Wasiat Ibnu ‘Arabi: Nasihat Al-Fudhayl Ibn ‘Iyadh kepada Harun Ar-Rasyid

Dalam buku Wasiat-wasiat Ibnu ‘Arabi ada kisah tentang khalifah Harun Ar-Rasyid yang patut disimak (h. 252-255). Di dalamnya terdapat pula kisah khalifar ‘Umar bin ‘Abdul Aziz.

***

Diriwayatkan bahwa Amirul-Mukminin Harun Al-Rasyid menunaikan ibadah haji. Ia disertai Al-Fadhl ibn ar-Rabi’. Al-Fadhl berkata bahwa Amirul-Mukminin berkata, “Ah, kamu. Sesuatu telah terjadi padaku. Tunjukkanlah kepadaku seorang yang akan kutanyai.”

Maka aku berkata, “Inilah Sufyan ibn ‘Unaynah.”

Ia berkata, “Marilah kita menemuinya.”

Maka kami pergi menemuinya, lalu kuketuk pintu rumahnya. Ia bertanya, “Siapa?”

Aku jawab, “Bukalah, ini ada Amirul Mukminin!”

Lalu ia segera keluar dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, kalau engkau mengutus seseorang kepadaku, niscaya aku akan mendatangimu,”

Amirul Mukminin berkata, “Ambillah yang kami bawa untukmu, semoga Allah mengasihimu.” Amirul Mukminin bercaka-cakap dengannya sebentar, kemudian bertanya, “Apakah engkau punya utang?”

Ia menjawab, “Benar, aku punya utang.”

Maka kami keluar. Lalu Amirul Mukminin berkata, “Sahabatmu tidak memerlukan apapun dariku. Tunjukkan kepadaku orang yang akan kutanyai.”

Maka aku jawab, “Inilah ‘Abd Ar-Razzaq.”

Kemudian Amirul Mukminin berkata kepadanya seperti yang dikatakannya kepada Sufyan. Lalu ia berkata, “Sahabatmu tidak memerlukan apapun dariku. Tunjukkan kepadaku orang yang akan kutanyai.”

Aku jawab, “Inilah Al-Fudhayl Ibn ‘Iyadh.”

Amirul Mukminin berkata, “Marilah kita menemuinya.”

Ketika kami sampai di rumahnya, ia sedang salat dan membaca satu ayat Al Quran seraya mengulang-ulanginya.

Amirul Mukminin berkata, “Ketuklah pintu rumahnya.”

Maka kuketuk, lalu ia bertanya, “Siapa?”

Aku jawab, “Bukalah, ini ada Amirul Mukminin.”

Maka ia berkata, “Aku tidak memerlukan apa-apa dan tidak ada keperluan kepada Amirul Mukminin.”

Lalu kukatakan, “Mahasuci Allah, bukankah engkau harus taat kepadanya?”

Ia turun dan membuka pintu. Kemudian ia naik lagi ke kamarnya, mematikan lampu, dan berlindung di salah satu sudut rumahnya. Lalu kami masuk dan meraba-raba dengan tangan kami. Tangan Amirul Mukminin terlebih dahulu menyentuhnya. Ia berkata, “Aduhai, betapa lembutnya tangan ini seandainya pada hari esok selamat dari azab Allah.” Aku berkata pada diriku, mudah-mudahan, ia berkata kepada Amirul Mukminin dengan ucapan yang keluar dari lubuk hati yang bertakwa.

“Ambillah yang aku bawa untukmu, wahai yang dikasihi Allah,” kata Amirul Mukminin.

Maka Al-Fudhayl Ibn ‘Iyadh berkata, ” ‘Umar ibn ‘Abd Al-‘Aziz, semasa berkuasa, memanggil Salim ibn ‘Abd Allah, Muhammad ibn Ka’ab Al-Qarazhi, dan Raja’ ibn Haywah. Ia berkata kepada mereka, ‘Aku telah dicoba dengan ujian ini. Berilah aku nasihat.’ Ia menganggap kekhalifahan sebagai ujian, tetapi engkau dan sahabat-sahabatmu menganggapnya sebagai kenikmatan.

Maka Salim ibn ‘Abd Allah berkata kepadanya, ‘Jika engkau menginginkan keselamatan dari azab Allah, berpuasalah dari kesenangan dunia dan jadikanlah kematian sebagai pembuka puasamu.’

Muhammad ibn Ka’ab Al-Qarazhi pun berkata, ‘Jika engkau ingin selamat dari azab Allah, jadikanlah orang yang lebih tua dari kalangan kaum Muslim sebagai ayah bagimu, orang yang sebaya sebagai saudara, dan yang lebih muda sebagai anakmu. Hormatilah ayahmu, muliakanlah saudaramu, dan sayangilah anakmu.’

Kemudian Raja’ ibn Haywah pun berkata padanya, ‘Jika engkau ingin selamat dari azab Allah di hari esok, cintailah kaum Muslim seperti engkau mencintai dirimu sendiri, bencilah dari mereka apa yang tidak engkau sukai pada dirimu. Kemudian, matilah jika engkau mau.’

Aku hanya mengatakan padamu, wahai Harun, bahwa aku sangat khawatir padamu akan suatu hari di mana kaki tergelincir. Apakah ada bersamamu -semoga Allah merahmatimu- orang yang menasihatimu seperti ini?”

Maka Harun pun menangis terisak-isak hingga ia jatuh pingsan. Lalu kukatakan, “Akulah yang menemani Amirul Mukminin.”

Al-Fudhayl Ibn ‘Iyadh berkata, “Engkau dan sahabat-sahabatmu akan membunuhnya, tetapi akulah yang akan menemaninya.”

