Diskusi Psikologi, Islam, dan Apa Saja yang Tiba-tiba Nyambung Bag. 2

Kali ini tentang politik, tentang beberapa partai, terutama partai-partai Islam, lebih spesifik lagi PKS, tentang masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara, tentang menjadi insan berpolitik, tentang ber-Islam secara politik. Tujuan diskusi ini adalah untuk belajar dan mengambil hikmah dari peristiwa. Jika ada yang berpikiran negatif, aku mohon, ingatlah lagi bahwa tujuan diskusi ini adalah untuk belajar dan mengambil hikmah dari peristiwa.

Diskusi ini bisa dikatakan berisi pandangan-pandangan yang mungkin bagi kalian idealistis. Kita sama-sama tahu ada orang yang pandai bicara tapi tak bisa melakukan,  tetapi dalam kasus kali ini aku termasuk orang yang pandai mengolah ide tapi sayang tidak akrab dengan realita praktik di lapangan. Jadi, jika ada dari teman-teman yang adalah kebalikan dariku, dalam arti lebih mengerti apa yang senyatanya terjadi, silakan bergabung. Bolehlah aku belajar kenyataan dari kalian. Semoga Allah membalas kebaikan kalian.

Mengapa diskusi ini bisa terjadi?

Seorang adik kelasku menghubungiku via Facebook chat. Dia ingin tahu apa maksud status yang aku pasang di wall Facebook-ku, yang berisi sejumlah pertanyaan dan satu pernyataan konklusi hipotetikal. Pertanyaan-pertanyaan itu sesungguhnya adalah benar pertanyaan untuk dicari jawabnya; tidak retorikal. Itu merupakan kulminasi perjalanan berpikirku memperhatikan apa yang terjadi di minggu-minggu politik menjelang Pemilu Legislatif 2014; persoalan yang bagi paling mendasar, yang jika itu terjawab aku akan mendapatkan pengertian final dan setelah itu aku tidak akan bertanya lagi. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak muncul begitu saja, dan sebenarnya jika pembacanya tidak mengerti kronologi perjalanan bisa sampai ada titik itu, yang sangat mungkin terjadi adalah kesalahpahaman.

Aku sangat berterima kasih pada adikku ini karena dia menghubungiku dalam rangka mengerti apa yang kumaksudkan. Dia membuatku bercerita banyak tentang apa yang selama ini lebih suka aku simpan sendiri saja. Aku tidak mengerti seberapa berharga buah pikir ini bagi orang-orang, tetapi bagiku ini sangat memberikan arti. Aku bersyukur pada Allah bisa sampai di sini dan berharap semoga Dia mengajariku lebih banyak hal lagi yang bermanfaat bagiku dan orang-orang di sekitarku.

Sebelum memulainnya aku ingin meminta maaf kepada beberapa teman yang aku tahu adalah kader PKS, yang selama beberapa saat kemarin menjadi “korban” keisenganku yang kritis. Aku tidak membenci kalian. Aku menyayangi kalian. Apa yang kalian perjuangan pernah juga memberikan makna bagi hidupku, membuatku belajar sesuatu. Diri kalian sebagai teman juga merupakan keberadaan yang penuh makna bagiku.

Oya, mari kita mulai saja. Berhubung diskusi ini di kenyataannya memakan waktu empat jam, aku tidak menjamin ini akan singkat. Semoga bermanfaat, semoga menjadi pelajaran, semoga menjadi pengingat bagi diri yang ingin menjadi baik ini. Insya Allah seperti itu.

***

Inilah yang bermasalah itu ^^

“Apakah basmalah-nya orang dari partai nasionalis tidak sama dengan basmalah-nya orang dari partai Islam? Apakah alhamdulillah-nya orang dari partai nasionalis tidak sama dengan alhamdulillah-nya orang dari partai Islam? Apakah Islam-nya orang partai nasionalis tidak sama dengan Islam-nya orang partai Islam? Apakah syahadatnya orang partai nasionalis tidak sama dengan syahadatnya orang dari partai Islam? Apakah salatnya orang partai nasionalis tidak sama dengan salatnya orang partai Islam?

Siapa yang mulai bersedih dan membenci sekarang? Dan mendistorsi realita? Dan memulai perang-perang baru? Apakah Islam sekarang ketika ia tidak bisa menjadi jalan mempersatukan muslim bangsa ini? Mungkin benar jika dikata, tak ada agama dalam politik. Yang ada, kepentingan. Ketersembunyiannya tampak.”

— 10 April 2014, just a little thought in the end of day… Peace!

 

Dia: Mbak🙂 assalamualaikum

Aku: Waalaikum salam

Dia: Apa yang mbak maksudkan dari status itu mbak  :) ? aku coba menerka hehe

Aku: Wah, senangnya😀 Kalau kamu mau bantu aku, tolong jawab pertanyaan ini:

“Apakah basmalah-nya orang dari partai nasionalis tidak sama dengan basmalah-nya orang dari partai Islam? Apakah alhamdulillah-nya orang dari partai nasionalis tidak sama dengan alhamdulillah-nya orang dari partai Islam? Apakah Islam-nya orang partai nasionalis tidak sama dengan Islam-nya orang partai Islam? Apakah syahadatnya orang partai nasionalis tidak sama dengan syahadatnya orang dari partai Islam? Apakah salatnya orang partai nasionalis tidak sama dengan salatnya orang partai Islam?” . YA atau TIDAK? Sebenarnya, aku hanya butuh jawaban Ya atau Tidak. Tapi, sepertinya orang banyak menerka ini itu, padahal hanya itulah permasalahanku. Sederhana.

Dia: Hahaha…  Tapi menurutku mbak, dari statement itu ga bisa di sederhanakan..

Aku: Ya, terkadang apa yang aku anggap sederhana ternyata tidak sederhana bagi orang lain.

