Sekolah Teori Multikulturalisme Bag. 1: Apakah Ini akan Meluruskan Kesalahpahaman?

1#

Aku selalu suka motto organisasiku semasa S1, no limit to learn and move. Sejak berkesempatan melanjutkan sekolah, aku semakin berpikir bahwa belajar dan bergerak (maju) adalah hal yang sulit diwujudkan jika orang melulu memandang dunia di luar dirinya, dunia di luar komunitasnya, dunia di luar dunianya, sebagai ruang yang berbahaya, mengancam. Cukup baik jika bahaya dan ancaman itu adalah nyata, tetapi kebanyakan, aku kira, adalah buatan manusia sendiri. Jika kita percaya pada Allah, tidak akan ada yang akan menyakiti kita kecuali dengan izin-Nya. Jadi, sebaiknya tidak kita menakut-nakuti orang yang hendak belajar. Jika khawatir ia tersesat, ada baiknya kita menjadi orang yang lebih pandai agar kita bisa menjadi pengarah dan pembimbing yang baginya, agar ia bisa tahu sisi terang dari yang gelap.

***

2#

Apa yang ditakuti dari multikulturalisme?

Itu salah satu pertanyaan-pertanyaan besar yang membimbingku untuk menekuni pemikiran-pemikiran yang membentuk wajah kehidupan di era ini. Kita semua yang pernah belajar rasanya sama-sama mengetahui bagaimana perang pemikiran antara mereka yang mendukung dan menolak multikulturalisme, mereka yang berpandangan multikulturalisme dengan kacamata benar dan salah semata, dan mereka yang berhenti berpikir tentang kontingensi segala hal di dunia bahwa sesuatu itu ada benar dan ada salahnya tergantung kondisi-kondisi yang melingkupinya atau konteks yang menyertainya. Sebelum memahami kondisi dan konteks di mana sesuatu berlangsung, rasanya tidak bijak membuat penilaian segera bahwa sesuatu itu baik atau buruk, dibutuhkan atau tidak dibutuhkan, dipertahankan atau dilepaskan. Jika pada dasarnya Allah menciptakan sesuatu ada lantaran sesuatu yang ada itu memiliki guna bagi manusia, misteri yang perlu dipecahkan tentu adalah kapan, di mana, dan bagaimana itu (akan) berguna, dan dalam bentuk yang seperti apa.

Multikulturalisme dimaknai secara bermacam-macam oleh berbagai macam orang. Mengambil definisi yang digunakan oleh Blaine (2009), multikulturalisme adalah keyakinan dan sistem nilai di mana di atasnya keragaman memainkan peran utama. Multikulturalisme adalah nama yang diberikan pada keyakian atau ideal yang mendorong pengakuan, penghargaan, perayaan, dan pemeliharaan perbedaan-perbedaan sosial. Orang yang menyetujui multikulturalisme akan menghargai pemeliharaan suara dan tradisi yang berbeda, yang menyusun suatu komunitas dan bangsa.

Multikulturalisme berarti banyak budaya, yang mana itu menunjukkan paham yang mengakui adanya banyak, kemajemukan, atau keanekaragaman budaya, atau dengan kata lain adalah kondisi yang plural. Kondisi plural memang fakta kehidupan yang tidak dapat diingkari, namun diikat oleh satu kesamaan yang universal dan tidak dapat diingkari pula bahwa dalam keanekaragamannya semuanya sama-sama manusia. Itulah yang menjadikan kondisi plural memiliki makna lebih dan mendalam karena diikat oleh ikatan yang bernama kemanusiaan. Jika kita benar dalam menganut ide multikultural, maka pengakuan, penghargaan, perayaan, dan pemeliharaan perbedaan adalah upaya untuk memelihara kemanusiaan.

Ada baiknya jika orang kembali pada definisi dan semangat awal, tetapi dalam memahami, orang melakukan interpretasi secara subjektif dan menggunakan hasil interprestasi dengan maksud tertentu. Siapa orang itu, bagaimana latar belakangnya, apa kepentingan yang diusungnya, membentuk konsepnya tentang multikulturalisme. Multikulturalisme tidak sekadar persoalan filosofis semata. Ia adalah isu politik dan sosial-ekonomi. Tidak sekadar persoalan agama, tetapi budaya dalam arti yang luas, tentang cara manusia hidup.

