Pascabaca “Filsafat Agama”: I Rethink Religion

Waktu kecil aku pernah bertanya, “Bu, apa maksudnya Allah itu Maha Melihat?”

Entah bagaimana tepatnya ibuku menjawab waktu itu, tetapi mudah saja aku mengerti. Rasanya intinya begini, dengan bahasaku yang sudah dewasa: Penglihatan Allah tidak dibatasi oleh apapun. Untuk mengkonkretkannya, waktu itu aku ingat ibu memintaku untuk melihat ke luar rumah, membuatku menyadari bahwa penglihatanku terhalang banyak benda, seperti pohon-pohon dan bangunan. Apa yang ada di balik bangunan itu? Aku tidak tahu. Penglihatanku tidak bisa menembus.

Apa berarti Allah Melihat bisa menembus? Wow, seperti manusia super… Aku ingat pernah punya kesan yang seperti itu. Itu membuatku kagum sekali pada Tuhan-ku.

Pernah suatu ketika aku memikirkan tentang malam yang gelap dan bertanya, apakah Allah juga berarti bisa melihat dalam gelap? Entah apa yang ada dalam pikiranku waktu itu, di malam hari setelah mengaji aku iseng pergi ke halaman depan rumah yang gelap. Aku melongok ke bawah rumpun melati dan luar biasa terkejut mendapati ada seekor kucing yang matanya berkilau memandang ke arahku! Itu pertama kalinya aku tahu mata kucing bisa bercahaya dalam gelap. Penjelasan biologisnya aku dapatkan bertahun-tahun kemudian.

Pengetahuan Allah Maha Melihat berkembang dari waktu ke waktu. Allah bisa melihat yang paling kecil dan lembut, yang paling jauh seperti bintang-bintang di langit yang jaraknya ribuan tahun cahaya dari bumi, yang tersembunyi dalam kotak terkunci… Semua itu semakin berhubungan dengan banyak hal lain dan sifat-sifat Allah yang lain. Aku memahaminya seperti itu untuk tahu, “Ya, Tuhanku seperti itu, sehebat itu.”

Pernah juga. “Bu, kenapa Allah tidak punya anak?” Dan ibu menjawab, “Kalau punya anak, nanti Allah punya bapak dan punya ibu, dong. Nanti ada kakek dan neneknya, paman dan bibinya.” Ya, memang jadi susah jika Tuhan pun berkeluarga seperti manusia. “Kalau Tuhan ada banyak, nanti kita mau ikut yang mana? Yang satu ingin begini, yang satu ingin begitu…” Ya, memang jadi mudah jika Tuhan cukup hanya satu. Ia Tuhan yang tidak perlu bertengkar dengan apapun dalam berkeputusan.

Juga, “Allah seperti apa, Bu?” Ibu menjawab, “Allah itu tidak sama seperti manusia. Tidak bisa dibayangkan seperti apa. Lihat kursi. Apa yang membuat kursi sama seperti kursi yang dibuatnya?” Iya, tidak. Yang membuat kursi itu manusia. Yang membuat manusia, tentu tidak seperti manusia. Tetapi, jawaban selanjutnya bukan “entah siapa”, melainkan Allah.

Perumpamaan menggunakan kursi itu persis sama seperti yang kutemukan dalam buku Filsafat Agama (Amsal Bakhtiar, Raja Grafindo Persada, 2007), yang baru saja selesai kubaca, dalam bab yang membahas tentang wujud Tuhan. Dari situ aku membuat kesimpulan, ibuku tentu pernah belajar filsafat dan pengetahuan itu dipakainya untuk mengajari anak-anaknya tentang Tuhan secara rasional, tanpa bertentangan dengan ayat-ayat Al Quran. Ternyata filsafat penting, ya. Tetapi lebih dari itu, menjadi wanita yang pandai dan mampu menggunakan pengetahuan filsafat untuk mendidik keluarga adalah lebih penting.