Dia: Kenyataannya, ketika kita liat pertanyaan “llah-nya orang dari partai Islam? Apakah Islam-nya orang partai nasionalis tidak sama dengan Islam-nya orang partai Islam?” itu aja ga sesedehana itu maknanya

Aku: Maaf…

Dia: Kalo menurutku mbak, hahhaa, orang lain itu menganggap seorang mbak aftina itu ga sesederhana itu berpikirnya. Hehe mungkin itu yang akhirnya memunculkan interpretasi bermacam2 hehehe😀

Aku: Pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya adalah puncak dari semua yang ada dalam pemikiranku. Ya, kalau mau dikata, fase “tidak sederhananya” bagiku sudah lewat…

Dia: Cuma menurutku itu tadi mbak, aku yakin pasti ada perbedaan mengenai islam-nya partai nasionalis dengan islamnya pastai islam, walaupun kalo aku liat kenyataannya, dari sisi tujuan mereka tidak ada yang mengarah ke arah penegakkan syariat islam😀

Aku: …dan muncullah “pertanyaan-pertanyaan yang lebih sederhana, tapi sayangnya fundamental”

Dia: Yang ada dalam pikiran mbak apa kalo boleh tahu ? Dan fase ketidaksederhanaannya itu apa mbak :D?

Aku: https://aftinanurulhusna.wordpress.com/2014/04/11/mendidikkan-politik-tahun-politik-dalam-renungan-dan-pemikiran/

Dia: Nah itu mbak, kesan fundamental yang mungkin tidak bisa di sederhanakan karena dampaknya besar😀

Aku: Semua insya Allah ada di sana. Silakan kamu baca, kalau berkenan, dan terima kasih😀

Dia: Nyimak mbak😀

Aku: Sudah dibaca? What do you think?

Dia: Belum mbak. Masih proses😀 (setelah beberapa saat) Aku udah baca😀 hehe… Ada beberapa poin yg aku sepakat dan ada yg masih aku pertanyakan mbak. Menurut mbak sendiri partai nasionalis itu sama enggak dg partai islam? Apa pengertian politik menurut mbak? Jangan di respon dulu mbak, hehe. Kan aku feedback hehehe. Yang mbak maksud dg visi politik “dilihat banyak orang” seperti apa? Trus menruut mbak di zaman rasulullah dan sahabat, apakah mereka semua itu berpolitik? Politik menurut pemahaman mbak sseperti apa?😀 Itu dulu mbak.😀 Gimana?😀

Aku: Begini. Satu hal yang seharusnya menjadi manfaat bagi kita yang belajar psikologi adalah kita lebih bisa menghargai manusia sebagai individual.

Dia: *nyimak

Aku: Persoalan dalam politik dan ilmu sosial lainnya yang unit analisisnya komunal atau kelompok adalah mengecilkan manusia sebagai pribadi yang punya identitas. Orang-orang yang berkecimpung dalam politik cenderung menilai seseorang berdasarkan afiliasinya.

Dia: Trus mbak?

Aku: Contohnya yang paling dekat, seperti yang ada dalam statusnya mas F tentang Jokowi. Itu satu contoh. Sudah baca belum statusnya? Itu bisa dijadikan kasus untuk memahami bahwa penilaian seseorang dapat berubah 180 derajat hanya dari mengetahui pada kelompok mana dia berafiliasi. Dalam psikologi, ketika gara-gara itu kita jadi “buta” akan kualitas personalnya, yang mungkin tidak berhubungan dengan kelompok tempatnya berafiliasi, itu menunjukkan kita sudah termakan bias. Jokowi itu cuma contoh lo.

Dia: Apakah mbak sudah menanyakan itu ke mas F bahwa dirinya menilai dari satu sudut pandang itu? Trus mbak?

Aku: Bukan berarti aku sudah mendukung dia. Jokowi itu cuma contoh.

Dia: Contoh maksudnya mbak?

Aku: Cuma kasus untuk dijadikan bahan pelajaran. Ketika aku melepaskan diri dari melihat orang berdasarkan tempatnya berafiliasi, dalam hal ini partai.

Dia: Trus?

Aku: Aku tidak lagi bertanya apa bedanya partai nasionalis dengan partai Islam, karena itu memang berbeda. Tapi, ketika aku memahami lebih dalam secara individual, dalam ber-Islam, muslim nasionalis dan muslim Islamis (mudahnya, istilahkan saja begitu ya), bisa jadi bukan tidak berbeda, melainkan tidak bisa dinilai dengan mudah.

Dia: Maksudnya tidak bisa dinilai dengan mudaj gimana mbak?

Aku: Jawabannya tidak bisa sehitam-putih menjawab partai Islam dan partai nasionalis itu sama atau tidak. Karena sesungguhnya hanya Allah yang paling tahu persoalan individual ini. Dari situ aku berpikir, dari mana datangnya pengetahuan yang membuat ada orang yang mencap seseorang bukan muslim yang baik hanya dari melihat partainya? Sama juga dengan kebalikannya, bagaimana bisa seseorang dengan mudah percaya seseorang adalah muslim yang baik hanya dari melihat partainya? Dari situ, aku sadar tentang kekuatan husnudzan…

Dia: Oke aku paham mbak, sesuai dg pikiranku.

Aku: Apakah basmalahnya orang dari partai nasionalis tidak sama dengan basmalahnya orang dari partai Islam? Alhamdulillahnya? Allahuakbarnya? Salatnya? Puasanya? Ibadah-ibadahnya? Zakatnya? Yang aku tidak habis pikir, kenapa orang-orang partai Islam (terutama mungkin PKS) seperti memandang orang-orang nasionalis sebagai orang-orang tak ber-Tuhan? Orang-orang yang tidak beribadah? Orang-orang yang pasti masuk neraka?

Dia: Apakah mbak pernah mendengar itu dari mereka langsung ? *bukan membela, hanya bertanya

Aku: Memang aku belum bertanya, karena sebenarnya sulit menanyakan itu. Teman-teman PKS sedang tidak boleh diganggu. Mudahnya begitu.

Dia: Karena ?

Aku: Mereka sedang sensitif. Kemarin aku mencoba kritis pada salah seorang teman, sambutannya tidak begitu baik.

Dia: Gimana kronologisnya?

Aku: Aku berpikir baik soal orang-orang dalam PDIP bukan karena aku mulai liberal atau apa…

Dia: Lalu?

Aku: Tapi, karena sejak lama aku berpikir bagaimana cara agar orang-orang Islam bisa bersatu. Sebagian besar orang dalam PDIP itu muslim juga. Juga di partai-partai nasionalis lainnya.

Dia: Nah itu, gimana mbak?

Aku: Dengan cara paham yang basisnya individual, bisa jadi religiusitasnya tidak lebih buruk daripada orang-orang dari partai Islam. Tapi, memang sayangnya ada sekat partai. Kenapa ada egoisme semacam itu?

