak atas segala rahmat-Mu!

Hal yang paling menarik tentu saja adalah kuliah dan mata kuliah-mata kuliahnya. Tidak semuanya sesuai dengan harapan, tetapi sejauh ini tidak ada yang mengecewakan. Sejak awal aku sadar bahwa tidak bijak aku hanya mengandalkan apa yang bisa diberikan di dalam kelas. Karena itu, aku menyusun rencana belajarku sendiri. Di samping mengikuti dengan baik apa yang ada di dalam, aku mencari tambahan dari luar, tepatnya dari luar fakultas psikologi. Aku berharap bisa menceritakannya satu demi satu, tetapi bukan di tulisan ini tempatnya. Di kesempatan ini aku benar-benar ingin berbagi tentang kehidupan akademikku.

***

Aku masuk Program Magister Psikologi UGM tidak dengan harapan yang banyak, melainkan harapan yang jelas. Pertama, aku ingin meluaskan diriku yang aku sadari seperti katak dalam tempurung. Ini sungguh-sungguh terkait hasil evaluasi diriku atas pengalaman menjadi mahasiswa S1. Dahulu aku banyak melewatkan kesempatan-kesempatan baik karena satu dan lain hal. Sekarang kesempatan itu banyak sekali seperti didatangkan untukku. Allah seperti menjawab doa-doaku, bukan? Jadi, sejak awal aku bertekad aku tidak akan menyia-nyiakan ini. Aku ingin memenuhi diriku dengan hal-hal baik dan bijak.

Kedua, masa hidupku yang sekarang terasa merupakan masa yang paling menentukan bagi masa depanku. Sebuah cita-cita yang panjang, yang aku tanam benihnya, aku semai, dan rawat sejak kanak-kanak: menjadi seorang ilmuwan. Itulah yang membuatku tidak merasa rendah ketika sering ditanya orang, “Kenapa tidak masuk Magister Profesi Psikologi?” Tentu saja jawabannya adalah: “Saya ingin jadi ilmuwan.” Apakah itu mudah? Tidak, karena setelah dipikir-pikir aku perlu membangun sebuah definisi “apakah ilmuwan itu”.

Apakah ilmuwan itu berarti menjadi seorang dosen atau pengajar? Ya. Mereka pekerja ilmu pengetahuan, tetapi bagiku definisi yang seperti itu tidak cukup. Apakah berarti menjadi seorang peneliti? Ya. Mereka sungguh-sungguh pekerja ilmu pengetahuan, tetapi bagiku itu pun belum cukup. Apakah menjadi seorang yang mampu menulis buku, menulis banyak artikel ilmiah, mengikuti begitu banyak konferensi ilmiah nasional dan internasional, mengabdi pada masyarakat dengan ilmu? Ya. Yang semacam itu adalah kehidupan seorang pekerja ilmu pengetahuan. Tetapi, satu hal lagi.

Aku ingin ilmu pengetahuan menjadi jalanku mencapai keridhaan Allah. Jadi bagiku, ilmuwan adalah orang yang menuju Tuhan dengan kendaraan yang bernama ilmu pengetahuan. Itulah ilmuwan. Itulah ilmuwan yang sesungguhnya.

Karena itu, berada di kampus ini, aku ingin belajar membangun sikap. Ini bukan pelajaran yang akan kudapat dari ruang kuliah, melainkan ruang kehidupan. Kehidupan akademik adalah kehidupan. Kehidupan sosial juga adalah kehidupan. Kehidupan personal adalah kehidupan. Kehidupan spiritual adalah kehidupan. Apapun adalah kehidupan. Kampus ini hanyalah ruang, sama seperti bagian dari dunia yang lain. Aku tak melihat ada batas sekalipun tempat ini dipenuhi dinding dan dikelilingi pagar. Di dedaunan, di titik-titik air dari langit, di setiap manusia yang lewat, di setiap burung yang terbang tinggi, di setiap suara, di mana saja… ada ilmu yang akan mendekatkanku kepada Tuhan. Aku jadi tidak bisa menyelekan mereka. Aku ingin bisa menyerap mereka sebaik mungkin. Aku tidak ingin melewatkan setiap bisikan Tuhan yang samar sekali itu. Dan, aku ingin agar orang lain bisa ikut mendengarkan apa yang aku dengar itu, ikut merasakan kesenangan yang aku rasakan. Dunia sungguh adalah tempat bermainku. Rasanya benar-benar bebas dan menyenangkan!

Haha… aku membayangkan ilmuwan adalah orang yang hidup dengan perasaan seperti itu. Semoga benar seperti itu.

