I Kill Capitalism

Aku membunuh kapitalisme, begitu kesimpulanku setelah diskusi kami selesai. Aku sendiri tidak menyangka bisa sampai pada titik “memahami” ini. Aku sendiri tidak yakin apakah aku adalah orang yang telah paham. Mungkin masih jauh dari benar-benar paham, tetapi aku tidak bisa meremehkan aku di hari ini.

Khusus hari ini, kuliah pascasarjana bersama Prof. Mark Hobart (tema: Theoretical Issue in Cultural and Society Studies) diliburkan. Tidak langsung pulang, aku mengajak/diajak temanku dari jurusan Kajian Budaya dan Media untuk berdiskusi. Semua itu sebenarnya adalah kelanjutan dari diskusi pribadiku dengan “sensei”. *Oya, mulai sekarang akan ada tokoh yang kupanggil “sensei” dalam tulisan-tulisanku ^^.  Begini pendahuluannya, sebagai jalan masuk menuju diskusiku dengan temanku itu.

“Sensei, ideologi komunisme itu baik atau tidak? Setelah baca biografi beberapa tokoh yang muncul dalam kuliah, (saya mendapati) mereka pegiat komunisme. Saya bisa memandang pemikiran mereka sebagai pengetahuan, tapi entahlah kalau ada yang lain di balik semua ini,” kataku. Beberapa tokoh itu adalah Antonio Gramsci, Louis Althusser, dan E. P. Thompson.

Ia menjawab, “Komunisme bilang: agama adalah candu buat masyarakat. Memabukkan dengan tipuan ilusi.”

“Apakah hanya pemikiran itu yang ‘berbahaya’ dalam komunisme? Jadi, selain itu, komunisme baik-baik saja?”

“Komunisme jelas materialisme, sedangkan materialisme adalah kesombongan manusia yang angkuh dan mengikuti nafsu, dibungkus pakai ilmu seolah ilmiah.”

“Jadi, memang tidak bisa diterima sama sekali ya. Sensei, materialisme itu bagaimana sih? Singkat saja, sebagai awal saya belajar sendiri.”

“Materialisme bilang bahwa alam semesta merupakan kesatuan material yang tak terbatas, termasuk segala materi dan energi selalu ada dan akan tetap ada, dan bahwa alam adalah realitas yang dapat disentuh dan dapat diketahui manusia. Materi ada sebelum jiwa, dunia material adalah yang pertama, sedangkan pemikiran tentang dunia ini adalah nomor dua. Ini adalah filsafat resmi negara komunis: materialisme dialektik.”

“Sensei, pemikiran itu tergantung apa yang dipikirkan, bukan? Teori sosial itu tergantung masyarakat yang diteorikan, bukan? Seandainya yang dilihat bukan masyarakat yang materialis, apakah teori-teorinya tidak akan materialis?”

“Hmm.. bisa jadi. Semua sistem filsafat manusia pasti punya latar belakang dan konteks sejarahnya.”

“Bisa jadi? Berarti teori terbaik hanya dapat dirumuskan dari keberadaan masyarakat yang tidak tercemar dong. Mana ada yang seperti itu?”

“Teori sosial itu relatif. Tidak ada yang mutlak. Jangan sok humanis, tapi mengabaikan fitrah. Humanitas macam apa yang kau mau?”

“Saya hanya berpikir, setiap ilmuwan dan filsuf itu ‘korban’ zamannya. Siapa yang bisa mengendalikan zaman? Mereka orang-orang yang menjadikan zaman sebagai guru. Kalau mereka ada salah, sebagian bukan salah mereka.”

“Ya, saya setuju.”

“Sensei, saya baca, teori Marxis muncul dari (Karl Marx yang) melihat ketidakadilan di masyarakat dan ketimpangan ekonomi. Orang-orang itu (para ilmuwan pencetus teori, maksud saya) tidak ada yang hidup makmur, sehingga itu mungkin tanda ada benarnya teori mereka dalam menjelaskan keadaan zaman mereka. Saya merasa kasihan.” Contohnya, Karl Marx hidup dalam kemiskinan dan sakit di akhir hayatnya. Antonio Gramsci dipenjara dan meninggal karena sakit yang tak terobati.