Dia: Lalu… menurut mbak partai tidak ikut berpengaruh terhadap individu? dari sisi doktrin ideologi mungkin? Atau orang2 sekitar partai mungkin? Kadang memang kalo menurutku untuk berbicara mengenai hal2 yg berbau kelompok, kita pasti dihadapkan dengan yang namanya fanatisme golongan. Nah itu yang bikin ga objektif.

Aku: Karena itulah aku bertanya, apakah Islam sekarang ini ketika Islam ini tidak bisa menjadi jalan mempersatukan orang-orang Islam? Kenapa agama tidak bisa jadi alasan untuk mengulurkan tangan? Alasan untuk membuka diri dan saling menerima, mengenyahkan prasangka buruk. Untuk berusaha saling menyayangi.

Dia: Kalo misalnya bisa kita lihat bagaimana posisi agama atau pemahaman agama dari mereka gimana? Apa posisi agama pada diri mereka masing2? Seperti apa pemahaman agama mereka?

Aku: Pertanyaanmu (yang seperti) itu yang sering menjebak. Itu pertanyaan yang memelihara stagnasi. Banyak orang berharap pihak lain sadar duluan, paham duluan, dan jadi orang yang maju mencari dirinya.

Dia: Trus mbak? Menarik.

Aku: Kalau dilogika, orang-orang dari partai Islam-lah yang seharusnya maju duluan, karena mereka yang paling mengerti agama.

Dia: Lalu?

Aku: Yang mengerti pertama kali, dia yang paling berkewajiban untuk mengajarkan. Yang sadar pertama kali, dia yang paling wajib untuk mengingatkan. Begitulah amar ma’ruf nahi munkar…

Dia: Oke2… Aku mulai sedikit mengerti mbak. Cuma itu sulit untuk dilakukan.

Aku: Itu tidak sulit.

Dia: Gimana mbak?

Aku: Benar-benar tidak sulit kalau kamu paham sesuatu.

Dia: Apa itu? Ukhwah kah?

Aku: Aku tidak mengatakan diriku expert ya, ini hanya pemahaman pribadi. *Eh, sorry ya, kita bicara sampai malam. Sebenarnya aku sedang sambil ngerjakan paper. Jadi memang sedang begadang. Pernah aku merenungkan isi QS Al Baqarah ayat 38? Itu dua ayat penutup kisah Adam diturunkan ke bumi; dan turunnya Adam ke bumi adalah awal dari semua persoalan kemanusiaan sampai detik ini. Jadi, aku merasa itu adalah ayat yang penting. Bisa dikatakan “resep” paling fundamental untuk hidup dengan baik di dunia sampai nanti mati. “… Jika datang Petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti Petunjuk-Ku, niscara tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” Itu yang aku renung-renungkan lama sekali… Mengapa mengikuti Petunjuk Allah adalah obat penyakit psikologis/ penyakit hati yang paling pervasive?

Dia: Lalu?

Aku: Rasa khawatir dan rasa sedih hati, bahasa teknisnya neurosis, itu sebenarnya akarnya lebih dalam lagi. Rasa khawatir dan sedih itu “ibunya” adalah insecurity atau rasa tidak aman, bahasa lainnya, rasa takut. Takut kepada selain Allah. Ini sering merupakan hal yang tidak kita sadari. Mulut kita mudah bicara “takutlah kepada Allah”, tetapi hati kita tidak. Dari situ aku membuat daftar, hal-hal apa saja yang membuat aku khawatir dan sedih.

Dia: Lalu mbak?

Aku: Aku menyadari banyak sekali. Takut tidak punya masa depan, takut miskin, takut tidak punya kawan, takut ini, takut itu…

Dia: Lalu mbak? Aku juga sama seperi itu mbak?

Aku: Bagi orang yang berpolitik, ceritanya akan lain lagi.

Dia: Gimana ?

Aku: Itu yang membuatku bisa berpikir tentang politics that is based on fright. Politik yang berdasarkan ketakutan. Kalau kamu berani, coba tanya satu saja teman PKS, hal-hal apa saja yang membuat mereka khawatir dan bersedih? Jika mereka bisa menjawab itu dengan baik sekali, satu hipotesismu: bisa jadi ada petunjuk Allah yang tidak mereka ikut.

Dia: Lalu?

Aku: Tanpa bertanya, aku bisa “langsung” tahu ini -> bukan maksudku jadi expert. Aku memperhatikan postingan PKSPiyungan sebelum pemilu, juga status teman-teman kader PKS…

Dia: Lalu? Gimana mbak?

Aku: Kampanye hitam mereka gencar sekali “menzalimi Jokowi” -> apakah itu bukan kepanikan, karena takut Jokowi menang jadi presiden? Pertanyaanku, apa yang mereka takutkan?

Dia: Emm… aku pernah melihat itu juga.

Aku: Apa yang ditakutkan dari Jokowi?

Dia: Nah apakah mbak aftina pernah mencari info siapa jokowi itu? Barang kali itu bisa menjawab. Kalo tanya ke orang pks ga objektif.

Aku: Kemarin, satu hari sebelum pemilu, seorang temanku memasang status kelegaannya ulama salafi akhirnya menghalalkan PKS. Ah, mungkin parafraseku tidak tepat, tapi itulah yang aku tangkap.

Dia: Gimana itu postingannya?

Aku: (begini postingannya) “yang mengharamkan dmokrasi. dulu mencaci n membenci PKS, dg brbgai analsis syar’i yg mendalam, mengkti kaidah fiqh dst, malam ini menyatakn membrikan suaranya kpd PKS. baca: firanda.com”

Dia: Hahaha… Trus mbak gimana? Oh ust firanda. Emang beliau orang salafi. Cm salafi itu banyak macemnya mbak.

Aku: Aku tidak mengerti, kenapa hukum bisa diputarbalikkan semacam itu? Dan aku “iseng” bertanya, itu isi Al Qurannya yang ganti, ulamanya yang ganti, atau kepentingannya yang ganti? Aku “dimusuhi” teman-temannya. Padahal aku serius ingin tahu.

Dia: Berarti pertanyaannya mbak yg kurang enak di baca. Hehe..

Aku: Pertanyaanku pada kader PKS sesungguhnya adalah sejak kapan perjuangan mereka tergantung pada apa kata manusia? Kenapa puas dengan status kehalalan cap firanda?

Dia: Karena mungkin mereka takut apa yg ust firanda katakan itu benar. Hehehe..

Aku: Sebenarnya, yang buat aku dimusuhi malam itu karena aku bertanya lagi yang intinya, “kalau hari ini PKS bisa dihalalkan, besok bisa diharamkan lagi dong.” Marah mereka.

