Reaching Dream Bag. 16: Dunia di Luar Tempurung

Tempurung itu adalah batas: diriku sendiri, bidang ilmuku sendiri. Kebutuhan untuk membebaskan dari tempurung tidak muncul sampai aku menyadari bahwa bukanlah hal yang lebih baik tetap tinggal di bawah lindungan dunia yang kecil dan sempit. Aku mereka-reka apa yang dibutuhkan dunia, berharap dapat memberikan sesuatu untuk membantu. Aku sampai pada keadaan di mana psikologi sendiri saja memiliki sejumlah kekurangan dan kelemahan untuk membantu masyarakat yang kompleks.

Ingat dahulu di semester pertama S1 ada mata kuliah sosiologi dan antropologi yang membuatku bertanya-tanya, apakah tujuan mempelajari ini hanya untuk menambah nuansa ilmu sosial di dalam psikologi. Aku menyelesaikan kedua mata kuliah itu dengan “hanya” dua kesimpulan mengapa psikologi butuh wawasan sosiologi dan antropologi: manusia sebagai individual dipengaruhi lingkungan sosialnya dan manusia sebagai individual dipengaruhi budayanya. Selesai.

Tapi, apakah kehidupan dijalankan hanya dengan psikologi? Tidak, bukan? Kebanyakan masalah begitu kompleks sehingga tak bisa diselesaikan hanya dengan satu pemahaman, satu pendekatan, satu cara, atau satu jawaban. Cukuplah lima tahun yang lampau saya berbasah-basah diri dalam samudera psikologi. Setidaknya satu setengah sampai dua tahun ke depan saya mengeringkan diri dan mencoba samudera ilmu-ilmu sosial yang lain untuk mendapatkan wawasan inter dan lintas disipliner, terutama ilmu budaya. Aku ingin tahu di mana peran atau apa pentingnya psikologi di antara ilmu-ilmu sosial humaniora lainnya. Benar-benar ingin tahu, dan inilah yang sejauh ini aku lakukan untuk memecahkan tempurungku. Aku sadar ini semua tidak akan memberikan manfaat-manfaat yang langsung, tetapi jika saatnya tiba, aku berharap bisa menjadi orang yang bersyukur pernah melakukan semua ini.

1# Asian Community Lectures, “Asian Community and Its Development in Globalization”

Seri kuliah komunitas Asia ini aku ikuti sejak 21 Oktober 2013 dan akan berakhir 20 Januari 2014 nanti. Sebentar lagi. Kuliah ini diadakan di Fakultas Ilmu Budaya UGM, setiap Senin pukul 13.00 sampai 15.00. Ya, itulah sebabnya setiap selesai mata kuliah Analisis Multivariat pukul 13.40 aku langsung buru-buru pergi dari kelas. ^^ Kuliah ini sangat menarik karena memandang globalisasi dan komunitas Asia dari beragam perspektif, seperti budaya antarbangsa di Asia, ekonomi, politik, sejarah, antropologi, pendidikan, sains dan teknologi, tetapi sayang psikologi tidak ikut dipertimbangkan di situ, padahal aku melihat banyak sekali persoalan psikologis di situ.

Aku hanya mengingat beberapa kuliah yang paling berkesan saja. Pertemuan pertama diisi oleh  Prof. Dr. Yang Seung Yoon yang sepertinya (pernah) menjadi pengajar di  jurusan Sastra Korea. Beliau bercerita tentang studi banding kebudayaan tiga negara di Asia Timur, yaitu Jepang, Korea, dan China, dari sudut pandangnya sebagai orang Korea. Studi banding kebudayaan antarnegara ini pending karena wawasan akan perbedaan budaya dapat mencegah terjadinya konflik sosial di antara orang-orang yang berlatar belakang budaya berbeda. Berikut ini sedikit cuplikan dari makalah yang disampaikan Prof. Yoon yang sangat menarik, yang merupakan bagian penutupnya:

Sulit sekali untuk menarik kesimpulan terhadap keistimewaan sifat suku bangsa Korea, China, dan Jepang. Bangsa China yang pernah berada di dalam dua macam tembok yang keras, seperti tembok China raksasa di belahan utara China dan tembok kesombongan pada dirinya sendiri tidak memperlihatkan wajahnya yang sungguh-sungguh. Ada orang yang mengatakan bahwa bangsa China mempunyai seribu wajah, sedangkan orang lain mengatakan bahwa bangsa China tidak mempunyai wajahnya sendiri. Bangsa Jepang mempunyai paling sedikit dua wajah, yaitu wajah yang kelihatan dan tidak kelihatan. Wajah yang kelihatan, yang sopan dan dipenuhi senyum itu sedang berada di hadapan kita sendiri, tetapi pada saat yang sama wajah yang tidak kelihatan dengan giatanya mencari posisi yang baru, yang lebih baik lagi.

