Syair-syair dalam Buku “Wasiat-wasiat Ibnu ‘Arabi” Bag. 2

Orang-orang ini berdakwah dengan syair…

Aku mencermati betul, karya-karya klasik para ulama terdahulu sering juga diselingi syair-syair. Aku tak pernah tahu apa tujuannya, tetapi mungkin itu berperan memberi warna dan kehangatan bagi perbincangan-perbincangan serius dalam buku-buku yang mereka tulis. Buku “Wasiat-wasiat Ibnu ‘Arabi” adalah salah satunya.

Tulisan ini adalah kelanjutan dari seri sebelumnya. Semoga bermanfaat ^^

***

9#

Tempatkanlah kebaikan pada orang mulia yang memiliki kemuliaan leluhur, dan janganlah engkau tempatkan kebaikan pada orang yang hina dan jahat, sebab yang demikian itu berarti engkau menghambur-hamburkannya. Orang mulia akan berterima kasih kepadamu dan berusaha membalasnya, sedangkan orang hina dan jahat menganggap hal itu sebagai ketakutan darinya, dan urusanmu bersamanya berubah tercela. Seorang penyair berkata:

Jika engkau berikan kebaikan pada orang yang hina,
ia menganggapmu pembunuh baginya.
Jadilah engkau orang yang minta maaf padanya
dan katakan, “Aku datang padamu untuk minta maaf.
Jika engkau maafkan, kebaikan adalah keagungan,
jika engkau menghukumiku, kau tak berbuat aniaya.”
Jika engkau berikan kebaikan kepada orang jujur,
engkau telah titipkan rasa syukur padanya. (h. 247)

***

10#

Jika kau seorang penolong dan pembuat kebaikan,
engkau insan di tengah manusia.
Dia berikan kepadamu bentuk rupa-Nya,
agar kau mengasihi makhluk-Nya.
Barangsiapa memperoleh bentuk rupa-Nya,
memperoleh apa yang ada dan yang akan datang.
Dan yang dalam kegaiban, tarikan menakjubkan,
dan yang telah datang kepadanya kini.
Jika Penciptanya menyeru dirinya,
Dia menyeru dirinya hanya pada kebaikan. (h. 249)

***

11#

I

Aku tak lain hanyalah orang yang menderita.
Kutatap kekasihku seperti ia menatapku.
Yang kulihat bukanlah yang kumiliki,
di tempat orang yang tidak melihat tempatku.
Begiku rezeki hingga mati.
Sekiranya makhluk selainku berusaha.
Allah tidak membutuhkan si anu,
si anu, dan si fulan.
Harta yang halal dari-Nya menegakkan
martabat, wajah, dan lisan.
Kefakiran adalah kehinaan.
Kunci pintunya adalah kelemahan dan kemalasan.
Mahasuci Dia yang selalu dalam ketinggian,
tiada duanya dalam ketinggian-Nya.
Memberi karunia kepada makhluk-Nya,
setiap yang hidup selain-Nya binasa.
Wahai Tuhan, kami tak menangis karena suatu waktu,
melainkan kami menangis “waktu” itu. (h. 251)

 

II

Sungguh, pusaka terbaik adalah kebaikan yang kau peroleh,
dan ucapan paling jahat adalah mencampuri urusan orang.
Tidakkah kau lihat, seseorang berada di suatu negeri
tengah menuju negeri lain, dan mati di jalannya.
Capaian mana yang bisa cukup dengan jumlah banyaknya,
jika sedikitnya saja tidak mencukupimu.
Berbaringnya penghuni kubur adalah perbaringan
yang memisahkan kekasih dengan kasihnya.
Berbekallah di dunia dengan bekal takwa,
semua orang di dunia adalah tamu
yang pendek perjalanannya.
Bersiaplah menghadapi kematian, tiada persiapan bagimu,
karena kematian datang tanpa dapat kau tolak.
Pergantian waktu hanyalah untuk kemuliaan,
yang kau putuskan kekuatannya,
atau milik yang kau hilangkan. (h. 260)

 

III

Aib anak Adam yang kau ketahui banyak sekali,
datang dan hilangnya tak menentu.
Nafsu menipumu, yang suka pada kehidupan,
kematian bersifat pasti, dan kekal sebentar.
Jangan kau inginkan dunia, karena semunya
sedikit dan hina, sekiranya engkau tahu.
Wahai penghuni dunia, tidakkah kau lihat
keindahan dunia di atas hari ke mana kau kembali?
Mintalah apa yang tampak di matamu untuk peroleh kecukupan,
sungguh kau tak akan puas -engkau pasti fakir.
Wahai penumpuk harta yang banyak untuk orang lain,
dosa kecil sesungguhnya adalah besar.
Adakah kekuatan di tanganmu untuk hadapi bencana,
atau adakah bagimu pelindung dari kematian?
Apa yang akan kaukatakan jika kau berjalan pada kebinasaan,
dan jika Munkar dan Nakir meninggalkanmu? (h. 261)

— Abu Al-‘Atahiyah

***

12#

Wahai manusia, orang yang paling berakal di antara kalian adalah yang paling banyak mengingat mati, yang paling bersedih, dan yang paling banyak persiapannya. …

Sebagian dari mereka mendendangkan syair:

Kami ada di atas punggungnya dan waktu mendahului hidup,
tanah dan negeri menghimpun kami.
Waktu memisahkan persahabatan kami dengan pergantiannya,
hari ini kafan mengumpulkan kami dalam perutnya. (h. 258)