Aku tidak pernah berpikir rumit tentang Tuhan karena rasanya semua itu sudah begitu jelas sejak lama. Aku sudah merasa cukup dengan apa yang aku punya, dalam arti tidak ada dalam diriku pertanyaan yang belum terjawab tentang Tuhan, dan bukan dalam arti aku orang yang menerima begitu saja konsep-konsep tentang Tuhan. Meskipun aku demikian, aku sadar tidak begitu dengan orang lain, bukan? Membaca Filsafat Agama membuatku mengerti banyak sekali orang yang mencari Tuhan, bertanya tentang Tuhan, dan berusaha menjelaskan Tuhan. Pernah kesempitanku dalam berpikir membuatku tidak mengerti orang-orang yang memutuskan menjadi ateis atau yang memutuskan beragama secara biasa-biasa saja. Ya, mereka dua orang subjek penelitian untuk tugas mata kuliah metode penelitian kualitatifku yang baru kumengerti secara lebih baik setelah laporan penelitian itu kukumpulkan bulan lalu!

Kita semua, bahkan dalam bentuk keyakinan religius yang kita miliki sekarang, adalah “korban” zaman; dipengaruhi oleh zaman. Setiap mahasiswa, paling tidak, psikologi “terancam” ateisme atau agnostisisme lantaran freudianisme. Setiap mahasiswa ilmu sosial humaniora “terancam” lantaran humanisme dan eksistensialisme yang bablas. Setiap mahasiswa ilmu alam “terancam” lantaran naturalisme empiris positivistik yang sempit. Setiap orang biasa dalam kehidupan yang biasa “terancam” lantaran pertarungan kebaikan dan kejahatan yang terus ada, serta bencana-bencana dan penderitaan-penderitaan yang terus melanda, yang membuat mereka berpikir seakan-akan Tuhan tidak hadir di dunia. Orang yang mempertanyakan Tuhan akan mempertanyakan agama. Jika Tuhan tidak ada atau tidak begitu berperan, apa guna masih beragama, atau apa guna beragama dengan taat dan penuh keimanan? Meskipun bukan filsuf dan hanya orang biasa, mereka, kita semua adalah orang-orang yang berpikir. Jadi bertanya-tanya, berpikir semacam apa yang menyelamatkan manusia, jika nyata ada berpikir yang menjerumuskan?

Ya, itulah fungsi keberadaan para pemikir tandingan yang berusaha mengoreksi kerancuan berpikir orang-orang tentang eksistensi dan fungsi Tuhan dan agama. Aku termasuk yang meyakini pandangan bahwa yang tidak ada tidak akan pernah ada sekalipun di alam ide. Yang ada, meskipun pada akhirnya mengalami distorsi dan miskonsepsi, pasti ada yang hakikinya. Tuhan ada dalam bahasa manusia, maka Tuhan itu ada, sekalipun tak tertangkap pandangan indera dan tak terpahami oleh akal orang-orang yang menyanggah keberadaannya.

Jika kemudian ada “Tuhan” seperti yang sudah dibunuh oleh Nietzsche, Marx, dan Freud, itu pun bukan Tuhan yang hakiki, yang Maha Besar dan bersemayam di ‘Arasy sana, melainkan hal-hal yang dituhankan karena oleh orang benda-benda itu diperlakukan layaknya Tuhan; tuhan-tuhan buatan manusia, entah dalam bentuk jimat, patung, lukisan, orang kuat, orang kaya, orang terkenal, orang pintar, atau orang berkuasa, yang membodohi manusia. Meskipun akhirnya dipergunakan secara salah karena menjadi ekstrem, dan lepas dari kelemahan-kelemahannya yang kemudian terungkap, pemikiran-pemikiran humanisme, eksistensialisme, dan freudianisme sesungguhnya mengandung kritik yang luar biasa bagi orang-orang yang bertuhan dan beragama secara bodoh, tidak pakai otak, atau dengan kata lain, mau-maunya dimanfaatkan oleh manusia lain yang menyalahgunakan agama atau membuat-buat agama, mau-maunya termakan doktrin-doktrin yang tidak masuk akal dan justru mengecilkan dan melemahkan kemanusiaan manusia.

