Orang-orang yang Tak Ada Jawaban untuk Mereka

1#

Ah, aku menikmati ambivalensi ini. 

Ketika diminta untuk memberikan jawaban, aku selalu bertanya pada diriku, siapa aku di mata mereka yang bertanya. Juga pada situasi-situasi yang melontarkan pertanyaan-pertanyaan, aku bertanya pada diriku siapakah aku yang berusaha menemukan jawab ini. Apakah aku orang yang layak untuk bertanya dan mendapatkan jawaban? Terkadang aku berpikir, jawaban-jawaban yang kuhendaki  itu tak kunjung datang karena Allah tahu, aku belum mampu bertanggung jawab atas pengetahuan ini. Allah tak membiarkanku menemukan akhir, tetapi Ia belum menghentikanku untuk terus berjalan. Siapa aku? Terlalu sempit hidupku jika aku mudah menemukan jawabannya. 

Persoalan lain. Ketika diriku sendiri yang bertanya, entah apakah pertanyaan itu aku sampaikan kepada orang lain atau aku simpan sendiri, aku selalu lalu bertanya, apakah jika aku dapatkan jawabannya aku akan menjadi jauh lebih baik? Bertanya seperti itu, aku merasa seperti dimasukkan dalam ruang yang gelap, hening, dingin, dan hampa. Meskipun demikian, sekalipun tanpa jawaban yang bisa dilihat atau didengar, berupa tulisan atau kata-kata yang diucapkan, tanpa mampu diekspresikan dalam bahasa apapun, dan tanpa titik terang, tetap saja ada cahaya, bisikan yang menghibur, kehangatan, dan rasa tidak kosong.

Hanya suatu kesadaran yang menumbuhkan penghargaan. Orang-orang yang mampu membubuhkan tanda tanya “?” di belakang setiap narasi yang sampai kepada mereka, hidup mereka tidak kosong. Mereka sedang membuat kemajuan meskipun itu tampak seperti kemunduran; tanda kebodohan. Mereka mungkin ditertawakan, atau menerima gelengan kepala dengan maksud yang bermacam-macam, atau juga decakan dengan maksud yang bermacam-macam pula, tetapi Allah tentu tidak begitu. Jawaban adalah milik manusia yang bertanya. Petunjuk adalah milik manusia yang mencari. Insya Allah. Semoga Allah Menyayangi kita.

Berenang-renang dalam alam pengetahuan, aku justru merasa paling Disayang oleh-Nya ketika diberi kesempatan untuk bertanya dalam hidup yang singkat ini. Seperti sedang bercakap-cakap dengan-Nya, dan ada saja jalan yang ditunjukkan-Nya agar aku tahu maupun tidak tahu. 

Mereka, orang-orang yang tidak ada jawaban untuk mereka… orang-orang yang merasa telah memiliki jawaban dan merasa telah merdeka, lalu menolak belaian ambivalensi.

Aku pernah menjadi seperti itu… Dulu.

***

2#

Ah, aku menikmati kontensi ini.

Sebenarnya “tidak begitu” menikmati >_<‘ Aku tidak punya bakat menjadi debator atau argumentator lisan yang baik. Aku tidak lincah dengan apa-apa yang harus disampaikan dengan mulut. Pikiranku sering berjalan lebih cepat daripada mulutku; dan aku sering tiba-tiba lupa dengan apa yang seharusnya aku katakan, padahal aku sudah mengerti bagaimana. Bagiku, saat-saat lancar berbicara adalah keajaiban yang agak langka. Tak pandai bermain kata, tak pandai membuat-buat argumentasi, tak pandai membual, hanya bisa bicara jika duduk perkaranya telah dipahami secara lengkap dan jelas… Aku bisu. Aku lebih suka membisu. Aku memilih membisu. Untuk sementara, semoga tidak selamanya, aku hanya mendengarkan.

Aku mengerti, dunia dipenuhi orang-orang yang berbicara. Pertarungan tidak hanya dilakukan dengan pedang, tetapi juga dengan lidah, dan itu lebih tajam. Ada orang-orang yang menggunakan pertanyaan bukan untuk mencari jawaban, melainkan untuk menyudutkan, menjatuhkan, mengalahkan, dan mengunggulkan diri sendiri. Mereka sesungguhnya adalah orang-orang yang paling sering membuatku iri. Mereka punya keberanian untuk bersuara dan menyuarakan apa saja, serta kefasihan untuk berbicara; dua hal yang aku kurang dan selalu aku harapkan semoga Allah berbaik hati memudahkanku dalam usahaku melancarkan lisanku. Rasanya, orang-orang yang demikian itu sedang membuang-buang keberanian dan kefasihan mereka yang penuh energi. Rasanya sayang sekali…

 

