Diari Tesis Bag. 2: 1001 Bekal Menuju Tesis

Motivation-Picture-Quote-No-Quitting

 

1# Motivasi

Dulu ada hal yang dibanggakan oleh beberapa dosenku di Fak. Psikologi Undip bahwa kompetensi mahasiswa psikologi Undip cukup mumpuni untuk menjalani program pascasarjana di Fak. Psikologi UGM dengan mudah. Sebabnya, mahasiswa di Undip sudah tergembleng mengerjakan skripsi yang sulit dengan dosen-dosen yang sebagian sulit, dalam arti mereka punya standar yang lumayan tinggi untuk skripsi mahasiswanya. Karena sudah dibiasakan dengan yang tidak mudah, mengerjakan tesis di UGM insya Allah tidak sulit.

Berkuliah di Fak. Psikologi UGM, aku mencari-cari apakah pikiran semacam itu ada benarnya atau tidak. Entah kenapa, sekarang aku berpikir bahwa itu cuma motivasi dan penghibur hati saja agar mahasiswa berminat melanjutkan sekolah dan bertahan dengan sekolahnya. Tapi, terserah pembaca, terutama yang dari Fak. Psikologi Undip, mau ikut meyakininya atau tidak. Maksudku mengungkapkan hal ini adalah agar adik-adik kelas atau siapa saja yang hendak melanjutkan sekolah tidak meremehkan dan menganggap mudah. Mudah dan sulit itu pada dasarnya dirasakan relatif bagi kita semua. Pendapat segelintir orang bukan hukum yang berlaku bagi semua orang. Bagi yang orientasinya cuma gelar, tentu mereka mencari jalan-jalan yang landai. Bagi yang orientasinya penguasaan, justru mereka mencari jalan-jalan yang mendaki. Tapi bagaimana sebetulnya rasanya, kita yang pilih, bukan?

Satu hal lain yang dibanggakan adalah bahwa alumni Fak. Psikologi Undip cukup berprestasi di Fak. Psikologi UGM. Sebabnya, nilai-nilai mereka memuaskan dan lulus dengan baik. Tidak ada yang membuat nama almamaternya tercoreng. Ya, itulah semangat yang harus dijaga untuk siapa saja yang sudah menjadi alumni dan melanjutkan sekolah di universitas lain. Adik-adik sebaiknya mencontoh kakak-kakaknya itu. Ikut menorehkan tinta emas dan menjadi cerita bagi generasi-generasi selanjutnya.

Eh, tapi enam bulan kuliah di UGM aku lebih sering lupa dari mana aku pernah berasal ketimbang ingat. Ah, maafkan aku yang ceroboh. Almamater asal jarang disebut-sebut, kecuali di pertemuan pertama perkuliahan ketika sesi perkenalan saja. Ya, informasi tentang asal memang sering cuma berguna untuk perkenalan dan tidak untuk yang selebihnya, apalagi untuk persoalan-persoalan akademik. Dari mana kau pernah berasal rasanya tidak sebegitu berpengaruh karena setelah masuk ke tempat yang baru, otomatis kau menjadi orang yang baru, dengan identitas yang baru. Kau harus menyesuaikan diri dan menjadi orang UGM, dengan standar-standar dan segala aspirasinya. Untuk menjadi UGM, kau perlu bekerja keras dengan upayamu sendiri karena kakak-kakak kelas itu tidak selalu ada untuk mengulurkan tangan. Akhirnya, aku juga berkesimpulan bahwa yang di atas itu tadi juga sekadar motivasi dan penghibur hati yang sangat baik.

 

2# Efikasi

Masalah utama sebagian orang yang melanjutkan sekolah adalah, entah kenapa, justru perasaan “saya tidak begitu pintar” dan “saya tidak bisa” dalam diri mereka. Aku sungguh-sungguh bingung jika bertemu orang yang seperti itu. Apakah mereka sekadar sedang merendah tentang kemampuan mereka, atau kemampuan mereka benar-benar seperti yang mereka ungkapkan?

Di perkuliahan, beberapa kali mendengar teman yang berkata, “Saya kan tidak sepintar kamu…”, atau “Saya tidak serajin kamu…”, atau “Saya tidak jago bahasa Inggris…” tetapi tidak lantas berkata, “Ajari saya dong!”, atau “Saya ingin juga bisa begitu!”, atau “Saya ingin bisa mengerti itu. Kamu belajar dari buku apa?” Itu benar-benar membuat bingung. Apa mau mereka sebenarnya? Aku membayangkan mereka ini seperti sedang celaka. Mereka ini masuk ke tempat yang sesungguhnya bisa membuat mereka atau mengubah mereka menjadi lebih baik, tetapi mereka justru berkubang rasa “saya tidak begitu pintar” dan “saya tidak bisa”.

Itulah kenapa menurutku nasihat Pak Faturochman  benar, agar mahasiswa memperbaiki efikasi diri (keyakinan diri bisa mencapai apa yang diharapkan) mereka; memanfaatkan kesempatan belajar psikologi tidak hanya untuk mendapatkan pengetahuan, tetapi juga menggunakan pengetahuan itu untuk belajar menyembuhkan diri sendiri. Dokter tidak bisa menyembuhkan orang kalau dirinya sendiri sedang sakit, bukan? Kau tidak bisa membantu orang kalau kau tidak bisa membantu dirimu sendiri. Kau tidak bisa membuat orang lain belajar kalau kau tidak bisa membuat dirimu sendiri belajar. Kau tidak bisa menuntut orang lain untuk baik kalau kau sendiri masih bermasalah.