Dia: Hahaha… Iya jelas mbak. Orang baru sembuh dari luka, malah dibukan lagi lukanya. Piye to mbak…

Aku: Yang aku takutkan dari status semacam itu adalah orang merasa benar hanya karena orang lain yang selama ini jadi oposan-nya ridha.

Dia: Ya karena memang pendapatnya dibenarkan… Heheh

Aku: Orang merasa Allah sudah ada di belakang-Nya karena orang lain yang selama ini keagamaannya ketat ridha. Aku mengerti pendapat ulama itu fleksibel tergantung situasi dan kondisi. Bukan pendapat itu yang aku permasalahkan.

Dia: Itiba’nya itu kah? Yang akhirnya dia tidak ikhlas?

Aku: Aku khawatir PKS sedang kehilangan sesuatu yang dulu mereka punya.

Dia: Apa mbak yg pks punya dulu?

Aku: Sulit dikatakan. Sesuatu itu ada ketika mereka masih partai kecil. Sama seperti sesuatu yang dimiliki orang miskin sebelum ia menjadi orang kaya. Ketika itu mereka belum berani memimpikan kekuasaan.

Dia: Idealis. Atau keyakinan dan kepatuhan. Harapan?

Aku: Entahlah. Dulu ada sesuatu yang bisa aku lihat dari mereka, dan itu mengagumkan. Aku tidak mengerti mimpi apa yang mereka punya sekarang, yang jelas, kekuasaan itu tidak boleh dijadikan cita-cita.

Dia: Lalu orang berpolitik untuk apa? Apa gunanya visi dalam sebuah organisasi kalo gitu mbak?

Aku: Itulah jebakan dunia. Kita menginginkan akhirat tetapi masih menggunakan cara main dunia. Kita berpikir bahwa yang baik itu yang terakumulasi, yang semakin banyak, yang semakin kuat, yang semakin berada di puncak. Kita berpikir yang baik itu yang menang, yang tiga besar… Kebaikan di sisi Allah itu tidak pakai takaran dunia.

Dia: Oke, berarti bisa aku simpulkan dari perkataan mbak bahwa pks sudah kena al-wahn. Al-wahn = penyakit cinta dunia.

Aku: Cinta dunia itu tidak sekadar hidup materialistis.

Dia: Lalu?

Aku: Takut pada isi dunia, baik itu fenomena alam maupun sosial, juga termasuk cinta dunia. Cinta dunia = cinta hidup, takut mati.

Dia: Oke, berari takut itu berhubungan dg cinta gitu?

Aku: Takut mati->takut kalah. Takut dikalahkan. Takut lemah. Takut miskin. Takut rendah. Takut hina. Takut dibenci. Padahal apa-apa di sisi Allah tidak sama seperti anggapan manusia. Bukan miskin yang membuat kita berusaha keras, tetapi persepsi kita, perasaan kita terhadap miskin itu. Orang yang takut kalah tidak sama dengan orang yang berani kalah.

Dia: Apa yang membedakan?

Aku: Caranya menghadapi keadaan.

Dia: Maksudnya?

Aku: Orang yang takut kalah berpikir inward. Orang yang berani kalau dia berpikir outward.

Dia: Inward itu apa mbak?

Aku: Fokusnya berpusat ke arah diri. Bergerak ke arah diri.

Dia: Bisa dijelaskan lebih jelas lagi mbak?

Aku: Orang takut miskin tidak sama dengan orang berani miskin. Ibarat kamu punya uang satu juta. Kalau kamu takut miskin, sedekahmu hanya seribu. Kalau kamu berani miskin, sedekahmu bisa 50ribu setiap satu minggu. Perhitunganmu bukan untuk rugi lagi. It’s beyond rationality, but it is because you believe…

Dia: Percaya gimana?

Aku: Allah is The Richest. Dalam politik pun begitu. Bisakah kita melampaui rasionalitas? Rasionalitas, merah tidak bisa bergabung dengan putih?

Dia: Oke. Aku paham. Itu masuk pada konsep universalitas dari islam.

Aku: Sebenarnya kita bisa mereplikasi situasi di masa khalifah. Tahu hadist yang intinya sebaiknya ulama tidak berpolitik?

Dia: Tahu… Lebih tepatnya tidak dekat dengan pemerintah atau pemimpin. Iya kan?

Aku: Ulama itu sebaiknya tidak berpolitik, tetapi ia justru menjadi tempat “pulang” khalifah-khalifah bermasalah.

Dia: Iya paham mbak.

Aku: Tahu sejarah peradaban Islam? Khalifah yang baik itu bisa dihitung jari.

Dia: Lalu hubungannya apa?

Aku: Itu sama seperti sekarang.

Aku: Trus mbak?

Aku: Khalifah yang bermasalah itu seperti presiden-presiden kita sekarang. Mereka muslim, tetapi tidak mengerti.

Dia: Tidak mengerti apa mbak?

Aku: Tidak mengerti bagaimana menjalankan negara berdasarkan agama, bagaimana menjadi pemimpin berdasarkan tuntunan agama. Andai presiden kita dari PDIP atau Golkar atau Gerindra…

Dia: Mbak, kalo ngomongin islam aku bisa minta tolong mbak?

Aku: Apa?

Dia: Jangan pake kata agama, itu masih kabur mbak, kalo misalnya kita memang ngomongin islam ,ya ditulis islam aja mbak, hehe, biar jelas, karena agama kan banyak, hehe, hanya saran mbak. Lanjut mbak penjelasannya. :d

Aku: Oh, tentang status? Iya, iya. Aku biasa tahu statusku sering tidak laku…

Dia: Sama chat ini juga. Hehehe

Aku: Dari awal tidak berharap dapat banyak komentar.

Dia: Biar tidak bias.

Aku: Karena aku ngomong dengan orang Islam, aku ambil kesimpulan saja kalau bicara agama tidak mungkin agama yang lain.

Dia: Hahaha, memang mungkin waktu itu temen2 yg lain lagi ga ada kerjaan, hehehe, ngeliatnya statusnya mbak. Iya, mbak cuma ini kan di med sos, jadi semua orang ngeliat, bisajadi orang lain yg bukan islam jg liat. Lanjut ke penjelasan mbak. *nyimak

Aku: Lanjutnya, aku benar-benar berharap siapapun presidennya nanti, punya ulama tempat dia bisa pulang. Mungkin karena takdir, dia ditaruh Allah di PDIP, di Golkar, atau di Gerindra. Karena takdir pula ia hidup di era demokrasi ini. Karena takdir, ia hidup di Indonesia yang seperti ini. Tetapi tetap adalah pilihannya untuk menjadi pemimpin yang baik. Itu satu-satunya hal yang mungkin paling bisa dia lakukan sebagai individu.

