Diari Tesis Bag. 1: Bertumbuh lewat Tesis :D

Aku membuat keputusan besar hari ini lantaran ide yang terlintas begitu saja ketika merenungkan apa yang hendak aku ceritakan kali ini berkenaan dengan pengalamanku menyelesaikan lokakarya Teknik Penyusunan dan Penulisan Tesis (TP2T). Lokakarya ini diadakan oleh pengelola program magister psikologi di kampusku, Fakultas Psikologi UGM. Ini adalah tahap paling awal dari perjalanan “panjang” mengerjakan tesis untuk mencapai gelar master.

Ah… sebenarnya ini agak mengharukan ketika kupilih untuk menamai seri tulisan ini “Diari Tesis”. Jadi teringat kembali kisahku dua tahun lamanya menulis “Diari Skripsi” waktu S1 dulu. Apakah juga akan seperti itu? Pengalaman yang luar biasa dengan jatuh-bangunnya, tawa-tangisnya? Meskipun demikian, satu hal yang sangat aku harapkan: semoga ada pelajaran hidup yang luar biasa itu. Semoga aku bisa melihatnya, merasakannya, mengalaminya. Ya. Di samping ingin sebaik mungkin dalam menjalaninya dan menghasilkan karya yang bermanfaat, aku ingin juga bisa bertumbuh lewat tesis ini. Amin Ya Rabb.

Karena itu… Bismillahirahmanirrahim. Bersemangat! BERSEMANGAT!

***

Kau tahu, hal apa yang aku pikirkan saat ini? Satu hal. Sebuah doa yang aku pasang di halaman motto laporan penelitian skripsiku yang berjudul “Regulasi Diri Mahasiswa Berprestasi: Studi Fenomenologis”. Doa itu, entah bagaimana, telah menjadi prinsipku. Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku dengan cara keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari Sisi Engkau Kekuasaan yang menolong. Itu begitu bermakna, sejak aku menyadari bahwa semakin besar tugas, ujian, dan tanggung jawab, semakin besar tantangan untuk memegang teguh dan menegakkan etika dan moral.

Sementara skripsi sudahlah menjadi tugas, ujian, dan tanggung jawab yang lewat, hari ini aku mulai menghadapi tesis. Aku mencari lagi doa itu dalam Al Quran untuk kembali mendapatkan nasihat, peringatan, dan kekuatan, serta makna. Kali ini aku membacanya secara lebih lengkap, beberapa ayat sebelum dan sesudah ayat yang berisikan doa itu. Aku mendapatkan temanya; semua itu tentang petunjuk-petunjuk Allah dalam menghadapi tantangan. Aku membacanya baik-baik.

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). Dan pada sebagian malam hari, shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu Mengangkat kamu ke Tempat yang terpuji.

Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku dengan cara keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari Sisi Engkau Kekuasaan yang menolong.” Dan katakanlah, “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.

Dan Kami Turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi Penawar dan Rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. Dan apabila Kami Berikan Kesenangan kepada manusia, niscaya berpalinglah dia, dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan, niscaya dia berputus asa. Katakanlah, “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” Maka Tuhan-mu lebih Mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. 

QS Al Isra’ 17: 78-84

Ya Allah, semoga pengerjaan tesis ini mendekatkanku pada-Mu. Semoga aku mengerjakan hal-hal dengan cara yang Engkau Ridhai demi kebenaran yang Engkau Katakan tidak pernah lenyap itu. Semoga aku bukan termasuk golongan orang-orang yang zalim yang tidak bisa menerima petunjuk. Semoga aku termasuk orang yang pandai bersyukur dan berendah hati. Betapapun kesusahanku nanti, semoga aku tidak berputus asa dari Rahmat-Mu. Semoga Engkau tidak membebani aku dengan beban yang begitu berat, yang tidak sanggup aku pikul. Semoga pengerjaan tesis ini menjadi ibadah bagiku, tercatat sebagai amal yang membawaku lebih dekat pada-Mu…

Amin. Bersemangat! BERSEMANGAT!

***

Aku sadar, aku sedang membangun buffer, atau bumper spiritual. Ahaha… Aku kenal diriku. Aku orang yang rela menghabiskan dua tahun untuk skripsi demi idealisme. Kali ini pun, aku “takut” akan bernasib sama dalam hal idealisme. Ketika sudah menemukan hal yang menancap kuat dalam hati, yang bermakna, aku bukan orang yang dapat dengan mudah melepaskannya. Ketika sudah bertekad untuk dapat, aku akan berjuang untuk dapat. Jika tujuan itu ada di tempat yang tinggi, aku akan berjuang untuk memanjat naik. Aku keras kepala. Ketika sudah menetapkan standar, aku bukan orang yang akan menawar kembali standar itu. Ketika sudah menetapkan nilainya, aku tidak akan menurunkan harganya, sekalipun itu membuatku menjauhi logika umum. Entah kenapa, aku orang yang berani berkorban demi suatu nilai. Padahal nilai bukan barang yang bisa membuatku kenyang, mengapa “aku adalah nilai yang aku anut”?