Ketiga, aku ingin mendapatkan manfaat sebesar mungkin dari berkesempatan menjadi mahasiswa lagi. Suatu ketika di awal semester, aku membuat evaluasi: aku suka dengan semua mata kuliahku. Aku tidak bisa menemukan cacat di dalamnya, sekalipun aku mencari-carinya.

1# Analisis Multivariat

Memang sempat dosen mata kuliah ini beberapa kali tidak hadir. Cara mengajarnya pun luar biasa cepat. Beberapa temanku mengeluhkan mata kuliah ini tidak memenuhi kebutuhan mereka, tetapi bagiku analisis multivariat adalah mata kuliah favoritku dan benar-benar memuaskan. Motivasiku banyak.

Pertama, lama sekali aku sadar bahwa aku tidak bisa “membaca” artikel penelitian kuantitatif. Aku tidak mengerti maksud angka-angka dan lambang-lambang itu. Kelas ini menyadarku dan mendorongku untuk membuka buku statistika untuk kedua kalinya. Alhamdulillah, aku dimudahkan Allah untuk paham. Sekarang aku sudah lebih baik, meskipun memang harus perlu belajar lagi.

Kedua, meskipun aku (pada awalnya) lebih suka studi kualitatif, keinginanku menjadi ilmuwan menuntutku untuk mengerti dan bisa menggunakan semua metode penelitian. Banyak orang yang mengkritik pendekatan kuantitatif dalam psikologi, tetapi bagaimana aku bisa ikut mengevaluasi dan memperbaiki kalau aku tidak mengerti duduk perkaranya. Akhirnya, aku belajar betul kelemahan dan kekuatan setiap pendekatan. Aku bisa berkesimpulan bahwa sesungguhnya semua hal saling melengkapi dan menyempurnakan. Ini menjadikan metode kuantitatif berharga untuk dipelajari, bukan?

Ketiga, bersamaan dengan mempelajari semua itu, aku juga jadi belajar tentang sejarah bagaimana semua itu ada. Begitu panjang kerja para ilmuwan itu. Aku jadi mengenal banyak nama dan tidak bisa tidak aku salut pada mereka yang menyediakan diri hidup dengan matematika. Aku sangat menghargai mereka. Aku sangat berterima kasih, mereka orang-orang yang mencari tahu tentang apa makna angka. Angka bisa bicara. Aku ingin mengutip lagi kalimat Galton, kalimat yang membuatku menyukai dan sangat menghargai statistika:

“Some people even hate the name of statistics, but I find them fully of beauty and interest. Whenever they are not brutalized, but delicately handled by the higher methods, and are warily interpreted, their power of dealing with complicated phenomena is extraordinary. They are the only tools by which an opening can be cut through the formidable ticket of difficulties that bars the path of those who purse the science of man.”

2# Filsafat Ilmu

Sama seperti analisis multivariat, menempati tempat teratas mata kuliah favoritku. Memang yang diajarkan di dalam kelas masih sangat dangkal, hanya permukaan saja, dan tidak menyentuh bumi, tetapi ia memberiku jalan untuk memasuki dunia filsafat ilmu yang penuh gejolak. Ia memberiku pijakan untuk selanjutnya memulai pencarianku sendiri tentang hakikat ilmu dan bagaimana seharusnya psikologi islami dibangun.

Di dalam kelas ini, aku sering berpikir-pikir sendiri, apakah islamisasi ilmu yang sering didengung-dengungkan itu? Seperti apakah ilmu yang disukai Allah? Apa esensi dari upaya mengislamisasikan psikologi? Apakah itu sekadar karena kita orang Islam sehingga terlekati kewajiban asasi untuk mengembangkan ilmu-ilmu Islam? Aku membayangkan menganut paham seperti itu akan menjadikanku seperti tukang cukur yang asal pangkas sana dan sini rambut di kepala pelanggannya. Ya, karena kita sendiri sulit bersepakat apakah yang islami itu. Contohnya, macam yang islami menurut Taliban adalah anak perempuan tidak boleh sekolah. Jika ahli psikologi menganut paham yang semacam itu, tentu pergi ke sekolah akan dilabel perilaku antisosial. Kalau mau ada training motivasi yang akhirnya training itu pasti bernama training motivasi tetap tinggal di rumah.

Aku sampai pada titik di mana aku ingin meninggalkan perdebatan islamisasi ilmu. Aku ingin bisa langsung masuk saja ke dalam ruang ilmu dan mengalami sendiri masalah yang katanya ada. Sampai saat itu, aku ingin belajar dulu tentang Filsafat Islam. Baru setelah itu aku akan bicara dan menulis lagi.

