Wasiat Ibnu ‘Arabi: Wasiat Sang Arif dan Sang Rahib

*Kisah ini adalah dalam buku Wasiat-wasiat Ibnu ‘Arabi, hal. 226-230. Sangat bermakna, jika kau ingin membacanya untuk mendapatkan kearifan yang kau damba seumur hidupmu. Aku memenuhi janjiku, bukan? Insya Allah akan terus memenuhi janjiku untuk membantumu mendapatkan kearifan.

***

Wasiat ini diwasiatkan oleh seorang rahib kepada seorang arif dari kaum Muslim. Sang arif sedang berada dalam pengembaraannya, dan sang rahib berada dalam pertapaannya di kaki gunung. Sang arif berhenti di tempat itu dan berseru, “Wahai rahib!”

Rahib itu kemudian keluar dari pertapaannya dan bertanya, “Siapa engkau?”

“Salah seorang dari anak-anak Adam,” jawab sang arif.

“Apa yang engkau inginkan?”

“Bagaimana jalan menuju Allah.”

“Dengan mengingkari nafsu.”

“Apakah bekal yang paling baik?”

“Ketakwaan.”

“Mengapa engkau menjauh dari manusia dan mengucilkan diri di pertapaan ini?”

“Karena hatiku takut kepada fitnah mereka, dan menjaga akalku dari kerancuan kejelekan persahabatan dengan mereka. Aku mencari ketenangan diriku dari kerasnya tipu daya mereka dan jeleknya perbuatan mereka. Aku jadikan pergaulanku dengan Tuhanku saja. Maka aku aman dari gangguan mereka.”

“Beritahukan kepadaku, wahai pengikut Al-Masih, bagaimana engkau mendapatkan pergaulan dengan Tuhanmu? Berkatalah benar kepadaku, jangan kau bermanis bibir dan memperindah perkataanmu.”

Maka rahib itu diam beberapa saat, ia berpikir, dan lalu berkata, “Itu adalah pergaulan yang jelek.”

“Mengapa?”

“Karena Dia memerintahkan kepada kami untuk bekerja keras dan bersungguh-sungguh, puasa di siang hari, menegakkan salat di malam hari, meninggalkan syahwat, mengingkari nafsu, memerangi musuh, mencari keridhaan-Nya, kehidupan yang keras, serta sabat dalam kesusahan dan bencana. Selain itu, Dia memberi ganjaran yang jelek di akhirat setelah kematian kepada orang yang menjauhi jalan kebenaran, banyak ragu, bingung, dan takut pada manusia. Inilah keadaan kami dalam bergaul dengan Tuhan kami. Kini, beritahukan kepada kami, wahai pengikut Ahmad, bagaimana kami mendapatkan pergaulanmu dengan Tuhanmu?”

Sang arif menjawab, “Adalah pergaulan yang paling baik dan paling bagus.”

“Kemukakan padaku apa dan bagaimana pergaulanmu itu.”

“Tuhan kami telah memberikan pinjaman yang banyak sebelum berbuat, anugrah berlimpah yang tiada terhitung macamnya berupa kenikmatan, kebaikan, dan karunia sebelum beramal. Anugrah berlimpah yang tidak terhingga jenisnya berupa kenikmatan, kebaikan, dan karunia sebelum bermuamalah. Kami, siang dan malam, berada dalam bermacam nikmat-Nya, di antara yang telah berlalu, yang sedang dinikmati, dan yang kemudian -semuanya bermanfaat,” kata sang arif.

“Mengapa bermuamalah ini dikhususkan untukmu tidak diberikan kepada yang lain?” tanya rahib.

“Adapun kenikmatan, karunia, dan kebaikan yang diberikan kepada semua orang telah tercurah kepada kami semuanya. Namun kami dikhususkan (dari mereka) dengan keyakinan yang baik, pikiran sehat, ikrar atas kebenaran, keimanan, dan penyerahan diri kepada-Nya. Mudah-mudahan Dia menunjuki aku pada makrifat ihwal segala hakikat ketika kami diberi ketundukan pada keimanan, penyerahan diri, muamalah yang benar dengan mawas diri, menempuh jalan yang benar, mencari penggantian ihwal yang datang dari yang gaib, dan pemeliharaan hati dengan apa-apa yang datang dari-Nya berupa pikiran wahyu dan ilham yang (datang) sewaktu-waktu.”

