Mendidikkan Politik: Tahun Politik dalam Renungan dan Pemikiran

8 April 2014

Sebenarnya, ketika aku memutuskan pulang untuk ikut memberikan “suara” pada pemilu besok, salah satu niatku pada diriku sendiri adalah “merasakan politik” dan niatku pada keluargaku, terutama adik kecilku Balya, adalah “mendidikkan politik”. Semoga sukses rencanaku besok mengajak Balya mengunjungi dan melihat-lihat tempat pemungutan suara. Semoga besok dia bisa sebentar saja tidak main sepeda.

Mungkin terlalu dini untuk menyadarkan dan mengajarkan hal besar pada si adik kecil bahwa kelak ia mungkin menjadi mangsa orang-orang serakah. Mungkin terlalu berlebihan untuk berharap banyak, tetapi inilah saatnya mengenalkan pada dirinya bahwa inilah zaman masanya hidup. Seperti inilah keadaannya, hiruk-pikuknya, kekusutannya, persaingan dan pertempurannya, kebingungannya, ketersesatannya, carut-marutnya, permainan-permainannya. *Ayo besok kita main melobang(-lobang)i kertas!😀

***

9 April 2014

Ternyata lumayan susah mengajak adik ikut datang ke TPS, sekadar untuk melihat-lihat saja. Awalnya mau, tetapi minta syarat dibelikan es krim. Setelah asyik dengan game di komputer, dia tidak mau, bahkan setelah diiming-imingi es krim. Katanya, amandelnya nanti bisa bengkak lagi. Setelah positif semua orang dewasa di rumah akan pergi ke TPS, dia mau tidak mau jadi ikut. Akhirnya beli es krim juga. Tiga lagi. Siang tadi sudah dimakan dua. Dia lupa kalau amandelnya bisa bengkak. Sudahlah, haha… semoga ini menjadi pengalaman baik tentang demokrasi yang katanya haram itu.

***

Tahu apa artinya manusia sebagai zoon politicon? Ini istilah sejak kelas satu SMP yang selalu aku ingat. Manusia adalah binatang yang berpolitik. Bagaimana memahami apa politik itu? Di saat ini aku hanya bisa mengacu pada definisi kamus Oxford. Sebagai kata sifat, politic berarti sensible, wise. Tindakan yang politis menunjukkan suatu good sense, kebijaksanaan, dan kesadaraan atau awareness. Political berarti berkenaan dengan negara, pemerintahan, dan persoalan publik. Politician berarti orang yang pekerjaannya berhubungan dengan politik. Politics berarti aktivitas pemerintahan, persoalan politik, pandangan politik, dan studi tentang pemerintahan.

Politik berhubungan dengan negara, pemerintahan, dan persoalan-persoalan terkait. Dari sini muncul istilah selanjutnya, negarawan atau statesman. Statesman berarti pemimpin politik yang dihormati, berpengalaman, dan bijak. Statesmanship berarti keterampilan dalam mengelola persoalan-persoalan negara. Kata lain yang berkaitan: Presiden atau president, artinya pemimpin republik atau orang yang bekerja/ berwewenang di dalam suatu organisasi. Raja atau king, artinya penguasa (laki-laki) suatu negara yang memiliki keluarga kerajaan atau royal family. Sultan, artinya penguasa negara-negara Muslim tertentu. Khalifah, artinya wakil Allah yang bertugas memakmurkan bumi.

Aku hanya memahami bahwa memakmurkan bumi adalah pekerjaan yang kompleks dan memiliki bermacam-macam aspek. Aspek pemerintahan dan kenegaraan hanyalah salah satunya, dan orang-orang yang bertugas di dalamnya dinamai negarawan dan/atau politisi. Mereka membangun dapat itu kerajaan, republik, atau kekhalifahan, dan dipimpin oleh raja/ratu, presiden, atau khalifah. Khusus yang terakhir ini, aku punya pemahaman akan arti luas dan sempit kekhalifahan dan khalifah itu. Dalam arti luas, ini berkenaan dengan seluruh dunia, segala urusan, dan manusia ciptaan Allah; dalam arti sempit, ini berkenaan dengan pemerintahan yang dijalankan manusia untuk mengatur keperluan dan urusan hidupnya, terutama dengan mengacu pada syariat agama.

