Poetry of The Week: Aku Tidak Mau Cuma Punya Cerita tentang Mata yang Bengkak

Ia siap dibenci jika hanya bisa bercerita tentang matanya yang bengkak.
Ia tadi bercermin dan melihat dua matanya; betapa buruknya…
Betapa buruknya, betapa kacaunya, ditambah dengan wajah yang pucat; hanya karena kau telah menganggapnya indah.
Hanya karena kau terlanjur menganggapnya indah dan ia ingin meruntuhkan itu.
Agar matamu terang tentangnya, ia menangis hingga tertidur, dan buruknya aku yang hanya bisa membisu.
Aku dinding-dinding dan angin dingin yang menerpa jendela kamarnya; apa yang bisa kulakukan?

Ia benar-benar siap dibenci jika hanya bisa bercerita tentang yang tak dikehendakinya.
Ia menatap pagi tanpa bisa menyunggingkan senyumnya yang biasa, tanpa bisa melantunkan lagunya.
Satu jam di beranda menjadi patung yang dipermainkan burung-burung dan cahanya matahari.
Tiga jam dengan air mata sama dengan tiga hari perenungan atas ketidakmengertian.
Mengapa ia lebih percaya adanya kesalahpahaman ketimbang kesamaan pengertian? Menyusahkan saja.
Aku ingin mencopot kepalanya dan menilik isinya yang dipenuhi cairan itu; oh, dia hampir menangis lagi!

Aku memutuskan menjelma dan berbisik padanya lewat kesadaran yang dibangkitkan oleh birunya langit.
Hiduplah, bisikku sambil menciumnya.
Aku merasukinya dan bernapas untuknya, bergerak untuknya, berpikir untuknya.
Ia lalu menjadi robot yang mengerjakan apa saja untuk aku tuannya.
Mondar-mandir ke sana ke mari. Hilir mudik keluar masuk.
Ah, aku tahu itu dia:

Dia mulai berbicara pada semut-semut yang mengerumuni roti dan ia berikan roti itu.
Dia mulai berbicara pada kecoa-kecoa tanpa tega menghalau mereka pergi.
Dia mulai berbicara pada ayam-ayam dan mencarikan makan untuk mereka.
Dia bermain air, melihatnya mengalir, dan memandangi rumput-rumput yang bergoyang.
Dia membongkar sampah-sampah, membuang sampah-sampah, lalu menulis sesuatu yang menyenangkan.
Dia tertawa pada keberhasilan yang tak direncanakan. Dia telah punya cerita. Ya, semoga bukan untukmu!

Tapi, dia lalu menangis lagi. Di dalam hatinya. Jauh di dasar hatinya.
Ada sesuatu yang ingin membuatnya terus geram, sehingga ia bertanya:
“Sudahkah aku baik-baik saja?” Tapi, dia bodoh, maka tak bisa menjawab pertanyaan itu dan aku enggan membantunya.
Karenanya dia kembali membisu dan tetap membisu.
Kebodohannya mengujimu. Itu yang akan membuatmu menjambaki rambutmu sendiri, menjadi tua, dan mati.
Pergilah jika kau tak lagi ingin berurusan dengannya. Biarkan ia bersamaku: dinding-dinding dan angin dingin.

 

Di dalam tempurung yang mulai retak, January 1, 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s