TISSC Day 1: Teori-teori Pengetahuan dan Kekuasaan – Pendahuluan

Catatan:

Tulisan ini merupakan hasil pembacaan kembali atas materi perkuliahan dan catatan-catatan dari mengikuti kelas pascasarjana bersama Prof. Mark Hobart (terima kasih yang sebesar-besarnya untuk beliau ^^), dengan tema Theoretical Issues in tha Study of Society and Culture (TISSC), yang diadakan di FIB UGM, 15-30 Januari 2014 yang lalu. Aku tidak mengatakan diriku orang yang sudah benar-benar mengerti, dan menuliskan ini pada dasarnya adalah caraku yang lain untuk mengerti pascakuliah. Mungkin nanti isinya tak sepenuhnya akurat atau benar mencerminkan teorinya yang sesungguhnya, karena dalam memahami ini semua tentu saja aku menginterpretasi ini dan itu agar bermakna bagi diriku.

Di akhir, aku akan mencantumkan daftar bahan bacaan yang dipakai dalam perkuliahan. Insya Allah aku punya semuanya dalam bentuk file elektronik. Bagi yang membutuhkannya, teman-teman bisa menghubungiku di aftinanurulhusna@yahoo.co.id. Semoga ini semua bermanfaat!

***

Pendahuluan

“… Allah akan Meninggikan orang-orang yang beriman dari kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. al-Mujadilah 58: 11)

“… Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami Pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…” (QS Ali Imran 3: 140)

“… Sesungguhnya Allah tidak Mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS Ar-Ra’d 13: 11)

Kursus tentang persoalan-persoalan teoretis dalam studi masyarakat dan budaya membahas tentang fondasi dan perkembangan teoretis dalam ilmu humaniora sebagai keseluruhan. Tujuan kursus ini adalah untuk mengajarkan cara memeriksa secara kritis teori-teori tersebut melalui suatu analisis atas presuposisi-presuposisinya. Tapi, untuk apakah teori-teori tersebut diperiksa secara kritis? Mengapa teori-teori tersebut perlu diperiksa secara kritis? Apakah teori-teori tersebut tidak benar?

Pertanyaannya yang wajar sekali ditanyakan, tetapi persoalan sesungguhnya bukan sekadar persoalan benar dan tidak benar, melainkan mengapa dan bagaimana bisa ia benar, atau mengapa dan bagaimana bisa ia palsu. Ini  terkait dengan sejumlah fakta dan pendapat yang berputar-putar di sekelilingnya tentang ilmu-ilmu sosial-humaniora Eropa yang menghegemoni di dunia, yang sebenarnya telah menjadi perhatian para ilmuwan di negara-negara non-Eropa. Logika sederhana kita dipengaruhi oleh, salah satunya, pemahaman kita tentang relativitas sosial bahwa apa yang terjadi di tempat lain belum tentu sama terjadi di Eropa sehingga sesuatu hal tidak bisa dipahami, dimaknai, atau dijelaskan dengan cara yang sama dengan pendekatan, pemahaman, atau sudut pandang Eropa (saja).

Pemeriksaan kembali menjadi suatu tindakan yang penting, di mana hal pertama yang perlu dilakukan adalah menyadari sejarah teori-teori tersebut bisa dimunculkan dan latar belakang perkembangan disiplin ilmu (masing-masing). Disiplin ilmu dan teori-teori bersumber pada pemikiran-pemikiran, sedangkan pemikiran-pemikiran tersebut bersandar pada presuposisi atau prasangkaan. Pemahaman yang kritis pada teori-teori utama memungkinkan kita untuk secara kritis pula menganalisa berbagai macam hal dan menemukan hal-hal yang berbeda, yang dapat saja lebih bermanfaat dan menjawab persoalan-persoalan masyarakat non-Eropa.