***

13#

Aku (Ibnu ‘Arabi) katakan, “Kutulis surat kepada pengagung agama (‘izzuddin) Kay Kaus, penguasa negeri Romawi, sebagai jawaban atas surat yang dikirimkannya kepadaku di Antakia (Syria), dan aku tulis ketika tinggal di Malthiyah (Turki):

Kutulis suratku dan air mata menetes,
tiada bagiku jalan menuju apa yang kusuka.
Kuingin melihat agama Nabi Muhammad berdiri tegak,
dan agama orang batil lenyap.
Yang kulihat hanyalah tirani menjadi tinggi dan ahlinya
diagung-agungkan,
sedang agama yang lurus pun menjadi hina.
Wahai pengagung agama Allah, dengarkan nasihat yang
berbelas kasih, karena penasihat raja-raja sedikit.
Waspadalah! Allah menetapkan hati yang menunjukkan
kepada urusan yang tiada dalilnya.
Agar Bayt Al-Mal menjadi besar dan Al-Bayt runtuh,
bermurah hati dan tawakallah,
sebab cukuplah Tuhan saja. (h. 300-301)

***

14# Permintaan Maaf

Jika suatu hati teman meminta maaf padamu
atas kealpaan dengan permintaan maaf saudara
yang mengaku bersalah,
Maka lindungilah ia dari celaanmu dan maafkanlah.
Sebab, maaf adalah tanda setiap orang merdeka. (h. 305)

***

15#

Rasulullah Saw. bersabda: Pada hari kiamat Allah datang kepada hamba-hamba-Nya untuk memutuskan (perkara) di antara mereka. Setiap umat berlutut. Maka yang pertama dipanggil adalah orang yang menghimpun Al Quran, orang yang terbunuh di jalan Allah, dan orang yang banyak hartanya. Lalu Allah bertanya kepada orang yang membaca Al Quran, “Tidakkah telah Aku ajarkan padamu apa yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku?”

“Betul, wahai Tuhanku.”

“Apa yang engkau amalkan dari apa yang engkau ketahui?”

“Aku mengamalkannya sepanjang siang dan malam.”

“Engkau berdusta.”

Para malaikat pun berkata, “Engkau berdusta.”

Maka Allah berkata, “Engkau membacanya hanya agar dikatakan, ‘Si Anu membaca Al Quran.’ Dan itu telah terjadi.”

Kemudian dipanggil pemilik harta. Allah bertanya kepadanya, “Tidakkah Aku telah memberimu keleluasaan sehingga engkau tidak berhajat lagi kepada siapa pun?”

“Betul, wahai Tuhanku.”

“Apa yang telah engkau kerjakan pada apa yang Aku berikan padamu?”

“Aku telah menyambungkan tali silaturahmi, dan aku bersedekah.”

“Engkau berdusta.”

Para malaikat pun berkata, “Engkau berdusta.”

Maka Allah berkata kepadanya, “Engkau hanya ingin dikatakan, ‘Si Anu seorang dermawan.’ Dan itu telah terjadi.”

Selanjutnya dipanggil orang yang terbunuh di jalan Allah. Maka Allah bertanya kepadanya, “Dengan cara bagaimana engkau terbunuh?”

“Aku diperintahkan untuk berjihad di jalan-Mu. Lalu aku ikut berperang, sehingga aku terbunuh.”

“Engkau berdusta.”

Para malaikat pun berkata, “Engkau berdusta.”

Maka Allah berkata, “Engkau hanya ingin dikatakan, ‘Si Anu pemberani.” Dan itu telah terjadi.”

Kemudiaan Rasulullah Saw. memukul lutut Abu Hurayrah, lalu berkata: “Wahai Abu Hurayrah, mereka bertiga adalah orang yang dibakar api neraka pada hari kiamat.”

Maka setiap kali Abu Hurayrah membacakan hadis ini, ia jatuh pingsan. Setelah itu ia membaca firman Allah Swt.: Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal saleh, dan janganlah ia mempersekutukan dengan seorang pun dalam peribadahan kepada Tuhannya. (QS Al Kahfi 18: 110)

Banyak kuberharap dan kubaguskan ucapan,
kulakukan kebaikan terang-terangan agar dituturkan.
Jika suatu hari kutolong orang peminta-minta,
kucari syukur atasnya agar dituturkan.
Jika suatu hari kuperangi orang kafir,
kucari kemasyhuran agar dituturkan.
Jika suatu hari yang panas aku berpuasan,
kutahan lapas di waktu sore agar dituturkan.
Jika aku salat dan manusia bersamaku,
kupelankan salatku agar dituturkan.
Dalam kesendirian aku mencelanya,
di mana aku tak gentar padanya agar dituturkan.
Amalku ujub, pura-pura, dan riya.
Amboi, itulah kebohongan yang tidak dituturkan.
Tinggalkan dan usir aku darimu
beban dan dosaku berat.
Kumohon tobat kepada Allah Ta’ala atas
kebaikan ikhlas yang tidak untuk dituturkan. (h. 310)

— Ibnu ‘Arabi

***

Ya Allah, jadikanlah nasihat teman hidupku yang setia…

3 thoughts on “Syair-syair dalam Buku “Wasiat-wasiat Ibnu ‘Arabi” Bag. 2

  1. Pingback: Hari Perpisahan dengan Ibnu ‘Arabi | I love life, life loves me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s