Diari Tesis Bag. 3: Be A Creative Problem Finder!

Ikuti aturan main-Nya.

Ikuti aturan mainnya.

Memang tidak diketahui kapan akhirnya,

tetapi kau bisa memutuskan sekarang lah mulanya.

***

Aku tiba di tepian pantainya. Kakiku sudah basah sedikit terkena ombaknya. Senangnya… ^^

Minggu ini cukup banyak hal yang aku pikirkan; rencana-rencana jangka pendekku, rencana-rencana jangka menengahku, dan rencana-rencana jangka panjangku. Ada banyak sekali yang ingin aku lakukan, tetapi untuk menjaga relevansi semua keinginan itu dengan seri tulisan ini, aku membatasi ceritaku hanya pada rencana-rencana jangka pendek dan menengahku. Lulus S2 itu termasuk target dalam rencana jangka menengah. Menyelesaikan semester dua dengan selamat termasuk rencana jangka pendek.

Mulai tanggal 3 Maret besok, perkuliahan di semester kedua dimulai. Bersamaan itu pula tugas penyusunan proposal tesis dalam program TP2T juga dimulai. Ini benar-benar akan menjadi semester yang sibuk. Aku berpikir, mungkin juga akan benar-benar sulit untuk nantinya memiliki hari libur yang sesungguhnya. Tapi, segala sesuatunya dapat diatur, bukan? Setidaknya, aku tidak ingin punya malam-malam tanpa tidur atau malam-malam tanpa tidur yang cukup. Karena itu, aku harus mengakurkan tugas proposal tesis dengan kuliah-kuliahku. Aku harus melakukan regulasi diri yang lumayan ketat. Semangat, semangat! ^^

Aku senang mengingat-ingat pengalaman mengikuti lokakarya TP2T sekitar dua atau tiga minggu yang lalu. Bukan hanya karena aku akhirnya tahu beberapa hal yang tidak aku tahu sebelumnya, tetapi juga karena aku mendapatkan ketegasan terkait pemahaman yang selama ini aku yakini bahwa penelitian itu sebaiknya dan harus berdasarkan masalah dalam arti masalah tersebut bukan masalah rekaan, melainkan masalah riil. Masalah yang nyata, masalah betulan, bukan buat-buatan agar ada masalahnya saja. Dari situ aku putuskan bahwa memang aku sebaiknya melakukan sejumlah hal yang seharusnya aku lakukan, yaitu: memahami masalah.

Terkait hal ini, TP2T yang paling mempengaruhiku adalah overview metode penelitian kuantitatif dan kualitatif yang masing-masing dibawakan oleh Pak Faturochman dan Pak Kuntjoro. Beliau berdua membuatku semakin menghargai “masalah” dan proses “penemuan masalah” yang baik dan benar sebagai awal sebuah penelitian yang tidak hanya berkualitas, tetapi bermanfaat. Memang tidak disebutkan secara jelas, tetapi aku dapat memahami bahwa inilah tahap yang berperan menghubungkan ilmu dengan masyarakat, menyelaraskan langkah penelitian dengan dinamika kehidupan. Penelitian adalah cara menemukan solusi untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat, entah itu nanti dalam bentuk program, perlakuan, penjelasan, atau sekadar pemahaman atas apa yang terjadi pada masyarakat.

Penelitian yang dimulai dari judul itu tidak masuk akal. Jika mau mengembangkan ilmu pengetahuan (dan memajukan kehidupan), penelitian harus dimulai dari pemahaman masalah. — kurang lebih, kata Pak Kuntjoro

Masalah dalam penelitian sering adalah peneliti yang tidak mampu memaknai hasil penelitiannya bagi dirinya sendiri (dan dunia di sekitarnya). Lewat penelitian kita memang dituntut untuk belajar memahami sesuatu, tetapi mulai sekarang, lewat penelitian, belajarlah juga untuk menemukan sesuatu. — kurang lebih, kata Pak Faturochman

Seumur hidupku, “memahami masalah” barulah sebatas teori. Aku ingin belajar mempraktikkan bagaimana “memahami” masalah itu, bagaimana “mendalami” masalah itu. Cara yang ditawarkan Pak Faturochman dan Pak Kuntjoro kusimpulkan ada dua: 1) mengamati apa yang terjadi di lapangan kehidupan dan 2) mengamati hasil-hasil penelitian terdahulu. Dari mana tahu apa yang terjadi di lapangan kehidupan? Melihat berita, membaca koran, melihat sendiri apa yang terjadi, bertanya pada orang-orang. Dari mana tahu di lapangan keilmuan? Membaca artikel-artikel laporan penelitian dan buku-buku teks. Hasil “pembacaan” dua jenis sumber yang berbeda tersebut lalu dibandingkan untuk dicari apakah ada kesenjangan antara yang ternyata terjadi dengan yang seharusnya, dan selanjutnya dicari. Kesenjangan itu, jika berhasil ditemukan, adalah persoalan inti atau masalah penelitian yang nantinya dicarikan pemahaman atasnya untuk dapat diketahui seperti apa penyelesaian dan langkah-langkah selanjutnya.

