My Dreams on Education

1#

“Kalau diminta ide, saya mau menjawab, tidak ada mbak.

Saya pribadi tidak begitu tertarik dengan usaha-usaha membangun metode pendidikan yang begitu sistematis dan idealis dengan asumsi bahwa hanya yang terbaik lah yang akan menghasilkan yang terbaik. Semakin besar sistem dengan segala metode yang ingin dibangun demi standar-standar tinggi dan target-target besar, semakin besar kontrol dan kuasa yang dibutuhkan. Semakin besar kita ingin mengatur-atur tentang suami, istri, anak, atau siapa saja, saya khawatir kita akan justru menuai “pemberontakan” atau menanam benih “pemberontak” dalam diri orang-orang yang berusaha kita atur.

Pemikiran besar memang merupakan konsekuensi dari besarnya ilmu yang kita miliki. Meskipun demikian, tidak berarti itu membuat kita akan menjangkau apa saja, yang paling sederhana sekalipun. Saya kira, kita perlu berhati-hati dengan apa yang kita yakini sebagai yang ideal; berhati-hati dengan isi kepala kita, ide-ide kita, karena itu tidak bebas ujian dari Allah. Akhirnya, mungkin gagasan saya adalah pertimbangkan kemungkinan buruk dari semua yang di atas itu. Jika tidak berhasil terpikirkan apa kemungkinan buruknya, semoga saja itu cuma belum berhasil, bukannya tidak sedang tertipu.”

2#

“Kalau mba ingin masukan dalam merumuskan pendidikan anak, ada baiknya untuk terlebih dahulu memperhatikan peringatan Allah dalam QS Al Baqarah: 233: “Seorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah menderita karena anaknya.”

Dalam pemahaman saya, orangtua perlu mengenal “batas” dan menyadari nafsu-nafsunya. Rasanya kita justru mulai sakit jika mulai ada dalam pikiran kita keyakinan bahwa “anak saya tidak biasa, anak saya luar biasa, anak saya sangat berharga, anak saya berhak cinta yang terbaik. Saya harus memberikannya sebanyak mungkin hal demi masa depannya. Agar dia menjadi manusia yang hebat dan membanggakan bagi keluarga, masyarakat, agama, nusa dan bangsa.” -> macam dalam iklan susu anak (ah, persis ayat tersebut juga mengandung pedoman penyusuan anak -> wujud cinta kepada anak!); menanamkan cinta berlebihan pada anak.

Itu paham yang materialistik, yang menyedot secara luar biasa sumber daya orangtua, salah satunya dalam bentuk pemberian pendidikan “terbaik” untuk membentuk diri anak menjadi seperti yang diinginkan, untuk melindungi anak agar tidak menjadi seperti yang tidak diinginkan, dll. Meskipun orangtua menyangkal bahwa itu demi anak atau demi tertunaikannya kewajibannya sebagai orangtua, tetap saja kecenderungan pada yang ekstrem tidak sebaiknya dibiarkan tanpa evaluasi. Jika itu dibiarkan, mungkin itulah titik anak mulai akan menjadi ujian bagi orangtuanya.”

3#

Ada jauh lebih banyak keluarga yang hanya mampu menyekolahkan anaknya dalam sekolah-sekolah biasa yang penuh masalah itu. Ada jauh lebih banyak pula keluarga yang dikaruniakan Allah anak-anak yang biasa-biasa saja, tanpa bakat menonjol, atau IQ superior. Mereka hidup sederhana, bahkan pas-pasan, tidak mampu mengakses pendidikan ideal yang sayangnya mahal. Mereka tidak berani bermimpi tinggi karena sadar keterbatasan.

Maaf mba, seandainya saya berada dalam posisi mba yang sedang mencari inspirasi dari teman-teman, saya pribadi lebih suka mengajak teman-teman untuk berpikir dalam rangka memperjuangkan keluarga-keluarga yang seperti itu. Saya lebih ingin berusaha mencarikan jalan agar mereka lebih mampu mencintai kesederhanaan bahkan “kemiskinan”, mampu mensyukuri kehidupan yang biasa itu, dan hidup dengan optimisme dan ketawakalan kepada Allah, bahwa tidak apa-apa menjadi orang biasa, tidak apa-apa sekolah di sekolah biasa, tidak apa-apa punya anak yang biasa, tidak apa-apa punya orangtua yang biasa, tidak apa-apa punya cita-cita yang biasa, berteman dengan orang-orang biasa, makan makanan biasa, belajar pelajaran biasa… semoga Allah mencukupkan yang selebihnya yang dibutuhkan untuk menjadi hamba-Nya yang baik dan manusia yang bermanfaat. –> Cuma cita-cita saya, mba.”

Cuma cita-cita saya…

4#

Kalau saya berpikir lebih jauh, Al Quran sangat cukup untuk dijadikan ukuran. Islam menawarkan kesederhanaan. Karena itu, jika upaya kita dalam berislam mulai rumit, susah, dan berat, maka mungkin kita perlu mengevaluasi, bisa jadi kita sedang berlebih-lebihan.

Sebenarnya, yang paling mengundang pertanyaan bagi saya adalah frasa “anak hebat berorientasi akhirat” yang tertanam dalam pikiran para orangtua dan disebarluaskan dalam begitu banyak kajian dan seminar parenting, yang jika saya tidak salah kira adalah motivasi di balik status dan diskusi ini.

Kebanyakan dari kita sudah cukup dengan jawaban atas pertanyaan “bagaimana menghebatkan anak?”, dengan setumpuk kiat-kiat dan cara-cara mengasuh. Tapi, pernahkah coba didefinisikan bersama, “hebat” seperti apa di sini? Kenapa anak kita harus hebat? Untuk apa kehebatan itu? Dan, yang terpenting, apakah Islam mewajibkan bagi orangtua untuk menjadikan anak-anaknya hebat? Lebih sedikit diskusi ke arah sana, bukan? Padahal itu fundamental.

 

5#

Adakah yang berpikir lebih jauh tentang risiko-risiko kehebatan yang ditanggung jiwa anak yang dihebatkan orangtuanya? Setumpuk potensi penyakit hati di masa dewasa yang menggerogoti iman: merasa diri sudah baik, sombong, bangga diri, berpuas diri, memandang rendah orang lain, takut (bukan lagi pada Allah) dipandang buruk manusia, mulai memakai topeng, dan hidup dalam kepalsuan demi penghargaan-penghargaan sosial.

Orangtua tidak diberi Allah kuasa atas hati dan jiwa anak. Tapi, bentuk pertanggungjawaban seperti apa yang harus dilakukan orangtua jika hati dan jiwa anak lelah dan rusak lantaran sejak kecil pikiran dan perilakunya diatur sedemikian rupa demi cita-cita kehebatan, sekalipun berorientasi akhirat, yang tidak pernah anak minta?

Saya membayangkan nanti di masa depan akan ada saat semakin banyak orangtua yang berlomba-lomba menghebatkan anaknya, berbalik membutuhkan kajian dan seminar parenting tentang “bagaimana mentidakhebatkan anak”. Itu kegilaan yang bisa saja terjadi.

Saya pribadi berpikir, jika lillahita’ala adalah ukuran segala sesuatu, dengan kemungkinan risiko tadi, maka tidakkah menjadikan anak manusia yang sederhana justru lebih baik daripada menjadikannya anak yang hebat? Kalau jawabannya ya, maka tidak begitu tepat lagi cita-cita “anak hebat berorientasi akhirat”.

2 thoughts on “My Dreams on Education

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s