TISSC Day 2: Apa yang Sebenarnya Kita Lakukan? – Explanation, Interpretation, and Description

Catatan:

Tulisan ini merupakan hasil pembacaan kembali atas materi perkuliahan dan catatan-catatan dari mengikuti kelas pascasarjana bersama Prof. Mark Hobart (terima kasih yang sebesar-besarnya untuk beliau ^^), dengan tema Theoretical Issues in tha Study of Society and Culture (TISSC), yang diadakan di FIB UGM, 15-30 Januari 2014 yang lalu. Saya tidak mengatakan diri saya orang yang sudah benar-benar mengerti, dan menuliskan ini pada dasarnya adalah cara saya yang lain untuk mengerti pascakuliah. Mungkin nanti isinya tak sepenuhnya akurat atau benar mencerminkan teorinya yang sesungguhnya, karena dalam memahami ini semua tentu saja aku menginterpretasi ini dan itu agar bermakna bagi diri saya.

Di akhir, saya akan mencantumkan daftar bahan bacaan yang dipakai dalam perkuliahan. Insya Allah saya punya semuanya dalam bentuk file elektronik. Bagi yang membutuhkannya, teman-teman bisa menghubungi saya di aftinanurulhusna@yahoo.co.id. Semoga ini semua bermanfaat!

***

Pendahuluan

Di tulisan sebelumnya saya menulis: “tidak bisa ada hukum-hukum untuk menjelaskan perilaku manusia sebagai individual atau masyarakat. Tidak ada teori-teori yang dapat diandalkan sepenuhnya. Tidak ada hipotesis. Manusia yang hidup tidak bisa diikat oleh hipotesis, teori-teori, dan hukum-hukum. Tidak bisa ada kata pasti atau harus seperti ini atau seperti itu. Apa yang dialami manusia di sini, meskipun sama dengan yang dialami manusia lain di sana, tidak bisa dikatakan memiliki penjelasan yang sama sehingga dapat diikat dengan hukum atau teori tertentu. Jika dikatakan perlu usaha lebih untuk memahami manusia, kita sebaiknya bersepakat dengan itu, terutama untuk menghargai kemanusiaan kita sendiri.

Tulisan kali ini akan membahas tentang “teori”, yang dalam ilmu humaniora, kita sepakati “tidak dapat diandalkan sepenuhnya”, bahwa keterandalannya tergantung fungsi sosialnya; kemampuannya dalam memberikan penjelasan bagi manusia (Feyerabend). Teori-teori tersebut datang dan pergi dan akan seperti itu sepanjang masa, di mana yang datang kemudian diharapkan dapat lebih baik dalam memberikan penerangan, lebih menjelaskan.

Selain itu, kita pun bersepakat bahwa teori dalam ilmu humaniora tidak sama seperti teori dalam ilmu alam. Kata “teori” sesungguhnya adalah properti ilmu-ilmu alam, yang tujuan penyelidikan-penyelidikan ilmiahnya adalah untuk menemukan hukum-hukum atau aturan yang mengendalikan cara kerja alam. Alam diciptakan dengan karakteristik yang berbeda dari manusia, di mana pada dasarnya ia adalah “mati”. Benda-benda mati tidak bisa bertindak, menentukan atau berkehendak sesuatu atas dirinya sendiri. Diberikan stimulus yang sama, benda yang sama (sepanjang unsur-unsurnya belum berubah), tidak akan bereaksi berbeda. Penjelasannya pun menjadi pasti dan sama di berbagai tempat dan waktu (sekali lagi, sepanjang tidak ada perubahan tadi atau sepanjang unsur-unsurnya lengkap).

Manusia adalah makhluk yang “hidup”, di mana kelebihan utamanya ada pada dimilikinya fakultas akal dan hati yang memberinya kemampuan berpikir, merefleksi, dan mengevaluasi. Ia mampu menentukan, menginginkan, dan memilih. Pada satu stimulus yang sama, setiap manusia akan bereaksi berbeda-beda, dan memang begitulah konsekuensi dari penciptaannya. Karena itu, relativitas pengetahuan tentang manusia dan budayanya tinggi, kecuali pengetahuan tentang karakter-karakter dasarnya yang universal, terikat pada sifat kemanusiaannya. Teori dalam ilmu-ilmu humaniora berisi argumen-argumen yang dapat diperdebatkan dan terbuka untuk tidak disepakati.