“Kamu orang yang empati ya.”

“Entahlah. Saya hanya tidak bisa memisahkan pikiran dari perasaan saya dan sebaliknya (tidak bisa memisahkan perasaan dari pikiran).” Aku melanjutkan masalah kedua. “Jika kebanyakan aliran-aliran filsafat pemikiran manusia itu bermasalah (termasuk yang dirumuskan oleh muslim), mengapa aliran-aliran itu masih ada? Apakah manusia itu kurang kerjaan saja, jadi berpikir macam-macam?”

“Hmm.. Manusia banyak yang tidak belajar dari sejarah, kan? Manusia yang lepas dari histeriositas.”

“Kenapa materialisme tidak pernah/ (tidak) bisa mati? Meskipun sudah diserang berkali-kali. Sensei, saya mencermati filsuf-filsuf itu juga (para) historician. Mereka (orang yang) belajar dari sejarah.”

Inilah jeda di mana aku melakukan diskusi dengan temanku dari jurusan Kajian Budaya dan Media itu. Diskusiku dengan sensei berlanjut tepat dua jam setelahnya.

“Hmm.. Susah pertanyaanmu. Aku jadi bingung.”

“Susah ya? … (Saya) ingin berkata, sesuatu itu tak akan mati kalau Allah masih menghendaki itu hidup. Ia ada karena masih ada manfaatnya untuk manusia. Sekarang, saya jadi bertanya, apa manfaat materialisme bagi manusia?”

“Sebagai cara pikir yang pernah muncul, wujud penalaran yang cukup perlu diwaspadai…”

“Kenapa perlu diwaspadai? Bagaimana bisa mewaspadai sesuatu tanpa alasan begitu.” Aku melanjutkan, “Sensei, mencari jawaban atas pertanyaan itu sama seperti menjawab pertanyaan mengapa ada penderitaan dan kematian. Manusia tidak suka dua hal itu, tetapi agama menjungkirbalikkan konsepsi manusia tentang penderitaan dan kematian (sehingga ada manusia yang mencintai penderitaan dan kematian). Ini mungkin bukan ranah filsafat lagi, bukan?”

***

capitalism-cartoonweb1

Bukan ranah filsafat lagi. Entahlah. Aku bukan seorang filsuf, aku tidak mengerti mana yang masih ranah filsafat atau pengetahuan ilmiah, mana yang sudah bukan. Sebagai orang yang beragama aku bersyukur bahwa agama membawaku melampaui yang tidak bisa dilampaui manusia pada umumnya, begitu seperti yang aku rasakan. Temanku itu mengakui bahwa ia tak percaya agama, sehingga aku harus “menyeret” agama turun dua tingkat ke lantai pengetahuan ilmiah, tepatnya psikologi, agar saluran kami setara karena setidaknya kami sama-sama percaya pada kebenaran pengetahuan ilmiah. Aku bersyukur sekali pernah belajar psikologi agama dan psikologi positif.

Aku tahu, waktu diskusi siang tadi bersamanya, aku bersikap memuakkan. Aku bukan rekan diskusi yang baik karena bukan kebiasaanku berdiskusi. Aku tidak pernah berdiskusi semacam itu sebelumnya. Mahasiswa ilmu-ilmu sosial memenuhi harinya dengan mendiskusikan teori-teori ilmu sosial mereka, bukan? Entah bagaimana, aku bukan mahasiswa ilmu sosial yang baik. Aku bukan orang yang berdiskusi dengan orang. Aku orang yang berdiskusi dengan buku, dengan diri sendiri, dan dengan Tuhan. Jadi, tadi itu rasanya benar-benar mendebarkan.