Dia: Adalah hal yg sulit untuk diterapkan…

Aku: Tidak sulit. Jika partai Islam mengerti di mana seharusnya mereka menempatkan diri.

Dia: Aku ngeliatnya memang keadaan saat ini sesuai dengan  apa yg di gambarkan rasulullah mbak, akhir zaman dan keterasingan islam.

Aku: Jika partai Islam yang berisi orang-orang yang mengerti agama itu tahu apa sebenarnya tugas mereka…

Dia: Secara idealnya seperti itu mbak…

Aku: Di mataku, tugas sesungguhnya mereka bukan ikut bersaing memperebutkan kursi pemerintahan.

Dia: Menurut mbak apa?

Aku: Tetapi tetap di satu posisi yang stabil, yang tidak dirasakan mengancam oleh pihak yang selama ini dianggap jadi lawannya dan menjadi “sahabat”, orang kepercayaan. Itulah kunci membuka sekat, dari situ pengaruh-pengaruh baik bisa diberikan. Itulah dakwah secara politik. Atau politik yang berdakwah. Arti politik paling dasar yang aku pahami adalah “pengaruh”; itulah yang diajarkan dalam mata kuliah kepemimpinan strategik di kampus. Bukan pemerintahan, bukan kekuasaan atau kekuatan. Bukan tentang menjadi politikus atau negarawan. Bukan tentang tata kelola pemerintahan, undang-undang atau hukum. Itu semua sudah makna sekunder dan tersiernya. Manusia itu zoon politicon, karena manusialah satu-satunya makhluk yang berdialog dan saling memancarkan pengaruh. Keinginanmu mempengaruhi orang = keinginan politik. Tanpa menjadi penguasa atau orang kuat, kalau sebagai pribadi kamu memancarkan pengaruh, kamu sudah berpolitik.

Dia: Berarti bisa dikatakan kita mencari posisi?

Aku: Politik itu bukan mencari posisi. Politics is about “influencing”.

Dia: Kalo yang aku liat dari yg mbak jelaskan tadi.. Mencontohkan gitu?

Aku: Politik yang baik itu yang dilakukan secara bijak, sadar, dan berdasarkan pengertian. Bagiku, setiap orang baik harus berpolitik, dalam arti memberikan pengaruh-pengaruh baik.

Dia: Yang dimaksud bijak, sadar, dan berdasarkan pengertian itu apa mbak?

Aku: Ini seperti hadist nabi, ajarkan Al Quran walaupun hanya satu ayat. Menjadi muslim yang punya visi ajarkan walau hanya satu ayat itu sebenarnya visi politik -> visi mempengaruhi orang kepada kebaikan.

Dia: Oke2… Lalu mbak?

Aku: Bijak, sadar, berdasarkan pengertian itu sama seperti “berdakwah dengan cara yang ma’ruf”.

Dia: Lemah lembut?

Aku: Kebijaksanaan memutuskan itu menentukan kapan lemah lembut, kapan tegas, kapan keras; kapan berikap liberal, kapan moderat, kapan konservatif. Bukan ber-Islam secara liberal, moderat, atau konservatif, tetapi bersikap demikian atas dasar kebijaksanaan. Aku pernah membaca cerita yang sangat berpengaruh bagiku, tentang seorang ulama dan seorang nasrani di zaman yang lampau. Suatu ketika, sang ulama bertanya pada teman nasraninya, kenapa dia tidak masuk Islam? Dijawab, karena di Islam tidak boleh minum khamr. Dia suka sekali khamr dan tidak bisa berhenti. Ulama itu berkata, Masuk Islam saja. Minum khamr tidak apa-apa.

Dia: Lalu?

Aku: Beberapa waktu berlalu dan mereka bertemu lagi. Ulama itu bertanya, apa kabar temannya yang sudah muslim itu. Bagaimana dengan kebiasaan minumnya? Masih. Belum bisa berhenti. Ulama itu lalu berkata tegas, intinya kamu sudah Islam sekarang. Minum khamr itu haram. Kalau kamu masih melanggar, kamu berdosa besar. Si mualaf itu akhirnya meninggalkan khamrnya.

Dia: Karena?

Aku: Dia sudah mencicip manisnya Islam karena sudah masuk Islam. Ketika disuruh memilih khamr/kafir atau Islam, dia pilih Islamnya.

Dia: Tp ga semua kayak gitu mbak. Kesannya itu sedikit ‘mengerjai’ menurutku. Dan bertaruh, karena semula berbohong.

Aku: Itulah kebijaksanaan berdasarkan keimanan kepada Allah.

Dia: Kalo misalnya ada cara lain yang bisa kita contoh dan itu lebih halus..

Aku: Itu kisah hikmah, bukan untuk ditiru begitu saja. Intinya adalah kebijaksanaan menghadapi orang. Orang itu berbeda-beda kondisinya.

Dia: Sepangat (sepakat, maksudnya) Trus mbak?

Aku: Terus apa? Sudah selesai. Ada satu lagi cerita baik, tentang penciptaan malaikat jibril kalau kamu ingin tahu. Kisah ini membuatku lebih menghargai orang yang beragamanya masih belepotan, istlahnya begitu. Allah menciptakan Jibril dalam sosok malaikat yang luar biasa. Wajah rupawannya tak ada yang menyamai, diberi sayap yang dengan itu ia bisa terbang dengan kecepatan luar biasa, dan menempuh jarak yang luar biasa pula. Jibril sangat bersyukur atas karunia itu, makanya lalu ia memutuskan untuk salat bertahun-tahun, berakaat-rakaat sebagai wujud rasa syukurnya (agak lupa ceritanya, tapi begini) Singkat cerita Jibril lalu menghadap Allah dan menceritakan apa yang telah dilakukannya sebagai wujud rasa syukur.

Dia: Oh gitu… Lalu hubungannya dengan menghargai tadi?