Meskipun demikian, berbuat tidaklah semudah yang dikatakan. Berbicara ilmu pengetahuan Eropa berarti kita menghadapi satu struktur dan sistem ilmu pengetahuan yang (sedang) mapan, kuat, dan berkuasa. Jadi, bagaimana kemapanan, kekuatan, dan kekuasaan itu dapat dikritisi? Kita tidak hendak melakukan pemberontakan yang bodoh, yang asal berkata, “Saya tidak mau lagi percaya ini dan itu.” Kita akan melakukan tindakan yang akademik dan argumentatif sehingga kita dapat berkata, “Karena sebab ini dan itu, saya meyakini bahwa teori ini dan itu tidak dapat dipakai lagi untuk masyarakat saya.”

Pengetahuan memang menjadikan orang yang satu lebih berkuasa ketimbang orang yang lain, dan kekuasaan itu pun yang melanggengkan suatu tradisi ilmu pengetahuan. Tetapi, kekuasaan itu dipergilirkan, bukan? Ini proses yang alamiah dalam kehidupan manusia di mana hal-hal selalu mengalami kemajuan dan kemunduran, kebangkitan dan kejatuhan, pasang dan surut. Persoalanya adalah tinggal bagaimana kita menghadapinya agar setidaknya kita menjadi orang yang mampu berdaulat atas diri kita sendiri, tidak disetir oleh manusia lain, karena kita tahu apa yang benar dan baik bagi diri kita, berdasarkan pedoman dari Allah.

Memahami Cara Pengetahuan Bekerja

Pengetahuan yang berubah-ubah dari masa ke masa mencerminkan perubahan diri manusia. Hidup matinya pengetahuan tergantung pada manusia-manusia yang ada di belakangnya. Pada intinya, memahami cara pengetahuan bekerja sama dengan memahami cara manusia mengerjakan pengetahuan. Sejumlah pemikiran menarik dikemukakan oleh ahli terkait hal ini.

Pertama, Popper. “Sains berjalan melalui proses menduga dan menyanggah yang dengan itu para ilmuwan secara berangsur-angsur berpindah dari pemahaman yang keliru menuju yang kurang keliru.”

Dalam perpindahan itu, para ilmuwan membuat dugaan dan melakukan sanggahan, melakukan verifikasi dan falsifikasi. Dalam pemahamanku, pengetahuan yang baik adalah pengetahuan yang senantiasa terfalsifikasi karena itu menandakan perbaikan dan perkembangan, tetapi teori atau pendapat yang baik adalah teori yang mampu bertahan menghadapi argumen-argumen kontra atau dengan kata lain terverifikasi.

Kedua, Kuhn. “Sains berjalan kebanyakan melalui praktik yang teratur secara ‘normal’ sampai keberatan atau eksepsi terjadi pada paradigma yang menimbulkan ketegangan, sampai sebuah alternatif muncul yang menjelaskan baik apa yang dilakukan paradigma sebelumnya dan juga eksepsi tersebut. Maka revolusi pun terjadi. Begitu revolusi berakhir, saing ‘normal’ berlaku kembali.”

Sains “normal” adalah yang disebarkan dan dipelajari di sekolah-sekolah dan fakultas-fakultas saat ini. Revolusi sains terjadi ketika orang(-orang) melawan suatu paradigma. Temuan atau pemahaman yang baru, yang lebih mampu menjelaskan keadaan terkini, mengalahkan yang lama. Yang tidak senang pada pola-pola lama biasanya adalah para ilmuwan generasi muda, sementara itu generasi lama ingin tetap bertahan.

Tidak salah jika dikatakan bahwa kita sedang berada pada masa yang tenang, meskipun dalam beberapa tahun terakhir terdengar ada sedikit “kekacauan”. Aku pribadi tidak tahu seperti apa rasanya dalam revolusi ilmu pengetahuan, tetapi yang jelas itu pasti butuh keberanian dan dukungan. Meskipun demikian, revolusi dilakukan bukanlah tanpa dasar, melainkan bertolak dari temuan-temuan terkini yang lebih berguna dan lebih terang. Sebelum kita meneliti dan menemukan lebih banyak temuan semacam itu, suasana akan tenang-tenang saja seperti ini.

