Aku Mempertimbangkan Golput

Teringat dulu di tahun 2009, untuk tugas mata kuliah psikologi sosial 2, aku menulis paper tentang apati politik generasi muda. Saat itu rasanya mencerahkan sekali, karena itu pertama kalinya tahu bahwa psikologi politik itu ada. Saat itu jadi tahu istilah macam partisipasi politik, swing voter atau pemilih mengambang dan political apathy atau apati politik. Psikologi politik adalah cabang ilmu yang berusaha memahami politik, politisi, dan perilaku politik dari perspektif psikologi. Perilaku politik itu banyak, dan banyak sekali fenomena di masa pemilu yang bisa dijelaskan lewat kacamata psikologi, misal terkait strategi kampanye dan pengambilan keputusan memilih wakil rakyat.

Di tahun 2014 ini, aku tidak bisa bicara banyak soal psikologi politik. Itu bukan bidangku. Sekalipun beberapa pengetahuannya pernah begitu berarti, semua itu masa lalu yang sulit kuingat lagi apa dan bagaimananya. Paper yang pernah kubuat sudah hilang baik soft file maupun hard copy-nya, dan yang tertinggal hanyalah jejak-jejak samar. Tapi, apakah persoalan politik ini hanya bisa didekati dengan psikologi politik? Tidak. Di tahun ini aku berkesempatan belajar dalam kelas Kepemimpinan Strategik. Bagus sekali. Di tahun politik ini, isu yang dibahas di setiap pertemuan adalah Pemilu 2014 ini dengan pertanyaan utama: siapakah pemimpin Indonesia nanti?

 

leadership 1

 

Apati Politik-ku

Aku pun adalah warga negara Indonesia, sama seperti 200 juta orang Indonesia lainnya. Sama seperti mereka, aku pun memperhatikan apa yang terjadi minimal di lima tahun terakhir perjalanan bangsa.

Yang paling besar dan menggangguku mungkin adalah ini. PKS yang dulu bangga dengan kebersihannya, sekarang terbukti kotor juga, masuk dalam gerbong partai-partai yang sudah dikenal korup, bersama dengan Partai Demokrat dan beberapa partai baru lain. Akhirnya habis sudah, kan? Meskipun masih dikata bahwa kasusnya adalah yang paling sedikit di antara parpol-parpol sehingga masih lebih bersih daripada parpol lain, rasa percaya ini sudah tercederai sedemikian rupa. Apa yang dulu rasanya paling melambungkan harapan akan Indonesia bersih, sekarang seperti ini. Apalagi jika salah seorang elitnya ingin KPK dibubarkan, harapan itu rasanya sekarang semakin melesak ke dalam bumi, dalam sekali. PKS, terlalu besar janjinya sebagai partai yang bersih. Ternyata susah ya menjaga integritas itu.

Hal yang juga mengecewakan adalah ketika ketua umum barunya terpilih menggantikan ketua lama yang berkasus. Caranya melakukan konsolidasi internal adalah dengan pertama kali menyalahkan Yahudi dan kawan-kawan. Dalam hati aku berkata, Ya Allah… orang-orang ini meyakini adanya suatu konspirasi menjatuhkan mereka. Sungguh-sungguh sempit cara berpikir mereka. Aku tidak ingin dipimpin oleh orang-orang yang jika ada apa-apa yang tidak menguntungkan mereka, mereka langsung menyalahkan pihak eksternal. Secara psikologis, ini adalah kecacatan yang seharusnya disadari, cermin kekerdilan jiwa orang yang rasa takutnya tidak lagi hanya pada Allah.

Conspiracy theory is the ultimate refuge of the powerless. If you cannot change your own life, it must be that some greater force controls the world.” — Roger Cohen

Meyakini teori-teori konspirasi adalah cerminan ketidakberdayaan diri. Karena persoalan ini, aku jadi belajar tentang teori konspirasi dan menangkap sejumlah pelajaran penting tentang bagaimanakah sebaiknya pemimpin itu. Pemimpin itu seharusnya adalah orang yang bisa menangkap dan menerjemahkan realita secara lebih jelas dan jernih ketimbang pengikutnya. Indonesia tidak boleh dipimpin orang-orang yang termakan teori-teori konspirasi dalam cara mereka memandang dunia dan permasalahannya. Mereka lebih mendahulukan menyalahkan orang lain ketimbang berfokus menyelesaikan masalah yang sedang ada di hadapan. Orang-orang seperti ini tidak tepat berada di pucuk kepemimpinan negeri. Jika moto mereka kini adalah “apapun yang terjadi kami tetap melayani”, itu lebih bagus bagi mereka untuk menjadi pendukung yang lurus bagi pemimpin yang lebih kuat jiwanya agar tetap lurus di jalan Allah. Semoga terwujud cita-cita mereka berhasil masuk “3 Besar” partai politik pemenang pemilu tahun ini.