Rahib berkata, “Tambahkan (kepadaku) penjelasan, karena ini merupakan wasiat yang menakjubkan. Aku tidak pernah mendengar hal yang seperti ini dari penganut agama ini.”

Sang arif menjawab, “Baiklah, aku tambahkan penjelasan untukmu. Dengarlah apa yang kukatakan, pahami apa yang engkau dengar dan pikirkan yang tidak kau pahami.

Ketika Allah Swt menciptakan manusia dari tanah, tidak pernah disebutkan sesuatu sebelumnya. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina, yakni nuthfah dalam tempat yang kokoh. Kemudian Dia mengubah keadaan demi keadaan selama sembilan bulan hingga Dia mengeluarkannya sebagai makhluk dengan anatomi yang baik, bentuk yang sempurna, tubuh yang tegak, dan indera yang baik. Kemudian Dia mengasuh dan membesarkannya. Dia menumbuhkannya dengan berbagai luthf dan hikmah-Nya hingga dewasa. Kemudian Dia memberinya hukum dan ilmu. Dia memberinya hati yang bersih, pendengaran yang baik, pandangan yang tajam, dzawq (daya rasa) yang menyenangkan, penciuman yang baik, sentuhan yang lembut, lisah yang fasih, akal yang sehat, pemahaman yang baik, otak yang jernih, pertimbangan dan pemikiran, kebutuhan, keinginan, kehendak dan ikhtiar, anggota-anggota tubuh yang patuh, kedua tangan untuk berbuat dan kedua kaki untuk berjalan.

Kemudian Dia mengajarinya kefasihan, penjelasan, dan penulisan dengan pena, kemahiran, pencarian, pengolahan tanah, pertanian, jual-beli, aktivitas kehidupan, pencarian manfaat, mendirikan bangunan, menuntut kemuliaan dan kekuasaan, perintah, larangan, dan kepemimpinan, perencanaan dan pengaturan. Dia menundukkan baginya segala segala sesuatu yang ada di bumi semuanya berupa hewan, tumbuhan, dan hasil-hasil tambang tertentu, sehingga ia memperlakukan semua itu dengan perlakuan tuan (kapada budaknya), menggunakannya sebagai pemilik, dan mengambil manfaat pada waktu kapan saja.

Selanjutnya Allah Swt hendak menambahkan karunia dan kebaikan-Nya; kemurahan, dan anugrah-Nya, sebagai kekayaan yang lain, yang lebih mulia dan lebih agung dari semua yang disebutkan di atas, yang dengannya Dia memuliakan para malaikat, hamba-hamba-Nya yang saleh, dan penghuni surga, yang merupakan kenikmatan abadi dan azali, yang tidak dicampuri kekurangan dan kesusahan.

Sebaliknya, kesenangan dunia dicampuri kesengsaraan. Kelezatannya dicampuri kepedihan. Kebahagiaannya dicampuri kesedihan. Kejernihannya dicampuri kesuraman. Kekayaannya dicampuri kefakiran. Dan sehatnya dicampuri sakit. Penghuninya disiksa dalam rupa orang yang mendapat kenikmatan, tertipu dalam rupa orang yang percaya, dihinakan dalam rupa orang yang dimuliakan, yang gelisah tanpa ketenangan, takut tanpa ketenteraman. Mereka terombang-ambing di antara dua keadaan yang saling berlawanan: cahaya dan kegelapan, malam dan siang, musim panas dan musim dingin, panas dan dingin, lembab dan kering, haus dan puas, lapar dan kenyang, tidur dan terjaga, tenang dan letih, muda dan tua renta, kuat dan lemah, hidup dan mati, dan sebagainya yang menyebabkan penghuni dunia dan anak-cucunya terombang-ambing dan dipaksa masuk ke dalamnya. Dan di sana mereka kebingungan.

Wahai rahib, Tuhanku hendak membebaskan mereka dari keadaan seperti ini, dan dari kepedihan yang dicampuri kelezatan. Dia memindahkan mereka dari tempat itu ke surga Na’im yang tidak ada kesengsaraan di dalamnya, yang terdapat kelezatan tanpa kepedihan, kebahagiaan tanpa kesedihan, kegembiraan tanpa kesusahan, keagungan tanpa kerendahan, kemuliaan tanpa kehinaan, ketenangan tanpa keletihan, kejernihan tanpa kesuraman, ketenteraman tanpa ketakutan, kekayaan tanpa kefakiran, kesehatan tanpa sakit, kehidupan tanpa kematian, kemudaan tanpa ketuarentaan, dan kecintaan di antara penghuninya tanpa kecurigaan. Mereka berada dalam cahaya tanpa kegelapan, keterjagaan tanpa tidur, zikir tanpa kelalaian, pengetahuan tanpa kebodohan, dan persahabatan di antara penghuninya tanpa permusuhan, hasad, dan ghibah (menggunjing). Mereka bersaudara, duduk berhadapan di atas dipan-dipan, tenang dan tenteram selamanya.