Tapi, omong-omong, aku sempat merasa senang dalam salah satu kelas Filsafat Ilmu. Dosenku berpandangan sama denganku bahwa sebaiknya namanya bukan Psikologi Islam, melainkan Psikologi Islami. Aku setuju dengan argumentasinya.  Mengatakan ilmu “ini” adalah Psikologi Islam sesungguhnya adalah tindakan yang berisiko dan menuntut tanggung jawab yang sangat besar bagi orang yang mengatakannya. Pertanyaannya sederhana, “Dari mana kau tahu bahwa ‘ini’ (baca: teori-teori yang dikatakan teori Psikologi Islam) benar adalah psikologinya Islam?”

Risiko lainnya yang aku pahami adalah jika ilmu, karena tercampur agama, berubah menjadi doktrin, yang jika ada orang yang menggugatnya orang itu akan langsung dikatakan sesat. Hal semacam itu sedang terjadi, bukan? Orang-orang yang berkata “ini” psikologi yang sempurna, universal, berdasarkan konsep manusia yang terbaik, bersumber dari Al Quran dan Hadist, sedangkan “itu” (baca: psikologi Barat) adalah psikologi yang menyesatkan. Pertanyaannya, apa dasar berkata seperti itu? Psikologi yang bercorakkan ajaran dan nilai-nilai Islam ini tidak sama dengan bidang ilmu Ekonomi Islam, Hukum Islam, atau Pemerintahan Islam yang landasan dalam Al Quran-nya jelas, eksplisit. Semoga tidak psikologi islami yang dikembangkan ini adalah berlandaskan Islam menurut penafsiranmu sendiri.

Sekalipun mengandalkan pemikiran ulama-ulama Islam di masa lalu yang terpercaya, ilmu tetaplah ilmu. Bukan doktrin. Ia terbuka atas evaluasi dan revisi. Semua ilmuwan, di barat, timur, utara, dan selatan, adalah orang-orang yang tersesat. Mereka mengembangkan ilmu karena ingin tahu jalan yang benar. Mereka mengemis pada Tuhan Maha Mengetahui dengan cara yang mereka tahu. Jika hari ini mereka baru tahu sekian, apa dasar mengatai mereka sesat? Orang yang sesat dengan cara yang benar bagiku lebih baik ketimbang orang yang mengata-ngatai mereka sesat. Kita tidak tahu bagaimana Allah akan membalas amal manusia. Jadi, mengapa kita tidak memprioritaskan memikirkan diri kita sendiri?

3# Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan

Mata kuliah yang ini tidak menimbulkan perasan yang akan membuatku berseru “wow” dan “wah” di dalam hati. Ia favoritku di level kedua, karena tidak benar-benar bersentuhan dengan batinku, seperti yang terjadi dengan analisis multivariat dan filsafat ilmu. Mata kuliah ini sangat bermanfaat. Aku mencatat banyak sekali hal sampai buku catatanku separuhnya penuh. (Oya, jika diperingkat, buku catatan analisis multivariatku yang paling penuh sampai tidak menyisakan satupun halaman kosong, sedangkan filsafat ilmu penuh 2/3-nya). Hehe ^^ apa yang kudapat tercermin dari apa yang kucatat.

Yang paling bermakna bagiku dalam mata kuliah ini adalah dosennya. Aku tidak pernah bertemu orang yang sedemikian intelligent sebelumnya, yang benar-benar mengerti apa yang diajarkan. Beliau selalu masuk tepat waktu dan langsung mengambil spidol dan mengajar. Hampir tanpa bantuan slide presentasi. Semua diucapkannya dengan lancarnya, penuh percaya diri, mengalir secara sistematis, dan mudah dipahami. Beliau tipikal dosen yang tidak menyesatkan dan membingungkan mahasiswanya. Dari beliau aku benar-benar belajar banyak tentang apa itu profesionalisme dan keahlian. Aku ingin menjadi seperti beliau. Itulah hasil berpuluh-puluh tahun berkarya.

4# Metode Penelitian Kualitatif, Metode Penelitian Kuantitatif: Eksperimen-Kuasi, Psikologi Differensial dalam Pendidikan, Psikologi Positif, Psikologi Teknologi, dan Teori dan Pengembangan Kreativitas

Semuanya masuk level ketiga. Mata kuliah yang aku jalani secara biasa tanpa banyak mengharapkan sesuatu yang membuatku berseru “wow” dan “wah”. ^^ Tapi bagaimana pun, aku sangat menghargai mereka. Aku paling suka mata kuliah yang memberikan tugas penelitian dan membuat proposal penelitian.

Di Metode Penelitian Kualitatif, aku melakukan penelitian fenomenologis tentang keraguan religius pada remaja (akan aku buat artikelnya sebentar lagi ^^).