Persoalan lain. Orang berkata bahwa pria dan wanita itu sama, tetapi dalam kenyataanku sebagai manusia yang ditakdirkan berjenis kelamin perempuan, aku merasakan ketidaksamaan. Untuk bisa bergabung dalam diskusi-diskusi yang sulit dan rumit, forum-forum para pria, wanita perlu mengatasi ketertinggalan rasionalitas dan menjadi secerdas pria, dengan wawasan seluas pria. *Ah, ini membuatku ingin menangis. Dalam ruang kajian yang bersekat, pembicara-pembicara pria yang cerdas itu adalah milik audiens pria. Dalam ruang kajian tanpa sekat, saf-saf depan adalah milik audiens pria, dipenuhi para pria. Di beranda-beranda masjid atau mushola, mereka berkumpul dalam diskusi yang mengasyikkan. Aku memperhatikan sampai mereka pergi, baru mendekat dan duduk di situ setelah tempat itu kosong. Aku berbicara pada udara, “Tadi di sini ramai. Hei, beritahu aku. Apa artinya wanita itu kurang akalnya?” 

Tidak ada jawaban untukku. Aku termasuk orang-orang yang tidak punya jawaban. Karena aku tak bersuara? Tak menyuarakan pertanyaan?

Sebagian, iya.

Sebagian lain, bukan.

Karena ada pria yang tak mendengarkan. Karena ada pria yang tidak memperhatikan bahwa ada wanita yang mendengarkan mereka; ada wanita yang perlu waktu untuk mengumpulkan keberanian terlebih dahulu dan meruntuhkan dinding rasa malu yang mencegah mereka dari bertanya. Karena ada pria yang merasa wanita terlalu bodoh dan merepotkan untuk diajak berpikir rasional.

Ah, kasihan… Anak-anak perempuan yang dibesarkan untuk memelihara rasa malu di hadapan laki-laki, tetapi tak memiliki ayah atau saudara laki-laki yang mendengarkan “suara” mereka yang begitu lembut, juga tak memiliki ibu yang cukup cerdas untuk memanusiakan mereka.

***

3#

Ah, aku menikmati vakuasi ini.

Ada satu prinsip yang baru-baru ini aku pelajari dan tepat aku terapkan dalam sebuah diskusi panas yang akhirnya aku putuskan untuk aku tinggalkan. Aku tak mengerti bagaimana ini akan bermanfaat untuk orang lain, tetapi ini bekerja untukku yang sering terlalu percaya diri dan hanya mendengarkan diri sendiri. Prinsip itu aku pelajari dan aku rumuskan dari membaca ini:

Kesiapan satu wadah untuk menerima sesuatu tergantung dari apakah ia telah dikosongkan dari lawan sesuatu itu. Jika prinsip itu berlaku pada suatu benda, prinsip yang sama juga berlaku pada masalah keyakinan dan kehendak.

Jika hati dipenuhi kebatilan yang selalu dicintai dan diyakininya, maka tidak tersisalagi ruang untuk meyakini dan mencintai kebenaran. Apabila lisan sibuk membicarakan sesuatu yang tidak berguna, sang pemilik lisan itu tidak akan mampu mengucapkan sesuatu yang bermanfaat sebelum ia berhenti mengucapkan kebatilan. Jika anggota badan sibuk dengan selain ketaatan, ia tidak bisa berbuat taat sebelum dibebaskan dari lawannya. 

Apabila hati sibuk mencinta, menghendaki, dan merindukan selain Allah, ia tidak mungkin mencinta, menghendaki, dan merindukan pertemuan dengan-Nya sebelum dilepaskan dari keterkaitan dengan selain-Nya. Sama halnya, lisan tidak mampu berzikir dan tubuh tidak dapat mengabdi kepada-Nya sebelum ia dikosongkan dari ingatan dan pengabdian kepada selain Dia.”

— Ibn al-Qayyim, dalam Tajul ‘Arus (h. 33-34)

Jawaban itu, jika itu kita cari, ibarat air bersih yang kita butuhkan dan hendak kita simpan dalam sebuah gelas bernama hati. Air itu tak akan punya tempat jika gelas kita masih dipenuhi oleh air yang keruh. Jika kita ingin air bersih itu, maka kita perlu mengosongkan gelas kita dari air yang keruh itu. Apa saja air yang keruh itu? Menurutku:

Pertama, keyakinan nihilistis, bahwa jawaban itu tidak ada. Kalau sudah pesimis begitu, jawaban sebaik apapun itu akan mental semua.

Kedua, keyakinan fanatis individualistis, bahwa tidak ada jawaban selain dari diri sendiri; fanatis kolektivistis, bahwa tidak ada jawaban selain dari kelompok atau teman sendiri. Tidak ada yang dipercaya selain diri sendiri. Tidak ada yang dipercaya selain kelompok atau teman sendiri.

Ketiga, keyakinan materialistis, bahwa tidak ada jawaban selain dari yang bisa dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga, selain dari yang ada buktinya. Di luar itu, palsu, bohong, bukan jawaban.