Ketiga, Feyerabend. “Penjelasan-penjelasan yang berbeda tentang pengetahuan tidak berhubungan satu sama lain melalui argumen atau bahkan revolusi. Karena presuposisi absolut mereka berbeda, mereka hanya tak dapat dibandingkan. Jadi, penelitian akan kebenaran saintifik adalah salah taruh. Teori-teori seharusnya dipelajari … sebagai sistem-sistem kepercayaan untuk dianalisis dalam hal social function of explanation-nya.”

Implikasinya, kita perlu berhati-hati dengan misi mencari kebenaran saintifik. Salah kaprah jika kita bercita-cita membangun satu teori terbenar dan tak terkalahkan, atau teori yang mampu mengalahkan teori-teori lain. Setiap teori dibangun berlandaskan presuposisi-presuposisi yang berbeda-beda, yang mana itu mencerminkan fokusnya dalam memahami suatu objek yang memiliki berbagai macam wajah sehingga sangat mungkin bagi objek tersebut untuk dipandang dengan perspektif yang berbeda-beda. Teori-teori tidak dapat dibandingkan begitu saja karena itu berarti kita sedang mempertarungkan wajah-wajah objek. Jika kita memaksa, bukannya penjelasan yang kita dapatkan, melainkan kita merusak objek tersebut. Jika ingin menganalisis suatu teori, kita perlu menganalisisnya dalam koridornya, membandingkan dan mengembangkannya dalam koridornya: apakah ia masih mampu untuk memberikan penjelasan atas suatu masalah menurut presuposisinya.

Keempat, Quine. “Fakta-fakta tidak cukup kuat untuk menetapkan satu teori. Teori-teori sangatlah kuat sehingga teori-teori yang berbeda selalu dapat menjelaskan satu set fakta apa saja dalam cara-cara yang berbeda. … selalu ada ‘manual translasi’ yang berbeda, yang menjelaskan fakta-fakta sama baiknya dan di antara mereka tidak mungkin untuk ditetapkan mana yang ‘benar’.”

Teori-teori menjelaskan satu fakta yang sama dengan cara yang berbeda-beda. Perbedaan ini membuat kita tidak dapat menentukan mana teori yang benar karena bisa jadi teori-teori itu sama benar atau sama bermanfaatnya dalam membuat penjelasan. Jika dikatakan setiap teori itu ada peruntukannya, menurutku itu benar untuk diterima. Maka, persoalan kita akan berpindah pada pertanyaan “untuk apa”, atau “untuk siapa”, atau “dalam kondisi apa” teori-teori tersebut benar. Istilah yang kemudian aku dapatkan untuk memahami konsep ini adalah “second-order theory“. Suatu teori tidak bisa langsung mengatakan itu benar atau itu salah sebelum diperhatikan kondisi, keadaan, situasi, atau konteks.

“Penyimpangan-penyimpangan” Pengetahuan Humaniora

1# Statistika yang Brutal

Ini adalah kritik terhadap penggunaan statistika yang brutal untuk mendorong derajat generalitas temuan-temuan spesifik di tempat dan waktu, pada orang-orang tertentu. Hukum-hukum statistika memunculkan standar kebenarannya sendiri dan jenis “pengetahuan objektif” yang baru. Angka-angka tidak lagi digunakan untuk mendeskripsikan, tetapi juga untuk menjelaskan dan memahami peristiwa. Dunia dikuasai hukum probabilitas (laws of chance) lewat pengukuran atau estimasi kemungkinan terjadinya suatu kejadian yang memunculkan penarikan kesimpulan generalitatif. Penggunaan statistika mereduksi aspek deterministik dari peristiwa bahwa sesuatu hal terjadi tergantung atau ditentukan oleh sesuatu hal yang lain yang mana itu dapat berbeda-beda antartempat.

Selain itu muncul definisi baru untuk menyatakan ke-normal-an manusia menjadi sekadar bersandar pada hasil perhitungan dan nilai rata-rata (averages) dan dispersi, dan selanjutnya melahirkan kelas-kelas manusia baru, yaitu yang “tidak normal”, yang menyimpang dari rata-rata. Dari situlah muncul jenis baru rekayasa sosial, cara baru untuk memodifikasi kelas-kelas sosial yang tidak diinginkan. Angka, jika sudah menjadi pengetahuan, juga akan berdampak pada pengaturan kehidupan sosial, bukan?