Satu hal yang terpenting adalah tidak bisa disamakan apa yang menjadi isu multikultural satu negara dengan negara yang lain karena setiap negara memiliki sejarah masa lalu dan mimpi akan masa depan yang berbeda-beda. Di banyak negara Eropa, persoalan imigran adalah masalah utama, sementara di Indonesia adalah terkait keragaman suku bangsa. Di Amerika Serikat, persoalannya adalah terkait perbedaan ras kulit putih dan kulit berwarna, di Indonesia atau India masalahnya adalah agama. Bagi dunia Barat persoalannya terkait dunia Timur, dan sebaliknya persoalan dunia Timur adalah terkait dunia Barat. Meskipun demikian, sering bagi semuanya, isunya adalah terkait yang mayoritas dan yang minoritas, yang dominan dan yang tersingkir, yang kuat dan yang lemah.

Seruan multikulturalisme tidak dipungkiri lebih banyak disuarakan oleh kaum minoritas, yang merasa tersingkir, dan yang lemah; oleh mereka yang miskin, bukan yang kaya, yang sedikit, bukan yang banyak, yang tidak normal, bukan yang normal, yang sakit, bukan yang sehat, yang terdiskriminasi, bukan yang menghagemoni. Bagi yang kedudukan sosialnya kuat dan mapan, multikulturalisme adalah ancaman. Bagi yang lemah, multikulturalisme adalah kesempatan yang menumbuhkan harapan. Multikulturalisme adalah seruan bagi orang-orang yang mengharapkan penerimaan sosial, hidup tanpa ancaman pengasingan, isolasi, pembersihan, penyingkiran; hidup yang setingkat demi tingkat menjadi lebih baik sampai didapatkan pengakuan, kesetaraan, dan keadilan, atau mungkin bahkan lebih dari itu, kesempatan mencicip menjadi yang kuat, yang menyingkirkan, dan yang mayoritas. Itulah hal yang menakutkan bagi mereka yang sedang berkuasa.

Jika aturan akan persamaan dan kesetaraan akhirnya dibuat, itu adalah upaya mencegah atau meredam kekacauan dan konflik, atau jika benar ikhlas, adalah upaya mewujudkan keadilan sosial yang sesungguhnya. Meskipun demikian, keputusan yang demikian sebenarnya bersifat anti-mainstream, tidak normal. Kecenderungan manusia adalah mempertahankan apa yang bisa dikuasai, bukan membaginya secara adil. Karena itu, apapun aturan main berbasis multikulturalisme, tetap ada dari kalangan mayoritas orang-orang yang mencurigai dan mencari-cari adakah agenda tersembunyi di balik keputusan itu. Mereka yang paling dipenuhi kecemasan adalah yang paling kuat mencurigai dan menolak. Itulah perlawanan mereka lantaran keadaan mereka.

Manusia hidup didorong oleh ketakutan tidak bisa hidup, maka mereka memakan sesamanya, menyingkirkan sesamanya. Manusia senantiasa hidup di bawah ancaman, merasa menjadi korban manusia yang lain, maka mereka berusaha keras melindungi diri dan eksistensi mereka. Jadi, apa yang jahat, berbahaya, dan menyesatkan dari multikulturalisme itu sendiri?  Tergantung siapa yang berkata, tergantung apa kepentingannya. Tergantung siapa kita yang meyakini, dan apa kepentingan kita terkait keyakinan-keyakinan kita.