Sementara itu, bangsa Korea tidak mempunyai wajah yang disembunyikan, tidak ada waktu untuk menyembunyikan wajahnya. Cepat marah, mudah membuat janji, suka minum sampai mabuk, sudi menolong orang lain, bertutur kata dengan suara keras-keras dan lain-lain merupakan sifat-sifat yang mewakili bangsa Korea. Meskipun demikian, bangsa Korea tetap hanya mempunyai satu wajah saja, si lawan bicara tidak usah mempertimbangkan apa yang diperhitungkan di dalam hatinya. Hal itu karena apa yang ada dalam hatinya apa yang dinyatakannnya adalah satu dan sama.” (Yoon, 2013)

Hal yang menarik lainnya kudapat dari kuliah Prof. Dr. Singgih Tri Sulistyono, ahli sejarah maritim dari Undip. Beliau salah satunya bercerita tentang gelombang globalisasi yang sebenarnya telah terjadi beberapa kali sejak masa lalu dan setiap kalinya bangsa Indonesia terlibat di dalamnya. Gelombang pertama terjadi pada masa perdagangan maritim antara Timur dan Barat di abad-abad awal masehi dan gelombang kedua terjadi setelah ekspansi imperialisme dan kapitalisme bangsa Eropa sekitar abad 16. “The momentum of the first wave of globalization can be utilized intelligently by the people in the archipelago. While the second wave was not entirely successfully anticipated by local forces in Indonesia, so in the long term Indonesian archipelago became the ‘victims’ of globalization.” (Sulistyono, 2013)

Sejak saat itu bangsa Indonesia pun mengambil peran sebagai “korban globalisasi” dan sulit sekali untuk ikut menjadi aktor, seperti bangsa-bangsa lain yang maju. Satu persoalan yang waktu itu aku tanyakan kepada Prof. Singgih adalah tentang perubahan karakter bangsa yang dahulu pernah begitu kuat, menjadi kini begitu lemah. Apakah kolonialisme penyebabnya? Beradab-abad menjadi bangsa yang dijajah tentu menimbulkan pengaruh tertentu pada karakter mental. Hegemoni bangsa Eropa atas bangsa asli, stratifikasi masyarakat, diskriminasi rasial dan juga kesempatan hidup memunculkan mental minder dan tidak percaya diri karena terbiasa direndahkan. Muncul kesadaran diri adalah “wong cilik, kawula” sehingga harus “nrima ing pandhum.” Apakah itu benar karakter warisan masa kolonial? Butuh penelitian. Semoga, penelitian psikologis.

Yang paling aku suka lainnya adalah ceramah yang diberikan oleh Prof. Dr. Suhartono Wiryopranoto, yang emosional diwarnai kegeraman beliau pada “kebodohan” orang Indonesia mau-maunya jadi korban, “dimakan” globalisasi. Kesadaran yang beliau tanamkan adalah seperti ini:

Proses globalisasi yang dimulai sejak manusia mencari tempat baru yang nyaman terbukti sampai dengan abad ke-21 … tidak lepas dari egoisme, yaitu keuntungan sendiri atau kelompoknya. Karakter lama tidak berubah meski sudah berproses puluhan abad. Globalisasi dengan kedok liberalisme ternyata belum bisa ikut menyejahterakan sebagian besar manusia di dunia ketiga. Praktek kolonialisme dengan eksploitasinya yang lebih halus terus berjalan meski juga sekali lagi berkedok humanisme ataupun dengan label Millenium Development Goal sekalipun.

Hasilnya tetap tidak beranjak sebagai kapitalis yang eksploitatif. Trickel down effect yang tidak sebanding dengan keuntungan eksploitasi dari negara dunia ketiga menyisakan perasaan yang menyakitkan hati berupa: ketimpangan (inequality) berupa perbedaan kesejahteraan antara negara maju dan negara tertinggal, kemiskinan (poverty) yang merambah 1,2 miliar penduduk dunia tidak bisa ditolong segera, ketergantungan (dependency) – ketergantungan pada negara maju, industri, kaya tidak dapat dihindarkn dan ini memang sengaja dipelihara, neokolonialisme (neo-colonialism) tetap mentransformasi dirinya dalam bentuk halus, nyaman untuk menyedot kekayaan negara berkembang lewat legalisasi WTO dengan praktek FTA.