Kemudian Amirul Mukminin siuman, lalu ia berkata kepada Al-Fudhayl Ibn ‘Iyadh, “Tambahkan (nasihat) untukku, wahai yang dikasihi Allah.”

“Wahai Amirul Mukminin, telah sampai kabar kepadaku bahwa seorang pekerja ‘Umar ibn ‘Abd Al-‘Aziz mengadu padanya. Lalu ‘Umar ibn ‘Abd Al-‘Aziz menulis surat kepadanya: ‘Wahai saudaraku, aku ingatkan padamu tentang keterjagaan penghuni neraka di dalamnya yang abadi selamanya. Berhati-hatilah engkau agar jangan berpaling dari Allah, karena yang demikian itu akan menjadi akhir perjanjian dan terputusnya harapan.’

Ketika pekerja itu membaca surat tersebut, ia pergi melintasi negeri hingga menghadap kepadanya, ‘Umar ibn ‘Abd Al-‘Aziz. ‘Umar ibn ‘Abd Al-‘Aziz bertanya padanya, ‘Apa yang harus aku berikan padamu?‘ Ia berkata, ‘Suratmu telah meluluhkan hatiku. Aku tidak akan kembali menduduki jabatanku hingga aku menemui Allah.‘ ”

Maka Harun menangis lagi tersedu-sedu, kemudian berkata kepada Al-Fudhayl Ibn ‘Iyadh, “Tambahkan lagi (nasihat) untukku, wahai yang dikasihi Allah.”

“Wahai yang bagus rupa, engkau akan ditanya oleh Allah tentang penciptaan ini pada Hari Kiamat. Jika engkau dapat melindungi wajah ini, lakukan itu. Berhati-hatilah engkau agar jangan memasuki waktu pagi dan perang sementara di dalam hatimu terselip dengki kepada orang yang berada dalam tanggung jawabmu, karena Nabi Saw. bersabda, ‘Barangsiapa memasuki waktu pagi dalam keadaan dengki (kepada seseorang), maka ia tidak akan mencium bau surga,'” kata Al-Fudhayl Ibn ‘Iyadh.

Harun menangis lagi, dan berkata, “Apakah engkau punya utang?”

“Betul, utang kepada Tuhanku, yang karenanya Dia tidak akan membuat perhitungan denganku. Celakalah jika Dia memintanya dariku. Celakalah aku jika Dia membantahku dan menolak alasanku. Itu adalah utang para hamba. Tuhanku tidak memerintahkan padaku hal itu. Dia telah berfirman: Sesungguhnya Allah adalah Maha Pemberi Rezeki (QS Adz Dzariyat 51: 58).”

“Inilah seribu dinar. Ambillah, dan nafkahkanlah kepada keluargamu. Dengan uang ini engkau dapat memperbanyak ibadahmu,” kata Harun.

“Mahasuci Allah, aku tunjukkan padamu jalan menuju keselamatan, dan engkau membalasku dengan yang seperti ini. Semoga Allah menyelamatkanmu dan memberikan taufik kepadamu,” kata Al-Fudhayl Ibn ‘Iyadh.

Kemudian ia diam dan tidak berkata apapun kepada kami. Maka kami keluar dari tempatnya. Ketika kami sampai di pintu, Harun berkata padaku, “Jika engkau tunjukkan aku pada seseorang, maka tunjukkanlah aku kepada orang seperti ini. Ia adalah pemimpin kaum Muslim.”

Lalu salah seorang istrinya masuk ke tempat Al-Fudhayl Ibn ‘Iyadh, dan berkata, “Wahai suamiku, kadang-kadang engkau lihat kami berada dalam kesempitan. Kalau engkau terima uang itu, niscaya engkau dapat mengeluarkan kami dari kesempitan itu.”

Al-Fudhayl Ibn ‘Iyadh berkata kepada istrinya, “Perumpamaan aku dan kamu adalah seperti suatu kaum yang memiliki unta muda. Mereka makan dari hasil kerja unta itu. Ketika unta itu menjadi tua, mereka menyembelihnya dan memakan dagingnya.”

Ketika Harun mendengar percakapan ini, ia berkata, “Marilah kita masuk lagi, mudah-mudahan ia mau menerima uang ini.”

Al-Fudhayl Ibn ‘Iyadh mengetahui hal itu. Ia keluar dan duduk di depan pintu kamarnya. Lalu Harun datang dan duduk di sampingnya. Harun mulai berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menjawabnya.

Tatkala kami berada dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba keluar seorang budak perempuan hitam, dan berkata kepada Harun, “Wahai tuan, engkau telah mengganggu syaikh ini. Kembalilah, semoga Allah merahmatimu.” Maka kami pun kembali.

***

Penutup

Seseorang berkata kepada Dzun-Nun Al Mishri, “Tunjukkanlah padaku jala menuju kebenaran dan makrifat.”

Ia menjawab, “Wahai saudaraku, tunjukkan kebenaran halmu, yang engkau alami dan sesuai dengan Al-Kitab dan Sunnah Nabi. Janganlah engkau melampaui apa yang tidak boleh engkau lampaui, karena kakimu bakal tergelincir. Jika ditunjukkan padamu, engkau tidak akan jatuh. Tetapi, jika engkau melampauinya engkau akan jatuh. Berhati-hatilah engkau agar jangan meninggalkan apa yang engkau lihat sebagai keyakinan ketika engkau mengharapkannya sebagai keraguan.”

One thought on “Wasiat Ibnu ‘Arabi: Nasihat Al-Fudhayl Ibn ‘Iyadh kepada Harun Ar-Rasyid

  1. Pingback: Hari Perpisahan dengan Ibnu ‘Arabi | I love life, life loves me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s