Merenungkan semua yang di atas itu, agak pahit memang, menemukan dan memahami masalah butuh waktu dan kerja nyata. Pahit itu sudah kutelan baik-baik dengan air yang banyak dan sekarang, pekerjaanku adalah bagaimana menjalani itu semua secara efektif dan efisien dalam waktu yang tidak memberikanku kesempatan berleha-leha. Mungkin masih banyak yang kurang, tetapi aku tidak menyesal karena aku sudah mulai bergerak. Aku sudah mulai membaca beberapa artikel penelitian penting dan mendatangi lapangan.

Membaca artikel ada ketidaklancarannya, mendatangi lapangan pun ada ketidaklancarannya. Untuk membaca butuh waktu dan pencatatan yang cermat dan rapi. Untuk bisa menginjakkan kaki secara baik-baik ke lokasi penelitian pun perlu mengakurkan diri dengan prosedur dan birokrasi yang ada di sana. Aku baru tahu kalau untuk mengambil data, sekalipun untuk studi awal, aku perlu mendatangi beberapa kantor pemerintahan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota untuk mendapatkan surat rekomendasi penelitian. (Untuk mendapatkan surat rekomendasi, aku perlu menyiapkan proposal penelitian.) Aku nantinya pasti akan berinteraksi dengan bermacam-macam orang, baik yang aku sudah kenal maupun belum. Ya Allah, semoga diberi kelapangan dada dan semangat! Aku tahu semua ini adalah proses yang baik. Ya Allah, semoga semua ini menyenangkan!

Hari ini aku tidak masuk kuliah hari pertama demi mendapatkan pengetahuan “sederhana” di atas itu. Aku mengorbankan kuliah hari pertama… Aku masih di Semarang, membayangkan teman-temanku duduk di dalam kelas mendengarkan kuliah Aliran dan Penerapan Psikologi Pendidikan-nya Bu Murtini dan Teori-teori Psikologi Sosial-nya Pak Faturochman. Ingin berada di sana. Benar-benar ingin berada di sana dan tidak melewatkan satu kata pun dari mereka.

Besok tanggal 7 Maret adalah waktu untuk mempresentasikan topik penelitian tesis di hadapan dosen pembimbing TP2T. Aku sudah punya topik ^^ Aku ingin memahami materialisme (baik sebagai tujuan hidup maupun nilai pribadi) di kalangan siswa.

***

Cerita kali ini mengingatkanku pada kuliah Teori dan Pengembangan Kreativitas di semester yang lalu. Salah satu aspek kreativitas adalah creative problem solving yang menentukan nilai kreatif suatu produk atau karya. Suatu karya pada dasarnya adalah solusi atas suatu masalah dan solusi itu tidak muncul tanpa proses pemecahan atau penyelesaian masalah. Meskipun demikian, rupanya creative problem solving bukan satu-satunya anteseden karya kreatif. Tak ada penyelesaian masalah sebelum masalah tersebut didefinisikan. Tidak ada definisi masalah sebelum masalah ditemukan. Karena itu, aspek penting kreativitas yang tak kalah penting adalah creative problem finding. Penemuan yang kreatif atas masalah.

Kau tahu, pemahaman yang seperti itu mungkin hanya akan bermakna bagi mahasiswa yang berorientasi pada tesis sebagai karya, bukan sekadar syarat kelulusan untuk meraih gelar magister sains; tesis sebagai kebanggaan diri karena mampu naik satu tingkat ke arah yang lebih baik, bukan sekadar cara keluar dari penjara akademik bernama kampus.

Dulu di kelas, aku menahan diri untuk bertanya pada dosen pengampu maupun teman-teman yang mempresentasikan bab creative problem finding dan creative problem solving tentang bagaimana menjadi seorang ilmuwan yang kreatif. Bukan karena sangsi, tetapi karena aku tahu, jawaban terbaik atas pertanyaan itu mungkin adalah dengan menjalaninya sendiri, merasakannya sendiri. Ya, aku ingin membuktikan bahwa melakukan hal-hal yang diajarkan dosen-dosenku itu adalah jalan kreatif untuk menemukan masalah. Wah, kalau aku berhasil melalui ini, aku bisa menulis buku berjudul “Be Creative Scientist”. ^^

 

Science-Party-by-creative-little-stars3

 

Masalah Empirik + Masalah Teoretis = Masalah Tesis

 

2 thoughts on “Diari Tesis Bag. 3: Be A Creative Problem Finder!

  1. Salam kenal, saya mahasiswi S1 psikologi di universitas Islam di semarang, saya baru mulai mengerjakan skripsi, bismilah, semoga saya “bertahan” untuk jd ilmuwan yg tulus dan sekaligus kreatif🙂

    seneng rasanya menemukan blog ini, banyak pembahasan tepat di titik keingintahuan saya. Terimakasih, saya tdk menemukan pemahaman seperti ini di kampus, semoga tulisan2 mbak bisa jadi amal baik selalu yg menyertai mbak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s