Manusia itu sungguh makhluk yang membuat sedih, bukan? Mencari dan menemukan Tuhan itu tidak mudah. Melepaskan dan melupakan Tuhan juga tidak lebih mudah. Mereka yang memperjuangkan ada Tuhan sama saja dengan yang mendustakan ada Tuhan. Sama beratnya dalam pikiran dan perasaan, tetapi nilainya berbeda. Yang satu berpahala, yang satu berdosa. Yang satu mendapatkan surga, yang satu mendapatkan neraka. Seandainya Tuhan benar tidak ada, baik yang beriman maupun tidak, akan selamat. Karena Tuhan itu ada, maka jelas yang mana yang akan celaka. Jadi teringat Blaise Pascal, teori probabilitasnya, dan perenungannya pada persoalan teologis filosofis ini. Perdebatan dua kubu teis dan ateis ini macam orang melempar dadu dan menggunakan teori probabilitas, tetapi dengan konsekuensi yang luar biasa. Pertaruhan yang berisiko sangat besar, bukan? Tuhan tidak bisa dibunuh, apalagi dengan hanya argumen manusia. Himbauan yang bagus: jangan bermain dadu dalam hal yang besar ini.

Bersyukur sekali menjadi orang Islam dan mengenal Allah, semoga Allah selalu memelihara keislaman ini.

Meskipun demikian, aku jadi berpikir lebih lanjut. “Tidak semua orang ditakdirkan hidup bertemu Islam atau hidup dalam keluarga atau masyarakat yang Islam, bukan? Jika orang-orang yang demikian menjadi ateis (dalam arti, mereka membebaskan diri dari kekangan agama dan tuhan yang salah), tidak bisakah dikatakan itu suatu kemajuan religius? Dari minus satu menjadi nol.

Terhadap orang-orang yang ada dalam pertanyaanku itu, sungguh aku sangat menghargai mereka dan mendoakan takdir yang baik, semoga mereka sempat bertemu Islam dan mempelajarinya sebagai orang yang mencari Tuhan. Sedikit lagi mereka plus satu.

***

world-religion-symbols-8129331

 

Buku Filsafat Agama: Wisata Pemikiran dan Kepercayaan Manusia karya Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M. A. ini sangat baik untuk dibaca. Bahasanya mudah dicerna dan cukup jenaka di beberapa penjelasan. Sebenarnya, buku ini rasanya telah “cukup”, menutup perdebatan pemikiran tentang Tuhan dan agama karena kesimpulan-kesimpulannya telah jelas. Kerancuan-kerancuan pun telah diluruskan. Ah, mungkin karena aku orang Islam dan berpikir dengan pandangan seorang muslim, makanya ini jadi mudah, ya. Entahlah ^^

Aku cuma berpikir, ketika yang terang sudah datang, mengapa perbincangan dan perdebatan masih terus berlanjut? Jawaban yang terpikirkan olehku sangat sederhana: karena setiap detik lahir manusia-manusia baru yang mencari Tuhan. Semua ini akan selesai pada saatnya di hari tidak ada manusia yang dilahirkan ke dunia lagi.

4 thoughts on “Pascabaca “Filsafat Agama”: I Rethink Religion

  1. Banyak jalan menuju kebenaran
    namun banyak pula yang salah jalan
    kebanyakan pencari kebenaran melakukan penelitian dan perbandingan dan berujung pada kebenaran, Islam. Mereka para penulis intelektual, wartawan dsb. Lalu ketika menjadi muslim, mereka menulis menuarakan kebenaran…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s