Banyak perilaku manusia, terutama yang dinilai sebagai perilaku yang salah, dihitung dan menghasilkan fakta-fakta mencengangkan akan regularitas kemunculannya dari tahun ke tahun. Angka kriminalitas, angka bunuh diri, angka perceraian, angka harapan hidup, dan sebagainya. Sekarang ini muncul generasi manusia yang tidak pernah ada sebelumnya di mana orang-orang percaya angka, sangat percaya apa kata angka. Mereka percaya bahwa angka dapat “berbicara” tentang segala hal, bahwa angka adalah makhluk yang jujur. Mereka jadi tidak melihat ada dunia di luar angka; kemungkinan-kemungkinan lain di luar apa kata angka.

2# Prinsip-prinsip Ilmu Alam untuk Memahami Manusia

Mengapa ada pembagian besar pengetahuan, ilmu alam dan ilmu humaniora? Semua itu berdasarkan pada pengakuan dan penghargaan bahwa manusia berperilaku secara berbeda dari atom-atom. Manusia yang hidup tidak sama dengan benda-benda alam yang mati. Manusia memiliki kemampuan untuk merefleksikan aktivitas sosial dan budaya mereka. Manusia makhluk yang memiliki pikiran dan pemikiran-pemikiran manusia itulah yang sangat banyak berperan menentukan peristiwa. Ilmu tentang pikiran ini (science of mind/ geist) yang saat ini diterjemahkan sebagai budaya (culture), menurut Dilthey.

Implikasinya, tidak bisa ada hukum-hukum untuk menjelaskan perilaku manusia sebagai individual atau masyarakat. Tidak ada teori-teori yang dapat diandalkan sepenuhnya. Tidak ada hipotesis. Manusia yang hidup tidak bisa diikat oleh hipotesis, teori-teori, dan hukum-hukum. Tidak bisa ada kata pasti atau harus seperti ini atau seperti itu. Apa yang dialami manusia di sini, meskipun sama dengan yang dialami manusia lain di sana, tidak bisa dikatakan memiliki penjelasan yang sama sehingga dapat diikat dengan hukum atau teori tertentu. Jika dikatakan perlu usaha lebih untuk memahami manusia, kita sebaiknya bersepakat dengan itu, terutama untuk menghargai kemanusiaan kita sendiri.

3# Yang Diperbuat oleh Barat: Eurocentrism

Pengetahuan adalah hal yang ada tidak demi dirinya sendiri. Pengetahuan adalah “mainan” di tangan manusia. Di tangan yang berbeda, pengetahuan dipergunakan untuk hal yang berbeda, tujuan yang berbeda. Di tangan yang baik, pengetahuan akan meningkatkan kehidupan, sementara di tangan yang jahat, pengetahuan akan merusakkan kehidupan. Berdasarkan itu, maka tepat jika dikatakan pengetahuan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial, dapat berupa individu maupun kolektif, pemerintah atau institusi agama, atau pula para pemilik modal.

Selama ini, setidaknya mulai abad pertengahan, perkembangan ilmu pengetahuan pesat terjadi di dunia Barat, yaitu Eropa. Ini bentuk pergiliran yang baik untuk diterima dan diambil pelajaran darinya setelah abad-abad sebelumnya perkembangan terjadi di Timur Tengah. Ilmu pengetahuan Eropa tidak diam di tempatnya, melainkan mengalir ke dunia baru di Timur seiring dengan gelombang kolonialisme dan imperialisme. Ilmu itu kemudian dipelajari dan digunakan oleh orang-orang Timur yang mengalami dominasi bangsa Eropa.