Politik sebagai suatu aktivitas pemerintahan maupun tindakan pribadi atau kelompok adalah sarana, jalan, atau cara untuk mencapai tujuan, yaitu kehidupan bersama yang makmur. Dalam politik-pemerintahan, ada orang-orang yang menyediakan dirinya untuk “melayani” atau mengurus kepentingan publik. Ada yang bertugas menjadi kepalanya (misal presiden), ada kaki dan tangannya (menteri-menteri), penghubung antara kaum elit penting dan rakyat jelata (dewan perwakilan), pengawas pemerintahan, pendukung pemerintahan, dan macam-macam. Semua bekerja demi kepentingan publik dan secara ideal melakukan pengaturan sosial berdasarkan kesadaran, kebijaksanaan, dan sensibilitas yang baik, semakin ideal dengan berdasarkan tuntunan-tuntunan Allah.

Persoalan politik mulai muncul ketika publik atau orang banyak tidak lagi menjadi kepentingan utama orang-orang yang bekerja di ranah politik. Publik tereduksi menjadi sekadar kelompok-kelompok tertentu saja, dan bisa semakin sempit pada orang-orang yang menjadi teman atau keluarga saja, atau yang memiliki kesamaan suku, ras, dan agama saja. Biangnya mungkin ini, yaitu prinsip keterwakilan di parlemen; tetapi bisa jadi juga bukan ini. Jika populasi dalam negara sudah mencapai angka ratusan juta dan mereka terdiri atas bermacam-macam kelompok dan golongan orang, pengaturan negara berdasarkan keterwakilan bisa jadi adalah yang paling efektif dalam rangka memakmurkan semua orang.

Reduksi yang paling parah adalah jika yang dipentingkan bukan lagi sosial, melainkan lebih pada diri individual. Inilah penyalahgunaan politik itu. Korupsi politik. Politik itu sesungguhnya bukan untuk diri sendiri, melainkan kepentingan bersama. Biang masalah ini adalah nafsu menginginkan kemakmuran untuk diri sendiri, atau yang lebih besar, keluarga atau kelompok sendiri. Di dalam orientasi individualistis itu ada keserakahan dan kekikiran, rasa takut menjadi miskin dan lemah. Jabatan politik adalah jabatan yang penuh unsur kekuasaan dan penyebaran pengaruh. Politik yang dikorupsi menjadi cara mempengaruhi dan memanfaatkan publik untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Dari persoalan macam itu, lantas apa yang dididikkan dalam pendidikan politik? Menyadarkan anak-anak bahwa dirinya insan yang berpolitik demi mencapai kehidupan bersama yang makmur, memahamkan filosofi hidup bersama dalam masyarakat, mengajarkan cara berpartisipasi dalam politik, menunjukkan berpolitik yang ideal dalam prinsip, tujuan maupun cara, mengenalkan peran-peran sosial terkait politik dan pemerintahan di mana ada pemerintah, tentu ada rakyat, mengajarkan cara menjadi pemimpin yang baik, juga menjadi rakyat yang baik…

Utopia?

Mengajarkan bagaimana membela kebenaran dan keadilan, dan mencegah dan mengatasi kejahatan dan kezaliman, membangkitkan keberanian berbicara dan bertindak, mengajarkan cara berserikat dan bermusyawarah, cara mengelola dan menyelesaikan konflik, cara bekerja sama, berkoalisi, maupun berkompetisi yang sehat, membina pembangunan kapasitas diri personal yang punya karakter (bukan ikut-ikutan), kemampuan berpikir kritis dan cerdas…

Utopia?