Aku: Allah berfirman, Hai Jibril, begitu bersungguh-sungguh engkau mengerjakan shalat. Demikian engkau telah penyembahan kepadaKU denagn penyembahan yang tiada bandingnya. Tetapi ketahuilah hai Jibril, bahwa pada akhir zaman nanti akan lahir Nabi terhormat yang AKU Sayangi, dia bernama Muhammad. Dia memiliki umat yang lemah yang banyak melakukan dosa. Sekiranya umat yang bergelimang dosa itu mau mengerjakan shalat dua rakaat, sekalipun shalatnya banyak kekurangan, waktunyapun tergesa-gesa dan tidak konsentrasi, maka demi kemuliaan dan keagunganKU, sungguh shalat mereka itu lebih AKU sukai dari pada shalatmu ! Mengapa ? Karena shalat mereka berdasarkan perintahKU, sedangkan shalatmu itu bukan berdasarkan perintahKU !

(ini aku copas saja dari internet, lupa soalnya)

Jibril : Ya TUHANku lalu apakah balasan yang bakal ENGKAU berikan atas ibadah mereka ?

ALLAH : Balasan yang bakal AKU berikan adalah surga Ma’wa.

Begitu mendengar kata-kata surga Ma’wa, Jibril memohon izin kepada ALLAH agar diperkenankan melihatnya maka ALLAHpun mengabulkan permohonan Jibril ini, sehingga dia segera berangkat menuju surga tersebut, dia bentangkan seluruh sayapnya lalu terbang untuk menempuh jarak yang amat jauh tak terperikan.

Setiap kali dia membuka sepasang sayapnya maka dia menempuhl jarak sejauh 300.000 (tiga ratus ribu tahun perjalanan). Begitu juga setiap menutupkan sayap padahal ia terbang selama tiga ratus tahun serta memiliki sayap tiga ratus pasang sayap atau enam ratus buah. Namun sejauh itu ia belum berhasil mencapai tujuan setelah merasa begitu letih diapun beristirahat disebuah pohon raksasa dia bersujud kepada ALLAH SWT seraya mengadu : Ya ALLAH, apakah perjalananku telah sampai separuhnya,ataukah baru dua pertiga atau bahkan separuhnya ?

ALLAH SWT berfirman kepadanya : Hai jibril walaupun kau mampu terbang tiga ratus ribu tahun dengan sayap-sayapmu yang sudah ada dan AKU tambah lagi enam ratus sayap, niscaya tidak kau bisa mencapai seper seratusnya (1%). Itulah keistimewaan yang akan KUberikan kepada umat Muhammad yang mau mengerjakan shalat !

Aku: Membaca cerita itu benar-benar membuat diri ini ingin menangis, Allah sedemikian Penyayang. Dia orang partai nasionalis, atau muslimah yang belum berjilbab, atau orang yang bergelimang dosa, tidak mengerti agama, Allah lebih pandai menghargai ibadahnya daripada kita yang mengaku ber-Islam secara benar. Dua rakaat salat saja demi menunaikan kewajiban sebagai muslim dihargai sebesar itu. Allah memang Maha Syukur. Ini membuatku terus bertanya:

“Apakah basmalah-nya orang dari partai nasionalis tidak sama dengan basmalah-nya orang dari partai Islam? Apakah alhamdulillah-nya orang dari partai nasionalis tidak sama dengan alhamdulillah-nya orang dari partai Islam? Apakah Islam-nya orang partai nasionalis tidak sama dengan Islam-nya orang partai Islam? Apakah syahadatnya orang partai nasionalis tidak sama dengan syahadatnya orang dari partai Islam? Apakah salatnya orang partai nasionalis tidak sama dengan salatnya orang partai Islam?”

Di mata Allah, bisa jadi itu semua sama saja. Siapa yang bertakwa dialah yang akan naik derajat. Siapa yang justru jadi menghujat, melakukan black campagne, dia turun derajat.

Dia: Oke2

Aku: Akhirnya kesimpulanku: Allah bersama orang-orang yang benar, adil, dan sabar, yang niat hatinya lurus karena iman kepada-Nya, yang tindakannya konsisten, yang tidak menukar akhirat dengan dunia, yang tidak membiarkan dirinya kotor sekalipun demi niat-niat baik, dari mana saja mereka berasal, partai nasionalis maupun partai Islam. Allah tidak memilih tangan siapa yang akan Ia Gunakan untuk memperbaiki keadaan manusia-manusia makhluk-Nya berdasarkan partai.

Dia: Tapi menurutku mbak, Allah itu Memilih tangan2 siapa yg nantinya dia gunakan untuk menegakkan dien-Nya…

Aku: Haha… mungkin saja itu tangan Jokowi. Siapa yang tahu?

Dia: … karena jika Allah tidak memilih, pasti Allah tidak berkehendak nantinya. Menurutku itu. Mbak dilanjut besok diskusinya.

Aku: Kalau tidak ada yang tahu, kenapa bisa bilang dia bukan orangnya?

Aku: Maaf, bicara panjang lebar. Semoga bermanfaat dan menjadi peringatan bagi diri yang ingin menjadi baik.

Dia: Santai mbak. Aku berusaha objektif. Adil dalam pikiran dan adil dalam perbuatan.

Aku: Pramoedya

Dia: Makanya aku penasaran dari diskusi statusnya mbak. Siph. Itu yang sampe sekarang terngiang2 dalam pikiranku. Adilnya dalam timbangan islam.

Aku: Sama. Aku mungkin banyak salah, tapi pemikiran itu berkembang. Hari ini bersyukur bisa begini, semoga besok ada yang bisa disyukuri lagi.

Dia: Iya mbak amin.

Aku: Kalau sempat, buatlah tulisanmu sendiri

Dia: Iya mbak.

Aku: Wassalamu’alaikum

Dia: Walaikumsalam mbak.

***

Penutup

“Apakah basmalah-nya orang dari partai nasionalis tidak sama dengan basmalah-nya orang dari partai Islam? Apakah alhamdulillah-nya orang dari partai nasionalis tidak sama dengan alhamdulillah-nya orang dari partai Islam? Apakah Islam-nya orang partai nasionalis tidak sama dengan Islam-nya orang partai Islam? Apakah syahadatnya orang partai nasionalis tidak sama dengan syahadatnya orang dari partai Islam? Apakah salatnya orang partai nasionalis tidak sama dengan salatnya orang partai Islam?”