Eropa tidak hanya mendominasi dalam hal kekuatan militer, politik, budaya, atau ekonomi, tetapi juga ilmu pengetahuan. Pengetahuan Eropa mendominasi kehidupan intelektual di dunia Timur. Di masa kolonial, pengetahuan yang orang Eropa gali untuk memahami orang-orang Timur selanjutnya digunakan untuk menguasai dan mengatur, untuk memenangkan kedudukan mereka. Pada masa selanjutnya pasca-kolonialisme, dinamika yang terjadi selanjutnya juga tidak menguntungkan Timur ketika pengetahuan yang dikembangkan Barat dibawa ke Timur untuk memahami Timur lantaran sangat berakarnya dominasi Eropa. Yang baik adalah yang berasal dari Eropa, yang benar adalah yang dikembangkan di Eropa, berdasarkan standar Eropa. Ini ibarat memahami diri sendiri dengan menggunakan pemahaman orang lain atas diri kita. Kita percaya saja, ikut saja, mengekor saja, dan bangga dengan itu semua. Pada akhirnya yang terjadi adalah “kematian” diri kita sendiri lantaran kehilangan identitas dan kearifan.

Bagaimana keluar dari jerat Barat? Itu belum menjadi pertanyaan semua orang, sayangnya.

4# Apa yang Diperbuat oleh Para Kapitalis: Budaya Selebriti

Tidak hanya pengetahuan didominasi oleh pengetahuan Eropa, pengetahuan pun dikuasai oleh sekelompok orang tertentu dalam masyarakat di dalam negeri sendiri. Mereka adalah para pemilik kapital, modal, atau uang, dan media. Mereka bourgeoisie (baca: burzwazi), kelas menengah yang menguasai pasar,  materialistik, berorientasi pada keuntungan ekonomi, dan hedonisme, dan mereka berkekuatan politik. Mereka bersikap  philistinism; anti-intelektual, kurang menghargai seni, keindahan, spiritualitas, dan intelektual; dan cenderung berorientasi pada nilai-nilai materialistik. Mereka orang-orang biasa yang berusaha mendaki tangga sosial menuju status yang lebih tinggi, dengan cara menjadi orang kaya. Singkatnya seperti itu.

Kapitalisme yang melanda dunia salah satunya memunculkan budaya selebriti; budaya orang terkenal. Dyer mengatakan bahwa mereka adalah para individual yang terlihat menentukan masyarakat, mengontrol masyarakat. Mereka kita lihat bersama, tampil di televisi dan koran-koran, buku-buku dan majalah, poster-poster, iklan, dan jalanan. Mereka menampakkan “keindahan” mereka, mendominasi pengetahuan masyarakat tentang cara hidup dengan cara hidup mereka. Mereka “penjual mimpi” bagi orang-orang yang melihat mereka. Mereka punya standar baik dan benar mereka sendiri, dan celakanya, mereka merajai media. Mereka sering membuat orang-orang yang kritis muak, tetapi tak mampu berbuat apa-apa.

Bagaimana keluar dari jerat kaum selebriti yang seperti itu? Apakah juga belum menjadi pertanyaan banyak orang? Persoalannya, banyak orang yang ingin menjadi seperti mereka, maka tak ada yang bertanya.

5# Royal vs Nomad Science

Royal science adalah pengetahuan resmi yang ditetapkan oleh pemerintah atau menteri pendidikan, yang diajarkan secara resmi di sekolah-sekolah, yang diakui lewat sertifikat-sertifikat kelulusan, dan tak perlu dipertanyakan lantaran telah dijamin oleh otoritas. Istilah ini berasal dari masa feodal Eropa, di mana pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang diakui para penguasa, yang diajarkan di istana-istana. Lawannya adalah nomad science, yaitu pengetahuan kehidupan dan keseharian, yang tidak didapat di sekolah. Berisi teori-teori dan praktik yang dapat berbeda sama sekali dari pengetahuan resmi, dapat lebih bermanfaat, tetapi sering dipandang tidak ilmiah atau semi ilmiah. Lantaran tidak ada pengakuan dari otoritas pemilik kuasa, pengetahuan tersebut direndahkan dan dipandang tidak berguna tanpa pemeriksaan.

Itu sesungguhnya adalah kerugian yang sangat besar. Kita “mematikan” hidup banyak orang, orang-orang yang belajar dan hidup dengan cara yang berbeda karena sempitnya pandangan kita tentang apa yang disebut pengetahuan.

Kesimpulan: Pengetahuan dan Kekuasaan

Ini pertanyaan besarku di kelas. Apa hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan?