Mengajarkan keberanian dan kebijaksanaan menghadapi perbedaan dan keragaman orang-orang, mengajarkan cara mengenal kekuatan dan kelemahan diri masing-masing, cara menghargai dan menerima kritik dan masukan, cara membangun kebersamaan, persaudaraan, dan kebersatuan, cara menghargai dan menghormati orang lain, cara mengenal dan menghargai diri sendiri, untuk mengetahui siapakah diri, apakah yang bisa diri ini berikan, dan di mana posisi diri di tengah masyarakat…

Utopia?

Dan bahwa dunia ini dipenuhi orang-orang baik dan jahat dalam jumlah yang sama banyaknya. Ada orang yang sadar dengan kebaikan atau kejahatannya, ada yang tidak sadar. Ada orang-orang yang benar dan salah, juga dalam jumlah yang sama banyaknya sebagai dua kubu yang selalu bertarung. Ada di antara mereka yang sadar dengan kebenaran atau kesalahan mereka, ada yang tidak. Bagaimana menjadikan diri tetap pada kebaikan dan kebenaran?

Bergaul dengan orang-orang yang baik dan benar dari golongan mana saja, karena mereka pun manusia ciptaan Allah. Mengeksklusifkan diri atau mengisolasi kebaikan dan kebenaran hanya milik satu golongan saja, itu kesalahan terbesar hidup di dunia. Lihat dan dengarkan banyak orang, lalu jadikan diri orang yang pantas dilihat dan didengar jika sadar diri ini orang baik dan mencita-citakan kehidupan yang baik.

***

10 April 2014

Salah satu prinsip hidupku dapat dikatakan sangat politis: ketika kau sadar dirimu orang baik dan punya cita-cita yang mulia, inginkanlah tempat-tempat yang tinggi di mana kau bisa melihat banyak orang dan dilihat banyak orang. Itulah pandangan politik dan visi politik hidupku. Politik kata hati; bukan kata teori, atau kata orang.

Meskipun praktiknya sering memuakkan, aku menikmati politik. Politik adalah pengetahuan yang lain, yang rasanya “harus” aku mengerti jika aku ingin baik hidup di dunia ini. Aku sadar tak punya latar belakang pendidikan formal atau pengalaman praktis di ranah politik, tapi aku banyak melihat dan mendengar, membaca dan memperhatikan apa yang terjadi, mengikuti apa sebab dan ke mana akan berakhir. Begitulah aku mendidik diriku sendiri untuk mengerti politik, dan ketika politik dapat disinonimkan dengan “pengaruh”, sesungguhnya hal ini bukan hal asing. Meskipun hanya menonton, aku insan politik. Dan karena aku insan politik yang rasional, aku berpikir:

Apakah basmalah-nya orang dari partai nasionalis tidak sama dengan basmalah-nya orang dari partai Islam? Apakah alhamdulillah-nya orang dari partai nasionalis tidak sama dengan alhamdulillah-nya orang dari partai Islam? Apakah Islam-nya orang partai nasionalis tidak sama dengan Islam-nya orang partai Islam? Apakah syahadatnya orang partai nasionalis tidak sama dengan syahadatnya orang dari partai Islam? Apakah salatnya orang partai nasionalis tidak sama dengan salatnya orang partai Islam?

Semua pertanyaan itu dari membaca status Facebook teman pascapemilu berlangsung, yang intinya: seandainya Jokowi bukan dari PDIP… Entah kenapa, membaca status semacam itu hati ini terasa sedih sekali. Karena aku ingat, beberapa minggu yang lalu di berita televisi, Jokowi maju menjadi calon presiden dengan pertama kali berkata, “Bismillahirahmanirrahim…” dan secara pribadi, aku mengerti bahasa nonverbal-nya. Lantas, apa yang menjadikan orang-orang (baik kader maupun simpatisan) partai Islam, terutama PKS (yang sering aku baca pandangan-pandangannya dari status gelap teman-teman yang jadi kadernya), tidak menyukai Jokowi ? Dan, apa yang membuat mereka tidak bisa menyukai Jokowi?