Tapi, apakah pemikiran-pemikiran itu lantas membuatku tahu siapa pemimpinnya? Tidak. Aku tidak tertarik lagi pada persoalan politik dan membiarkan waktu berlalu dan apapun bergulir… sampai suatu ketika.

Satu Momen di Kelas Kepemimpinan Strategik

Beliau menanamkan suatu pertanyaan besar dalam benakku ketika menjadikan perumusan apakah esensi kepemimpinan yang strategik itu sebagai misi kelasnya. Bagiku di balik itu ada tugas lain. Bicara tentang pemimpin, kita tak bisa meninggalkan bicara tentang pengikut. Bicara tentang kepemimpinan yang strategik, kita pasti membicarakan pula tentang strategic followership. Hanya saja, jika bicara pemimpin berarti kita sedang bicara orang lain, bicara tentang pengikut sesungguhnya adalah tentang diri sendiri; kepemimpinan atas diri dalam memutuskan mau ikut siapa.

Beliau tidak bicara tentang “ayo, jangan tidak memilih” atau “ayo, memilih”, melainkan pikirkan. Jadilah orang yang bertanggung  jawab atas apa yang dipilih. Jadilah pemilih yang cerdas dalam arti yang sebenarnya. Cerdas? Memilih dengan akal, bukan emosi semata. Memilih dengan pertimbangan yang matang, bukan sekadar karena suka atau senang, ikut-ikutan, kebiasaan, diperintahkan, atau didikte pemikiran-pemikiran tertentu. Memilih dengan mempelajari apa yang hendak dipilih terlebih dahulu. Karena beliau aku akhirnya memutuskan, ya, aku mau belajar demi menjadi orang yang bertanggung jawab, termasuk atas keputusan apakah golput atau tidak pada akhirnya. Aku mulai memperhatikan, meskipun yang bisa kuperhatikan sesungguhnya tak banyak.

Dalam memo reaksi yang aku tulis dua minggu yang lalu, aku mengangkat suatu persoalan:

Apa referensi para juru kampanye partai politik sehingga menyerukan bahwa kualitas ini dan itu dari calon presiden (dan juga calon legislatif) yang diusung menjadikannya cocok dan layak dipilih sebagai presiden? Apa yang mendasari bahwa itulah kualitas yang diperlukan untuk mampu memimpin? Apa jaminan bahwa kualitas yang dipasarkan itu berkorespondensi dengan diri calon yang sebenarnya?

Memilih secara cerdas berarti tidak termakan bualan. Tapi, seberapa besarkah akses untuk mencapai realita yang tersembunyi atau yang disembunyikan? Memilih secara cerdas berarti menggunakan kecerdasan untuk mengambil keputusan. Tapi, calon-calon presiden itu menampilkan diri bukan untuk dievaluasi kritis, melainkan diterima tanpa diragukan. Kepentingan mereka untuk menjadi orang nomor satu benar-benar bertentangan dengan kepentingan rakyat untuk menemukan orang yang layak diikuti.

Kata lain bagi istilah “pencitraan” yang populer itu: bualan. Mereka berkampanye rasanya asal bunyi yang mana enak di telinga rakyat saja. Artinya: mereka tidak punya referensi. Mereka tidak punya dasar. Mereka tidak menjamin kebenaran apapun. Mereka yang sibuk menampilkan diri di media membatasi penontonnya hanya pada apa yang enak dilihat. Ingin diterima tanpa diragukan (tanpa dikritisi), makanya semboyan kebanyakan dari mereka: pilihlah dengan hati. Ikuti kata hati. Ikuti hati nurani. Hati nurani yang mana maksudnya? Hati nurani yang tidak dibiarkan untuk melihat fakta secara berimbang, tidak dibiarkan melihat ada monster dalam sosok seperti malaikat mereka? Mereka sedang menipu. Definisi menipu itu tidak hanya menampilkan apa yang tidak sesuai dengan kenyataan, tetapi juga menyembunyikan apa yang seharusnya tampak di kenyataan.