Namun, masalah utama lainnya, sebagian orang terlalu takut untuk mengakui bahwa diri mereka bermasalah. Dan mereka beranggapan bahwa belajar mengatasi masalah itu adalah tidak mudah, berat, dan tak mampu dipikirkan lagi oleh otak mereka. Mereka merasa terlalu lelah, tetapi itu bukan karena berusaha memperbaiki diri, melainkan karena terus-menerus berada dalam kondisi bermasalah. Mereka lalu meneggelamkan diri dalam aktivitas bersenang-senang untuk menghibur hati, dan akhirnya tak ada yang terselesaikan karena mereka menunda melakukan hal terpenting yang seharusnya. Setiap hari mereka terus bangun dengan masalah yang sama dan mengeluhkan hal yang sama. Setiap hari pula mereka tidur dengan masalah yang sama dan mengeluhkan hal yang sama. Itu karena mereka tidak yakin kalau mereka bisa menjadi lebih baik.

 

 

3# Aspirasi

Ketimbang bercerita tentang “masuk psikologi seperti salah jalan”? lebih baik bercerita tentang “akhirnya, psikologi adalah jalan saya”? Seandainya aku menjadi bapak yang waktu itu bicara tentang kompetensi seorang lulusan program magister psikologi, aku tak akan membicarakan hal-hal terkait kompetensi sebelum meluruskan orientasi para mahasiswa pendengarnya. Apa yang dikatakan orientasi sesungguhnya melebihi apa yang tercakup dalam satu kata “karier”. Teman-teman saya dan saya sekolah lagi dan belajar lagi bukan untuk berkarier, tetapi untuk bertahan hidup; untuk hidup dengan karier itu.

Agak omong-kosong dengan “Karier lulusan S2 Magister Psikologi: 1) ilmuwan psikologi, 2) pendidik dalam bidang psikologi, 3) manajer SDM dan personalia, 4) konsultan, dan 5) wirausahawan.” Itu terlalu menyederhanakan kehidupan. Banyak ilmuwan meneliti tentang makna hidup, tetapi hanya menjadikan “makna hidup” sebagai objek kajian. Banyak pendidik mengajarkan teori tentang makna hidup, tetapi tidak mengajarkan cara hidup yang bermakna bagi anak didiknya. Akibatnya, manajer-manajer SDM dan personalia hanya tahu cara menggunakan manusia, bukan mencintai dan memanusiakan manusia. Para konsultan hanya bisa menyelesaikan masalah orang lain, tetap tidak masalah dirinya sendiri. Wirausahawan pun bekerja sebagai hamba materi dan mempermainkan masyarakat dengan psikologinya yang manis.

Seandainya aku berada di posisi beliau, dengan segala pengalaman dan pengetahuan yang sudah dimiliki, aku ingin bercerita tentang bagaimana rasanya mengembangkan ilmu pengetahuan; bagaimana rasanya berkarya sebagai seorang ilmuwan. Bagaimana rasanya pergi ke luar negeri dan melihat ilmuwan-ilmuwan dari negara lain yang bersemangat. Bagaimana rasanya melakukan penelitian, bagaimana rasanya mendapatkan temuan yang luar biasa. Bagaimana rasanya berhasil menulis di jurnal internasional, bagaimana rasanya ketika penelitian kita bermanfaat bagi orang banyak. Bagaimana rasanya tidak sekadar menjadi orang pintar, tetapi orang yang berguna bagi masyarakat, bagaimana rasanya memperjuangkan idealisme sebagai ilmuwan. Bagaimana rasanya dulu pertama kali menjadi ilmuwan, bagaimana rasanya dulu pernah muda, berusia 20-an tahun.

Bagaimana rasanya akhirnya berhasil mencapai gelar Ph.D… Bagaimana rasanya akhirnya berhasil mencapai tempat yang setinggi ini…

Bagaimana rasanya?

Satu hal yang paling aku takutkan adalah hidup yang tidak ada rasanya; hidup yang tidak membuatku menangis bahagia atau tersenyum dalam kesedihan. Banyak orang sekadar menangis dan tersenyum, tetapi kehilangan arti perjuangan mempertahankan hidup yang di dalamnya ada tangis dan senyum itu. Aku takut, mencapai Ph.D ternyata tak ada rasanya, menempati jabatan yang tinggi tak ada rasanya, pernah berusia 20-an tak ada rasanya, pertama kali menjadi ilmuwan tak ada rasanya… Kalau sudah begitu, apa gunanya membangun kompetensi jika kompetensi itu mengeringkan makna hidup, bahwa hidup itu sekadar hanya untuk bekerja atau berkarier? Kalau sudah begitu, apa gunanya mengerjakan tesis jika tesis itu mengeringkan makna hidup?

Apa rasanya mengerjakan tesis? Tidak ada rasanya jika itu tidak dihubungkan dengan cita-cita yang tidak biasa. Apakah aku menulis tesis hanya untuk menambah satu file lagi tesis elektronik ke dalam database universitas dan fakultas? Apakah untuk memenuhi rak buku di perpustakaan kampus? Untuk dilupakan? Untuk dijadikan pengalaman saja bahwa dulu pernah menulis tesis? Tidak. Tesis ini demi sebuah aspirasi.

 

Motivation-Picture-Quote-Motivation-Big-Dreams

 

Aku tahu rasanya takut. Karena itu, aku bangun kekuatan untuk berani. Dengan banyak bermimpi. Semoga Allah bermurah hati.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s