Semua itu dimulai dari pertanyaan sederhanaku padanya, “Apa sih jeleknya komunisme itu?” Aku ingin tahu pandangan seorang mahasiswa “ilmu sosial”. Apakah ia juga menyadari bahwa teori-teori yang kami pelajari ini ditelurkan oleh para aktivis komunisme di berbagai negara. Misal, Gramsci adalah pendiri partai komunis di Spanyol, Althusser di Prancis, dan Thompson di Inggris. Pertanyaan selanjutnya yang kusimpan dan akan kukeluarkan jika ia bisa menjawab pertanyaan di atas adalah, “Apa hubungan antara Marxisme, sosialisme, komunisme, dan gerakan post-strukturalisme?”

Dia menjelaskan bahwa pada intinya komunisme itu tidak ada jeleknya. Aku tahu dia menyalahpahami aku, menyangka aku termasuk orang yang termakan kampanye anti-komunisme Soeharto di zaman Orde Baru. Sebenarnya aku ingin membidik komunisme sebagai aliran pemikiran, bukan gerakan sosial politiknya, meskipun tak dapat dinafikan keduanya itu memang berhubungan erat. Ia menceritakan bahwa komunisme yang jahat di Indonesia adalah versi pemerintah, bahwa kaum komunis membunuh orang dan ateis. Ada banyak versi penjelasan lainnya, di mana satu yang bagiku kontroversial adalah versi yang justru menyalahkan partai Islam besar saat itu sebagai justru yang melakukan pembunuhan. Logikanya begini. Partai komunis yang berhaluan sosialis melindungi kaum buruh. Partai Islam berisikan para kyai. Para kyai adalah pemilik modal yang ingin melanggengkan kekuasaan feodalis mereka. Demikianlah konflik sosial bermula, imajinasikanlah sendiri. Intinya, jeleknya komunisme itu buatan saja; karena sekarang pun banyak pihak yang ingin meluruskan sejarah, katanya.

Lalu aku bertanya, “Jadi, apa baiknya komunisme?” Di sinilah awal pembicaraan tentang kapitalisme. Dia tidak menjawabnya dengan pasti, tetapi membawaku melihat ke belakang pada sejarah ilmu ekonomi. Aku jadi ingat isi bab pertama buku pelajaran ekonomi kelas satu SMP-ku yang tak terlupakan. *Aku tak menyangka pengetahuan waktu itu menjadi satu-satunya prior-knowledge-ku hari ini dalam mengikuti kelas pascasarjana ini. Gerakan komunisme, ceritanya, mengusung ideologi sosialis, yang mana sosialisme itu berakar pada teori-teori Marxisme. Sosialisme itu musuh besar kapitalisme. Bagaimana kejadiannya pertarungan besar dua ideologi ekonomi itu, banyak dari kita sudah mengetahuinya; betapa itu tidak hanya merasuki sistem ekonomi, tetapi juga politik dan pemerintahan, mengubah wajah dunia menjadi berblok-blok, memicukan perang demi perang di berbagai negara. Keruntuhan sosialisme, sepertinya disayangkan oleh temanku itu yang mengerti busuknya kapitalisme.

Ceritanya, kapitalisme dan pengaruh-pengaruhnya dikupas, dipotong-potong, dimakan, dan ditelan betul-betul dalam perkuliahan di jurusan Kajian Budaya dan Media. Dari sini aku mengerti teori Cultural Hegemony yang dikemukakan Gramsci. Baru tadi pagi aku baca dan akhirnya paham. Kapitalisme, lewat orang-orang yang menganutnya, menghegemonikan diri lewat institusi budaya. Aku mengutip tulisan yang ada di Wikipedia tentang Cultural Hegemony ini. Memang mengerikan, tapi itu jika kau memandangnya mengerikan:

Capitalism maintained control not just through violence and political and economic coercion, but also through ideology. (Ideologi: ide-ide yang mencerminkan kepentingan suatu kelas pada suatu masa tertentu dalam sejarah…). The bourgeoisie developend hegemonic culture, which propagated its own values and norms so that they become “the common sense” values of all. People in the working class (and other class) identified their own good with the good of the bourgeoisie, and helped to maintain the status quo rather than revolting.