***

3#

Haha… aku tahu, aku seperti melantur ke mana-mana. Tapi, itulah isi pikiranku, pemahamanku tentang multikulturalisme, ketika aku memutuskan mendaftar untuk ikut Sekolah Teori Multikulturalisme yang diselenggarakan oleh Institute of Multiculturalism and Pluralism Studies (IMPULSE) Yogyakarta. Aku perlu mengetahui dan mengeksplorasi kembali tentang apa yang aku sudah tahu tentang multikulturalisme karena aku ingin tahu, mengikuti sekolah ini akan menambah atau mengurangi apa dari konsep-konsep yang sudah ada dalam diriku; akan menegaskan atau justru menyangkal apa yang sudah aku punya? Aku menjaga diriku agar tidak menjadi orang yang asal telan.

Pertemuan pertama kemarin berisi pengantar yang menjadi dasar bagi pembelajaran selanjutnya. Omong-omong, beruntung Januari lalu aku ikut kelas pascasarjana TISSC dan membuat paper tentang postmodernisme sehingga aku tidak gagap ketika tahu ide-ide postmodernisme ternyata muncul juga di sekolah multikulturalisme ini. Setidaknya aku sudah mengerti beberapa istilah penting yang dipakai dalam penjelasan, seperti struktur, superstruktur, infrastruktur, grand narrative, small narrative, dan postmodernisme itu sendiri. Selain itu, aku juga jadi menyadari bahwa postmodernism rupanya juga diperlakukan sama seperti paham-paham lain. Di hadapan kepentingan, ide yang pas diambil, yang tidak pas dibuang atau disesuaikan.

Pengajarnya adalah Pak Gutomo Priyatmono. Karena baru kenal, aku tidak tahu selain nama beliau, bahwa beliau adalah pengajar bebas di UGM, kandidat doktor lupa di mana, pernah belajar tentang strukturalisme di Eropa sana. Aku rasa, itulah sebabnya, mengapa dalam kuliah ini, multikulturalisme didekati dengan pendekatan struktural; bukan pendekatan in-depth (memandang keragaman budaya dalam dirinya sendiri), teologis, atau politik. Structural multiculturalism adalah bidang beliau; itulah fokus sesungguhnya sekolah teori multikulturalisme ini.

Kebingungan sering muncul lantaran perbedaan sudut pandang. Untuk bisa memahami apa yang diinginkan oleh pembicara, kita perlu menyesuaikan sudut pandang, dan dalam hal ini aku memulainya dari memahami bagaimana Pak Gutomo mendefinisikan dan memaknai multikulturalisme struktural.

Pertama, tentang struktur.  Struktur adalah sesuatu yang dibuat terdiri atas sejumlah bagian atau unsur dan membentuk sebuah sistem. Asumsi yang melandasi strukturalisme adalah bahwa semua hal di dunia ini memiliki struktur dan terdiri atas unsur-unsur. Contoh: unsur budaya Jawab antara lain bahasa, agama, keluarga, dan sebagainya. Unsur yang menyebabkan perdamaian di antaranya kesejahteraan, keadilan, penegakan hukum, dan sebagainya.

Kedua, tentang multikulturalisme. Multikulturalisme berdasarkan kata-kata yang membentuknya berarti “banyak budaya”. Budaya itu sendiri diartikan sebagai ide, sehingga multikulturalisme diartikan sebagai multi-sistem-ide. Pak Gutomo tidak menerima benda, atau lebih tepatnya hal-hal di luar yang berwujud ide, sebagai bagian dari budaya lantaran benda-benda adalah hasil berbudaya, bukan budaya itu sendiri. Jadi, multikulturalisme berarti paradigma yang mengakui kesejajaran ide-ide manusia.

Jika dikatakan dalam multikulturalisme semua budaya sama tinggi dan sama rendah, maka yang sama tinggi dan rendah adalah ide-ide yang melandasi kehidupan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, yang melandasi diciptakannya alat-alat kehidupan untuk mendukung aktivitas-aktivitas manusia. Contoh: orang Eropa makan dengan garpu dan pisau tidak lebih tinggi daripada orang Indonesia yang makan pakai tangan. Orang-orang di pedalaman Papua yang masih berkoteka tidak lebih rendah daripada orang Indonesia modern yang berpakaian. Gagasan, ide, atau makna yang melandasinya sejajar, yaitu tentang makan dan berpakaian.