Pertama, pengetahuan adalah kunci membuka pintu-pintu kekuasaan. Pengetahuan menjadi indikator keterandalan seseorang dalam menyelesaikan permasalahan. Orang yang paling mampu menyelesaikan masalah secara alamiah akan ditunjuk menjadi pemimpin oleh orang-orang yang kurang mengerti. Masyarakat manusia pada dasarnya terbentuk dengan cara seperti ini. Yang berkuasa adalah yang berpengetahuan. Pengetahuan membuat manusia “tidak sama rata”.

Kedua, pemegang kekuasaan dan pemilik kekuatan adalah penentu pengetahuan; apa yang boleh dan bisa dipelajari dan digali, apa yang disebut sebagai baik dan benar, apa yang disebut sebagai salah dan menyimpang. Mereka pemilik suara dan pemutus perkara. Mereka pembuka dan penutup, pembebas dan pembatas. Tidak ada pengetahuan tanpa siapa yang berkuasa di baliknya, entah bangsa Eropa yang menghegemoni di dunia, atau pemerintah yang berkuasa di suatu negara, atau kelompok masyarakat yang dominan.

Ketiga, yang terpenting, pengetahuan adalah sumber kekuatan emansipatif, yang menyadarkan dan membebaskan manusia dari jerat kebodohan dan dominasi orang-orang bodoh, aturan-aturan bodoh, dan sistem-sistem yang bodoh. Pengetahuan adalah pembebas, pendorong keberanian untuk bertindak, membela diri, dan memberontak.

Apakah pengetahuan yang benar itu, dan kita tahu banyak pengetahuan yang dibungkam oleh sebab-sebab yang sesungguhnya terasa aneh sekali di mana biangnya adalah manusia itu sendiri. Manusia mempelajari tentang dirinya yang terjerat oleh jerat-jerat yang dibuat oleh jenisnya sendiri. Manusia bertarung tentang apa yang benar dan apa yang benar. Tidak banyak yang berbincang tentang apa yang salah, bukan? Pengetahuan manusia sempit oleh batas-batas yang dibuat oleh dirinya sendiri. Otak manusia memang hanya sebesar ruang tempurung kepalanya.

Setelah ini kita akan menjadi orang yang seperti apa?

Ah, semoga Allah sedang tersenyum pada kita.

Daftar Bacaan (yang berharap bisa dibaca ^^)

Kuhn, T.S. 1970. The structure of scientific revolutions. 2nd. edn. Chicago: Univ. Press, (if you are not familiar with Kuhn’s argument, please read a summary in one of the many books available, e.g. Chalmers – see Lecture 2).

*Inden, R. 1986. Orientalist constructions of India. Modern Asian studies 20, 1: 401-46.

*Adorno, T. & Horkheimer, M. [1972] 1993. The culture industry: enlightenment as mass deception. In The cultural studies reader. ed. S. During, London: Routledge.

Hacking, I. 1990. The taming of chance. Cambridge: Univ. Press.

*Shohat, E. & Stam, R. 1994. Unthinking Eurocentrism: multiculturalism and the media. London: Routledge.

Morley, D. & Chen, K-H. eds. 1996. Stuart Hall: critical dialogues in cultural studies. London: Routledge.

Cusset, F. 2008. French theory: how Foucault, Derrida, Deleuze, & Co. transformed the intellectual life of the United States. London: Univ. of Minnesota Press.

Foucault, M. 1977. Intellectuals and power. In Language, counter-memory, practice. ed. D.F. Bouchard, Ithaca, N.Y.: Cornell Univ. Press.

Deleuze, G. & Guatari, F. 1988. A thousand plateaux: capitalism and schizophrenia. trans. B. Massumi, London: Athlone.

Losee, J. 2001. A historical introduction to the philosophy of science. Oxford: Univ.

One thought on “TISSC Day 1: Teori-teori Pengetahuan dan Kekuasaan – Pendahuluan

  1. Pingback: TISSC Day 2: Apa yang Sebenarnya Kita Lakukan? – Explanation, Interpretation, and Description | I love life, life loves me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s