Akhirnya, bagi negara dunia ketiga tinggal melamunkan imagining the future tanpa realitas. Komunitas di negara-negara Asia di luar negara maju nasibnya masih belum baik alias belum beruntung atau sejahtera. Negara berkembang tetap harus menghidupi negara maju.” (Wiryopranoto, 2013)

Ini sangat menggugah rasa nasionalisme, bukan? Manusia berusaha bertahan karena punya musuh, yaitu manusia lain yang mengancam eksistensinya. Negara pun bertahan karena punya musuh, yaitu negara lain yang mengancam eksistensinya. Aku sekarang punya pemikiran bahwa “musuh” itu perlu diciptakan agar terbentuk rasa harus membela diri. Kita tidak bisa merasa baik-baik saja. Sekalipun musuh itu tidak nyata berupa negara lain atau manusia lain, setidaknya musuh itu adalah diri sendiri yang mengancam eksistensi dirinya sendiri, berupa mentalitas yang bobrok, kebodohan, dan kelemahan sendiri, serta apapun yang perlu diperangi.

Nasionalisme yang tergugah itulah yang membuatku memutuskan menulis dengan judul “Ensuring the Benefit of Globalization and Asian Community Movement for Indonesia: The Role of Integrative Multicultural Education“. Setelah masa kuliah ini selesai, aku akan mempublikasikan makalahku itu di blog ini. Insya Allah.

2# The Sixth Al-Jami’ah Forum, “On Plurality and Minority”

Ini adalah konferensi internasional yang diadakan oleh Al-Jami’ah Research Center, UIN Sunan Kalijaga pada tanggal 6-8 Desember 2013. Aku berpartisipasi dalam konferensi tersebut sebagai pendengar yang sangat baik. Dan aku mendapatkan banyak, salah satunya membuatku menulis tentang bagaimana sebaiknya memperlakukan kaum minoritas Syiah pada tulisan yang lalu. Konferensi ini ditutup dengan satu kesimpulan yang sangat menarik dan besar artinya bagi diriku, yaitu tentang bagaimana membangun dialog, tidaknya antaragama, tetapi juga intraagama. Hal ini sangat jarang dilakukan, bukan? Aku rasanya sudah membahas isi konferensi ini di tulisanku sebelumnya yang berjudul “Tentang Pluralitas dan Minoritas“. Jadi, di sini aku akan membahas hal-hal menarik di luar itu saja. ^^

Pertama, ini pertama kalinya aku ikut acara yang penuh dari awal sampai akhir orang-orang berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Dan, dari situlah aku tahu kemampuan mendengarkanku tidak lagi seburuk dulu. Alhamdulillah ^^ Sangat bersyukur. Aku sudah sangat berusaha meningkatkan kemampuan yang satu ini. Check!

Kedua, ini pertama kalinya aku mengerti tentang apa itu kepakaran. Ini bukan acara yang bisa dimasuki sekadar mahasiswa yang mengirimkan abstrak dan makalah untuk coba-coba siapa-tahu-masuk-kalau-tidak-bukan-masalah atau untuk cari pengalaman saja. Mereka semua menyampaikan hasil penelitian, bahkan penelitian-penelitian yang panjang. Mereka melakukan semua itu bukan sebagai pengalaman, melainkan kebiasaan sebagai orang-orang dari golongan intelektual. Semua begitu biasa, sama seperti kita berkumpul bersama sahabat dan bertanya, “Hei apa kabarmu?“, hanya saja orang-orang di sini bertanya, “Hei, apa kabar penelitian dan perkembangan pemikiranmu?” Ini membuatku benar-benar menyadari bahwa sepanjang aku tidak punya penelitian dan tidak mengembangkan pemikiranku, selamanya aku tidak akan pernah bisa duduk dan berdiri sama tinggi dengan mereka.

Tak seorang pembicara pun yang mengangkat aspek psikologis, apa-apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan individu-individu dengan status menjadi minoritas atau mayoritasnya. Dua kata yang menurutku seharusnya lekat adalah kebahagiaan dan ketidakbahagiaan individu menjadi bagian dari kelompok. Apakah saling mengenal memunculkan perasaan bahagia menjadi manusia yang berbeda-beda? Entahlah. Bagaimana kita semua dapat saling mengerti? Apakah memahami penderitaan orang lain itu bermanfaat? Aku bertanya-tanya seperti itu.