Teori tentang manusia terikat zaman; periode waktu, tempat, dan karakter kehidupan sosial pada masa itu. Lebih jauh, teori pun terikat pada siapa yang berpikir di baliknya, dan jika kita sudah sampai pada persoalan subjek, maka pertanyaannya dapat lebih jauh lagi: seperti apa si peneliti dan yang diteliti (latar belakang pribadi, agama, keyakinan yang dianut, pemikiran-pemikiran, tujuan dan misi yang dimiliki, dan sebagainya). Di balik deskripsi atas fakta-fakta sosial, ada makna hasil interpretasi atas fakta-fakta tersebut. Penjelasan yang diusahakan untuk suatu peristiwa atau fenomena akhirnya tidak bisa hanya melihatkan apa yang tampak, tetapi juga apa yang tidak tampak. Atas satu peristiwa yang dideskripsikan sama di Eropa dan Asia, makna yang terkandung di baliknya dapat berbeda sehingga menghasilkan penjelasan yang berbeda.

 

Mengakurkan Dikotomi-dikotomi

Teori-teori dikonsepsikan bersandar pada hasil tindakan-tindakan investigatif atau penelitian. Dalam penelitian, apa yang dilakukan oleh orang-orang? Setidaknya ada tiga yang diusahakan, yaitu: mendeskripsi (description), menginterpretasi (interpretation), dan menjelaskan (explanation) suatu objek. Seseorang tidak dapat melakukan ketiga hal tersebut dalam waktu yang sama karena tiga aktivitas intelektual ini berbeda. Dalam pemahaman saya perbedaannya adalah seperti ini:

Aktivitas deskripsi mengandalkan pengalaman empiris, bagaimana seorang peneliti memanfaatkan seluruh inderanya (apa yang dilihat, didengar, atau dirasa) untuk mendapatkan gambaran detail dari suatu objek (tidak hanya berupa benda, tetapi dapat juga perilaku, aktivitas, peristiwa, sistem, atau institusi sosial). Orang yang sedang mendeskripsi, ia sedang berpikir tentang “how many different kinds of things are“. Ini cenderung pada empirisisme, bukan?

Aktivitas eksplanasi mengandalkan rasionalisme, bagaimana seorang peneliti menggunakan rasio dan logikanya untuk menemukan hubungan kausalitas (sebab-akibat) untuk menemukan jawaban atas pertanyaan “mengapa” sesuatu hal dapat terjadi. Orang yang sedang mencari penjelasan, ia sedang berpikir tentang bagaimana bisa X mengakibatkan Y, atau faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi Y. Ia mencari hubungan dan dinamika di antara hal-hal.

Aktivitas interpretasi merupakan jembatan bagi aktivitas deskripsi dan eksplanasi. Aktivitas deskripsi hanya menghasilkan pengetahuan yang kering, macam sekadar keluarga itu terdiri atas orangtua dan anak. Tetapi, apa makna keberadaan orang-orang itu? Dalam menginterpretasi, seorang peneliti berusaha menemukan pikiran, ide, signifikansi, intensi/ niat, fungsi, dan maksud di balik fakta-fakta deskriptif, yang berguna untuk menemukan penjelasan, misal mengapa orangtua sangat terikat pada anak dan juga sebaliknya? Itu karena orangtua punya makna bagi anak dan anak punya makna bagi orangtua.

Empirisisme dan rasionalisme sering dipandang sebagai dua aliran pemikiran yang berbeda. Memang berbeda, karena masing-masing punya fungsinya sendiri-sendiri. Pada suatu ketika, untuk mendapatkan pengetahuan awal, orang menggunakan inderanya untuk mendapatkan pengalaman, untuk tahu. Tetapi, pada saat yang lain, dari pengalaman yang banyak ia perlu mendapatkan intinya, maka ia menggunakan rasionalitasnya untuk membuat suatu kesimpulan, pengetahuan yang kualitasnya lebih tinggi dan lebih bermanfaat.

Jika kerja ilmuwan ilmu alam yang banyak bereksperimen, mengukur dan mengamati, maka ilmuwan ilmu sosial humaniora banyak mengamati, membangun dugaan, dan bertanya, dan dapat balik ditanyai. Kerja empirisnya diiringi dan digabung dengan kerja rasionalnya, dan terus seperti itu. Jadi, mengandalkan hanya salah satu cara tidak akan memberikan pengetahuan yang lebih berguna. Empirisisme berguna, tapi ada batasnya. Rasionalisme berguna, tapi ada batasnya pula.

 

Persoalan-persoalan di Sekitar Deskripsi, Interpretasi, dan Eksplanasi

Theory:

1.  A set of statements or principles devised to explain a group of facts or phenomena, especially one that has been repeatedly tested or is widely accepted and can be used to make predictions about natural phenomena.