Bertanyalah dan terus bertanya, dan jika kau sudah menemukan jawabannya, bertanyalah dan bertanyalah lagi:

Apa alasannya kau bersedih dan membenci keberadaan orang yang selalu kau anggap sebagai duri perjuanganmu? Apa alasannya kau mendistorsi realita, melihat hanya pada yang ingin kau lihat saja dan mengada-adakan apa-apa yang ingin kau lihat saja? Apakah Islam sekarang ini, ketika ia tidak bisa menjadi jalan mempersatukan muslim bangsa ini? Jika Islam tidak bisa mempersatukan satu bangsa saja, bagaimana kau bisa bermimpi Islam akan mempersatukan dunia dalam kebaikan? Jika Islam tidak bisa membuatmu bersaudara dan menyayangi saudara sesama muslim, dari mana pun dia berasal, apa Islam yang sedang kau perjuangkan ini? 

Mungkinkah benar jika dikata, memang tak ada agama dalam politik dan yang ada hanyalah kepentingan? 

Semoga Allah Menyayangi kita yang zalim pada diri sendiri ini.

11 thoughts on “Diskusi Psikologi, Islam, dan Apa Saja yang Tiba-tiba Nyambung Bag. 2

  1. inilah kenapa aku pernah bilang, “andai kita bisa bertemu dan diskusi panjang lebar (sama dengan luas😀 )”….

    ada catatan yang akan saya berikan atas tulisanmu ini, Na..

    1. tentang cara teman-teman PKS yang rutin “menyerang” itu saya sepakat denganmu. Ngganggu banget😀 . harusnya ada etika komunikasi yang dijaga.

    2. tentang upaya menyatukan umat Islam dalam bagian-bagian di tulisanmu:
    “Aku: Karena itulah aku bertanya, apakah Islam sekarang ini ketika Islam ini tidak bisa menjadi jalan mempersatukan orang-orang Islam? Kenapa agama tidak bisa jadi alasan untuk mengulurkan tangan? Alasan untuk membuka diri dan saling menerima, mengenyahkan prasangka buruk. Untuk berusaha saling menyayangi.”

    PKS dalam upayanya bisa membuat harmoni sederhana, dengan mengajukan caleg non muslim di daerah minoritas muslim di timur Indonesia. Hadir dalam kampanye akbar PKS, sebuah paduan suara gereja. Atau yang paling mudah dan fakta lapangan adalah turut berkontribusi dalam Pemerintahan SBY dengan cara berkoalisi.

    upaya penyatuan umat muslim atau bahkan masyarakat pada umumnya terus digalakkan para aktivis Islam di Indonesia. Tapi sayang, lagi-lagi hal ini kurang populer. entah mengapa.

    3. yang terakhir tentang influence dan “posisi” dalam politik. Kamu bisa search aja video kampanye akbar PKS di Jakarta, dalam petikan pidato Presiden PKS, Anis Matta:
    ““Saudara-saudara sekalian, siapapun yang ingin memimpin Indonesia tidak akan bisa memimpin Indonesia hanya karena dia menjadi seorang presiden!!! Siapapun yang ingin memimpin Indonesia HANYA BISA memimpin Indonesia kalau dia menjadi otaknya Indonesia!!! Kalau dia menjadi hatinya Indonesia!!!dan kalau dia menjadi tulang punggung Indonesia!!! Dan PKS Insya Allah SIAP menjadi otaknya Indonesia, SIAP menjadi HATInya Indonesia dan SIAP menjadi TULANG PUNGGUNG Indonesia Insya Allah!!!”

    ini sudah menjadi platform kebijakan PKS, sudah menjadi Falsafah Dasar Pergerakan PKS, jauh sebelum jadwal-jadwal pemilu mendekat. Kantor-kantor PKS di seluruh Nusantara adalah bukan kantor pemenangan pemilu semata. Ialah kantor yang menjadi posko banjir, kantor yang menjadi lokasi PAUD, kantor yang menjadi pusat pembinaan masyarakat. Pemilu adalah kuantifikasi dukungan, bukan tujuan.

    terakhir, melengkapi referensi tentang PKS, aku kasih sedikit daftar yang bisa dibaca:

    1. Dilema PKS: Suara dan Syariah. buku yg ditulis oleh seorang pengamat yang teliti mengenai pergerakan PKS.

    2. Platform Kebijakan PKS dan Falsafah Dasar Pergerakan PKS. Buku yang berisi dokumen organisasi ttg visi-misi-sampai tataran teknis.

    3. Menikmati Demokrasi, Anis Matta

    4. dari Gerakan ke Negara, Anis Matta

    Tetap kritis dan terus menggali kebenaran ya, Na. dan jangan lupa turut berkontribusi dalam gerbong kebaikan.

    *panjang banged koemnnya* :))
    haha

    • Aku ingin balas mengomentar, tapi untuk poin nomor dua dan tiga saja dari komentarmu🙂

      Bagiku, strategi semacam itu memang wajar tidak disukai. Pertama, tidak ideologis. Kedua, terkesan pragmatis. Partai Islam itu ada baiknya tetap menjaga identitas. Tujuan harmoni itu baik, tapi jika itu mengorbankan identitas, itu kerugian besar. Orang-orang non-Islam sudah punya partainya sendiri yang paling tahu kebutuhan mereka, jadi kenapa PKS ikut mencampuri itu? Orang berpikir mudah, strategi semacam itu, apalagi jika dekat tahun pemilu, memang di luar tampak harmonis, tetapi sesungguhnya untuk cari suara saja. Kalau aku tidak salah mencermati, itulah salah satu strategi yang membuat PKS dinilai sama pragmatisnya dengan partai lain.

      Kalau partai lain biasa dengan money politic, PKS dengan mengorbankan ideologi. Kalau memang di daerah Indonesia Timur orang Islamnya sedikit, buat apa ingin berkuasa di sana? Kenapa tidak jadi partai nasionalis saja sekalian, dari pada bermain dua kaki? Kalau aku tidak salah menyimpulkan, PKS ini mengalami krisis identitas karena dihadapkan pada banyak kepentingan dan ambisi berkuasa. Di belahan Indonesia lain ada banyak kader yang bersusah-payah memperjuangkan dan mempertahankan ideologi biar bisa diterima masyarakat yang lebih luas, tapi para petinggi partai membuat strategi yang “mengkhianati” ideologi.

      Membangun Indonesia itu tidak hanya butuh orang yang mau menjadi otak, hati, atau tulang punggung; tapi juga orang yang mengalah tidak menjadi otak, hati, atau tulang punggung dan memberikan peran itu pada orang lain yang lebih mampu menjadi itu semua. Bagaimana bisa menjadi otak kalau pandangan, wawasan dan pemikiran sempit dan pendek? Bagaimana menjadi hati kalau hati kotor dan goyah? Bagaimana menjadi tulang punggung kalau tulang punggung sendiri bungkuk?