Ketika aku menggunakan akalku, aku memerintahkan diriku agar tidak melihat dan mendengar apapun. Jangan percaya pada siapapun yang menjadikan diri mereka seperti barang dagangan karena mereka orang-orang yang akan melakukan apa saja agar dibeli, termasuk dengan menipu, menyembunyikan dan memutarbalikkan fakta, berkhianat, melempar janji kosong, melakukan kampanye hitam, bersikap licik-pragmatis, dan memunggungi idealisme. Aku ingin mencari mereka yang memilih berada di luar arena, bersikap tenang, dan tidak panik karena tidak takut pada kekalahan. Yang memutuskan ingin memimpin negeri ini dengan pertama kali ingat kepada Allah. Bukan karena merasa kaya, berpangkat tinggi, atau berprestasi ini dan itu.

Obrolan di Sekolah Teori Multikulturalisme

Butuh ratusan tahun bagi Amerika Serikat sampai Barack Obama menjadi presiden nonkulit putih pertamanya. Itu adalah pencapaian yang luar biasa bagi bangsa yang lama sekali dirundungi persoalan rasial. Dalam kelas hari itu aku belajar tentang apa yang disebut politik pengakuan (politic of recognition) yang intinya kurang lebih, “Siapapun bisa menjadi apa saja, asal punya kemampuan dan mau berusaha.” Termasuk menjadi presiden, pemimpin negara.

Dari sini, Jokowi menjadi fenomena yang dibahas dalam kelas. Kenapa bisa orang ini populer? Dia tidak punya hal yang bisa melegitimasi dirinya, seperti gelar akademik yang tinggi (SBY punya gelar doktor), pangkat militer (macam Prabowo pernah punya karier militer), riwayat keluarga orang besar (Megawati anaknya mantan presiden Indonesia pertama), kekayaan (ARB pengusaha kaya raya). Dia pergi-pergi tidak naik helikopter atau jet pribadi. Tidak ada yang bisa menunjukkan bahwa dia orang hebat membuatnya menjadi calon presiden yang biasa-biasa saja.

Bagaimana cara Jokowi merebut hati orang-orang? Dengan “menawarkan” kerakyatannya. Dia lahir dari rahim rakyat, tumbuh besar di tengah-tengah rakyat, dan tahu rasanya jadi rakyat yang susah. Demokrasi jalannya atau “blusukan” menjadi ciri khasnya. Banyak orang mengkritik itu dengan mengatakan itu buang-buang uang dan energi atau itu cuma pencitraan. Tapi, memang persoalannya rakyat butuh orang yang mau mengeluarkan uang dan energi untuk mereka, yang tidak menjaga jarak atau bersikap eksklusif dari mereka, yang mau merangkul dan mendengarkan. Seperti itulah sifat rakyat Indonesia yang sering mengatakan diri mereka orang kecil; selalu posisinya di bawah. Jika ada orang di atas yang mau turun ke bawah dan berkeringat seperti mereka, tentu rasanya senang sekali. Karena cara berpikir mereka yang cenderung sederhana, mereka tak terbiasa berpikir rumit dan besar (visi misi yang berbunga-bunga). Asal hati mereka tenang dan tenteram, dan mereka diajak berkumpul bersama, semua beres.

Mendengar semua itu, aku hanya, “Oh ya?” Aku diajak untuk ikut berkomentar (mbak dari psikologi? mungkin punya pandangan dari sudut pandang psikologi politik?), tetapi aku tak bisa bicara karena pikiranku melayang, lagi-lagi pada salah satu kelas Kepemimpinan Strategik:

Faktor yang mengikat hubungan pemimpin dan pengikut adalah emosi; ikatan emosional. Pemimpin adalah orang yang memancarkan pengaruh dan pengikut adalah orang yang secara mental menyerahkan diri padanya, memasrahkan hidup akan dibawa ke mana, dan percaya. Kalau sudah begini, dan jika benar begini, orang dengan jiwa kepemimpinan yang sebenarnya, dia tidak perlu dan tidak akan keluar uang sepeser pun (ekstremnya) untuk menjadi pemimpin. Sebabnya, karena orang-oranglah yang memilih dia dan dia tidak perlu mengemis-ngemis atau mengais-ngais, menjual ini itu, mencitrakan ini itu, untuk mendapatkan dukungan.