2. The branch of a science or art consisting of its explanatory statements, accepted principles, and methods of analysis, as opposed to practice

3. Abstract reasoning; speculation

4. A belief or principle that guides action or assists comprehension or judgment

5. An assumption based on limited information or knowledge; a conjecture.

Tidak ada teori yang sempurna. Kualitas suatu teori dipengaruhi oleh kualitas penelitian. Kualitas penelitian dipengaruhi oleh kualitas aktivitas-aktivitas intelektual di dalamnya: kualitas deskripsi, interpretasi, dan eksplanasinya. Tiga aktivitas intelektual tersebut bukanlah hal yang berdiri sendiri dan tidak saling mempengaruhi. Kadang-kadang hubungan ketiganya tidak begitu “baik”.

1# Deskripsi

Kembali pada presuposisi empirisisme (yang ekstrem) bahwa satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman inderawi. Permasalahan yang muncul dari pernyataan itu adalah fakta bahwa tidak selalu indera memberikan pengalaman yang reliabel dan akurat. Jika indera itu bermasalah, maka persepsi pun bermasalah. Ini mengurangi kualitas suatu pengetahuan deskriptif.

Namun, lebih dari itu, terdapat masalah yang konseptual. Kita mendeskripsikan suatu benda berwarna merah setelah kita memahami konsep warna “merah”. Terkadang konseptualisasi sesuatu hal tidaklah sama, misal ada orang yang menyebut warna biru sebagai “hijau”, dan itu bukan karena inderanya bermasalah. Me-nama-i apa yang kita lihat pada dasarnya adalah memberikan tafsiran. Karena itu ada yang mengatakan bahwa deskripsi yang tidak berupa tafsiran (hasil interpretasi) adalah hampir tidak ada. Ekstremnya, semua deskripsi adalah tafsiran.

2# Interpretasi

Terkait penggunaan rasionalisme untuk membuat tafsiran (hasil interpretasi) yang berupa makna, itu pun terkadang tidak murni. Memahami suatu makna berarti mencapai inti dari apa yang dilakukan atau dikatakan, dan mencapai inti tersebut sering tidak mudah. Memahami bukan sekadar suatu proses mental, tetapi membutuhkan kondisi: dalam jenis kasus yang seperti apa, dalam lingkungan atau situasi yang seperti apa, sehingga akhirnya kita bisa berkata, “Sekarang saya tahu harus bagaimana.” (Wittgenstein)

Bukankah sering kita berada dalam kondisi di mana kita baru bisa mengerti suatu perkara jika perkara itu direpresentasikan atau ditampilkan kembali secara berbeda dari yang sebelumnya? Tanpa punya pengetahuan awal, kita pun susah mengerti hal-hal yang baru bagi kita. Bagaimana kita menginterpretasikan suatu objek rupanya dipengaruhi oleh diri orang kita sendiri; latar belakangnya, pengetahuan awalnya, nilai-nilai pribadi, dan pengalaman hidup, sebagai bentuk “pengetahuan awal” itu. Mungkin ini tak terelakkan, tetapi jika kita berbicara tentang sesuatu dipengaruhi oleh latar belakang kita, maka bisa jadi itu bukan kita yang berbicara, tetapi latar belakang kita. Jika begitu, bagaimana nasib objek yang kita bicarakan itu? Ke mana suaranya pergi?

Jika yang di atas itu mungkin salah si peneliti, yang diteliti pun dapat membuat dirinya salah diinterpretasi atau ditafsirkan. Ketika diminta menceritakan sesuatu, bukankah kita terkadang memutuskan untuk tidak menceritakan semuanya. Peristiwa X kita representasikan justru sebagai Y karena kita mempertimbangkan siapa yang mengajak kita berbicara, kesempatan, tujuan pribadi, dan harapan akan hasil pembicaraan itu. Jika kita tak mau repot, kita mengurangi di sana-sini. Sebaliknya, jika kita ingin mengambil manfaat tertentu, kita menambah di sana-sini. Tidak ada representasi yang benar-benar akurat atau utuh.

3# Eksplanasi

Jika deskripsi dan interpretasi dapat kacau, eksplanasi pun dapat kacau. Contohnya begini, seorang anak bertanya pada ibunya, mengapa mobil bisa berjalan. Ibunya menjawab sekadarnya saja karena mobil punya mesin dan ada bensinnya. Ibunya hanya mendeskripsikan komponen-komponen mobil dan tidak menjelaskan “mengapa” yang sesungguhnya. Bisa jadi itu tidak salah bagi sang ibu, tetapi seandainya si anak ingin berteori, tentu ia akan tersesat karena proses jalannya mobil lebih kompleks, melampaui deskripsi komponen-komponennya.

