The Irony Continued: I’ll Keep Killing Capitalism

Kuliah TISSC sudah selesai seminggu yang lalu, tetapi aku tetap terus memikirkannya. Seharusnya aku mulai mengerjakan tugas membuat makalahnya, tetapi aku justru menulis hal lain. Ahaha… kebiasaan. Tak bisa aku menghentikan pemikiran-pemikiran yang mengalir, sekalipun itu hanya mengandung sedikit pemahaman.

Satu minggu yang lalu aku isi dengan menulis kembali hasil pembacaan kembali catatan-catatan kuliah TISSC-ku. Kupikir aku benar-benar bodoh, rupanya tidak begitu. Aku berhasil mencapai pemahaman yang lebih baik tentang materi di pertemuan pertama tentang teori pengetahuan dan kuasa dan pertemuan kedua tentang tiga aktivitas intelektual dalam menghasilkan suatu teori, yaitu eksplanasi, interpretasi, dan deskripsi. Memasuki tulisan ketiga, aku membentur tembok tebal. Kali ini tentang salah satu objek studi ilmu humaniora, yaitu individual, yang mana itu akan berhubungan dengan aliran pemikiran individualisme. Aku kesulitan dalam merumuskan ini, maka aku akan berpikir-pikir dulu.

Jadi, apa kali ini? Lagi-lagi sebuah ironi yang aku temukan dari hasil merenungkan pelajaran-pelajaran waktu itu. Mungkin bukan hal yang penting bagi banyak orang, tetapi ini menjadi catatan besar bagiku.

***

Kemarin aku bertanya pada sensei, setelah beberapa menit aku membicarakan posmodernitas dalam karya sastra. Apakah berarti alam posmodernis saat ini memberikan ruang lebih bagi kegilaan dan ketidakrasionalan manusia? Ia menunjukkan padaku betapa “aneh”nya karya-karya posmodern. Ia memberikanku satu bahan bacaan, yang isinya aku ingat-ingat betul.

Konsep modern berawal dari pemikiran Rene Descartes “cogito ergo sum” yang berarti “saya berpikir maka saya ada”. Konsep ini mengedepankan peranan manusia sebagai subjek berpikir yang tidak dapat ditundukkan; tidak ada pemikiran tanpa diawali adanya pemikir. Istilah modern sendiri adalah sebuah istilah yang menandai zaman di mana manusia berperan dominan sebagai subjek yang berpikir rasional. Dengan pikirannya manusia menciptakan dunia. Zaman modern mengantarkan manusia pada kondisi “modern” yang merupakan dampak dari proses modernisasi, yaitu keadaan di mana kehidupan sosial berada di bawah kapitalisme, dominasi estetisme, sekularisme, klaim universal tentang rasionalitas instrumental, diferensiasi berbagai lapangan kehidupan, birokratisasi ekonomi, praktik-praktik polisi dan militer, dan moneterisasi nilai-nilai yang sedang berkembang. Modernitas adalah sesuatu yang ambigu. Modernisasi sebagai imbas rasionalisasi berpikir membuat dunia tertib dan dapat diandalkan, tetapi tidak dapat membuat dunia menjadi bermakna (Turner, 2003).

Manusia mencari makna, persis seperti yang dipikirkan oleh Victor Frankl dalam bukunya “Man’s Search for Meaning“, berisi pengalamannya berada dalam kamp konsentrasi Auschwitz pada masa Perang Dunia II dan deskripsi metode psikoterapi yang digagasnya, logoterapi. Aku kutipkan saja ringkasan buku tersebut dari Wikipedia untuk praktisnya.

According to Frankl, the way a prisoner imagined the future affected his longevity. … Frankl identifies three psychological reactions experienced by all inmates to one degree or another: (1) shock during the initial admission phase to the camp, (2) apathy after becoming accustomed to camp existence, in which the inmate values only that which helps himself and his friends survive, and (3) reactions of depersonalization, moral deformity, bitterness, and disillusionment if he survives and is liberated. Frankl concludes that the meaning of life is found in every moment of living; life never ceases to have meaning, even in suffering and death.

Frankl concludes from his experience that a prisoner’s psychological reactions are not solely the result of the conditions of his life, but also from the freedom of choice he always has even in severe suffering. The inner hold a prisoner has on his spiritual self relies on having a hope in the future, and that once a prisoner loses that hope, he is doomed.