3# Kuliah Pascasarjana, “Theoretical Issue in The Study of Society and Culture”

Ini yang sedang aku ikuti, mulai dari tanggal 15 sampai 30 Januari 2014 nanti. Kuliah ini mendatangkan Prof. Mark Hobart dari SOAS University of London. Kuliah ini diadakan di, lagi-lagi, FIB UGM. FIB memang sepertinya rajin mengadakan acara-acara semacam itu. Berharap Fak. Psikologi juga begitu. Semoga saja ^^ Aku belum bisa bercerita banyak tentang kuliah yang ini. Aku benar-benar masih mereka-reka untuk menemukan bentuk, apa yang sesungguhnya bisa kudapat dan bermanfaat bagi psikologi. Meskipun demikian, sejauh ini, seperti inilah yang aku dapat.

Kuliah ini memiliki tujuan yang mulia, untuk sedikit demi sedikit mengurangi kecenderungan Eurocenstrism yang melanda perkembangan ilmu di seluruh dunia. Eropa adalah kiblat pengembangan ilmu, tetapi apakah demikian halnya, terutama dalam studi masyarakat dan budaya? Ada masalah yang sangat mendasar terkait teori-teori dasar yang digunakan untuk menjelaskan fenomena sosial dan budaya sehingga lewat kuliah ini pesertanya pada akhirnya diharapkan mampu untuk memeriksa teori-teori yang ada secara kritis melalui analisis presuposisi atau landasan pemikiran yang membangun teori tersebut. Jadi, di sini mungkin aku punya kesempatan untuk tahu bagaimana sebaiknya yang perlu aku lakukan untuk mengkritisi teori-teori Barat yang membangun tubuh psikologi yang dipelajar di Indonesia dengan pertanyaan besar, “Benarkah semua itu?”

Aku berharap banyak dari mengikuti kuliah ini, tetapi aku sendiri pun perlu mempersiapkan banyak untuk diriku sendiri. Benar-benar mencari waktu untuk membaca bacaan-bacaan yang diberikan. Semuanya benar-benar asing. Hampir semuanya filsafat. Benar-benar proyek liburan semester ini adalah belajar filsafat dalam konteks, sesuai rencanaku di awal semester. Setelah aku mengerti lebih banyak, aku akan menulis lebih banyak. Tentu saja.

Sekian dulu tulisan ini. Aku harus melanjutkan agendaku selanjutnya: membaca. ^^

3 thoughts on “Reaching Dream Bag. 16: Dunia di Luar Tempurung

  1. trimakasih aftina.. atau Nurul? atau Husna? bagaimana aku harus memanggilmu.
    sebelumnya perkenalkan, panggil saja ana. mungkin kita sebaya. aku 23 th.
    senang sekali menemukan blog ini. sudah satu tahun berlalu sejak aq diwisuda. sama juga, jurusanku psikologi.
    namun sekarang, aq tinggal di sebuah desa. tidak begitu terpencil, tetapi susah sekali bertemu dengan seseorang yang membukakan wawasan baru.terlebih tentang ilmu yang aq tekuni. banyak pula pelatihan/seminar. namun yang disampaikan sudah aq dapatkan ketika kuliah. beberapa common sense malah…..
    aku hanya tidak ingin ilmu yg aku dapatkan, usai begitu saja. aq masih ingin mengetahui perkembangan dunia di luar sana yg belum aq ketahui.
    trimakasih ya sudah berbagi. ^^

    • Hai, Ana. Kamu bisa panggil saya Aftina. Senang bisa mendapat komentar darimu. Itu menyemangati saya untuk lebih banyak menulis. Terima kasih banyak.

      Memang, saat-saat pasca kelulusan dirasakan “aneh” bagi sebagian orang, terutama karena dunianya kemudian berubah. Saya hanya ingin mengatakan bahwa membuka dan meluaskan wawasan itu diusahakan. Wawasan itu sering bukan pemberian orang, melainkan kita bangun sendiri. Atau, jika Allah “sedang” bermurah hati, Ia sendiri yang akan menunjukkan kita apa yang bermanfaat untuk kita ketahui.

      Bersemangat!

  2. Pingback: Ensuring the Benefit of Globalization and One Asia Community Movement for Indonesia: The Role of Integrative Multicultural Education | I love life, life loves me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s