Jika Jokowi benar pemimpin yang seperti itu, begitulah ceritanya, prediksi berdasarkan teori kepemimpinan.

Wah, asyik ini, derajat kepemimpinan seseorang dinilai dari seberapa kecil pengeluarannya untuk kampanye. Bagiku, ini hal yang masuk akal dan layak menjadi hipotesis penelitian. Orang yang tidak lagi menyandarkan dirinya pada dukungan uang, jabatan, pangkat, gelar, atau kemuliaan sanak keluarga… tentu Allah yang ada di balik diri dan keputusan-keputusannya.

Mempertimbangkan Golput?

Ya, masih. Pertama, alasan-alasan di atas yang intinya adalah kekecewaan. Kedua, karena ingin tahu saja seperti apa rasanya golput.

Tapi, kemarin aku tersentak ketika Pak Kuntjoro dalam kelas Psikologi Hukum dan Forensik berkata dengan keras menggelegar, “Jangan GOLPUT!” Jangan biarkan orang-orang jahat mendapatkan tempat. Tidak boleh dibiarkan pisau hukum tumpul ke atas tapi tajam ke bawah. Pakai kesempatan ini untuk memilih orang yang benar-benar baik. Jangan pilih mereka yang pernah berkasus hukum, jangan pilih mereka yang pernah melukai rakyat, jangan pilih para elitis yang tidak kenal rakyat, yang melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Masih mempertimbangkan golput? Harapan itu masih ada, lho. Mungkin tidak ada lagi partai yang bersih, tapi masih ada orang-orang yang bersih. Berusahalah, buatlah keputusan, dan pada akhirnya, percayakan Allah pasti memberikan yang terbaik.

 

leadership 2

 

Pemimpin yang baik mencari pengikut yang baik. Pengikut yang baik mencari pemimpin yang baik.  Buktikan dirimu pemimpin yang baik untuk dirimu sendiri ^^

7 thoughts on “Aku Mempertimbangkan Golput

  1. “Masih mempertimbangkan golput? Harapan itu masih ada, lho. Mungkin tidak ada lagi partai yang bersih, tapi masih ada orang-orang yang bersih. Berusahalah, buatlah keputusan, dan pada akhirnya, percayakan Allah pasti memberikan yang terbaik.”

    Setuju sekali sama part ini. Walaupun aku masih mencari, siapa yan pantas dipilih🙂

    • Menyelidiki orang lebih susah daripada menyelidiki parpol… Orang sebanyak itu, bagaimana mau kenal satu-satu. Paling mudah cari yang sudah kenal, minimal tahu kehidupannya kayak apa, kesehariannya kerja apa…

      Eh, kalau nggak percaya lagi sama laki-laki, yuk pilih yang perempuan😀😀

  2. wew, hati2 nyebut partai diatas entar kena serangan wahyudi lho😐
    aq jg pengen jadi golput mbak, cuman punya kulit putih aja enggak..😛
    oh iya, mnurut mbak’e apa yg terjadi jika ‘pemenang’ pemilu nanti adalah golput.. *serius*

    • Karena sudah ada prosedur, meski nanti yang golput 51%, kan tetap saja nanti ada anggota legislatif dan presidennya. Cuma memang itu pertanda sesuatu… kalau orang tidak suka lagi dengan sistem demokrasi yang semacam ini, mungkin sedang dibutuhkan sistem yang lebih baik lagi, yang lebih menjawab kebutuhan orang banyak🙂

  3. Di pemilu ini, saya sudah putuskan akan datang ke TPS. Saya sudah pertimbangkan keputusan ini matang2.
    Namun saya juga belum tahu, caleg siapa yang akan saya pilih nanti. Saya masih mengumpulkan informasi soal caleg2–baik baik calon DPRD, DPD, maupun DPR RI–yang pantas saya pilih. Lagian, selain pilih caleg, kita nanti juga harus coblos gambar partai apa, kan?

    Kalau nanti tetap tidak dapat calon yang pantas dipilih, saya akan tetap ke TPS. Surat suaranya akan saya rusak2, saya coret2, bahkan mungkin akan saya injak2, lalu akan saya masukkan ke kotak suara. Itulah praktek golput versi saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s