Reaching Dream Bag. 17: An Irony After the Course on “Theoretical Issues in the Study of Society and Culture”

Theoretical issues in the study of society and culture (TISSC)/ permasalahan-permasalahan teoretikal dalam studi kemasyarakatan dan budaya adalah tema seri kuliah pascasarjana yang, alhamdulillah, selesai hari ini. Kuliah ini diadakan dari tanggal 15 sampai 30 Januari 2014 ini, bertempat di Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Kuliah ini mengundang Prof. Mark Hobart dari SOAS, University of London. Untuk mengetahui siapakah Prof. Mark Hobart, bisa teman-teman lihat di situs forum akademik beliau, dan apakah SOAS itu, di sini.

Mengikuti kuliah ini, aku “mengorbankan” dua minggu pertama masa liburan semesterku. Tapi, ini benar-benar memuaskan. Aku mendapatkan lebih daripada yang aku ekspektasikan. Awalnya aku hanya berharap sederhana, yaitu ingin tahu tentang studi kemasyarakatan dan budaya. Aku punya cita-cita mengembangkan psikologi untuk orang Indonesia, dan jalan yang paling masuk akal bagiku adalah dengan mengembangkan psikologi yang berwawasan budaya Indonesia. Ternyata aku diajak bertanya dan berpikir lebih jauh, lebih tinggi, dan lebih besar tentang kemungkinan adanya ilmu yang indigenous, yang lepas dari hegemoni dunia “Barat” yang terpusat pada dunia Eropa dan Amerika, atau dengan kata lain mengembangkan ilmu dengan “akar” yang berbeda.

Sejak awal aku membayangkan akan adanya psikologi orang Indonesia. Lebih dari itu, aku juga memikirkan kemungkinan lain, tepatnya tentang jalan untuk mewujudkan cita-citaku yang lain, yaitu mengembangkan psikologi Islami. Mungkin ada banyak macam jalan untuk mewujudkan semua itu, tetapi yang kali ini aku pelajari adalah jalan yang dibuka oleh para “post-structuralist” yang bersemangat mendekonstruksi teori-teori besar yang diciptakan para ilmuwan Eropa. Aku mengakui belum menjadi orang yang benar-benar mengerti perkara ini, tetapi lewat kuliah ini aku diberi kesempatan untuk melihat keberadaan jalan yang asing ini dan mempertimbangkan kemungkinan untuk menitinya.

Aku akan dibawa ke mana? Selalu itu pertanyaan setiap harinya. Tentu saja aku akan dibawa menuju suatu pemahaman, tetapi dengan pemahaman itu, aku selanjutnya akan di bawa ke mana? Berapa jarak yang masih terentang untuk sampai pada cita-cita? Berapa banyak waktu yang dibutuhkan? Semacam itulah. Mereka belum terjawab, tetapi aku bisa melihat keberadaan satu titik terang dan itu membuatku bersyukur.

 

Mengikuti kuliah ini aku akui berat. Seharusnya ini adalah perkuliahan 12 minggu, tetapi dipadatkan menjadi perkuliahan 12 hari. Persoalan yang aku hadapi banyak. Kuliah ini utamanya diperuntukkan oleh mahasiswa jurusan kajian budaya dan media, dan antropologi, di mana psikologi tidak masuk daftar. Jadi, sejak awal aku sudah memiliki kekurangan yang mendasar dan itu segera terbukti. Starting point-ku tidak sama dengan rekan-rekan yang lain, tetapi kalaupun aku bersedia berlari untuk mengejar ketertinggalan, waktu kuliah yang padat semacam itu tidak memberikan banyak waktu untuk mengeksplorasi bahan bacaan. Aku benar-benar asing dengan istilah-istilah serta para tokohnya. Rasanya luar biasa menjadi orang yang kebingungan, tetapi berusaha sebesar mungkin untuk mengerti lebih baik.

Aku tidak bisa menangkap semuanya, tetapi di antara semua itu, aku menangkap sedikit hal-hal “besar”. Teori-teori dan pemikiran-pemikiran aku pelajari hampir tidak ada hubungannya dengan agama, bahkan dikemukakan oleh para ilmuwan ateis, tetapi entah bagaimana, mempelajarinya justru membuatku memahami agama secara lebih baik. Adakah di antara kalian yang membaca tulisan saya sebelumnya yang berjudul I Kill Capitalism dan ingat bahwa saya bertanya apa manfaat keberadaan kapitalisme, materialisme, dan teman-temannya (sebagai salah satu contoh persoalan)?

…mencari jawaban atas pertanyaan itu sama seperti menjawab pertanyaan mengapa ada penderitaan dan kematian. Manusia tidak suka dua hal itu, tetapi agama menjungkirbalikkan konsepsi manusia tentang penderitaan dan kematian (sehingga ada manusia yang mencintai penderitaan dan kematian). Ini mungkin bukan ranah filsafat lagi, bukan?” Begitu kataku.

Logika hidup di dunia membuat kita wajar mengibliskan semua itu; membenci, mengutuk, menghindari, melempari, meneriaki, ingin meruntuhkan, dan sebagainya. Kita wajar “menjauhi” itu karena itu semua mematikan, membuat kotor, membuat dosa, dan sebagainya. Tapi, entahlah, apakah benar sikap kita jika juga merasa wajar untuk tidak mempelajarinya dengan pandangan mata dan batin yang bersih? Aku ingat bahwa agama biasa menjungkirbalikkan konsepsi-konsepsi manusiawi, memperbaiki cara pandang sehingga yang gelap dapat menjadi sumber terang yang lain.