Aku tidak bisa kali ini menghabiskan waktu dua tahun untuk tesis. Aku berharap diriku kini tidak sebodoh dulu yang menghabiskan satu tahun hanya untuk memahami metode fenomenologi dan satu tahun untuk skripsi itu sendiri. Sekalipun ternyata aku bodoh, aku berharap semoga aku tak selambat dulu untuk memahami hal-hal yang perlu aku pelajari. Sekalipun ternyata aku takut, semoga aku tak seragu-ragu dulu untuk membuat keputusan-keputusan. Semoga aku tak terjebak dalam diriku sendiri, asumsi-asumsiku, prinsip-prinsip bodohku, pemikiran-pemikiran dangkalku, perasaan-perasaan tak penting… Semoga aku bertemu orang-orang “kejam” yang dapat membantuku menghancurkan tempurung kecil yang mengungkungku.

Aku ingin pembimbing yang memahami betul kesungguhanku, menghargai kesungguhanku. Dia menetapkan standar untukku dan tidak sekadar meluluskanku. Ia menegurku atas kesalahanku, juga tersenyum padaku kemajuanku. Ia menunjukkanku buku-buku dan segala hal yang tidak pernah aku tahu sebelumnya, dan dia mendorongku untuk tahu. Ia bagaikan ayahku yang lain, atau ibuku yang lain. Ia adalah guru yang punya niat dalam hatinya untuk mendidik dan membesarkanku untuk menjadi seorang ilmuwan seperti dirinya di masa depan. Ketika aku gagal, ia menyemangatiku. Ketika aku berhasil, kami bersama-sama merayakannya. Aku sangat berterima kasih padanya. Benar-benar berterima kasih padanya.

Dan mungkin, “dia” tidak hanya mengacu pada satu orang. Dia adalah “semua orang” yang aku sayangi di kampusku. Orang-orang yang aku doakan, semoga Rahmat Allah menaungi mereka semua: guru-guruku.

Aku ingin meneliti tentang materialisme dalam dunia pendidikan, di mana kali ini adalah tentang orientasi dan nilai-nilai materialistik yang bercokol dalam kepala siswa-siswa sekolah yang aku prediksi mempengaruhi performa akademik mereka serta relasi sosial mereka di sekolah. Aku meninggalkan cita-cita meneruskan penelitian tentang regulasi diri. Sebabnya jelas bagiku, bahwa aku merasa telah “melihat” salah satu akar permasalahan mengapa terjadi disfungsi regulasi diri dalam diri sebagian siswa sekolah. Nilai-nilai yang mempengaruhi orientasi dan tujuan hidup mereka memang tidak sehat untuk memungkinkan mereka belajar dalam arti yang sesungguhnya. Salah didik, bisa jadi, baik oleh keluarga maupun sekolah dan guru mereka sendiri. Meneliti tentang ini, temuannya insya Allah akan bermanfaat untuk dipertimbangkan dalam upaya merumuskan kebijakan-kebijakan pendidikan. Itulah cita-cita jangka panjangku. Mimpiku tentang masa depan dunia pendidikan Indonesia.

Aku ingin menyelesaikan tesis ini dalam waktu satu tahun dimulai dari sekarang. Target jangka menengahku, di akhir semester kedua nanti aku sudah menyelesaikan proposal tesis. Nanti di masa liburan aku akan mendapatkan dosen pembimbing tesis, ia akan membaca kembali proposalku, menasihatiku untuk sejumlah revisi, dan di bulan selanjutnya aku bisa ujian komprehensif. Nanti, masuk semester tiga, selama satu bulan pertama aku menyusun alat ukur dan mengujinya, satu bulan kedua mengambil data, dan bulan ketiga aku menganalisis dan mendapatkan hasilnya. Bulan keempat aku menuliskan Bab 4 dan Bab 5. Bulan kelima aku seminar hasil, lalu dalam waktu dekat aku sidang tesis. Di bulan keenam, insya Allah, wisuda! INSYA ALLAH…

Untuk mencapai itu, satu semester ke depan ini, aku tidak boleh lengah. Aku akan mulai menyediakan enam jam seminggu untuk menyusun proposal tesis, untuk me-review jurnal-jurnal, dan membaca buku-buku, serta melihat lebih dekat permasalahan di lapangan. Di samping itu, aku akan berjuang untuk kuliah-kuliahku. Aku punya target IPK di atas 3,80; semoga itu memudahkanku ketika aku hendak melanjutkan kembali sekolah di jenjang yang lebih tinggi. INSYA ALLAH…

Malam yang menyenangkan, ketika aku bisa bermimpi tentang hal yang bisa kuwujudkan di kenyataan. Sangat menyenangkan dan menumbuhkan optimisme. Aku menerima bahwa mengerjakan tesis memang tidak mudah dan sangat menantang, tetapi aku dapat memilih untuk menjalaninya dengan suka cita. Ini mendekatkanku pada cita-citaku untuk menjadi ilmuwan, bukan? Ini hanyalah salah satu ujian naik tingkat. Aku pastikan, aku akan naik tingkat. INSYA ALLAH…

thesis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s