Jika begini, apa arti mencintai karena Allah dan membenci karena Allah yang sering didengungkan dalam liqo’, halaqoh, atau kajian-kajian keagamaan? Bagaimana ceritanya tidak menyukai Jokowi karena Allah dan tidak bisa menyukai Jokowi karena Allah? Apa tidak bisa, karena Allah, menyukai Jokowi?

Siapa yang akan menjawab atau memberikan penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan ini? Pertanyaan-pertanyaan ini tak mengundang jawaban. Secara politik maupun agama, ini adalah persoalan besar. Secara psikologis pun, ini adalah persoalan besar. Mungkin benar dikata, tak ada agama dalam politik dan agama dan politik tak akan bisa bersatu. Meskipun demikian, hatiku terus berkata, tidak. Ada agama dalam politik. Jika belum terwujud, itulah perjuanganmu agar ada agama dalam politik, dan itu bukan agama dalam pengertian orang-orang yang saling berselisih.

Benarlah, inilah politik kata hati; bukan kata teori, atau kata orang-orang. Hati ini terus berkata-kata, melampaui segala konflik nilai maupun konflik kepentingan dan konflik sosial. Melampaui setiap alasan untuk membenci, juga alasan untuk mencintai, secara buta. Kelak, aku berharap bisa menjadi kakak yang baik, ibu yang baik, nenek yang baik, yang bisa menjawab pertanyaan adik, anak, maupun cucu, “Siapakah yang seharusnya kami cintai dan kami benci? Dengan siapa kami harus berteman dan bermusuhan? Kepada siapa kami harus bergabung dan memberikan dukungan, dari siapa kami harus menghindar dan menarik dukungan, lalu menyuarakan perbaikan?”

Aku ingin menjawab, “Allah sudah menetapkan, dan kau sudah belajar itu; tentang rapatkan dirimu pada orang-orang yang beriman dari mana saja mereka berasal dan bahwa iman itu adalah percaya cukup pada yang enam. Di luar itu, tak ada yang harus dan seharusnya. Jika kau tidak bisa menyukai orang yang beriman karena suatu hal pada dirinya, jangan kau membenci mereka. Tahan dirimu dari berlaku zalim dan bersikap tidak adil. Jangan sampai Allah menarik rahmatnya darimu sebagai bentuk peringatan bagimu yang berlebih-lebihan dalam urusan-urusanmu.”

***

11 April 2014, mengingat apa yang kulihat pada 5 April 2014

Inilah laku politik yang based on power acquisition and competition. Berdasarkan pada penggalangan kekuatan dan kompetisi. Politik, di mana standar keberhasilan adalah siapa yang menempati posisi teratas, atau tiga besar, suara terbanyak, pendukung terbanyak, kursi terbanyak, konstituen terbanyak, uang terbanyak, citra terbaik… Politik, di mana takaran kebanggaan dan kesedihan adalah kemenangan dan kekalahan. Politik yang based on rationality only. Berdasarkan pada rasionalitas semata; perhitungan untung atau rugi, menang atau kalah, hidup atau mati kepentingan dan pragmatisme sesaat hidup di dunia. Politik yang based on fright and result in another fright. Berdasarkan ketakutan dan harapan yang ilusional. Takut ditinggalkan pendukung, takut tidak mendapatkan banyak suara, takut kehilangan kursi, takut tidak mendominasi, takut tidak menang, takut dikalahkan, takut citra buruk, takut pemberitaan negatif, takut opini negatif.

Kebenaran melampaui itu semua. Yang benar tak pandang siapa yang menang atau yang kalah, yang berada di posisi puncak atau di urutan bawah, yang mendapat suara terbanyak atau yang sedikit. Jika kau salah, kau tetap salah, siapapun dirimu, atau dari mana asalmu. Jika kau benar, siapapun dirimu atau dari mana pun asalmu, kau tetap benar. Allah bersama orang-orang yang benar, adil, dan sabar, yang niat hatinya lurus karena iman kepada-Nya, yang tindakannya konsisten, yang tidak menukar akhirat dengan dunia, yang tidak membiarkan dirinya kotor sekalipun demi niat-niat baik, dari mana saja mereka berasal, partai nasionalis maupun partai Islam. Allah tidak memilih-milih tangan siapa yang akan Ia Gunakan untuk memperbaiki keadaan manusia-manusia makhluk-Nya berdasarkan partai. Ketika Dia sudah Memilih, Dia akan Menguatkan-nya, sebagai bentuk kasih sayangnya.