Dari kuliah ini aku mengerti firman Allah, yang suatu ketika dijelaskan oleh Ibnu ‘Athaillah dalam bukunya yang sedang kubaca:

Allah membolehkanmu melihat apa yang ada di alam, tetapi Dia tidak mengizinkanmu berhenti di sana. Dia berfirman, ‘Katakan, “Perhatikan apa yang ada di langit!”‘ Penggunaan kalimat “perhatikan apa yang ada di langit”, menunjukkan bahwa Dia hendak membukakan pintu pemahaman untukmu. Dia tidak mengatakan, ‘Lihatlah langit!” karena ungkapan seperti itu hanya akan mengantarmu kepada keberadaan benda langit.

Melihat apa yang ada di balik yang terlihat. Melihat apa yang ada di balik yang sekadar terjadi di bumi dan dunia, apakah itu fenomena alam atau fenomena sosial, dari masa ke masa. Dari situ, aku semakin mengerti makna firman Allah yang pertama, “Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu…

Ini serupa yang dikatakan oleh Sir Francis Bacon, “Filsafat yang dangkal menyebabkan manusia cenderung pada atheisme; tetapi jika digali sedalam-dalamnya maka sungguh filsafat itu membimbing alam pikiran manusia pada keimanan.

Itulah maksudku. Aku merasa tidak dibiarkan berhenti sampai pada titik memahami teori untuk memahami dunia, tetapi melampaui itu. Untuk menemukan makna dari realitas? Bisa jadi, meskipun aku tak bisa mendaulat diriku sebagai orang yang sempurna pemahamannya. Katakanlah ini pengalaman spiritual. Di dalam ruang “tanpa Tuhan” itu justru ada Tuhan. Siapa yang bisa mencegahku merasakan hal yang seperti ini? Hal yang kecil saja dapat menjadi pematik sebuah cahaya. Aku mungkin sedikit bodoh dan tersesat pada jalan dunia, tetapi langkahku terasa lebih terarah di atas jalan yang lebih hakiki. Semakin yakin aku; tak perlu tahu banyak sekali, tetapi semoga datang kepadaku ilmu yang hakiki.

Hari itu, aku menulis padanya, untuk memberikan kesimpulan yang tertunda dari diskusi hari sebelumnya.

“Sensei, setiap kali belajar psikologi, saya menjadi lebih mengerti Islam dan sebaliknya. Sekarang pun, saya belajar ilmu sosial dan budaya, saya juga merasakan hal yang sama. Sekarang saya bisa mengerti apa manfaat kapitalisme ada. Benar-benar untuk menegaskan bahwa aturan Allah itu benar. Saya merasakan ironi, Sensei. Selama puluhan dan ratusan tahun, puluhan, ratusan orang “ditakdirkan” menjadi yang “salah” agar ada orang-orang lain yang dapat tahu yang benar. Kita tidak bisa mencela mereka, Sensei. Mereka orang-orang yang membuat kita belajar dan semakin beriman. Mereka menyedihkan.

… saya hanya merasa ini semua luar biasa. Pengetahuan yang dimiliki seorang ateis atau kafir adalah ilmu Allah juga. Allah tetap maha berkehendak atas ilmu itu, ingin dijadikannya bermanfaat untuk apa dan untuk siapa. Saya tidak tahu apakah ini kebenaran ataukah kearifan itu. Saya hanya merasa menjadi lebih baik. Saya ingin bisa berdoa untuk mereka. Mereka tak tahu yang mereka pikirkan (atau temukan dan hasilkan) adalah kebaikan. Semoga Allah memberi ganjaran yang baik untuk mereka. Subhanallah.”

Dari sini, aku bisa mengerti sebuah hadis Nabi. “Hikmah adalah harta yang hilang dari perbendaharaan kaum Muslim, maka barangsiapa yang menemukannya, maka ia lebih berhak memungutnya.” (HR Tirmizi) Aku merasa telah memungut sesuatu. Ia kecil, tetapi besar. Sederhana, tetapi menakjubkan. Dan rasanya seperti itu.

Ini hal yang bisa membuatmu menangis. Ah, tidak tahu juga. Mungkin hanya aku saja yang terlalu melankolis, dan kepalaku dipenuhi terlalu banyak air yang merembes keluar lewat mata dan hidung. Aku benar-benar menerima lebih dari yang aku harapkan. Haha… bagaimana aku akan mensyukuri ini?

Ya Allah, bolehkah hamba meminta lebih banyak lagi ilmu yang bermanfaat itu? Hamba ingin belajar lebih banyak hal, yaitu sedikit sekali hal dari perbendaharaan ilmu-Mu yang memenuhi langit dan bumi.

Hari ini aku menulis aku ingin belajar apa dan melayangkan harapan itu kepada Allah.

1. Agama

2. Filsafat

3. Sejarah

4. Psikologi

5. Bahasa

6. Ilmu Sosial dan Budaya

7. Ilmu Pendidikan

8. Ilmu Manajemen

Semoga Allah mempertemukanku dengan “orang-orang itu”, entah besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan, sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi, lima puluh tahun lagi, atau tepat sebelum mati. Semoga Allah menjadikanku senantiasa bersyukur atas ilmu yang disampaikan kepadaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s