Keempat, keyakinan idealistis, bahwa tidak ada jawaban selain dari yang seharusnya. Tidak seperti yang “seharusnya” bukan jawaban.

Kelima, keyakinan logis rasionalis, bahwa yang tidak masuk akal, bukan jawaban.

Keenam, keyakinan optimistis, bahwa semua hal pasti ada jawabannya. Sebenarnya, tidak semua hal ada jawabannya, atau paling belum bisa ada jawabannya untuk saat ini.

Ketujuh, keyakinan fatalistis, bahwa sesuatu itu begitu karena dari sananya sudah begitu, sudah sifatnya begitu, sudah akarnya begitu. Selesai perkara.

Kedelapan, keyakinan ateistis humanis, bahwa tidak ada Tuhan yang Mahatahu dan Maha Memberikan jawaban atas segala pertanyaan itu, bahwa dengan usaha dan pemikiran manusia saja cukup untuk mendatangkan jawaban.

Kesembilan, keyakinan eksklusif agamis, bahwa yang tidak ada dalam kitab suci  atau buku-buku agama bukan jawaban.

Kesepuluh, keyakinan pragmatis, bahwa yang tidak ada guna langsungnya atau kepraktisannya bukan jawaban.

Ayo, ada yang mau menambahkan lagi? Ahaha, banyak sekaligus bermacam-macam hal yang harus dikosongkan dari gelas ini. Tapi, sebenarnya, intinya adalah bersikap terbukalah. Vakuasi hati, kosongkan hati, dan terimalah segala kemungkinan jawaban, baca baik-baik dulu, dengarkan baik-baik dulu, baru kemudian bersikap kritis. Jawaban sesungguhnya ada, tetapi tidak masuk kalau kita menutup kemungkinan ia masuk. Perkara benar atau salahnya, baik atau buruknya, itu perkara nanti dalam hematku. Jawaban itu adalah karunia Allah, tetapi sifatnya tidak sama seperti rezeki yang ada hukum halal haramnya. Tidak ada jawaban yang terlarang, tetapi terkadang yang mengundang dosa itu adalah sebagian cara kita dalam mencari jawaban dan sikap kita dalam memperlakukan jawaban ketika ia datang.

Kau tahu rasanya mengosongkan hati dari kekeruhan? Tidak begitu mudah, karena sering kekeruhan itu begitu melekat sampai tidak kusadari bahwa hatiku sedang keruh. Yang selama ini aku andalkan adalah kepekaan atas gejolak diri, dengan terus-menerus bertanya pada diri: mengapa ada perasaan tidak suka pada ia atau mereka yang memberikan jawaban atas pertanyaanmu dan pada jawaban itu sendiri? Mengapa kau tidak mau memandang orang itu atau membaca pelan-pelan atau mendengarkan dengan seksama atas jawaban yang diberikan? Mengapa kau merasa muak?

Dan aku jawab sendiri: orang itu bicara dengan nada yang sombong seakan-akan dia yang paling benar. Orang itu bicara omong kosong, tanda ia tak mengerti apa yang aku tanyakan. Jawabannya jelas salah, tidak sama dengan keyakinan yang kuanut. Ternyata aku lebih pintar dari dia, aku lebih tahu dari dia. Ada banyak jawaban lain dan mendengarkan jawaban sendiri semacam itu dan mengakui bahwa itu benar aku alami adalah tindakan mental yang berat.

Biasanya tak aku biarkan pergulatan itu berlangsung berlama-lama. Langsung aku potong. “Diam kau.” Dan aku paksa dia untuk berkata, “Astaghfirullah. Aku sedang sombong.” Aku tarik napas panjang dan menghembuskannya, “Keluarlah. Aku ingin membaca. Aku ingin mendengarkan. Aku ingin mengerti sesuatu. Allah, tolong…”

***

Kualitas jawaban tergantung kualitas pertanyaan. Entah dari mana aku tahu kalimat mutiara itu, tetapi itu benar milikku. Semoga aku, kita, tidak seperti Bani Israil kaum Musa, yang banyak terlalu banyak bertanya dan mempertanyakan banyak hal tanpa ada manfaatnya, bahkan mengundang murka Allah. Semoga kehausanku, kehausan kita, akan jawaban, pengetahuan, tidak justru menjadikan kita orang-orang yang tercela. Semoga senantiasa ada dalam diri kita kerendahhatian dan kebersyukuran atas jawaban-jawaban yang baik dan benar, yang membuat kita “melihat” bahwa Tuhan itu ada dan sedang menyayangi kita. Semoga dengan apa yang kita tahu, kita bisa menjadi pemberi jawaban yang baik dan sabar bagi setiap orang yang mengadukan perkaranya pada kita, yang bertanya pada kita. ^^

2 thoughts on “Orang-orang yang Tak Ada Jawaban untuk Mereka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s