Ketika manusia dapat bebas dari percampuran yang gelap, yang menjadi tempat perbuatan-perbuatan keji yang diakibatkan dari tonggak-tonggak yang tidak memandang pada kehidupan akhirat, pada sifat-sifat yang jernih dan keadaan-keadaan yang abadi, maka pertolongan Ilahi menuntut wajibnya kebijaksanaan (hikmah) Pencipta Swt untuk menciptakan ciptaan yang lain, sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya: Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)? (QS Al Waqi’ah 56: 62), yakni mengambil pelajaran bagi penciptaan lain yang tidak berdasarkan ukuran, seperti penciptaan pertama yang dijadikan tanpa ukuran pula.

Pada penciptaan lain ini, mereka tidak membuang hajat kecil dan buang hajat besar, dan tidak pula beringus. Sisa-sisa makanan mereka berupa keringat yang keluar melalui kulit-kulit mereka, yang wanginya melebihi wangi minyak kesturi. Di manakah keberadaan penciptaan ini dalam penciptaan pertama? Di manakah keberadaan percampuran ini dalam pencampuran pertama? Kendatipun demikian, penciptaan ini bersifat alami dan sekaligus juga pencampuran yang sederhana dan seimbang. Allah Swt berfirman: … Dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui. (QS Al Ankabut 29: 20)

Karena itulah Allah Swt mengutus pada Nabi-Nya kepada hamba-hamba-Nya untuk menyampaikan hal ini, menyeru mereka, dan membuat mereka suka padanya, serta menunjukkan mereka pada jalan guna memperolehnya, sebagaimana mereka siap mencarinya ketika belum sampai padanya. Ini juga memudahkan mereka untuk berpisah dari selera dan kelezatan dunia, dan meringankan mereka dari kesusahan dan malapetaka dunia, ketika mengharapkan kesudahan mendiaminya, menghapus kesenangan, dan kesengsaraan dunia yang sebelumnya, serta mengingatkan mereka agar waspada pada hilangnya berbagai kenikmatan. Sebab, barangsiapa kehilangan kenikmatan itu, ia benar-benar dan jelas-jelas rugi.”

Sang arif selanjutnya berkata, “Inilah pandangan dan keyakinan kami, wahai rahib, di dalam muamalat kami dengan Tuhan kami yang telah kami katakan padamu. Dengan keyakinan ini, kehidupan kami di dunia menjadi baik, yang memudahkan kami menjauhkan diri dari kesenangan dunia (zuhd), dan meninggalkan keinginan kepadanya, yang menambah kecintaan kami kepada kampung akhirat, menambah ketamakan kami di dalam menuntutnya dan meringankan kami dari kelelahan beribadah sehingga kami tidak merasakannya lagi. Akan tetapi, kami merasakan hal itu sebagai kenikmatan, kemuliaan, kebanggaan, dan keagungan. Karena Allah menjadikan kami sebagai orang-orang yang selalu mengingat-Nya, maka Dia memberikan hidayah ke dalam hati kami, melapangkan dada kami, dan menerangi pandangan kami ketika engkau tahu bahwa kami diberi banyak kenikmatan dan berbagai kebaikan.”

Rahib itu berkata, “Allah membalasmu dengan balasan yang lebih baik dari orang yang memberi nasihat kepada orang yang mendatanginya, dari orang yang mengingat kebaikan orang yang menyertainya, dari orang yang membereskan petunjuk kepada orang yang memandangnya, dari dokter yang mengasihi kepada orang yang mengambil pelajaran darinya, dan dari saudara yang memberi nasihat kepada orang yang mengasihinya.”

 

One thought on “Wasiat Ibnu ‘Arabi: Wasiat Sang Arif dan Sang Rahib

  1. Pingback: Hari Perpisahan dengan Ibnu ‘Arabi | I love life, life loves me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s