(Menurut Frankl, cara seorang tahanan membayangkan masa depan mempengaruhi lama hidupnya. … Frankl mengidentifikasi tiga reaksi psikologis yang dialami oleh semua tahanan: (1) kegoncangan selama fase masuk pertama kali ke dalam kamp, (2) apati setelah menjadi terbisa dengan keberadaan kamp, di mana tahan hanya menghargai hal apa yang membantu dirinya dan rekannya untuk bertahan hidup, dan (3) reaksi depersonalisasi, deformitas moral, kepahitan, dan dis-ilusi (membebaskan diri dari harapan palsu) seandainya ia bertahan hidup dan dibebaskan. Frankl menyimpulkan bahwa makna hidup dapat ditemukan dalam setiap momen kehidupan; kehidupan tidak pernah berhenti memiliki makna, bahkan dalam penderitaan dan kematian.

Frankl menyimpulkan dari pengalamannya bahwa reaksi psikologis tahanan tidak semata-mata adalah hasil dari kondisi kehidupannya, tetapi juga dari kebebasan memilih yang selalu dimilikinya bahkan dalam kondisi menderita. Pegangan dalam diri yang tahanan miliki pada diri spiritualnya bersandar pada dimilikinya harapan di masa depan, dan begitu seorang tahanan kehilangan harapan, maka ia habislah ia.)

Siapa yang berkata subjek telah mati? Siapa yang percaya kapitalisme telah sedemikian berkuasa sampai mampu mengendalikan manusia tanpa manusia itu tak mampu menolak pengaruh-pengaruhnya? Kapitalisme, dengan kesenangan dunia yang ditawarkannya, di mataku memberikan dampak yang sama saja bagi psikis seseorang. Pertama, orang tergoncang, terpesona dengan keindahan, kecanggihan, kemudahan, kenikmatan, dan kesenangan yang ditawarkan. Kedua, bukan apati, orang menjadi sangat termotivasi untuk hidup dan tidak mau mati. Ketiga, depersonalisasi, deformitas moral, kepahitan, kegetiran, penderitaan juga, hasil hidup yang juga kering karena begitu bebasnya.

Hahh… dalam hatiku, aku ingin berkata, orang-orang yang menyerah pada kapitalisme, mereka sedang dibodohi oleh keadaan. Mereka dipermainkan oleh kondisi kehidupan mereka, yang memang tak terhindari, tetapi lupa bahwa sebagai manusia mereka punya kebebasan untuk memilih yang selalu dimilikinya bahwa dalam kondisi senang dan bahagia! Apa kabar diri spiritual mereka yang bersandar pada dimilikinya, bukan harapan, tetapi ketakutan di masa depan bahwa hal-hal buruk dapat terjadi? Begitu seseorang kehilangan ketakutan yang dibutuhkan untuk hidup dengan seimbang itu, maka habislah ia!

Aku ingat diskusi dengan teman dari jurusan Kajian Budaya dan Media waktu itu. Dia bilang, “Lho, Af, kamu itu sedang mementahkan teori kematian subjek. Kenapa waktu di kelas tidak ngomong?” Aku cuma bisa tertegun. Lho, iya ya? Aku sedang begitu ya? Benar-benar tidak berpikir seperti itu. Di kelas, teori itu masuk ke dalam kepalaku hanya sebagai teori; pengetahuan biasa. Aku tidak tahu kalau ada orang yang meyakini teori itu secara sungguh-sungguh dan menjadikan itu pandangan hidup mereka, lalu hidup dengan keyakinan itu. Setelah itu aku jadi menyimpulkan bahwa ternyata pemikiran post-strukturalis ada yang tidak relevan juga dengan psikologi. Sekali kau memandang dirimu tak berdaya, matilah kau. *Akhirnya, aku dapat ide untuk membuat makalah! ^^ So happy!

Dari situ aku mulai merenungkan hal lain: kebebasan untuk memilih, kemampuan yang hanya dimiliki oleh manusia. Entahlah, apakah itu konsekuensi atau kemampuan yang terpisah dari fakultas berpikir/ akalnya. Aku teringat ayat-ayat Al Quran, tentang keutamaan manusia karena diberi kebebasan untuk memilih ini. Dalam ketaatannya, malaikat hanya diberi satu pilihan, yaitu untuk taat. Langit dan bumi pun demikian. Ketika manusia diperintahkan untuk memperhatikan alam semesta, betapa alam semesta ini tak bercela, seimbang, dan teratur lantaran hukum-hukum yang tak berubah, semuanya adalah karena ketaatan pada yang menciptakannya, dan mereka tak diberi pilihan selain untuk tunduk.