      PKS ditakdirkan Allah hari ini seperti ini bukan tanpa sebab. Beberapa elit PKS terus saja berpandangan optimis bahwa ini hanya kemenangan yang tertunda, dan dengan bangga, “PKS tidak mati, kan?”, bahkan muncul wacana patungan membuat TV dakwah agar bisa menyaingi partai lain yang punya media. Mengapa tidak memahami ini bisa jadi adalah peringatan besar yang bisa mengundang musibah yang lebih besar? Bani Israil dimurkai Allah karena mereka merasa menjadi kesayangan Allah; aku khawatir kecenderungan PKS ke arah sana, secara kolektif kurang rasa takutnya kepada Allah, terlalu besar harapnya. Sebaiknya tidak merasa aman dari azab Allah. Yang menyelamatkan kita di akhirat bukan partai, bukan ideologi, bukan ikhwah, bukan harokah. Berhati-hatilah, semoga tidak menukar akhirat dengan dunia yang sebentar, apalagi kemenangan politik.

  2. Mari diskusiii…😀

    “Di belahan Indonesia lain ada banyak kader yang bersusah-payah memperjuangkan dan mempertahankan ideologi biar bisa diterima masyarakat yang lebih luas, tapi para petinggi partai membuat strategi yang “mengkhianati” ideologi.”
    –> Ideologi mana yang terkhianati? atau mudahnya, bentuk ideologi seperti apa yang dirusak dalam kebijakan ini.
    sepengetahuan saya, Arena legislatif adalah bukan “pemimpin”, tapi “wakil”. Wajar khan jika yang mewakili wilayah mayoritas non muslim adalah seorang non muslim? kok lewat partai Islam? jika seorang caleg non muslim masuk dalam partai Islam, bisa menerka-nerka apa perasaan mereka? Percaya. Mereka percaya dengan partai Islam ini. lebih besarnya, ia percaya pada nilai keIslaman yang melindungi, mengayomi semua, dan bisa menjawab sebuah keraguan utama: bagaimana Sistem Syariat islam memimpin di sebuah Negara Heterogen. selain itu, apakah Semua partai Islam mengkhianati ideologinya?

    http://news.fimadani.com/read/2013/04/23/seluruh-partai-islam-di-indonesia-usung-caleg-non-muslim/

    lagi-lagi, hanya PKS yang “diserang”…

    “Membangun Indonesia itu tidak hanya butuh orang yang mau menjadi otak, hati, atau tulang punggung; tapi juga orang yang mengalah tidak menjadi otak, hati, atau tulang punggung dan memberikan peran itu pada orang lain yang lebih mampu menjadi itu semua. Bagaimana bisa menjadi otak kalau pandangan, wawasan dan pemikiran sempit dan pendek? Bagaimana menjadi hati kalau hati kotor dan goyah? Bagaimana menjadi tulang punggung kalau tulang punggung sendiri bungkuk?”

    –> sulit saya menyimpulkan bagian ini. tentang sebuah ukuran kualitas PKS kah ini? Seburuk itukah gambarannya? lupakah pada sebuah fakta sederhana tentang perjuangan PKS ini? tentang jumlah kader dari selurh partai di Indonesia yang terlibat korupsi sepanjang periode-periode lalu? manakah yang paling banyak “menyumbang” koruptor bangsa? itu fakta sederhana, ada dalam produk peradilan.

    Jika ternyata yang dimaksud adalah sebuah sinergi membangun bangsa, bukan perkara siapa yang menang dan siapa berkuasa, maka disilakan mengecek langsung ke kantor PKS terdekat saat masa-masa jauh dari pemilu, apa yang mereka lakukan. Sepi kah kantor mereka selayaknya kantor Partai-partai lain?

    Atau contoh sederhana dalam sebuah perjuangan di parlemen. parlemen adalah sebuah sistem kolektif kolegial. Keputusan dalam kesepakatan bersama. PKS masih terlalu kecil di parlemen jika dibanding partai gaek lainnya. Tapi PKS dengan partai Islam lain bisa bersama mengajak seluruh anggota legislatif, duduk membahas RUU Jaminan Produk Halal, UU Zakat, dll. Bukankah ini contoh sederhana sebuah “perjuangan bersama”? sebuah pengejawantahan dari kalimat “tapi juga orang yang mengalah tidak menjadi otak, hati, atau tulang punggung dan memberikan peran itu pada orang lain yang lebih mampu menjadi itu semua” ?

    “PKS ditakdirkan Allah hari ini seperti ini bukan tanpa sebab. Beberapa elit PKS terus saja berpandangan optimis bahwa ini hanya kemenangan yang tertunda, dan dengan bangga, “PKS tidak mati, kan?”, bahkan muncul wacana patungan membuat TV dakwah agar bisa menyaingi partai lain yang punya media. Mengapa tidak memahami ini bisa jadi adalah peringatan besar yang bisa mengundang musibah yang lebih besar? Bani Israil dimurkai Allah karena mereka merasa menjadi kesayangan Allah; aku khawatir kecenderungan PKS ke arah sana, secara kolektif kurang rasa takutnya kepada Allah, terlalu besar harapnya. Sebaiknya tidak merasa aman dari azab Allah. Yang menyelamatkan kita di akhirat bukan partai, bukan ideologi, bukan ikhwah, bukan harokah. Berhati-hatilah, semoga tidak menukar akhirat dengan dunia yang sebentar, apalagi kemenangan politik.”

    –> jadi sikap apa yang harus diambil sekelompok aktivis Islam dalam kancah politik? pasrah? apakah jika mengatakan kemenangan yang tertunda adalah dinilai sebagai sikap kurang rasa takut pada Allah?
    atau pertanyaannya akan disederhanakan saja, perbuatan atau manuver apa yang dilakukan PKS hingga mereka, kau sebut sebagai sebuah sikap kurang rasa takut pada Allah? atau sikap terlalu besar harapnya?

    cmiiw, di banyak hal, kadang kita tidak tahu bahwa kita tidak tahu🙂

    • Ayo, bagus Tsaqqif. Cerita lagi yang banyak. Biar orang-orang tahu.

      Luruskan semua salah paham yang ada. Bersihkan partaimu, semoga benar-benar bersih dan semua cela yang ada benar hanya fitnah atau ghibah semata😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s