Masalah lain, terkadang jawaban yang menjadi penjelasan dapat merupakan masalah baru sehingga butuh penjelasan yang lain. Sebuah contoh diberikan oleh Wittgenstein (explanation as infinite regression), tentang Nabi Musa, sosok yang memimpin bangsa Israel keluar negeri Mesir. Bagi orang yang kritis, ada saja yang dapat diragukan, misalnya di manakah Mesir itu pada zaman di mana batas-batas negara belum jelas? Yang ditanya jadi perlu menjelaskan tentang Mesir agar orang yang bertanya mendapatkan penjelasan tentang Nabi Musa. Teori-teori sebagai penjelas terkadang bermain seperti itu; butuh penjelasan-penjelasan tambahan yang dapat menjadikannya semakin memusingkan.

 

Kesimpulan

Bagi saya, mungkin ada kemungkinan yang keempat setelah deskripsi, interpretasi, dan eksplanasi, yaitu distorsi; pengetahuan hasil penyelidikan yang justru palsu, memberikan penjelasan yang menyesatkan (misleading), atau salah dalam menggambarkan. Pemahaman kita dapat semakin jauh dari realitanya karena berbagai macam hal, baik yang kita tidak sengaja atau kita sengaja sehingga demikian pula teori yang kita buat. Bagaimana pun, potensi kerugian menjadi ada, karena pengetahuan adalah hal yang sangat diandalkan untuk mengambil keputusan, memprediksi, menyelesaikan masalah, mengatur, dan mengarahkan kehidupan. Kita memang tidak akan pernah mencapai kebenaran saintifik yang sempurna, tetapi berusaha ke arah situ perlu diusahakan sebaik-baiknya.

Teori untuk menjelaskan perilaku manusia atau budaya suatu masyarakat perlu disusun dengan memperhatikan relativitas pengetahuan, baik di tataran individu maupun kolektif. Penjelasan tentang suatu masyarakat oleh seseorang dapat tidak benar untuk semua orang, apalagi jika seseorang tersebut adalah orang asing. Apa yang benar bagi Eropa belum tentu benar bagi Asia, apa yang benar bagi mereka belum tentu benar bagi kita, dan apa yang benar bagi saya belum tentu benar bagi Anda. Dan sebaliknya, prinsip bagi yang salah juga demikian. Salah bagi saya belum tentu salah bagi Anda. Jika kita mengerti bahwa teori pada dasarnya berisi argumen-argumen untuk mendukung apa yang benar, tidak seharusnya kita menjadi saling membenci karena perbedaan pendapat. Bisa jadi perbedaan itu hanya di permukaan saja, tetapi presuposisi atau dugaan dasarnya sama. Atau, bisa jadi presuposisinya berbeda, tetapi tujuan penyelidikannya sama, yaitu untuk mencari penjelasan yang berguna dan mampu menjawab persoalan-persoalan hidup manusia. Dalam memahami suatu teori dan mencari regularitasnya, kita memang perlu (mulai) kritis dan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas.

Orang berpikir tidak demi berpikir itu sendiri; tidak mencari pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan ada untuk tujuan-tujuan tertentu, yang mana tidak semuanya bersifat altruistik; untuk menolong umat manusia. Pengetahuan tentang manusia untuk mengendalikan manusia, memenangkan kelompok manusia yang satu dan mengalahkan manusia yang lain, meraih dan memperbesar keuntungan-keuntungan ekonomi atau politik, atau untuk mendukung suatu ideologi atau pemikiran dan melawan yang lainnya. Yang menjadi musuh bersama seharusnya hanyalah orang-orang yang memanfaatkan pengetahuan untuk melanggengkan kerusakan dan kezaliman.

 

Referensi (yang Berharap untuk Dibaca ^^)

Essential reading

Winch, P. 1970. The idea of a social science In Rationality. ed. B. Wilson, Oxford: Blackwell.

Core reading

*Chalmers, A.F. 1978. What is this thing called science? Milton Keynes: Open Univ. Chs. 1-8.

*Goodman, N. 1981. Languages of art: an approach to a theory of symbols. Brighton: Harvester, Ch. 1 (esp. ‘Representation-as’ pp. 27-31).

Feyerabend, P. 1975. Against method: outline of an anarchistic theory of knowledge. London: Verso, Ch. 17.

Winch, P. 1970. Understanding a primitive society. In Rationality. ed. B. Wilson, Oxford: Blackwell; originally published in 1964 in The American philosophical quarterly 1.

*Althusser, L. 1971. Ideology and ideological state apparatuses. In Lenin and philosophy and other essays. London; New Left Books.

Hartley, J. 1992. Invisible fictions. In Tele-ology: studies in television. London: Routledge.

Fabian, J. 1991. Culture, time and the object of anthropology. In Time and the work of anthropology. New York: Harwood.

Hobart, M. 1995. As I lay laughing: encountering global knowledge in Bali. In Counterworks: managing the diversity of knowledge. ed. R. Fardon, ASA Decennial Series, London: Routledge.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s