***

Di hari terakhir kampanye pemilu legislatif, untuk pertama kalinya aku tahu seperti apa kampanye jalanan yang bawa-bawa motor dan berisik sekali itu. Jalan sempat macet sedikit, dan aku sempat berhenti sebentar untuk memperhatikan orang-orang itu. Pria-pria bermotor. Satu yang menarik perhatianku adalah yang bertubuh gemuk besar, gondrong, dan bertato di lengan. Ia memainkan gas motornya dengan irama tertentu dan mengangguk-angguk menikmati sekali “musik” ciptaannya. Bersama teman-temannya, ia membawa bendera merah.

Ada rasa takut dalam hatiku melihat yang seperti itu. Itu hanyalah satu orang, tetapi bisa digunakan untuk memahami dunia yang lebih besar. Ada banyak orang yang seperti itu. Massa yang berkerumun, dan dapat berubah menjadi gelombang mengerikan yang rusuh. Aku merasa lebih baik memisahkan diri dari orang-orang yang seperti itu, dan dalam kepalaku tergambar jenis massa yang lain yang tidak akan pernah berisikan orang-orang yang seperti itu, mereka yang membawa bendera putih, membanggakan dirinya sebagai yang paling bersih, teratur, dan rapi.

Tetapi dalam hati, entah bagaimana aku justru merasa tidak nyaman menghadapi dua perbandingan itu. Mereka yang indah itu, bisa jadi justru sedang mati-matian menyembunyikan keburukan agar tetap terlihat indah. Sementara mereka yang dicap buruk, tidak pernah mati-matian berusaha menjadi indah. Mereka jujur dalam hidup, sekalipun itu tampak sebagai tidak ideal. Mereka keluar dengan dibayar, tetapi ketika kembali, mungkin ada keluarga yang tengah menunggu dalam kemiskinan, hidup yang keras, dan ketidakberpendidikan, dalam keagamaan yang minim dan ketidakberpengetahuan tentang apa yang lebih baik dan mungkin terjadi di masa depan dan di masa depan yang lebih jauh.

Ketimbang rasa takut atau tidak suka, aku justru merasa kasihan jika mereka adalah gambaran perwakilan orang-orang yang dibiarkan dan dilewatkan dari mendapatkan cahaya hidup. Hidup yang lebih baik mungkin sulit didenisikan oleh semua orang, tetapi semua orang punya aspirasi akan hidup yang lebih baik masing-masing. Kita sebagai orang yang berkecukupan dalam harta, pengetahuan, pendidikan, juga agama; bagaimana cara menyayangi orang-orang semacam itu? Bagaimana cara mengulurkan tangan dan berteman dengan orang-orang itu? Bagaimana cara memanusiakan orang-orang itu?

Dapatkah kita mencintai tanpa syarat; memberi dan melayani tanpa meminta balas? Mencintai tanpa syarat, “Nanti kamu ikut partai saya, ya.” Memberi dan melayani tanpa meminta balas, “Nanti kamu pilih partai saya, ya.” Mencintai dan memberi tanpa takut tidak dipilih atau tidak didukung; tanpa takut tidak menang, tanpa takut tidak kaya suara. Lets educate an affectionate politics based on compassion toward people to help people live better.

2 thoughts on “Mendidikkan Politik: Tahun Politik dalam Renungan dan Pemikiran

  1. Pingback: Diskusi Psikologi, Islam, dan Apa Saja yang Tiba-tiba Nyambung Bag. 2 | I love life, life loves me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s