Temanku itu menceritakan bagaimana kapitalisme menghegemoni lewat budaya (budaya di sini sebaiknya tidak diterjemahkan sebagai budaya yang antropologis, melainkan lebih dekat pada cara hidup) dan media. Gurita kapitalisme sedemikian mencengkeram sampai orang-orang tak bisa menghindarkan diri darinya atau menolak. Kapitalisme menjadikan manusia sebagai robot yang tugasnya hanyalah mengkonsumsi barang-barang. Kapitalisme sedemikian merasuki jiwa manusia, manusia dikendalikan oleh dorongan-dorongan ketidaksadarannya untuk mengkonsumsi dan terus mengkonsumsi, belanja dan terus belanja. Iklan memanipulasi manusia sedemikian rupa, sehingga sangat masuk akal jika kebusukan itu ditentang dengan slogan “jangan percaya apa kata media”.

Aku manggut-manggut mendengarkan itu sampai ia bertanya, apakah aku tidak tersentak mengetahui hal tersebut? Ia sendiri mengakui bahwa belajar Kajian Budaya dan Media dan mengikuti kuliah ini membuatnya seperti itu. Aku cukup lama berpikir, apakah aku sempat berseru “wow” atau “wah” dalam hati selama mengikuti kuliah ini. “Aku tidak merasa begitu,” jawabku. Karena aku menerima itu sebagai pengetahuan saja; pengetahuan yang biasa saja. Belajar psikologi sedikit banyak membuatku secara otomatis menyusun sebuah dinamika psikologis bagaimana orang bisa sedemikian terkuasai oleh kapitalisme sehingga aku tidak heran. Sementara ia memandang kapitalisme sebagai kerajaan besar dengan tembok-tembok batu tinggi dan tentara-tentara yang perkasa, aku tidak mengerti mengapa aku harus memiliki pandangan serupa. Aku punya alasannya.

Aku tahu jawabanku ini juga memuakkannya. Sedikit banyak seperti inilah yang kuingat. Kapitalisme itu menang karena ada orang yang kalah. Kapitalisme itu menghegemoni karena ada orang yang membiarkan dirinya terkuasai. Kapitalisme menawarkan kesenangan duniawi. Tentu saja itu klop bagi orang-orang yang mengejar kesenangan duniawi. Bicara kebobrokan jika bertanya salah siapa, maka akan kujawab salah manusianya, baik yang menjadi kapitalis maupun yang menjadi korbannya. Sang kapitalis membiarkan dirinya dikuasai nafsu mengeruk kekayaan sebesar-besarnya, sementara sang korban membiarkan dirinya dikuasai nafsu memuaskan dan bersenang-senang sebesar-besarnya. Habis.

Penjelasan tersebut sedikit banyak berbau agama, bukan? Akhirnya aku pun tahu, temanku itu termasuk orang yang meragukan agama berdasarkan pengakuannya sendiri. Di sinilah kami mulai tak bersepakat, ketika ia berkata bahwa prosesnya tidak sesederhana itu. Ia berusaha membuatku melihat fakta bahwa dunia memang sudah mengerikan sehingga manusia tak bisa apa-apa lagi, disetir sedemikian rupa menuju kapitalisme. Manusia tidak bisa melawan gelombang itu. Ia sudah dimanipulasi sampai ia tak bisa bertindak rasional lagi. Ia mencontohkan orang yang membeli ini dan itu karena suka dan terus didorong oleh dorongan semacam itu.

Aku pun mengakui prosesnya memang tidak sederhana, tetapi dinamika dalam diri manusia juga tidak sesederhana itu. Betapa pun manusia dipengaruhi oleh lingkungannya yang menghegemoni, dia tetap merupakan makhluk yang diberi Tuhan kekuasaan atas dirinya sendiri untuk berpikir, memilih, dan bertindak. Itulah agensi manusia, pikirku. Dan ini membuat kami membahas lagi salah satu teori yang dibahas di kelas beberapa hari yang lalu, tentang matinya agensi manusia di alam post-modernisme. Meskipun anak-anak ilmu sosial rasanya meyakini kematian agensi sebagai salah satu indikator terjadinya dekonstruksi filosofis atas teori tentang karakteristik dasar manusia, mudah saja aku tidak percaya karena agensi itu terbukti ada dalam psikologi. Temanku berkata, “Tapi psikologi itu sendiri adalah alat kapitalis.” Dan aku bilang, yang intinya adalah begini:

Pertama, psikologi itu besar. Yang bisa dimanfaatkan oleh kapitalis adalah bagian psikologi yang bisa dimanfaatkan kapitalis, seperti tes-tes psikologi, metode-metode A, B, dan C, dan sebagainya. Selebihnya, psikologi tidak untuk “dijual” kecuali jika ahlinya ingin menjualnya. Pada dasarnya psikologi adalah ilmu untuk menolong orang agar mampu keluar dari masalahnya, bukan memanfaatkan orang. Jika dipermasalahkan psikologi yang digunakan untuk mengelompok-ngelompokkan orang, itu tidak bertujuan untuk membangun dan melanggengkan kelas sosial tertentu. Manusia itu memang bermacam-macam dan bisa dikelompok-kelompokkan, tetapi tidak selalu dan selamanya itu demi kepentingan kapitalis.

Kedua, terkait kapitalisme, manusia itu dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu yang hedonis dan eudaimonis. Hedonis adalah orang yang mengejar kesenangan, sementara eudaimonis adalah orang yang mencari kebahagiaan. Orang-orang yang termakan kapitalisme adalah orang-orang yang hedonis. Tapi, tidak sesederhana itu menilai seseorang itu korban kapitalisme dari melihat perilaku belanja, karena kita harus melihat apa tujuan di balik perilaku itu. Membeli barang mahal yang sama, orang bisa hedonis, bisa eudaimonis. Hedonis jika barang itu dibeli untuk kesenangan individualnya, tanpa peduli apakah itu bermanfaat atau tidak. Eudaimonis jika barang itu dibeli untuk kemudian dibagi bersama orang lain, dengan kesadaran penuh bahwa tindakan tersebut bermanfaat bagi sosial. Mangsa empuk kapitalisme adalah orang-orang yang hedonis, yang kehilangan kesadaran atas tindakannya itu. Sementara mereka yang eudaimonis, mereka bukan orang yang ambil pusing atas ketiadaan kesenangan karena visi mereka adalah kebahagiaan.

Ketiga, meskipun agama itu diremehkan oleh orang-orang yang tidak lagi percaya agama dan ateis, pentingnya keberagamaan dan spiritualitas, untungnya, diakui oleh psikologi. Peran agamanya banyak, tetapi satu yang terpenting adalah agama mendukung kontrol diri seseorang agar orang tersebut dapat berperilaku yang sebaiknya untuk dirinya. Agama itu sungguh-sungguh mendorong dan mendukung agensi manusia agar manusia menjadi makhluk yang merdeka, terutama dengan memberikannya tujuan-tujuan hidup yang eudaimonis, berorientasi pada kebahagiaan, bukannya kesenangan duniawi. Kalau sudah begitu, matilah kapitalisme. Ya, kelemahan TERBESAR kapitalisme adalah kapital tidak bisa dipakai untuk membeli kebahagiaan dan akhirat, bukan? Kapital bisa dipakai untuk menukar apa saja yang ada di dunia, tetapi tidak bisa dipakai untuk menukar akhirat.

***

Panjang sekali diskusi hari ini. Dia tetap bertanya, “Tetapi kan agama juga disampaikan lewat media.” Aku tahu arahnya, bahwa ia meragukan kebenaran agama yang sampai kepada seorang manusia, di mana medianya adalah manusia lain yang sudah terlanjur tak bisa dipercaya. Aku menjawabnya dengan jawaban yang intinya adalah begini:

Manusia itu misterius. Berikan apa saja pada dirinya, seburuk-buruk pemberian yang bisa kita berikan padanya. Manusia bukan makhluk yang akan tidak menerima itu apa adanya. Ia punya rasio, ia punya hati, yang semua itu bisa dipakai untuk menakar kebenaran sesuatu hal. Terkait agama, kita tak akan mampu melogika apa yang bisa dilakukan Tuhan jika Ia berkehendak membuat hamba-Nya mengerti agama. Memang sulit dipercaya, bahwa psikologi mengakui adanya pengalaman spiritual dan perannya dalam hidup manusia. Kira-kira, dari mana asalnya pengalaman spiritual itu? Apakah dibuat-buat oleh manusia? Itu “pemberian”, kalau kau percaya, dari Tuhan. Itu tidak dikonstruksi secara sosial. Itu dari Tuhan.

Agama itu tidak dipahami sekali jadi. Pemahaman agama berlangsung seumur hidup. Ada orang yang paham lebih cepat, ada yang terlambat. Ada yang paham di masa remaja, di masa dewasa, ada yang tepat sebelum mati. Setiap manusia dalam pencarian. Itulah manusia, makhluk yang senantiasa mencari. Dan di mana garis finishnya? Misteri. Mungkin kita sering menyaksikan betapa seorang teroris yang menampilkan dirinya di media dapat seperti sedemikian yakin pada agamanya. Itu yang ditampakkannya, yang kita analisis dengan teori-teori kita. Kita tidak tahu apa yang terjadi dalam hatinya ketika ia sendirian dalam perenungan. Tidak ada kebahagiaan absolut di bumi ini. Kesedihan itu ada dan itu ada dengan sebab. Setiap orang berusaha memahami sebab itu dan menemukan cara mengatasinya. Jadi, bagaimana bisa kita berteori tentang peran agama sedemikian mudah? Kita sedang dapat kulitnya saja kalau begitu.

Jika kita memahami manusia dan pencarian-pencariannya, betapapun manusia itu sedemikian bobroknya, sebobrok kapitalisme misalnya, selalu ada sebab bagi kita untuk mengasihani dan mengasihinya. Ia mungkin tampak gembira, tapi apa yang kita tahu dengan hatinya? Ia mungkin tampak melarat dan menderita, tapi apa yang kita tahu dengan hatinya? Inilah kelemahan ilmuwan sosial: meremehkan yang disifati dengan sosial itu sendiri, yakni manusia. Membangun teori memang penting untuk mendapatkan penjelasan makro atas kehidupan manusia, tetapi kita tetap harus memberikan ruang bagi keunikan, ruang bagi perkembangan. Silakan mewadahi manusia, tetapi manusia itu ingin fleksibilitas. Silakan memberikan fleksibilitas, tetapi manusia itu ingin diwadahi. Rumit, bukan? Ingin bebas, tetapi juga tak mengerti harus bagaimana jika dibebaskan mutlak.

***

Teman-teman di kelas pascasarjana itu mungkin mengasihaniku sebagai peserta yang paling tidak mengerti teori-teori ilmu sosial yang mereka pahami. Ah, bukan masalah besar. Itu bisa dipelajari, dan selebihnya aku punya psikologi yang tidak mereka miliki. Mereka mungkin memandang psikologi sebagai alat kapitalisme, tetapi pandangan yang seperti itu hanya bagi mereka yang berpandangan demikian. Aku tidak begitu. Psikologi justru bisa menjadi alat untuk menanggulangi hegemoni kapitalisme dengan menjadikannya sebagai sarana membantu manusia memperoleh kembali kesadaran dirinya yang hilang; untuk sadar sesadar-sadarnya bahwa kapitalisme itu membahayakan bagi kehidupan. Memang kapitalisme telah menguasai negara, sistem politik, dan ekonomi, tetapi ada satu tempat yang tidak bisa dijangkaunya jika kita tidak membiarkan tangannya bebas merambah, yaitu diri kita. Peduli apa dengan teori-teori post-strukturalis yang merugikan. Ia menjadi kenyataan jika kita percaya dan meyakini kebenarannya. Sepanjang kita tidak, apa yang bisa dilakukannya toh itu hanya pemikiran manusia.