Ketiga, tentang multikulturalisme struktural. Susah mendefinisikan ini. Mudahnya memang ini adalah gagasan yang mengakui kesejajaran ide-ide yang jamak dan beragam dari perspektif struktural. Pak Gutomo menjelaskan tentang bangunan kehidupan yang terdiri atas superstruktur, struktur, dan infrastruktur. Superstruktur terdiri atas ide-ide yang melandasi “aturan main” setiap budaya. Struktur adalah aturan main yang termanifestasikan dalam kehidupan nyata sehari-hari. Infrastruktur adalah barang, alat, sarana, media, dan sebagainya yang mendukung kehidupan sehari-hari tersebut.

Penjelasan ini tidak lengkap tanpa memahami landasan filosofis kelahiran multikulturalisme struktural. Multikulturalisme dikatakan lahir sebagai konsekuensi pluralisme. Di sini, pluralisme didefinisikan sebagai kondisi yang plural atau majemuk (cek kamus, pluralism: the condition of being multiple or plural). Sebagai suatu pandangan filsafat, pluralisme itu adalah 1) doktrin bahwa realitas terdiri atas banyak substansi fundamental dan 2) keyakinan bahwa tidak ada satu penjelasan atau pandangan tentang realitas yang dapat menjelaskan semua fenomena kehidupan. Sementara itu, pluralisme merupakan konsekuensi dari kondisi postmodernisme.

Pak Gutomo menggunakan pemikiran Jean-François Lyotard  tentang the collapse of grand narratives. Grand narratives mengacu pada teori-teori atau filosofi-filosofi skala besar/ besar tentang dunia. Contohnya seperti teori progress of history, bahwa manusia mencapai kemajuan yang semakin sempurna dari waktu ke waktu, teori  the knowability of everything by science, bahwa semua hal bisa diketahui lewat sains, dan teori tentang kebebasan absolut. Menurut Lyotard, kita perlu berhenti meyakini bahwa narasi-narasi semacam itu cukup untuk memuaskan kebutuhan semua orang, mewakili dan menampung semuanya. Orang-orang berbeda-beda tentang apa yang nyata bagi mereka. Setiap orang punya perspektif dan cerita mereka sendiri-sendiri, atau dengan kata lain small narrative.

Jika keberadaan grand narratives berusaha menyamakan yang jamak lantaran keyakinan bahwa yang benar itu hanya ada satu dan bersifat universal, maka small narrative  berusaha menjaga keragaman yang jamak lantaran keyakinan bahwa yang besar itu belum tentu benar; ada local truth sehingga karenanya diyakini pula bahwa (cara hidup) yang benar itu ada di mana-mana, dalam diri setiap individu, atau kelompok-kelompok individu yang punya perspektif dan cerita mereka masing-masing. Pengakuan akan adanya small narrative berimplikasi pada munculnya undangan agar mereka yang “kecil” tersebut terlibat dalam upaya-upaya menyusun struktur kehidupan; berpartisipasi mengkonsep tata cara hidup bersama dalam lingkungan masyarakat yang plural.

Aku menyimpulkan, itulah multikulturalisme struktural.

Persoalannya memang dalam masyarakat terjadi transaksi. Ide-ide berubah dari waktu ke waktu, saling mempengaruhi, saling membentuk. Jika grand narratives tidak semuanya benar, small narrative pun demikian, tidak lantas semua benar. Yang dibutuhkan untuk hidup dengan baik dalam kondisi yang tidak hitam-putih itu adalah fleksibilitas dan adaptasi. Tidak hanya untuk mendukung koeksistensi, tetapi juga proeksistensi, ibarat kita melindungi karena kita dilindungi, kita dilindungi karena kita melindungi.

***

Ini sungguh adalah tulisan yang panjang dan bagiku pribadi, cukup menjadi jawaban sementara atas sejumlah pertanyaan tentang hidup bermasyarakat. Aku menunggu pertemuan kedua sekolah teori multikulturalisme minggu depan. Semoga ada yang bisa dituliskan lagi ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s