Pengetahuan dalam Eksperimen-Kuasi aku pakai untuk membuat tugas proposal penelitian di mata kuliah Teori dan Pengembangan Kreativitas (aku tahu senangnya berimajinasi mendesain suatu eksperimen!).

Di Psikologi Differensial dalam Pendidikan aku melakukan penelitian tentang motif mengikuti homeschooling dari perspektif siswa (juga akan ada artikelnya ^^).

Di Psikologi Positif, aku memanfaatkan pengetahuan dari penelitian homeschooling untuk membuat proposal penelitian tentang school well-being dan youth positive development.

Dan, di Psikologi Teknologi, aku melakukan penelitian terhebat dalam hidupku berjudul Kecenderungan Perilaku Online Menyimpang Ditinjau dari Kematangan Sosial dan Netiket. Aku bangga sekali bisa melakukan penelitian ini karena praktis, pengetahuanku dari matakuliah analisis multivariat sangat terpakai.

Ya Allah, terima kasih. Semua berhubungan dan tidak ada yang tersia-sia! ^^ Memang sejak awal aku berusaha mencari hubungan di antara semua mata kuliah itu. Begitulah caraku memastikan manfaat.

Terakhir, sedikit saja. Apa yang akan aku lakukan dalam enam bulan ke depan? Yang pasti adalah kuliah, tetapi yang paling menarik adalah aku akan belajar membuat proposal tesis ^^ Aku ingin melanjutkan penelitian skripsiku tentang regulasi diri. Ya Allah, semoga semua baik-baik saja. Aku ingin hanya 1,5 tahun saja berkuliah di sini. Demi banyak orang. Demi diriku sendiri. Ya Allah, semoga Engkau suka dengan rencana-rencanaku.

Aku punya banyak sekali yang ingin aku tuliskan. Insya Allah ada kesempatan! Selamat datang semester keduaku!

5 thoughts on “Reaching Dream Bag. 15: Melihat pada Enam Bulan ke Belakang dan Enam Bulan ke Depan

  1. moga lancar kuliah magisternya mbak’e..🙂

    oya mw konsultasi dong terkait psikologi, boleh y.. menurut mbak’e, org introvert itu dipengaruhi oleh lingkungan atau persepsi org itu sendiri bahwa dia introvert, atau menjadi introvert itu sudah menjadi takdirnya..

    • 1. Introversi-ekstroversi itu “hanyalah” teori untuk menjelaskan perbedaan perilaku di antara manusia. Teori mana saja pasti ada kelemahannya, dalam arti tidak mungkin mampu menjelaskan manusia secara akurat. Konsekuensinya, kita yang menggunakannya perlu bersikap hati-hati dan kritis.

    • 2. Menurut teori itu, setiap orang memiliki aspek introversi maupun ekstroversi, hanya saja kadarnya berbeda-beda. Ada yang lebih banyak introversinya, ada yang lebih banyak ekstroversinya, ada yang cenderung seimbang. Dikatakan itu adalah takdir, bisa jadi karena setiap kepribadian ada akar genetiknya. Dikatakan itu bentukan lingkungan, juga bisa karena diri manusia memang sebagian terbentuk sebagai hasil dari pengaruh faktor-faktor lingkungan. Tapi, bisa juga itu adalah pilihan, karena manusia diberi Allah kemampuan untuk berpikir, menimbang, memilih, berkehendak, dan berbuat.

    • 3. Seseorang bisa bersifat pendiam, mengikuti sifat salah satu orangtuanya. Lingkungan, lewat pembicaraan orang atau tes-tes psikologi lalu melabel dia introvert. Orang itu bisa memilih dan mengiyakan, “Ya, saya bertipe introvert,” berperilaku sebagai orang introvert. Tapi, jika dia sadar bahwa menjadi pendiam itu ada tidak baiknya, dia juga bisa mendorong dirinya untuk tidak menjadi begitu pendiam dan belajar bergaul. Meskipun itu sulit, tetapi itu mungkin dilakukan.

    • 4. Intinya, menurut pendapatku, semua tergantung oleh diri kita sendiri. Kita bisa memilih percaya yang mana, bahwa introversi dipengaruhi oleh lingkungan atau persepsi diri, atau bahwa introversi adalah takdir. Semuanya ada benarnya. Tetapi penentunya adalah diri kita sendiri yang mengenal apa yang baik bagi diri kita. Prinsipnya jelas, perbaiki sifat-sifat atau kecenderungan diri yang kurang baik, entah itu sifat introvert atau ekstrovert, dan berusaha berakhlak mulia. Seperti itulah yang diajarkan agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s