Terakhir, aku belum ingin percaya Foucault, betapa pun ia salah satu tokoh dari sedikit sekali tokoh yang pemikirannya dipengaruhi oleh psikologi. Awalnya itu membesarkan hatiku di dalam kelas karena setidaknya ada satu teori yang bisa aku pahami, tetapi aku berhenti berpikir demikian. Foucault sempat belajar psikologi sehingga ia bisa menerbitkan buku pertamanya yang terkenal, Madness and Civilization (1960). Psikologi yang berkembang saat itu adalah psikoanalisis Freud, yang fokusnya adalah manusia-manusia bermasalah. Jika pemikiran Foucault dijadikan rujukan sampai saat ini, sangat tidak mengherankan pemikiran para filsuf Eropa pengikut-pengikutnya kehilangan sentuhan kemanusiaan. Dalam merumuskan teori post-strukturalis mereka, mereka mengandalkan mazhab psikologi yang paling “gelap” memandang manusia. Perlu diingat, saat itu mazhab psikologi yang lebih terang belum berkembang. Psikologi sosial kognitif yang lebih masuk akal baru mulai dikembangkan tahun 1961, psikologi humanis juga sekitar tahun itu, psikologi transpersonal setelah psikologi humanis, dan bahkan psikologi positif baru di tahun 1980-an sampai 1990-an.

Meskipun alasan mereka adalah bahwa alam ketidaksadaran adalah… AH, SATU HAL PENTING INI YANG TIDAK BISA AKU INGAT DARI KEMARIN! Rasanya, karena alam ketidaksadaran adalah salah satu dari dua hal yang tidak terkotori interpretasi? Entahlah. Semoga aku bisa ingat ini. Menyedihkan rasanya, gagal ingat. ^^

10 thoughts on “I Kill Capitalism

  1. Tulisan ini kurasakan sangat ndak fokus, tin. Entahlah, sepertinya ada banyak sekali gagasan dalam benakmu yang kau paksakan masuk dalam satu kali postingan ini. Awalnya kupikir ini adalah tulisan tentang kapitalisme dan sikapmu menentangnya hingga paham ini mati, tapi ternyata bukan….😀
    Satu catatan dariku tentang Foucault: doi adalah salah satu filsuf ‘kecurigaan’. Realitas yang dia lihat tak tampak seperti permukaannya. Selalu begitu. Dan salah satu alatnya menyibak realitas tersembunyi itu adalah psikoanalisis….

  2. wuih selesai jg bacanya.. *lap keringet*
    biasanya penentang ideologi kapitalisme adalah ideologi sosialisme, hehe pdahal ada sebuah ideologi yg bakal memendam kedua ideologi tsb.. *rise islam*
    … *negeriku sadarlah, negeri kita ini sudah dirongrong oleh kapitalis global*

    • Ahaha… panjang ya tulisan ini? Rasanya memang ini artikel terpanjang saya. Bisa melampaui 2.000 kata, padahal biasanya cuma 1.500-an kata🙂

      Secara pribadi, sebenarnya saya orang yang tidak setuju dengan gagasan Islam ikut berkontestasi seperti itu, apalagi dengan tujuan memendam kapitalisme atau sosialisme. Orang-orang yang memakai Islam untuk mencapai kepentingan-kepentingan dunia justru saya khawatirkan akan mengkorupsi Islam dengan menjadikannya Islam sekadar ideologi yang bernama “Islamisme” dan mengkorupsi jiwa mereka sendiri.

      … kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan…

      Kita perlu belajar “menutup mata” dari melihat dunia😀

  3. Pingback: Reaching Dream Bag. 17: An Irony After the Course on “Theoretical Issues in the Study of Society and Culture” | I love life, life loves me.

  4. Temanku itu mengakui bahwa ia tak percaya agama..

    sepanjang ini, cuma satu kalimat ini cukup menjawab semuanya. Simply, ga usah debat/tanya jawab sama yg jelas-jelas tak percaya Tuhan.

  5. Pingback: The Irony Continued: I’ll Keep Killing Capitalism | I love life, life loves me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s