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari Agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan?” (QS Ali Imran: 83)

Sementara itu, manusia adalah lawan yang sempurna, hanya karena ia diberi kemampuan untuk menjawab ya atau tidak. Manusia diperintahan untuk memperhatikan dirinya sendiri, dan jelas sekali kita adalah makhluk yang paling banyak membantah, betapa pun kuasa Tuhan meliputinya, sejak ia lahir sampai ia mati. Kita manusia membantah Tuhan, juga sesama kita sendiri, dan diri kita sendiri. Entah, apa yang kita, manusia, ingin ikuti dengan kebebasan yang diberikan kepada kita? Kita berpengetahuan agar kita tidak lagi ditakut-takuti oleh alam dan mitos-mitos, agar kita tidak takut lagi, agar kita mampu berkuasa atas diri dan kehidupan kita. Tapi dengan pengetahuan yang membuahkan kuasa, kita jadi menghendaki kekuasaan dan kemenangan atas orang lain, benda-benda mati, atas seluruh kehidupan, bahkan menundukkan kematian. Kita dijajah oleh diri kita sendiri, pada akhirnya.

Dengan kebebasannya untuk berpikir, pemikiran-pemikiran berkeliaran di mana yang satu menanggulangi dan mengalahkan yang lain. Dalam diskusi-diskusi dan perdebatan sepanjang masa, benar-benar kurasakan sebagai ironi jika yang kemudian muncul adalah orang-orang itu terjebak dalam relativitas dan pertanyaan siapa yang berhak memberikan penilaian benar atau salah yang final dan menghentikan kekacauan? Tidak ada. Akhirnya setiap orang pergi dengan kebenaran mereka masing-masing dan dengan pemikiran tentang apa yang salah pada diri lawan mereka masing-masing. Mereka mengukir anak-anak sungai baru dan menjaring pengikut-pengikut baru, juga dengan keterjebakan dan pertanyaan yang sama.

Aku berpikir, manusia itu sesungguhnya butuh seorang hakim, bukan? Kita ini benar-benar butuh hakim, yang dapat memberitakan apa yang benar, apa yang “nyata” sedang terjadi, dan apa yang “tidak nyata” dan hanya menipu, dan bagaimana sebaiknya kita. Allah Pemilik segala ilmu dan pengetahuan, tetapi entah kenapa bisa kekuasaan-Nya “dicabut” oleh sebagian manusia? Teori pengetahuan dan kuasa itu rasanya menjadi mentah, karena bagi orang yang membantah dan terus membantah dan tidak mau mengakui, para pemilik pengetahuan itu tak punya gigi untuk menguasai diri orang itu. Tapi, bagaimana dengan Tuhan? Keberadaannya tak membutuhkan sekutu atau pertolongan manusia. Biar manusia membantahnya sampai ajal menemuinya, Tangan Tuhan tetap mencengkeramnya dan membuatnya kembali pada-Nya. Mengetahui ini bagaimana bisa kita tidak takut?

Manusia mudah mempercayai apa saja, entah kenapa, kecuali Tuhan. Manusia mudah meyakini bahwa di Mars ada kehidupan dan UFO itu ada, tetapi tidak lebih mudah meyakini bahwa Tuhan itu ada padahal setiap hal adalah bukti keberadaan-Nya? Hanya karena matanya tak pernah melihat dan telinganya tak pernah mendengar? Tak ada bukti, maka tak ada yang bisa dipikirkan dengan rasio? Jadi, apakah ini yang dimaksudkan dengan “maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (QS Al Hajj 22: 46)?

Seberapa benar kekacauan yang sedang terjadi ini? Seberapa wajar ini terjadi menurut sifat dasar kita sebagai manusia? Aku mungkin tak bisa ikut menjadi bagian dari orang-orang yang berpikir itu, dan mengukir nama sebagai filsuf-filsuf besar. Tapi, belajar psikologi dan Islam membuatku berpikir tentang orang-orang yang berpikir itu dan tentang diriku yang berpikir ini. Mungkin, cukuplah seperti ini. Aku tak hendak meminta lebih selain hikmah yang terkumpul dalam dada agar aku tahu bagaimana sebaiknya aku setelah ini.

***

Lima hal yang tidak bisa dikuasai kapitalisme dan dengan itulah kau bisa membunuh kapitalisme:

1. Diri yang membantah

2. Kebahagiaan

3. Kehidupan

4. Kematian

5. Akhirat

Ah, yang di atas itu untuk diriku seorang saja. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s